Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 51 Mendapatkan Bukti


__ADS_3

POV Rayanza.


Aku kira Nayla dan kedua orang tuanya akan datang menghampiriku, yang sedang duduk di restoran ini bersama kedua orang tuaku. Akan tetapi, Nayla dan kedua orang tuanya ternyata duduk tidak jauh dari tempat dudukku.


"Aduh maaf yah Haidar, aku datangnya terlambat."


Aku yang sedang memperhatikan Nayla, mendengar suara seorang lelaki yang menyebut nama papa. Aku pun segera menengok ke arah suara itu.


"Santai aja, aku juga belum lama di sini," ucap papa kepada temannya yang datang bersama istri dan anaknya.


"Oh iya perkenalkan ini putraku Rayanza Haidar Alfarizky, dan yang cantik ini pasti kamu sudah tahu dong," lanjut papa memperkenalkanku dengan temannya yang bernama Om Reno.


Aku pun berjabat tangan dengan Om Reno dan istrinya serta anaknya. Om Reno juga memperkenalkanku, dengan anak perempuannya yang bernama Tiya Maharani.


Setelah acara perkenalanku dengan Tiya, acara makan malam di restoran ini pun di mulai.


Akan tetapi. Saat sedang makan malam bersama, handphoneku bergetar seperti ada orang yang sedang menghubungiku. Aku pun segera mengambil handphoneku, untuk mengetahui orang yang sedang menghubungiku.


"Ada apa ya! Samara menghubungiku?" gumam ku dalam hati.


Sebelum menerima panggilan telepon dari Samara. Aku berpamitan terlebih dahulu kepada mama dan papa, serta Om Reno dan anak istrinya, dengan alasan pergi ke toilet.


Sesampainya aku di dalam toilet, aku segera menghubungi Samara. Karena panggilan telepon dari Samara, tidak terjawab olehku.


"Halo Ra," ucapku saat Samara menerima panggilan telepon dariku.


"Maaf yah Ray, aku pasti mengganggu waktu istirahatmu. Tapi aku mau minta tolong sama kamu..."


"Minta tolong apa Ra?" aku segera memotong ucapan Samara. Karena aku mendengar kata tolong dari Samara, membuat aku menjadi cemas dan khawatir terjadi sesuatu pada Samara dan keluarganya yang tinggal di kota Surabaya.


"Aku tadi menerima panggilan telepon dari pihak kepolisian. kata pak polisi, kedua orang itu sekarang sudah mau mengatakan tentang orang yang telah menyuruh mereka untuk menculikku. Aku tidak mau pergi ke Jakarta, jadi aku minta tolong sama kamu. Untuk pergi ke kantor polisi besok, dan nanti kamu beritahu aku siapa pelakunya yah," jelas Samara.


Aku menghembuskan nafas lega, akhirnya pihak kepolisian berhasil mengintrogasi kedua orang itu. Sehingga membuat mereka berdua, mau memberitahukan tentang orang yang menyuruh mereka berdua. Untuk melakukan penculikan pada Samara.


"Ray, apa besok pagi kamu bisa pergi ke kantor polisi?" lanjut Samara yang bertanya kepadaku. Karena tadi aku tidak langsung menimpali ucapannya.


"Iya Ra, aku bisa kok," sahutku.


"Terima kasih ya Ray, selamat malam." Samara pun mengakhiri panggilan telepon dariku.


Sepertinya aku akan mengajak Nayla pergi ke kantor polisi. Agar ia bisa mengetahui pelaku dari penculikan Samara, yang kemungkinan besar adalah kedua orang tuanya. Aku pun segera pergi dari dalam toilet, dan pergi menghampiri Nayla yang sedang bersama kedua orang tuanya.


Sesampainya di tempat duduk Nayla, aku langsung mengajak Nayla pergi ke luar restoran. Karena aku ingin berbicara dengannya, secara empat mata.


"Ada apa Ray? Kamu mengajak aku berbicara di sini?" tanyanya kepadaku.

__ADS_1


"Apakah sudah ada hasil dari kepolisian, tentang masalah racun yang ada di dalam restoranmu?" jawabku yang bertanya tentang permasalahan di restorannya Nayla.


"Masih dalam proses penyelidikan," sahutnya.


"Oh begitu, tapi apakah kamu tidak curiga dengan seseorang di sekitarmu." aku segera menceritakan tentang kecurigaanku itu pada Nayla. Kalau aku curiga dengan kedua orang tuanya Nayla, yang datang saat Nayla dan Samara bertukar minuman.


"Kamu jangan asal nuduh yah! Tidak mungkin kedua orang tuaku membuat jelek nama restoran yang sedang aku rintis." Nayla membantah kecurigaanku terhadap kedua orang tuanya.


"Aku menyesal kemarin telah mengatakan tentang perasaanku kepadamu. Sehingga membuat kamu curiga dan berpikir buruk kepada kedua orang tuaku, yang melakukan itu pada Samara," lanjut Nayla sambil berderai air mata.


"Maaf Nay," hanya kata itu yang mampu aku ucapkan untuk saat ini. Karena aku telah menuduh kedua orang tuanya Nayla, tapi kecurigaanku itu beralasan yang sangat jelas. Bahwa di rekaman cctv itu, terlihat kedatangan kedua orang tuanya yang keluar dari ruangannya Nayla. Dan mereka berdua langsung pergi menghampiri Nayla, yang sedang bertukar minuman dengan Samara.


"Orang tuaku baru saja pulang dari luar kota, dan mana mungkin beliau melakukan itu semuanya," ucap Nayla parau.


"Itu hanya sedikit kecurigaanku saja Nay. Kalau kamu ingin memastikan kebenarannya, besok pagi kamu ikut bersamaku pergi ke kantor polisi. Karena pihak kepolisian sudah mendapatkan bukti, dari kedua orang yang sudah tertangkap itu," ajakku pada Nayla.


"Baiklah, aku akan ikut pergi bersamamu." Nayla langsung pergi meninggalkanku. Setelah dirinya mengatakan itu padaku.


Aku pun segera pergi menghampiri kedua orang tuaku, yang masih berada di dalam restoran bersama dengan temannya papa.


"Kamu pergi ke mana sih Ray sama wanita itu," tunjuk papa ke arah Nayla dan kedua orang tuanya yang akan pergi meninggalkan restoran.


"Pergi ke luar restoran, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan temanku itu pah. Oh iya, kemana Om Reno dan anak istrinya pah?" sahutku sambil bertanya balik kepada papa. Karena aku tidak melihat keberadaan mereka bertiga di dalam restoran ini.


"Yuk kita juga pulang, mama sudah mengantuk nih," ajak mama.


Aku dan kedua orang tuaku pun pergi meninggalkan restoran.


________


Keesokan harinya.


Aku segera pergi ke kantor polisi, dan sebelum masuk ke dalam kantor polisi. Aku menunggu kedatangan Nayla, yang akan datang ke kantor polisi.


Tidak lama kemudian.


Nayla sudah datang ke kantor polisi, dan bergegas pergi menghampiriku.


"Yuk Nay, kita masuk ke dalam." aku langsung mengajak Nayla masuk ke dalam kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi, pak polisi langsung membicarakan tentang orang yang melakukan penculikan pada Samara.


"Menurut hasil jawaban dari mereka berdua, orang yang telah menyuruh mereka berdua adalah Glen dan kekasihnya," ucap pak polisi yang memberitahuku dan juga Nayla.


"Glen," ucapku dan Nayla secara bersamaan.

__ADS_1


"Apakah kalian mengenalnya?" tanya pak polisi.


"Tidak pak," sahutku.


"Aku juga tidak kenal," timpal Nayla sambil melirik ke arahku. Karena aku sudah salah sangka terhadap kedua orang tuanya Nayla.


"Kalau saya boleh tahu, siapa nama kekasihnya Glen, pak?" tanyaku penasaran. Siapa tahu aku mengenal nama kekasihnya Glen.


"Mereka berdua tidak mengetahui nama kekasihnya Glen, coba kamu hubungi Bu Samara. Siapa tahu, dia mengenal Glen?" jawab pak polisi sambil menyuruh aku menghubungi Samara.


"Iya pak," aku pun segera menghubungi Samara.


Panggilan teleponku langsung di angkat oleh Samara.


"Halo Ray, siapa pelakunya?" Samara langsung menanyakan tentang pelaku penculikannya.


"Pelakunya adalah Glen dan kekasihnya," jawabku yang memberitahukan kepada Samara.


"Apakah kamu mengenalnya?" lanjutku yang bertanya balik pada Samara.


"Aku tidak mengenal yang namanya Glen, tapi nama kekasihnya Glen siapa Ray? Siapa tahu aku mengenal kekasihnya?" Samara kembali bertanya lagi kepadaku.


Aku pun langsung memberitahukan kepada Samara, kalau pihak kepolisian hanya mendapatkan bukti nama Glen dan kekasihnya. Tapi kedua orang suruhannya Glen, tidak mengetahui nama kekasihnya. Setelah memberitahukan semuanya itu pada Samara, aku langsung mematikan panggilan telepon.


"Bagaimana? Apakah Bu Samara mengenalnya?" tanya pak polisi. Ketika aku selesai bertelepon dengan Samara.


"Tidak pak," jawabku singkat.


"Kami akan berusaha menyelidiki kasus ini, dan bisa menemukan pelakunya," ucap pak polisi.


"Terima kasih pak, atas informasinya. Kalau begitu aku dan temanku pergi dulu," pamitku pada pak polisi.


Aku dan Nayla segera pergi meninggalkan ruangan pak polisi. Nayla yang sudah jalan mendahuluiku, aku segera menarik tangannya sebelum dirinya pergi meninggalkan kantor polisi.


"Nay, maafkan aku yang telah menuduh kedua orang tuamu," ucapku meminta maaf kepada Nayla.


"Iya, aku mencoba memahami sikapmu yang menuduh kedua orang tuaku. Karena kamu mencintai Samara, dan sekarang kamu sudah tahukan! Kalau kedua orang tuaku tidak seperti yang kamu tuduhkan." Nayla melepaskan tangannya yang aku pegang.


"Maaf Nay," hanya kata itu yang keluar dari dalam mulutku.


Nayla tidak menjawab kata maaf dariku, ia langsung pergi ke arah mobilnya yang terparkir di depan kantor polisi.


Akan tetapi, saat Nayla akan masuk ke dalam mobilnya. Aku melihat Nayla menerima panggilan telepon, dan kemudian ia datang menghampiriku.


"Ray aku tadi menerima panggilan telepon dari karyawanku. Kata karyawanku, orang yang menaruh racun ke dalam makanan yang di bawa oleh Samara. Adalah seorang wanita yang menggunakan seragam kerja milik karyawanku, dan aku sangat yakin! Kalau wanita itu adalah kekasihnya Glen, ayo kita pergi ke restoranku." Nayla mengajakku pergi ke restorannya.

__ADS_1


__ADS_2