
POV Rayanza.
Aku yang tadinya berniat menggoda Samara, dengan menyuruh dirinya makanan banyak , membuatku jadi merasa bersalah pada Samara. Karena di saat aku memesan makanan dengan jumlah banyak, membuat Samara teringat lagi dengan ketiga anaknya.
"Maaf Ra, aku tidak bermaksud membuat kamu jadi teringat ketiga anakmu lagi. Aku memesan banyak makanan. Karena Nayla dan Reza akan datang ke sini," ucapku yang menjelaskan kepada Samara, tentang aku yang memesan banyak makanan.
"Jadi Nayla dan Reza akan datang ke sini, Ray?" tanyanya kepadaku sambil menghapus air matanya.
"Iya, mungkin tidak lama lagi mereka berdua akan segera datang ke sini. Sudah jangan bersedih lagi, kita doakan dan pasrahkan semuanya pada Allah. Karena kita sudah berusaha mencari keberadaan ketiga anakmu," jawabku yang tidak mau melihat Samara bersedih.
"Pak, ini pesenannya hanya ini saja?" tanya pelayan restoran yang sudah selesai mencatat semua pesananku.
"Iya," balasku singkat.
"Tunggu sebentar yah pak, Bu." pelayan restoran itu pun pamit. Setelah mengatakan itu.
Tidak berselang lama.
Aku melihat Nayla dan Reza yang sudah sampai di restoran, dan mereka berdua sedang berjalan menghampiriku yang sedang duduk bersama Samara.
"Hey, Ra." Nayla menyapa Samara.
Samara membalas sapaan dari Nayla dengan senyuman manisnya. Aku senang bisa melihat senyuman di wajahnya, meski senyumannya itu sedikit ia paksakan. Aku sangat mengerti dengan perasaan dirinya, yang ingin segera bertemu dengan ketiga anaknya yang hilang.
"Kamu sudah memesan makanannya, Ray?" tanya Reza kepadaku.
"Iya sudah Za, mungkin tidak lama lagi pesanannya akan segera datang," jawabku.
"Nay, aku mau melihat rekaman cctv di restoran ini. Karena restoran ini, begitu sama persis dengan mimpiku barusan." Samara pun mulai menceritakan tentang mimpinya itu pada Nayla dan Reza yang baru saja sampai.
"Setelah kita semua selesai makan, baru kita melihat rekaman cctvnya, Ra." Nayla pun mengatakan seperti yang aku katakan pada Samara. Karena kami semua memang belum ada yang makan siang, semenjak mendapatkan informasi tentang kehilangan ketiga anaknya Samara.
"Iya." Samara pun mengiyakan ucapan Nayla.
Di saat pelayan restoran datang membawa semua pesananku, handphoneku yang aku taruh di saku celana bergetar. Aku pun segera mengecek riwayat panggilan telepon yang terus menghubungiku.
__ADS_1
"Mau apa Tiya menghubungiku?" gumamku dalam hati. Aku pun memutuskan menerima panggilan telepon darinya, sebelum aku makan.
"Kalian semua makan duluan, yah. Aku mau menerima panggilan telepon dulu," pamitku pada mereka bertiga.
"Kamu habiskan makanannya, yah Ra." ucapku yang akan pergi meninggalkan Samara yang akan makan bersama Nayla dan Reza.
"Iya Ray," balasnya.
Ketika aku sudah menjauh dari mereka bertiga, aku segera menghubungi Tiya Maharani anaknya Om Reno, yang dari tadi terus menghubungiku.
"Akhirnya kamu menghubungiku juga, aku kangen sama..."
"Ada apa kamu terus menghubungiku?" tanyaku tanpa berbasa basi lagi, dan memotong ucapannya yang belum selesai berbicara.
"Aku baru sampai di kota Surabaya, aku sangat berharap sekali, besok kamu bisa menemaniku,'' jawabnya yang memintaku untuk pergi menemaninya, yang baru datang ke kota Surabaya.
"Maaf aku tidak bisa," sahutku yang menolak menemani dirinya. Karena aku akan pergi mencari keberadaan ketiga anaknya Samara.
"Kenapa kamu tidak bisa menemaniku? Bukannya besok itu hari libur, aku sudah lama tidak bertemu denganmu Ray. Semenjak kamu dan kedua orang tuamu memutuskan tinggal di kota Surabaya,'' tanya Tiya lagi dengan nada suara marah.
"Lagi-lagi kamu masih saja, memprioritaskan janda tiga anak itu. Aku ini calon istrimu Ray." Tiya langsung memotong ucapanku, dan dia begitu percaya diri sekali. Menganggap dirinya sebagai calon istriku.
"Kamu jangan berharap lebih dengan perjodohan itu, yang tidak akan pernah terjadi. Karena aku tidak mencintaimu," aku langsung mematikan panggilan telepon dari Tiya, dan segera pergi menghampiri Samara dan Nayla serta Reza yang sedang makan.
Aku yang sudah datang menghampiri mereka bertiga, ikut makan bersama.
Setelah selesai makan, aku segera memanggil pelayan restoran. Untuk membayar semua makanan yang aku pesan, dan sakalian aku ingin bertemu dengan manajer restoran ini.
"Bisakah aku bertemu dengan manajer restoran ini?" tanyaku pada pelayan restoran. Ketika aku sudah membayar semua makanan.
"Ma.. maaf pak, memangnya pelayanan di restoran ini kurang memuaskan?" pelayan restoran itu tidak menjawab pertanyaanku, ia malah seperti orang ketakutan. Karena mungkin di pikirannya, aku akan komplain dengan pelayanan di restoran ini.
"Aku bukan mau komplain soal pelayanan di restoran ini, tapi aku mau melihat rekaman cctv di sini," jawabku yang menjelaskan inti tujuanku pada pelayan restoran.
"Oh seperti itu, baiklah. Saya akan memanggil pak Rahmat terlebih dahulu," balasnya sambil melangkah pergi, menuju ruangan manajer di restoran ini.
__ADS_1
"Kamu ini, Ray. Seharusnya pas kamu bicara sama pelayan itu to the poin, jadi dia tidak salah sangka," ucap Reza. Saat pelayan restoran itu sudah pergi.
"Lah dianya saja yang langsung berpikir ke arah sana," sahutku yang tidak mau di salahkan.
Reza dan Nayla menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sedangkan Samara tatapan matanya begitu kosong, dan aku melihat raut wajahnya yang masih memikirkan ketiga anaknya.
"Ra, kamu jangan melamun terus," ucapku sambil memegang tangannya.
"Aku hanya ingin segera melihat rekaman cctv yang ada di restoran ini. Karena aku sangat berharap sekali, bisa menemukan keberadaan ketiga anakku," kata Samara yang kembali berderai air matanya
"Itu pelayan restoran dan manajer restoran sudah datang," tunjukku yang melihat pelayan restoran dan manajer restoran, yang akan datang ke tempat meja makanku.
"Selamat sore pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" ucap pak Rahmat selaku manajer di restoran ini.
"Begini pak, bolehkah saya dan teman-teman saya melihat rekaman cctv di restoran ini?" aku pun mulai menjelaskan kepada pak Rahmat, tentang tujuanku yang ingin melihat rekaman cctv yang ada di restoran ini. Untuk memastikan kebenarannya, apakah ketiga anaknya Samara pernah datang ke restoran ini bersama lelaki itu.
"Kalau memang seperti itu, mari kita pergi ke dalam ruanganku," ajak pak Rahmat kepada kami berempat, untuk pergi ke dalam ruangannya.
Sesampainya di dalam ruangan pak Rahmat.
Aku dan Samara serta Nayla dan Reza, segera melihat rekaman cctv yang sedang di perlihatkan oleh pak Rahmat.
"Kira-kira jam berapa ketiga anak ibu datang ke restoran ini?" tanya pak Rahmat.
"Coba bapak putar durasinya di jam dua belas siang sampai jam sekarang," jawab Samara yang menyuruh pak Rahmat memutar rekaman cctv di jam dua belas siang sampai jam lima sore.
"Baiklah," sahutnya yang segera memutar rekaman cctv itu sesuai keinginan Samara.
Akan tetapi, rekaman cctv itu terlalu lama sekali, membuat aku mengambil keputusan. Untuk menyuruh pak Rahmat, agar mempercepat durasi rekaman cctvnya.
"Pak, tolong durasinya di percepat saja. Agar kita semua tidak mencarinya terlalu lama," ujarku yang ingin segera memastikan kebenarannya. Untuk melihat rekaman cctv yang ada di sekitar restoran ini.
"Baik pak," balasnya.
Kami semua segera memperhatikan dengan baik, di setiap rekaman cctv yang berada di sekitar restoran ini.
__ADS_1
"Lelaki itu turun dari mobil," ucap Samara sambil menunjuk ke arah rekaman cctv. Karena lelaki yang Samara maksud, adalah seorang lelaki yang berada di dalam rekaman cctv di sekolah, yang akan masuk ke dalam restoran.