
Rayanza masih menunggu jawaban dari Samara, dan ia tidak melepaskan genggam tangannya yang masih memegang erat tangan Samara. Akan tetapi, Samara masih diam dan belum menjawab pernyataan cinta Rayanza pada Samara, yang menginginkan Samara menjadi istrinya.
"Samara Ananda Putri, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" tanya Rayanza sekali lagi, sambil mengeluarkan sebuah kotak yang di dalamnya ada cincin.
"Aku tidak tahu, apa yang membuat kamu bisa mencintaiku? Apalagi, barusan kamu bilang padaku. Kalau kamu sudah dari dulu mencintaiku, dan aku tidak menyadari itu." Samara menghela nafas, dan menghentikan ucapannya sejenak. Karena ia mau memikirkan terlebih dahulu, tentang keputusan yang akan dia ambil.
"Ray, berikan aku waktu untuk menjawab semuanya. Karena aku bukanlah seorang gadis, yang bisa memutuskan semuanya dengan cepat. Kamu pasti sudah tahu, kalau aku sudah mempunyai tiga anak..."
"Aku juga mencintai dan menyayangi anak-anakmu, Ra. Aku sudah pernah mengatakan itu padamu. Kalau aku sudah menganggap ketiga anakmu sebagai anakku." Rayanza dengan cepat memotong ucapan Samara, dan ia berusaha meyakinkan Samara. Kalau ia menyayangi Samara dan ketiga anaknya, ia juga akan menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri Samara.
"Tapi bagaimanapun juga. Aku harus meminta pendapat dari ketiga anakku terlebih dahulu, Ray." Samara berusaha menjelaskan pada Rayanza, dan berharap Rayanza memberikan dirinya waktu untuk menjawab lamaran dari Rayanza.
"Baiklah, aku akan memberikan kamu waktu untuk menjawab lamaranku. Tapi aku ingin mengetahui tentang perasaanmu padaku?" pinta Rayanza yang ingin mengetahui perasaan Samara kepadanya.
Samara yang bingung menjawabnya, ia dengan cepat melepaskan genggaman tangan dari Rayanza. Samara segera bangun dari tempat duduknya, dan membalikkan badannya sambil berdiam diri di dekat tempat tidur Rayanza.
"Kamu jangan dulu pergi, Ra? Tolong jawab pertanyaanku! Apakah kamu juga mencintaiku?" tanya Rayanza sekali lagi. Saat ia melihat Samara akan pergi meninggalkannya.
"Aku rasa Kamu sudah mengerti dengan ucapanku barusan, yang ingin membicarakan semuanya dengan anak-anakku tanpa harus menjelaskan semuanya," sahut Samara dengan malu-malu.
"Ma... maksudmu bagaimana, Ra? Apakah itu berarti, kamu juga mencintaiku?" tanyanya lagi.
Samara mengagukkan kepalanya. Saat ia sudah membalikkan badannya ke hadapan Rayanza, sambil tersenyum manis.
Rayanza yang melihat itu, ia tersenyum senang dan ingin rasanya memeluk Samara yang berada di hadapannya.
"Samara mana jari manismu," ucap Rayanza yang ingin memasangkan sebuah cincin di jari manis Samara.
Samara pun mengarahkan tangannya ke arah Rayanza, dan Rayanza langsung memakaikan cincin itu pada Samara.
"Akhirnya penantian ku selama ini membuahkan hasil, orang yang aku cintai ternyata mencintaiku juga. Aku jadi tidak sabar ingin segera menikah denganmu,"
"Kamu jangan senang dulu, Ray. Karena belum tentu ketiga anakku setuju..."
"Aku setuju bunda menikah dengan Om Ray," ucap ketiga anaknya Samara yang menyela ucapan Samara. Karena mereka bertiga sudah masuk ke dalam kamar rawat Rayanza.
__ADS_1
Samara yang mendengar itu, ia segera menengok ke arah suara ketiga anaknya. Bahkan bukan cuman ketiga anaknya saja yang masuk ke dalam kamar rawat Rayanza, kedua orang tuanya Rayanza dan juga Raden pun ikut masuk ke dalam kamar rawat Rayanza.
Ketiga anaknya Samara langsung berlari menghampiri Samara dan memeluknya.
"Aku sayang sama Om Ray, Bun." Arsya mengungkapkan rasa sayangnya terhadap Rayanza pada Samara.
"Aku juga sayang sama Om Ray," timpal Kirana yang ikut memberitahukan tentang rasa sayangnya pada Rayanza.
"Semenjak bunda dan ayah berpisah. Aku bisa merasakan rasa kasih sayang dari seorang ayah lagi, berkat kehadiran Om Ray yang selalu ada untukku dan adikku. Karena ayah saat itu, selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Om Ray yang bukan ayah kandungku begitu tulus menyayangiku dan juga adikku, aku mau Om Ray menjadi ayah sambungku. Karena aku juga menyayangi Om Ray." Candra pun ikut mengungkapkan rasa sayangnya pada Rayanza.
"Sini peluk sayang." Rayanza yang merasa terharu, ia menyuruh ketiga anaknya Samara untuk memeluknya, ketiga anaknya Samara pun langsung menghampiri Rayanza dan memeluknya.
"Mulai sekarang kalian bertiga, jangan panggil Om Ray lagi. Tapi papa Ray, bagaimana setuju?" sambung Rayanza. Saat ia dan ketiga anaknya Samara sudah selesai berpelukan.
"Setuju... aku sayang papa Ray," sahut mereka bertiga sambil tertawa bahagia. Karena mereka bertiga akan mempunyai ayah sambung, yang sangat menyayangi mereka bertiga.
"Mama senang mendengar kabar ini. Nanti setelah kamu sembuh, kita adakan acara pertemuan kedua belah pihak keluarga. Untuk meresmikan lamaran kamu, pada kedua orang tuanya Samara," ucap Rahayu sambil tersenyum senang. Karena ia mendengar Samara dan ketiga anaknya, yang menerima Rayanza.
"Yang di katakan mama benar, kita harus bertemu dengan kedua orang tuanya Samara. Selain meresmikan lamaran kamu hari ini, kita juga harus membicarakan tentang acara pernikahan kalian berdua," timpal Haidar yang sependapat dengan ucapan istrinya.
"Iya pah, mah. Aku mendengar kabar bahagia ini, jadi merasa cepat sembuh," sahut Rayanza sambil tersenyum senang.
"Eeeh, kamu jangan pegang kepalaku." Rayanza segera menangkis tangan Raden, yang ingin memegang kepalanya.
"Katanya tadi sudah sembuh, aku cuman mau mengecek doang kok," balas Raden yang terus menggoda Rayanza.
Semua orang yang berada di dalam kamar rawat Rayanza tertawa melihat pertengkaran kecil di antara Rayanza dan Raden.
________
Seminggu kemudian.
Samara dan Rayanza sudah meresmikan acara lamaran Rayanza, yang menginginkan Samara menjadi istrinya pada kedua orang tuanya Samara. Anton dan Santi pun menerima dengan baik lamaran dari kedua orang tuanya Rayanza.
Dan sekarang ini mereka berdua akan mempersiapkan hari pernikahan mereka berdua, yang akan di adakan bulan depan. Karena kedua orang tuanya Rayanza menginginkan acara pesta pernikahan, yang akan membuat bahagia anak dan menantu serta ketiga cucunya.
__ADS_1
"Bunda ayo cepat keluar. Jangan lama-lama di dalam kamarnya, di depan papa Ray sudah menunggu," teriak Kirana yang menyuruh Samara untuk segera keluar dari dalam kamarnya.
Karena hari ini ketiga anaknya Samara akan di antarkan pergi ke sekolah oleh Rayanza dan Samara. Setelah seminggu mereka bertiga tidak masuk sekolah, sebab waktu mereka bertiga di temukan sekolah sedang libur.
"Iya sayang," sahut Samara di dalam kamar, ia pun segera keluar dari dalam kamarnya.
"Yuk, kita pergi sekarang." Samara langsung mengajak Kirana pergi menemui Rayanza dan kedua saudaranya.
Rayanza dan Samara serta ketiga anaknya langsung mengantarkan ketiga anaknya pergi ke sekolah. Karena mereka berdua akan melakukan fitting baju pengantin, setelah mengantar anak-anak pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah.
Saat ketiga anaknya Samara keluar dari dalam mobil Rayanza, tiba-tiba saja Vina datang menghampiri mereka bertiga.
"Hey." Vina menyapa ketiga anaknya Samara.
"Sudah sekitar seminggu lebih aku tidak melihat kalian bertiga, bagaimana kabar kalian?" sambungnya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja," sahut mereka bertiga secara bersamaan.
Samara dan Rayanza pun ikut keluar dari dalam mobil. Karena Vina menyapa ketiga anaknya.
"Bagaimana kabarmu juga Vin?" tanya Samara yang sudah keluar dari dalam mobil Rayanza.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, dan aku sangat bahagia sekali Tante. Karena sekarang ini, papaku mempunyai calon istri yang akan menjadi mama sambungku. Oh iya, mumpung aku bertemu dengan Tante dan Om Ray serta kalian bertiga di sini. Aku mau memperkenalkan calon mamaku, tunggu sebentar yah," ucap Vina yang akan memperkenalkan mama tirinya pada mereka semua.
Vina pun segera pergi menghampiri mobil Ervan yang akan pergi meninggalkan sekolahannya.
"Papa berhenti dulu," teriak Vina yang menghentikan mobil papanya.
"Ada apa sayang?" tanya Ervan yang sudah menghentikan mobilnya.
"Papa dan mama turun dulu dari mobil. Aku mau memperkenalkan mama pada teman-temanku," jawab Vina yang menyuruh Ervan dan calon istrinya, untuk turun dari mobil.
"Baiklah." Ervan dan calon istrinya pun menuruti kemauan Vina, yang ingin memperkenalkan calon istrinya pada temannya Vina.
__ADS_1
"Aku akan menunjukkan pada kalian semua. Kalau papaku sudah mendapatkan pengganti Tante Samara, yang telah menolak lamaran papaku," batin Vina sambil menyunggingkan senyuman.
Ervan dan calon istrinya mengikuti Vina dari belakang, yang akan memperkenalkan calon istrinya pada teman-temannya Vina.