Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 86 Mengintai


__ADS_3

Reza dan Nayla yang mendapatkan informasi tentang keberhasilan pihak kepolisian, dalam menemukan lelaki yang menculik ketiga anaknya Samara. Mereka berdua segera pergi dari kantor polisi, untuk memberitahukan semuanya pada Samara.


Ketika Nayla dan Reza sudah berada di luar kantor polisi. Nayla segera mengambil handphonenya, untuk menghubungi Samara. Akan tetapi, Reza mencegah Nayla yang akan menghubungi Samara.


"Jangan memberitahu Samara di telepon. Sebaiknya kita pergi ke rumahnya saja, Nay." Reza mengajak Nayla pergi ke rumah Samara.


"Baiklah, ya sudah ayo kita pergi sekarang." Nayla pun setuju dengan ajakan dari Reza, yang mengajaknya pergi ke rumah Samara.


Reza menggenggam tangannya Nayla, dan mengajaknya pergi meninggalkan kantor polisi. Karena mereka berdua akan pergi ke rumah Samara, untuk memberitahukan semuanya pada Samara. Ketika mereka berdua sudah sampai di rumah Samara.


________


Sementara itu.


Para polisi yang sedang mengikuti jejak lelaki, yang telah menculik ketiga anaknya Samara. Mereka semua terus mengintai dan memantau gerak gerik lelaki itu, tanpa di ketahui oleh lelaki itu.


Lelaki itu pergi ke sebuah gang sempit yang jaraknya, jauh dari jalan raya.


"Pasti ini tempat persembunyiannya, kita harus mengikuti jejak dia. Jangan sampai kita ketahuan olehnya, apalagi sampai ke tinggalan jejaknya," lirih Ricky yang menyuruh rekan-rekannya. Untuk terus mengikuti jejak lelaki itu.


"Baik pak," sahutnya.


Para polisi pun terus mengikuti jejak lelaki itu, dan segera bersembunyi. Ketika lelaki itu, merasa dirinya seperti ada yang mengikuti. Tapi ketika lelaki itu menengok ke belakang, dia tidak melihat keberadaan orang-orang yang sedang mengikutinya. Hingga sampai beberapa kali, lelaki itu menengok ke belakang. Untuk memastikan kebenarannya, apakah ada orang yang sedang mengikutinya? Akan tetapi lagi-lagi, lelaki itu tidak menemukan keberadaan orang-orang yang sedang mengikutinya.


"Apa mungkin! Ini hanya perasaanku saja," lirihnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah mengatakan itu, dia tetap melanjutkan perjalanan sampai di sebuah markas yang berada di gang yang sangat sempit. Dan sesampainya di depan markas,  dia segera masuk ke dalam markas.


"Tumben kamu datang ke sini?" tanya salah satu dari teman-temannya, yang melihat kedatangannya.


"Iya nih, gak biasanya kamu datang ke sini?" sahut temannya yang lainnya, yang ikut menanyakan tentang tujuan kedatangannya ke dalam markas.


"Aku mau numpang bersembunyi di sini. Karena sekarang ini! Aku menjadi buronan polisi, aku harus tetap bersembunyi di dalam markas ini. Jangan sampai polisi mengetahui keberadaanku, karena aku tidak mau sampai di tangkap oleh polisi," jawabnya yang memberitahukan kepada bos dan teman-temannya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan bersembunyi di dalam markas ku, aku tidak mau mengambil resiko. Jika polisi sampai menemukan keberadaanmu di sini, aku tidak mau kita semua tertangkap oleh polisi," ucap bos pemilik markas, yang mengusir dirinya pergi dari tempat ini.


"Tapi..."


"Aku tidak menerima kamu di sini, ayo usir dia dari sini!" lanjutnya lagi sambil menyela ucapan lelaki itu, yang belum selesai berbicara, dan ia menyuruh anak buahnya. Untuk mengusir lelaki itu dari dalam markas.


"Tolong aku bos, ijinkan aku bersembunyi di sini," ujarnya yang memohon pada bosnya.


"Aku tidak mau mengambil resiko. Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini," sahutnya yang tidak mengijinkan lelaki itu bersembunyi di dalam markasnya.


"Bawa dia keluar dari sini," lanjutnya lagi yang memerintahkan anak buahnya.


"Siap bos," jawab mereka semua sambil menyeret lelaki itu, yang merupakan temannya. Untuk keluar dari dalam markas.


"Ijinkan aku bersembunyi di sini," lirihnya yang memohon pada temannya.


"Bos tidak mengijinkan kamu bersembunyi di sini," balasnya sambil membawa paksa lelaki itu, untuk pergi dari dalam markas.


"Jangan bergerak!" ucap Ricky yang menodongkan pistol ke arah mereka semua, yang sedang membawa lelaki itu. Untuk pergi dari dalam markas.


"Po... polisi," lirih mereka semua yang kaget melihat para polisi, yang sudah berada di depan pintu masuk markasnya.


"Huuuh sial, ternyata tadi itu bukan perasaanku saja. Tapi memang benar ada orang yang mengikutiku," gerutu lelaki itu yang kesal. Karena ia tidak menyadari ada orang yang mengintainya.


"Ayo cepat borgol mereka semua!" perintah Ricky pada rekan-rekannya.


"Baik pak," sahutnya.


Para polisi pun segera memborgol mereka semua. Akan tetapi, di saat para polisi sedang memborgol mereka semua, salah satu orang yang berada di dalam markas melihat kejadian itu. Ia pun segera berlari pergi menghampiri bos dan teman-temannya.


"Bos di luar markas ada para polisi, ayo cepat kita segera pergi dari sini,'' ucapnya yang memberitahukan kepada bosnya. Untuk pergi meninggalkan markas.


"Sialan, kenapa para polisi bisa mengetahui markas ku? Apa jangan-jangan! Itu semuanya, gara-gara dia yang telah berkhianat kepadaku?" gerutunya yang kesal di dalam hatinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita cepat pergi dari sini," lanjutnya yang menyuruh anak buahnya pergi dari dalam markas.


"Iya bos," timpalnya sambil bergegas pergi dari dalam markas. Agar ia dan teman-temannya tidak tertangkap oleh polisi.


__________


Ricky yang melihat rekan-rekannya, yang sudah selesai memborgol mereka semua, menyuruh rekan-rekannya untuk masuk ke dalam markas.


"Kalian semua periksa ke dalam, siapa tahu di dalam masih ada orang." Ricky kembali memerintahkan rekan-rekannya. Untuk memeriksa di dalam markas. Sedangkan ia mengawasi mereka semua, yang sudah di borgol oleh rekan-rekannya.


"Siap pak," balasnya.


Para polisi pun segera masuk ke dalam markas, dan memeriksa semua ruangan yang ada di dalam markas.


Akan tetapi orang-orang yang berada di dalam markas sudah pergi meninggalkan markasnya. Agar para polisi tidak bisa menangkap mereka semua.


Para polisi yang sudah menggeledah seisi markas, tidak menemukan keberadaan ketiga anaknya Samara dan orang-orang yang berada di dalam markas.


"Di sini tidak ada siapa-siapa?" lirih salah satu dari polisi, yang ikut mengeledah markas.


"Iya benar. Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini," sahutnya yang mengajak rekan-rekan yang lainnya. Untuk pergi dari dalam markas, dan memberitahukan semuanya pada Ricky. Selaku pimpinan polisi yang bertugas mencari keberadaan lelaki, yang telah menculik ketiga anaknya Samara.


Sesampainya para polisi di depan pintu masuk markas, para polisi segera melaporkan semuanya pada Ricky.


"Di dalam tidak ada orang lagi pak," ucap salah satu dari polisi, yang memberitahukan kepada Ricky. Kalau para polisi yang mengeledah seisi markas, tidak menemukan orang-orang yang berada di dalam markas.


"Apa kalian semua tidak menemukan ketiga anak kecil yang di culik oleh dia?" tanya Ricky pada rekannya yang memeriksa keadaan di dalam markas, sambil menunjuk ke arah lelaki yang menculik ketiga anaknya Samara.


"Di dalam tidak ada orang lagi pak," jawabnya.


"Ya sudah kita semua pergi dari tempat ini," ajak Ricky pada rekan-rekannya.


Para polisi pun segera pergi meninggalkan markas, dan membawa lelaki yang menculik ketiga anaknya Samara dan teman-temannya. Untuk pergi ke kantor polisi. Karena para polisi akan mengintrogasi mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2