
Aku yang sekarang ini memilih tinggal di Surabaya, bersama dengan anak dan keluargaku. Karena saat aku mendapatkan uang kontrakan dari Alia dan suaminya, aku segera mengurus surat ke pindahan sekolah ketiga anakku terlebih dahulu. Sebelum aku dan anak-anak pergi ke kampung halaman. Untuk bertemu dengan kedua orang tuaku, yang berada di Desa Bukit Pelangi.
____________
Flashback.
Ketiga anakku yang sudah mengetahui tentang pernikahan ayahnya dengan Chelsea. Mereka bertiga bisa menilai sikap dan perubahan ayahnya yang beberapa bulan terakhir ini, tidak memiliki waktu bersama dengan mereka bertiga.
"Ayah jahat Bun, lebih memilih wanita itu dari pada kita," ucap Kirana yang mengeluarkan isi hatinya, yang sangat kecewa dengan sikap ayahnya.
"Pantas saja! Ayah selalu sibuk dan tidak pernah ada waktu untuk bermain bersama dengan kita lagi, ternyata...."
"Sayang." aku segera memotong ucapan dari Candra dan memeluknya. Kirana dan Arsya juga ikut memelukku yang sedang memeluk Candra.
"Mau seperti apapun sikap ayah, dia tetaplah ayah kalian. Bunda sangat berharap! Kalian bertiga bisa mengerti dengan keadaan ini. Maafkan bunda, yang tidak bisa hidup bersama dengan ayah kalian lagi," ucapku sambil melonggarkan pelukannya. Aku juga mencoba memberikan penjelasan, dan juga pengertian pada ketiga anakku.
"Bunda. Arsya akan tetap sayang sama ayah, tapi Arsya tidak bisa melihat bunda bersedih. Karena Arsya selalu menanyakan ayah terus sama bunda, mulai sekarang ini. Arsya janji! Tidak akan menanyakan ayah lagi." Arsya mengarahkan jari kelingkingnya ke arahku.
Aku pun menyambut jari kelingkingnya Arsya. Lalu aku kembali memeluk anak-anakku lagi.
"Sayang, besok kita pergi ke rumah nenek dan kakek yah," ajakku pada anak-anak.
"Iya Bun,'' sahut mereka bertiga.
"Ya sudah, sekarang kalian tidur." aku pun melepaskan pelukanku, dan menyuruh ketiga anakku untuk segera tidur. Karena besok pagi, aku dan anak-anak akan pergi ke rumah orang tuaku.
"Sepertinya aku harus memberitahukan kepada ibu, tentang kepulangan ku ke Desa Bukit Pelangi. Agar ketika sampai di rumah ibu dan bapak. Ibu dan bapak tidak menanyakan tentang Mas Syaka, yang tidak bisa mengantarkan aku dan anak-anak pergi ke rumah ibu dan bapak," gumamku dalam hati.
Aku tidak mau menceritakan tentang permasalahan rumah tanggaku kepada bapak dan ibu melalui pesan. Lebih baik aku menceritakannya, ketika aku sudah sampai di rumah ibu dan bapak saja.
Aku melihat ketiga anakku sudah tertidur pulas, aku pun akan menyusul anakku ke alam mimpi. Tapi sebelum aku tidur, aku mengirimkan pesan kepada ibu terlebih dahulu. Setelah itu, barulah aku tidur menyusul anakku yang sudah lebih dulu tidur.
***
Dan keesokan paginya.
Saat aku dan ketiga anakku sedang menuggu kedatangan taksi, yang akan mengantarku pergi ke Desa Bukit Pelangi. Tiba-tiba saja Rayanza datang menghampiriku dan ketiga anakku.
"Kalian semua mau pergi kemana?" tanya Rayanza yang sudah berada di hadapanku.
"Ray, kok kamu bisa ada di sini?" aku yang kaget dengan kedatangannya Rey, tidak menjawab pertanyaan darinya. Aku malah bertanya balik pada Rey, yang bisa mengetahui keberadaanku yang menginap di hotel ini.
__ADS_1
"Aku tahu dari Nayla," jawabnya.
"Oh pantas saja Ray, bisa mengetahui aku menginap di hotel ini. Karena Nayla yang memberitahu," batinku.
"Kesayangannya Om pada mau pergi kemana?" tanya Rayanza lagi, sambil menggendong Arsya.
"Aku dan bunda mau pergi ke rumah nenek dan kakek. Om Ray," jawab Arsya.
"Ya sudah, ayo Om antar." Rayanza yang sedang menggendong Arsya, langsung membawa Arsya masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu Ray," teriakan dariku itu menghentikan langkah kakinya Rayanza, dan ia pun menoleh ke belakang.
"Ada apa Ra?" tanyanya.
"Aku sudah memesan taksi online, yang akan mengantarku dan anak-anak pergi ke kampung halamanku, dan sebentar lagi juga mobilnya akan datang," jelasku pada Rayanza.
"Ya sudah, kita tunggu saja mobilnya dulu." Rayanza pun datang menghampiriku lagi.
Tidak lama kemudian taksi yang aku pesan sudah datang.
"Pak ini uangnya, maaf yah tidak jadi." Rayanza memberikan sejumlah uang kepada supir taksi online yang sudah aku pesan.
Aku mengkerutkan kening. Karena Rayanza memberikan uang pada supir taksi itu.
"Aku kan sudah bilang! Kalau aku akan mengantarmu dan juga anak-anak pergi ke kampung halaman kamu," sahutnya.
"Bunda, kita pergi ke rumah kakek dan neneknya sama Om Ray saja." ucap Candra.
"Iya Bun, sama Om Ray saja," timpal Kirana.
"Arsya juga maunya sama Om Ray." Arsya yang masih berada di gendongannya Rayanza, sependapat dengan kedua kakaknya.
"Ya sudah," akhirnya aku yang mengalah.
Karena ketiga anakku ingin di antar oleh Rayanza. Kalau sudah seperti ini, aku pun tidak bisa menolak ajakan dari Rayanza, yang ingin mengantarkan aku dan anak-anak pergi ke rumah kedua orang tuaku.
Sesampainya di rumah kedua orang tuaku.
Aku dan anak-anak serta Rayanza di sambut oleh kedua orang tuaku, yang memang sedang menunggu kedatanganku.
"Assalamualaikum Bu, pak." ucapku yang segera bersalaman dengan kedua orang tuaku, dan di ikuti oleh ketiga anakku serta Rayanza.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab ibu dan bapak secara bersamaan.
"Ini siapa Ra? Rasanya ibu pernah bertemu dengannya," tanya ibuku sambil menunjuk ke arah Rayanza.
"Saya Rayanza Bu, teman kuliahnya Samara," jawab Rayanza yang memperkenalkan dirinya.
"Oalah, pantesan aja ibu rasanya pernah ketemu kamu. Maaf ibu sudah tua, jadi suka lupa," sahut ibuku.
"Ibu ini yah, ini ada tamu bukannya di ajak masuk ke dalam rumah. Ini malah di ajak bicara di luar sambil berdiri pula," celetuk bapak yang mengingatkan ibu.
Ibu pun segera mempersilahkan Rayanza dan aku serta anak-anak masuk ke dalam rumah. Ibu dan bapak pun terlibat obrolan ringan dengan Rayanza, dan tidak lama kemudian Rayanza pun berpamitan kepada kedua orang tuaku.
Setelah kepergian dari Rayanza, aku menyuruh adikku Rina. Untuk mengajak ketiga anakku bermain. Karena aku ingin berbicara dengan ibu dan bapak, dan memberitahukan tentang permasalahan rumah tanggaku.
Bapak yang mendengarkan cerita dariku itu amat sangat kesal, dengan perbuatan ibu mertuaku dan juga Mas Syaka. Maka dari itulah, aku mengajak anak-anak dan keluargaku pergi ke Surabaya. Untuk menghindari kedatangan keluarga Mas Syaka, dan beruntungnya ibu dan bapak mau ikut pergi bersamaku.
Flashback off.
________________
"Nak, kita pergi ke ruang tamu. Bapak dan ibu ingin berbicara denganmu," ajak ibu. Ternyata kedatangan ibu yang masuk ke dalam kamarku dan anak-anak, ingin mengajakku berbicara.
"Iya Bu," sahutku.
Aku dan ibu pun pergi menemui bapak yang sedang duduk di ruang tamu, dan kemungkinan bapak sedang menunggu kedatanganku dan juga ibu.
"Samara putriku, apakah perasaan kamu sudah lebih baik?" tanya bapak.
"Iya pak, apalagi sekarang ini usaha toko kue buatan ibu dan aku banyak peminatnya. Aku seneng bisa tinggal bersama dengan ibu dan bapak di sini," jawabku sambil tersenyum senang.
Karena semenjak aku mengajak anak-anak dan keluargaku pindah ke kota Surabaya, aku memiliki usaha sendiri dari uang hasil kontrakan rumah dan juga barang-barang yang sudah aku jual.
Dan Aku juga tidak tahu? Kalau bapak memiliki teman yang baik di kota Surabaya. Sehingga aku dan bapak bisa memiliki tempat tinggal dan juga membuka usaha di kota ini, dengan bantuan dari temannya bapak.
"Syukurlah. Tapi nak, rasanya tidak baik. Kalau kita menghindar terus seperti ini, lebih baik kamu pergi kembali ke Jakarta. Saat putusan sidang terakhir perceraian kamu dengan Arsyaka," ucap bapak.
Yang di katakan oleh bapak benar, waktu itu bapak dan ibu langsung mau di ajak pergi olehku ke kota Surabaya. Karena ingin memberikan ketenangan hatiku, yang terluka atas perbuatannya Mas Syaka dan keluarganya.
Dan bapak menyuruhku pergi ke Jakarta. Jika hatiku sudah merasa lebih baik, dan mungkin ini waktunya. Untuk aku menghadapi keluarga Mas Syaka, dan mengambil apa yang menjadi hak keluargaku.
"Baiklah pak," sahutku dengan penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
Karena aku mau mengambil apa yang berhak keluargaku dapatkan, lahan perkebunan yang di kampung menjadi terbengkalai. Karena bapak tidak mau mengurus perkebunan itu lagi. Jika lahan perkebunan itu masih di miliki oleh keluarganya Mas Syaka, dan tidak mau membagi hasilnya untuk bapak.
Bahkan baru aku ketahui! Kalau uang bulanan yang Mas Syaka kirim untuk bapak, semuanya itu di gunakan untuk memperluas lahan perkebunan. Jadi Mas Syaka seperti tidak ikhlas memberikan uang itu pada kedua orang tuaku, yang telah memperluas lahan perkebunan itu. Sehingga membuat perkebunan itu mendapatkan hasil yang lebih besar dari sebelumnya, tapi keluarga Mas Syaka yang serakah itu. Tidak menepati janjinya, yang akan memberikan bapak setengah dari hasil perkebunan yang di kerjakan oleh bapakku.