Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 33 Mengalah


__ADS_3

Samara tersenyum senang melihat kepergian Arsyaka dan Chelsea serta Siska dan ibunya, yang akan pergi meninggalkan rumah yang sudah menjadi milik Samara.


"Aku memang akan menjual rumah ini, tapi aku tidak akan membagi hasil denganmu Mas," batin Samara yang berniat menjual rumah ini. Untuk modal usahanya. Karena Samara juga tidak mau tinggal di rumah yang penuh kenangan dengan Arsyaka, yang akan menjadi mantan suaminya.


"Ayah...." teriak Arsya yang memanggil ayahnya, ia keluar dari dalam kamar bersama dengan Candra dan Kirana.


"Ayah mau kemana?" tanya Candra dan Kirana secara bersamaan. Karena ketiga anaknya Samara melihat ayahnya, yang sedang di dorong kursi rodanya oleh Chelsea menuju pintu keluar.


Samara tidak menjawab pertanyaan dari Candra dan Kirana. Karena ia kaget melihat kedatangan ketiga anaknya, yang melihat kepergian Arsyaka dari dalam rumahnya.


"Aku harus memberi pengertian pada ketiga anakku," batin Samara.


"Arsya, Candra. Kirana," lirih Arsyaka memanggil putra putrinya, sambil menengok ke arah belakang.


"Bunda ayah mau kemana? Dan siapa wanita itu!" cerca Kirana yang menanyakan pada Samara.


"Dia adalah...."


"Itu suster yang akan mengurus ayah, Nak." Samara segera menyela ucapan dari ibu mertuanya, yang akan memberitahukan pada ketiga anaknya Samara. Kalau Chelsea adalah ibu tiri, dari ketiga anaknya Samara dan Arsyaka.


"Kamu jangan sembarang bicara!" Retno yang geram mendengarkan ucapan Samara, ia segera pergi menghampiri Samara yang sedang berada di dekat ketiga anaknya.


"Lebih baik, ibu segera pergi meninggalkan rumah ini. Jangan buat keributan di depan anak-anak," ucap Samara tegas.


"Berani yah kamu mengusir aku." Retno segera mengangkat tangannya. Untuk menampar pipi Samara, yang telah berani mengusir dirinya di dalam rumah pemberian almarhum suaminya.


Akan tetapi, saat Retno akan menampar pipi Samara, bisa di tangkis tangannya Retno oleh Samara.


Samara pun segera melepaskan tangan ibu mertuanya dengan kasar, ia juga menatap tajam ke arah Retno yang berada di hadapannya.


"Omah jangan jahat sama bunda," ucap Candra yang melihat aksi Retno, yang akan menampar pipi Samara.

__ADS_1


"Diam kamu anak kecil," bentak Retno sambil menunjuk ke arah Candra.


"Bu ayo kita pergi dari sini." Siska mengajak Retno untuk segera pergi meninggalkan Samara dan ketiga anaknya.


"Ingat Samara, aku akan balas perbuatan kamu hari ini. Aku menyesal dulu pernah menerima kamu jadi menantuku," gerutu kesal Retno yang tidak terima di usir oleh Samara.


"Kamu dan ketiga anakmu harus segera pergi dari rumah ini," lanjut Retno menatap tidak suka pada Samara dan ketiga cucunya.


"Sudah Bu, ayo kita pergi sekarang. Jangan marah-marah di depan anak-anak Bu." Arsyaka juga berusaha mengajak ibunya untuk pergi meninggalkan rumah ini.


"Ingat Samara, kamu dan ketiga anakmu harus pergi dari rumah ini. Jika kamu masih berada di dalam rumah ini, aku akan menyuruh orang-orang untuk membuat kamu pergi dari rumah ini." Retno masih saja melampiaskan kekesalannya, dan tidak memperdulikan ajakan Arsyaka dan Siska yang mengajaknya pergi keluar.


Siska pun mencoba menarik tangan Retno, berusaha mengajak Retno ibunya. Agar segera pergi dari dalam rumah ini.


"Omah kenapa sih Bun?" Arsya ketakutan melihat Retno yang marah-marah pada Samara.


Samara segera memeluk Arsya yang ketakutan, dan mencoba menenangkan ketiga anaknya.


"Bunda juga tidak tahu sayang, sudah jangan dengarkan ucapan Omah barusan. Kalian bertiga sebaiknya masuk lagi ke dalam kamar, nanti bunda akan menjelaskan pada kalian bertiga," tutur Samara yang bingung, ia juga akan berusaha menjelaskan pada ketiga anaknya secara pelan-pelan. Agar ketiga anaknya bisa menerima kondisi kedua orang tuanya, yang tidak bisa hidup bersama lagi.


Samara menghela nafas dalam-dalam, dan membuangnya secara kasar. Sebelum menjawab pertanyaan dari ketiga anaknya.


"Ayah mau pergi mengobati kakinya, agar cepat sembuh. Tapi bunda tidak bisa menemani ayah, karena bunda harus mengurus kalian bertiga," kilah Samara yang belum mau menceritakan tentang kondisi yang sebenarnya terjadi.


"Kalian masuk ke dalam kamar yah, bunda mau menutup pintu dulu." Samara menyuruh ketiga anaknya untuk masuk ke dalam kamarnya lagi.


Dwaarrr! Suara petir disertai angin kencang, dan seketika hujan datang dengan sangat derasnya.


Samara pun bergegas menutup pintu rumahnya. Akan tetapi, saat Samara yang akan mengunci pintu rumahnya. Tiba-tiba saja pintu rumahnya, di dorong sangat kencang oleh Retno dan Siska sekuat mungkin. Karena mereka semua, akan masuk ke dalam rumah ini.


Samara pun terjatuh ke lantai. Karena dorongan yang sangat kuat dari Retno dan Siska.

__ADS_1


"Hahaha...." Mereka semua tertawa melihat Samara yang jatuh ke lantai.


Samara menatap tajam, pada orang-orang yang kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Mau apa lagi! Kalian semua masuk ke dalam rumahku ini?" Samara segera bangun dari lantai.


"Kamu tidak lihat di luar hujan sangat deras," ucap Arsyaka.


"Hey! Kalian semua bisa pergi menggunakan mobil yang ada di depan, tanpa harus masuk ke dalam rumah. Jangan mencari alasan, untuk masuk ke dalam rumahku ini," jelas Samara yang geram pada mereka semua.


"Kalau begitu! Kamu juga harus pergi dari rumah ini sekarang juga." Chelsea menyunggingkan senyuman, dan menatap tidak suka pada Samara.


"Yang di katakan oleh menantuku ini benar, kamu juga harus pergi dari rumah ini. Baru kita semua akan pergi dari rumah ini," timpal Retno yang setuju dengan ucapan Chelsea.


"Ini rumahku, mau aku pergi kapan pun juga. Bukan urusan kalian semua," ujar Samara tanpa rasa takut kepada mereka semua yang berada di hadapannya. Hilang sudah rasa hormat Samara pada ibu mertua dan Arsyaka, itu semua karena perbuatan mereka semua yang telah menyakiti hati Samara.


"Aku akan pergi jika kamu juga pergi dari rumah ini! Ayo kita masuk ke dalam, jangan pedulikan ucapan wanita itu." Arsyaka mengajak Chelsea dan Siska serta ibunya. Untuk masuk ke dalam rumah, dan menghiraukan ucapan Samara yang mencoba menyuruh mereka semua. Untuk pergi dari dalam rumahnya.


"Sabar, Samara. Kamu pasti bisa melawan mereka semua, tanpa harus mengeluarkan kekerasan dan energi," batin Samara yang berusaha menguatkan dirinya sendiri. Agar ia tidak tersulut emosi, melihat mereka semua yang masuk ke dalam rumahnya.


Samara segera menyusul mereka semua yang masuk ke dalam rumahnya, dan membiarkan mereka semua tetap berada di dalam rumahnya.


"Setelah hujan reda, sebaiknya kalian semua pergi dari rumah ini!" ucap Samara sambil berlalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas, dan meninggalkan mereka semua di lantai bawah.


"Seperti yang anak dan menantuku katakan, kamu juga harus pergi meninggalkan rumah ini." Retno menarik tangannya Samara, mencegah Samara yang akan naik ke lantai atas.


"Lepaskan!" Samara menarik tangannya yang di pegang oleh Retno.


"Aku juga akan pergi dari rumah ini, tanpa kamu minta. Lebih baik kalian semua yang pergi dari sini, jangan jadikan hujan sebagai alasan untuk tetap di dalam rumahku ini." Samara menatap sinis pada mereka semuanya.


"Apa kurang jelas ucapanku tadi? Aku dan anak menantuku, akan pergi jika kamu juga pergi." Retno tetap kuat dengan pendiriannya. Karena ia ingin memastikan, kalau Samara dan ketiga cucunya pergi meninggalkan rumah pemberian dari almarhum suaminya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mengemasi barang-barang ku, tidak ada alasan lagi untuk kalian semua tetap berada di dalam rumahku ini." Samara menghela nafas panjang. Sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Aku mengalah bukan berarti aku kalah, aku hanya tidak mau, ketiga anakku mendengarkan suara keributan di dalam rumahku ini," lanjut Samara yang segera pergi ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas.


__ADS_2