Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 88 Terpaksa


__ADS_3

Samara dan Rayanza yang sudah mendapatkan informasi dari pihak kepolisian, mereka berdua segera keluar dari dalam ruangan polisi.


"Ray, hari ini aku ijin tidak bisa masuk kerja di kantor," ucap Samara. Saat Samara dan Rayanza sudah berada di luar kantor polisi.


"Iya tidak apa-apa kok, Ra. Yuk kita pergi mencari ketiga anakmu lagi," sahut Rayanza yang mengajak Samara pergi mencari keberadaan ketiga anaknya.


"Kamu tidak kerja?" tanya Samara.


"Waktu hari Minggu kemarin, aku tidak bisa menemani kamu pergi mencari keberadaan ketiga anakmu. Jadi hari ini aku putuskan, untuk menemani kamu," jawabnya.


"Kamu pergi kerja saja, Ray." Samara menyuruh Rayanza pergi bekerja di kantor.


"Tapi aku mau menemani kamu..."


"Aku sudah mempercayakan semuanya pada pihak kepolisian, dalam mencari ketiga anakku. Jadi lebih baik sekarang ini, kamu pergi kerja saja," ujar Samara yang memotong ucapan Rayanza.


"Ya sudah. Ayo aku antar kamu pulang dulu, barulah aku pergi kerja ke kantor." Rayanza mengajak Samara pulang ke rumahnya. Sebelum ia pergi bekerja di kantor.


"Sebentar lagi akan masuk jam kerja, Ray. Jadi kamu tidak perlu mengantarkan aku pulang dulu..."


"Aku tidak akan pergi ke kantor.  Sebelum aku, mengantarkan kamu pulang ke rumah," sahut Rayanza yang ikut memotong ucapan Samara. Karena ia ingin mengantarkan Samara pulang ke rumahnya, sebelum ia pergi bekerja di kantor papanya.


"Sebaiknya aku pulang bersama Rayanza, sebelum pergi menemui Mas Syaka." Samara membatin. Sebelum menimpali ucapan dari Rayanza.


"Yuk kita pulang dulu," ajak Rayanza lagi. Karena Samara belum menerima ajakannya, yang ingin mengantarkannya pulang ke rumah.


"Baiklah," balasnya pasrah dan menerima ajakan dari Rayanza.


Rayanza pun segera mengantarkan Samara pulang ke rumahnya, dan setelah itu barulah ia pergi bekerja di kantor papanya.


Ketika Rayanza sudah sampai di rumah Samara, ia segera pergi meninggalkan rumah Samara. Dan tidak lama kemudian, datanglah taksi online yang sudah Samara pesan. Saat Samara masih berada di dalam mobil Rayanza.


"Mbak mau ke mana?" tanya Rina yang melihat Samara yang baru saja datang ke rumah, langsung pergi menggunakan taksi online.


"Mbak ada urusan sebentar sama teman Mbak, Rin. Mbak pamit pergi dulu ya,'' jawabnya yang langsung berpamitan pergi kepada Rina adiknya.


"Iya Mbak," balasnya.


Samara pun segera pergi meninggalkan rumahnya. Untuk pergi menemui Arsyaka, yang akan mempertemukan dirinya dengan ketiga anaknya.


Rina yang melihat sikap kakaknya yang seperti itu, mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kok Mbak Samara langsung pergi lagi? Padahal baru saja pulang ke rumah bersama kak Ray?" batin Rina yang merasa aneh, dengan sikap kakaknya yang terburu-buru pergi.


___________


Sesampainya Samara di alamat yang di katakan oleh Arsyaka, ia segera mencari keberadaan Arsyaka dan ketiga anaknya.


"Di mana Mas Syaka dan anak-anak?" lirih Samara yang tidak menemukan keberadaan Arsyaka dan ketiga anaknya.


Samara segera menghubungi nomor telepon Arsyaka, yang pernah menghubunginya. Akan tetapi, nomor telepon itu masih tidak aktif.


"Huuuh." Samara berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya. Karena ia tidak bisa memberitahukan kepada Arsyaka, tentang kedatangan dirinya yang sudah sampai di tempat yang di katakan oleh Arsyaka.


"Bagaimana caranya, memberitahukan tentang kedatanganku di sini? Jika nomor telepon Mas Syaka saja, masih tidak bisa di hubungi," gumam Samara yang berdecak kesal pada Arsyaka.


Arsyaka yang memang sudah datang terlebih dahulu, belum menemui Samara yang sedang berusaha mencari cara. Agar ia bisa memberitahukan kepada Arsyaka tentang kedatangannya.


"Kamu makin cantik saja, Ra." Arsyaka memuji kecantikan mantan istrinya, yang ia lihat dari jarak jauh.


Sementara itu.


Samara yang tidak menemukan keberadaan Arsyaka dan ketiga anaknya, ia berteriak memanggil nama Arsyaka dan ketiga anaknya.


Arsyaka yang mendengar suara Samara yang berteriak memanggilnya, ia pun segera pergi menghampiri Samara yang terus mencari keberadaannya.


"Hay sayang,'' sapa Arsyaka yang berada di belakang Samara sambil tersenyum senang.


Samara segera membalikkan badannya. "Mana ketiga anakku?" tanya Samara yang tidak melihat keberadaan ketiga anaknya, yang datang bersama Arsyaka.


"Anak-anak ada di dalam mobilku, kamu tidak kangen sama aku? Aku mau..."


"Di mana mobilmu? Aku mau mengajak pulang ketiga anakku." Samara dengan cepat memotong ucapan Arsyaka, ia tidak mau mendengar pertanyaan Arsyaka yang menanyakan tentang dirinya yang merindukan Arsyaka.


"Ada di sana, yuk kita pergi menemui anak-anak." Arsyaka menunjuk ke arah mobilnya, dan mengajak Samara pergi ke dalam mobilnya.


Samara mengikuti Arsyaka dari belakang, dan sesampainya di mobil Arsyaka. Samara tidak melihat ketiga anaknya di dalam mobil Arsyaka.


"Mana ketiga anakku?" Samara kembali menanyakan ketiga anaknya, yang tidak ada di dalam mobil.


"Kamu masuk ke dalam mobil, nanti aku akan mempertemukan kamu dengan anak-anak," jawab Arsyaka yang menyuruh Samara. Untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu jangan main-main sama aku, Mas! Aku hanya ingin mengajak anak-anakku pulang, cepat beritahu di mana anakku?" geram Samara pada Arsyaka yang telah mempermainkannya.

__ADS_1


"Dengarkan aku dulu, Sayang." Arsyaka menggenggam tangannya Samara.


"Lepaskan," pintanya pada Arsyaka yang tidak melepaskan tangannya. Meski Samara sudah berusaha melepaskan tangannya, yang di pegang oleh Arsyaka.


"Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Sebelum kamu masuk ke dalam mobil, dan mendengarkan ucapanku." Arsyaka menyuruh Samara masuk ke dalam mobilnya.


Samara yang kesal dengan Arsyaka, yang dari tadi terus mempermainkannya. Ia terpaksa menuruti kemauan Arsyaka, yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


"Cepat katakan padaku! Di mana anakku?" tanya Samara yang sudah masuk ke dalam mobil Arsyaka.


"Sebelum aku memberitahukannya, aku ingin kamu kembali menjadi istriku Agar kita bisa..."


"Aku tidak mau menjadi istrimu lagi." Samara lagi-lagi memotong ucapan Arsyaka. Karena ia malas mendengar ucapan Arsyaka, yang menginginkan Samara menjadi istrinya lagi.


Arsyaka segera menyalakan mesin mobilnya, dan mengajak Samara pergi bersamanya.


"Kamu mau mengajakku pergi ke mana?" tanya Samara. Saat Arsyaka sudah membawanya pergi jauh, dari tempat sebelumnya.


"Mempertemukan kamu dengan anak-anak." Arsyaka menjawab pertanyaan Samara, sambil menyunggingkan senyuman.


"Aku dan kamu serta anak-anak akan hidup bahagia. Seperti dulu lagi," sambungnya.


"Aku sudah katakan padamu. Kalau aku tidak mau menjadi istrimu lagi," sahut Samara yang memberitahukan pada Arsyaka. Kalau dirinya tidak mau rujuk dengan Arsyaka.


Arsyaka yang mendapatkan penolakan dari Samara, ia segera menghentikan mobilnya dengan kasar. Sehingga membuat kepalanya Samara akan terbentur kaca mobil di bagian depan. Karena Samara tidak menggunakan sabuk pengaman.


"Cepat turun dari mobilku, jika kamu tidak mau kembali bersamaku, itu berarti kamu tidak akan bertemu dengan anakmu lagi." Arsyaka mengancam Samara, dan menyuruhnya keluar dari dalam mobil.


"Jangan coba-coba mengancam ku, Mas! Aku tidak akan keluar dari mobil ini. Jika kamu tidak mempertemukan aku dengan ketiga anakku, dan perlu kamu ketahui! Sampai kapanpun aku tidak mau kembali berumah tangga denganmu lagi, Mas." Samara geram dengan sikap Arsyaka, yang dari tadi terus mempermainkannya.


"Kalau kamu masih di dalam mobilku, itu berarti! Kamu memilih kembali bersamaku, dan hidup bahagia bersamaku dan anak-anak." Arsyaka segera menyalakan mesin mobilnya, dan membawa Samara pergi.


"Sebaiknya aku ikuti saja ucapnya, yang terpenting saat ini! Aku bisa bertemu dengan ketiga anakku," batin Samara yang tidak menanggapi ucapan Arsyaka lagi, dan memilih mengikuti kemauan Arsyaka dengan terpaksa.


"Kenapa kamu diam?" tanya Arsyaka pada Samara sambil menyetir mobil. Karena Samara tidak menanggapi ucapannya lagi .


Samara membuang mukanya, dan tidak menanggapi pertanyaan dari Arsyaka.


"Aku tahu! Kalau kamu itu terpaksa kembali bersamaku, demi bisa bertemu dengan anak-anak. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu dan anak-anak pergi dari hidupku, ha-ha-ha." Arsyaka tertawa bahagia. Karena ia bisa membawa Samara pergi bersamanya, dan ia tidak akan membiarkan Samara dan ketiga anaknya pergi meninggalkannya.


"Yang kamu katakan barusan memang benar, kalau aku terpaksa demi bertemu ketiga anakku. Tapi untuk sekarang ini! Aku memilih diam, dan tidak menanggapi ucapanmu. Bukan berarti aku mau hidup bersamamu," batin Samara yang tetap memilih diam dan tidak menanggapi ucapan Arsyaka.

__ADS_1


__ADS_2