
Samara yang mencoba menghentikan aksi ibu-ibu itu, tidak terdengar oleh telinga ibu-ibu yang sedang melampiaskan kekesalannya pada Chelsea yang menjadi seorang pelakor.
"Ibu-ibu sudah," teriakan Samara yang sangat kencang. Akhirnya membuat ibu-ibu itu bisa menghentikan aksinya terhadap Chelsea.
"Rasain tuh, makanya jadi wanita itu jangan jadi seorang pelakor," ucap salah satu dari ibu-ibu, yang masih memegang rambutnya Chelsea dan melepaskannya sambil mendorong Chelsea.
"Aaaw," lirih Chelsea yang kesakitan.
Sementara itu.
Arsyaka yang sedang mencari Chelsea, melihat keramaian ibu-ibu yang sedang berkumpul. Ia pun memutuskan menghampiri ibu-ibu itu. Sesampainya di sana, ia kaget melihat kondisi Chelsea yang sangat berantakan sekali.
"Semoga kamu mendapatkan balasan dari perbuatanmu."
"Hidupmu tak akan bahagia, jika merebut kebahagiaan orang lain."
Suara ibu-ibu yang mendoakan tidak baik pada Chelsea. Dan mereka semua langsung pergi, setelah melampiaskan kekesalannya pada Chelsea.
Chelsea segera pergi menghampiri Samara, di saat ibu-ibu itu sudah pergi menjauh.
"Awas kau Samara, akan aku balas perbuatanmu, yang telah melakukan ini semua kepadaku," geram Chelsea pada Samara. Karena ucapan Samara yang mengatakannya seorang pelakor, membuat ibu-ibu itu berani memukul dan menjambak rambutnya.
"Kamu ada masalah apa sama ibu-ibu itu, Hanny?" tanya Arsyaka yang sudah datang menghampiri Chelsea.
"Itu semuanya gara-gara mantan istrimu, Mas." Chelsea menjawab pertanyaan dari Arsyaka sambil menunjuk ke arah Samara yang sedang mengemasi kue-kuenya.
"Samara..." lirih Arsyaka yang baru menyadari adanya Samara.
"Apa? Kamu mau menyalahkan aku atas sikap istrimu?" Samara menatap tajam pada Arsyaka dan juga Chelsea.
"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Kalau istrimu itu adalah seorang pelakor," lanjut Samara yang tersenyum puas melihat keadaan Chelsea sekarang ini.
"Aku bukan yang seperti kamu katakan! Kamu nya aja yang gak becus urus suami, sampai tergoda wanita lain." Chelsea membalas ucapan Samara sambil menyunggingkan senyuman mengejek.
Sedangkan Arsyaka tidak menimpali ucapan Samara, ia terpana melihat Samara yang sekarang ini lebih cantik. Meski make up yang Samara gunakan natural.
"Ternyata selama ini kamu tinggal di kota Surabaya," batin Arsyaka yang baru bertemu lagi dengan Samara.
"Mas, kenapa kamu diam saja? Wanita itu telah membuat aku seperti ini, gara-gara ucapannya yang mengatakan aku sebagai pelakor. Sehingga aku di serang oleh ibu-ibu itu," ucap Chelsea yang meminta pembelaan pada Arsyaka. Tapi ia kesal pada Arsyaka, yang diam termenung melihat Samara tanpa membalas ucapan Samara.
"Yang aku katakan itu memanglah benar. Kenapa kamu jadi marah!" Samara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku bukannya tidak bisa menjaga suami, mau bagaimanapun menjaganya. Kalau seorang suami sudah menerima kehadiran seorang pelakor...."
"Dia itu bukan pelakor, jaga ucapan mu." Arsyaka memotong ucapan Samara dan menunjuk ke arahnya. Karena Arsyaka mulai tersulut emosi, demi membela Chelsea istrinya.
"Yang di katakan kamu benar, dia itu bukanlah pelakor. Tapi...! Seorang sampah yang harus di buang pada tempatnya." Samara melongos pergi meninggalkan Arsyaka dan Chelsea. Setelah dirinya selesai memasukan semua kue-kuenya ke dalam box.
"Kamu..."
"Ayo Hanny kita pergi dari sini." Arsyaka menarik tangannya Chelsea. Karena orang-orang mulai kembali berdatangan.
"Tapi Mas, aku tidak terima dengan ucapannya," sahut Chelsea yang masih kesal dengan ucapan Samara.
"Kamu gak lihat, di sekeliling kita saat ini," bisik Arsyaka di telinga Chelsea.
Chelsea yang masih kesal, menghentakkan kakinya. Sebelum ia dan Arsyaka pergi menuju ke tempat parkiran mobil.
Di dalam mobil.
"Mas kita harus membalas perbuatannya Samara. Karena gara-gara dia, aku jadi seperti ini. Dan adikmu sekarang ini menjadi buronan polisi," ucap Chelsea yang mengompori Arsyaka. Agar mau membalas dendam pada Samara.
"Yang di katakan oleh kamu benar, Hanny," timpal Arsyaka melirik Chelsea, sambil menyetir mobilnya.
"Apakah kamu mempunyai rencana untuk membalasnya?" lanjut Arsyaka yang bertanya kepada Chelsea.
*****
Di saat Samara sudah pergi menjauh dari Arsyaka dan juga Chelsea, handphone miliknya berdering. Ia pun segera menerima panggilan telepon, yang ternyata dari Rayanza.
"Halo Ra, sekarang ini kamu lagi di mana?" tanya Rayanza saat Samara sudah menerima panggilan telepon darinya.
"Aku tidak jauh dari pasar kaputran..."
"Tunggu di sana, aku akan pergi menemuimu," ucap Rayanza yang memotong jawaban Samara.
"Baiklah," sahutnya sambil mematikan panggilan telepon dari Rayanza.
Samara pun memutuskan menunggu Rayanza, sambil menawarkan kue jualannya pada setiap orang yang lewat.
Tapi ada anak kecil yang seumuran Candra dan Kirana, yang terus memperhatikan Samara yang sedang menawarkan jualan kuenya pada orang-orang. Samara yang melihat anak kecil yang terus memperhatikannya, mencoba mendekati anak kecil itu.
"Adek mau," tawar Samara pada anak kecil itu.
__ADS_1
Ia menjawab dengan ragu-ragu. Awalnya mengagukkan kepalanya, lalu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ambil saja buat adek." Samara memberikan bungkus plastik, yang di dalamnya ada kue buatannya pada anak kecil itu.
Wajah anak kecil itu pun tersenyum senang.
"Terima kasih Mbak, semoga Allah membalas kebaikan Mbak," ucapnya yang menerima kue dari Samara.
"Sama-sama," sahut Samara sambil tersenyum manis.
"Mbak mau dong kuenya, campur yah," ucap seorang ibu yang membeli kue Samara bersama ibu-ibu yang lainnya.
"Saya juga mau Mbak kuenya,"
"Aku juga mau, campur yah Mbak."
"Iya Bu." Samara pun segera memasukkan kue-kuenya ke dalam plastik.
"Saya cobain dulu ya,'' kata ibu yang baru saja datang ke tempat Samara yang sedang berjualan kue, dan ibu itu pun langsung mengambil kue buatan Samara.
"Iiikh kok kuenya, rasanya seperti ini. Gak enak banget," ucapnya yang menjelekkan kue buatan Samara.
"Lihat nih kuenya, sudah mulai basi," lanjut ibu itu memperlihatkan kue yang ada di tangannya, pada ibu-ibu yang mau membeli kue buatannya Samara.
Saat ibu itu memperlihatkan kue yang ada di tangannya, tiba-tiba saja orang-orang berlarian pergi.
"Astaghfirullah, ibu-ibu itu di sana ada kecelakaan beruntun," kata seorang ibu yang melihat kejadian tabrakan beruntun. Di sekitar tempat Samara yang sedang berjualan kue.
"Iya, pantas tadi orang-orang pada berlarian pergi," timpal ibu yang lainnya.
"Yuk kita pergi ke sana," ajak salah satu dari ibu-ibu itu pada temannya.
"Ini Mbak uangnya," ibu itu tetap membeli kue buatannya Samara, meski tadi ada seorang ibu-ibu yang menjelekkan kue buatannya.
Setelah membeli kue buatannya Samara, mereka semua segera pergi melihat tempat kejadian tabrakan beruntun itu. Sedangkan seorang ibu yang berniat menjelekkan kue buatan Samara, ia pun menghentakkan kakinya dan langsung pergi meninggalkan Samara.
"Aku mau lihat sebentar ke sana. Sebelum Rayanza datang ke sini," lirih Samara yang ingin pergi melihat ke tempat kecelakaan beruntun.
Sesampainya di sana.
Samara melihat orang-orang yang sedang menolong korban tabrakan beruntun, yang masih berada di dalam mobil. Saat Samara melihat korban kecelakaan itu, ia begitu kaget dengan korban kecelakaan beruntun yang terjadi di sekitar tempatnya berjualan kue.
__ADS_1
"Ayah...."