
"Kalau kamu mau pergi ke Jakarta, aku akan menemanimu," ucap Nayla yang mendengar ucapan Samara, yang mau pergi ke Jakarta. Untuk mencari ketiga anaknya yang di culik oleh Arsyaka.
"Terima kasih, Nay." Samara terharu sekali. Karena Nayla mau menemaninya pergi ke Jakarta, mencari ketiga anaknya yang di culik oleh Arsyaka.
"Iya sama-sama, Ra. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke rumah Arsyaka seorang diri, kita pergi bersama-sama ke rumahnya," sahut Nayla sambil memegang tangannya Samara.
"Jangan terburu-buru pergi ke Jakarta." Reza melarang Samara dan Nayla yang akan pergi ke Jakarta.
"Kenapa?" tanya Samara dan Nayla secara bersamaan.
"Kita harus memberitahukan ini semua kepada polisi terlebih dahulu." Reza menjelaskan alasan dirinya, yang melarang Samara dan Nayla pergi ke Jakarta.
"Kamu bisa pergi ke kantor polisi, untuk menjelaskan semuanya. Tapi kamu tidak bisa melarangku pergi ke Jakarta, aku akan tetap pergi ke Jakarta mencari ketiga anakku di rumah Mas Syaka." Samara bersikeras dengan pendiriannya, yang ingin mencari ketiga anaknya di rumah Arsyaka yang ada di kota Jakarta.
"Biarkan aku menemani Samara pergi ke Jakarta. Kalau kamu tidak mau menemaniku dan Samara pergi ke Jakarta," timpal Nayla yang juga tetap dengan pendiriannya, yang ingin menemani Samara pergi ke kota Jakarta.
"Aku akan tetap pergi ke Jakarta, meski kamu melarangku pergi," sahut Samara.
"Kalian berdua dengarkan penjelasanku dulu, aku tidak bermaksud melarang kalian berdua pergi ke Jakarta. Untuk masalah Arsyaka yang membawa kabur ketiga anakmu ke Jakarta, aku akan memastikan kebenarannya, dengan cara menyuruh orang untuk pergi ke rumah Arsyaka yang ada di Jakarta. Jadi kamu dan Nayla tidak perlu pergi ke Jakarta," ucap Reza menjelaskan.
"Yang di katakan oleh Nak Reza benar, Ra. Sebaiknya kamu dan Nayla jangan pergi ke Jakarta terlebih dahulu. Karena belum tentu juga, Arsyaka membawa pergi ketiga anaknya ke Jakarta. Apalagi sekarang ini dia tidak memiliki pekerjaan, sehingga membuat dia di ceraikan oleh Chelsea," ujar Anton yang sependapat dengan ucapan Reza.
"Tapi pak..."
"Ibu mengerti dengan kondisi dan kepanikan mu sekarang ini, yang ingin menyelamatkan ketiga anakmu. Tapi ibu merasa tidak yakin, kalau Arsyaka dan ibunya membawa ketiga anakmu pergi ke Jakarta. Karena saat ibu dan bapak bertemu dengan Arsyaka dan ibunya, mereka berdua tidak pergi ke bandara. Tapi mereka berdua sedang mencari sebuah kontrakan dengan berjalan kaki, tanpa membawa kendaraan. Kalaupun memang benar Arsyaka membawa ketiga anaknya pergi ke Jakarta, pasti ada orang yang membantunya." Santi segera menyela ucapan Samara, dan mengeluarkan pendapatnya.
"Yang di katakan ibu benar Mbak. Pasti ada orang yang telah membantunya, sebab tidak mungkin Mas Arsyaka bisa mengetahui tempat sekolah anak-anak Mbak dengan cepat. Apalagi Mas Arsyaka belum lama tinggal di kota ini," sahut Rina yang setuju dengan ucapan ibunya.
"Dengarkan ucapanku terlebih dahulu. Jangan ada yang memotong ucapanku, sampai aku selesai berbicara," ucap Samara yang ingin di dengarkan ucapannya, tanpa ada orang yang memotong ucapannya.
Semua orang yang ada di ruang tamu mengagukkan kepalanya, dan akan mendengarkan ucapan Samara sampai selesai.
__ADS_1
"Kata mamanya Chelsea, Mas Syaka telah mendapatkan uang gaji terakhirnya. Pasti uang itu, dia gunakan untuk pergi menemui ketiga anaknya dan mengajaknya pergi ke Jakarta." Samara berhenti sejenak. Sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Tapi yang ibu dan Rina ucapkan barusan ada benarnya juga, tidak mungkin Mas Syaka bisa dengan cepat mengetahui tempat sekolah anak-anaknya. Kalau tidak ada orang yang membantunya, dalam menculik ketiga anakku. Terus apa yang harus kita lakukan saat ini?" lanjut Samara yang tidak bisa menahan air matanya. Karena ia takut terjadi sesuatu pada ketiga anaknya.
Santi memeluk Samara yang bersedih kehilangan ketiga anaknya.
"Kita semua pasti akan berusaha mencari keberadaan ketiga anakmu," ucap Santi menenangkan hati Samara.
"Bapak yakin Arsyaka tidak akan menyakiti ketiga anaknya, Ra." Anton pun ikut menenangkan Samara yang masih menangis.
Di saat semua orang sedang menenangkan Samara yang sedang bersedih.
Tok-tok.
Mereka semua mendengarkan suara ketukan pintu.
"Biar Rina yang membukakan pintunya, Bu." Rina mencegah ibunya. Ketika ia melihat ibunya yang akan bangun dari tempat duduknya.
"Assalamualaikum." Rayanza mengucapkan salam. Ketika Rina sudah membukakan pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk kak." Rina mempersilahkan Rayanza masuk ke dalam rumah bersama Tiya Maharani, yang ikut pergi bersama Rayanza ke rumah Samara.
"Kenapa Samara menangis," batin Rayanza yang melihat Samara menangis di ruang tamu. Ia pun segera pergi menghampiri Samara.
"Ra, kenapa kamu menangis lagi? Memangnya informasi apa yang di katakan oleh polisi tentang ketiga anakmu? Bukannya polisi bilang sudah berhasil menemukan mobil yang menangkap ketiga anakmu? Apakah polisi hanya berhasil menangkap orang yang menculik ketiga anakmu, tapi tidak berhasil menemukan ketiga anakmu?" Rayanza mencerca banyak pertanyaan pada Samara yang sedang bersedih.
"Tanyanya satu-satu Ray," sahut Reza yang mendengar Rayanza, yang mencerca banyak pertanyaan pada Samara yang sedang menangis.
"Nak Rayanza, sudah duduk dulu sekalian ajak temannya juga duduk. Nanti bapak yang akan menjawab pertanyaan dari Nak Rayanza," ucap Anton yang menyuruh Rayanza dan Tiya duduk.
"Maaf, yah pak. Aku cuman mau menjelaskan sedikit saja, kalau aku itu adalah ca..."
__ADS_1
"Kamu duduk Tiya." Rayanza dengan cepat memotong ucapan Tiya, dan segera pergi menghampirinya.
"Aku hanya mau mengatakan yang sebenarnya. Agar mereka semua tahu tentang..."
"Jangan bicara yang macam-macam, di rumah ini Tiya." Rayanza berbisik di telinga Tiya, dan memperingatkannya. Untuk tidak membicarakan sesuatu yang tidak ia sukai.
Rayanza segera mengajak Tiya duduk di dekatnya. Agar ia bisa mengawasi Tiya, untuk tidak berbicara yang macam-macam. Akan tetapi, sebelum Tiya duduk ia menghentakkan kakinya terlebih dahulu. Karena ia kesal dengan ucapannya Rayanza.
"Pak, informasi apa yang di katakan oleh polisi?" tanya Rayanza lagi. Karena ia ingin mengetahui informasi dari pihak kepolisian, yang sudah menemukan mobil milik lelaki yang menculik ketiga anaknya Samara.
"Polisi menemukan handphone milik Arsyaka yang tertinggal di mobil, yang di temukan oleh polisi..." Anton pun mulai menceritakan semuanya pada Rayanza, yang baru saja datang ke rumahnya bersama Tiya.
"Awas kau Arsyaka, aku akan memberikanmu pelajaran. Jika suatu saat nanti, aku bertemu denganmu," batin Rayanza yang kesal dengan perbuatannya Arsyaka. Sehingga membuat ia mengepalkan kedua tangannya.
"Apakah semenjak Arsyaka menculik ketiga anaknya, pernah menghubungimu, Ra?" tanya Rayanza pada Samara.
"Dia tidak pernah menghubungiku sama sekali," jawabnya.
"Aku rasa! Tujuan Arsyaka menculik ketiga anaknya, bukan karena ia ingin meminta uang tebusan. Tapi..."
"Mas Syaka menculik ketiga anakku. Untuk di jadikan sebagai seorang pengemis, seperti yang di katakan oleh mamanya Chelsea. Sebelum aku pergi meninggalkan rumahnya." Samara menyela ucapan Reza yang belum selesai berbicara, dan memberitahukan tentang ucapan Linda yang mengatakan, kalau ketiga anaknya akan di jadikan sebagai seorang pengemis oleh Arsyaka di kota Jakarta.
"Pak, Bu. Ijinkanlah aku pergi ke Jakarta, aku hanya ingin memastikan kebenarannya," lanjut Samara yang meminta ijin kepada kedua orang tuanya. Agar mengijinkannya pergi ke rumah Arsyaka. Untuk mengetahui kebenarannya, tentang ketiga anaknya yang di culik oleh Arsyaka.
"Kita laporkan saja dulu ke polisi. Sebelum kamu pergi ke Jakarta, agar polisi bisa pergi bersamamu ke rumah Arsyaka." Anton tidak mengijinkan Samara pergi ke Jakarta seorang diri.
"Yang di katakan oleh bapak benar, kita harus melaporkan ini semuanya kepada polisi. Barulah kita bisa pergi ke Jakarta, aku akan menemanimu, Ra." sahut Rayanza yang membenarkan ucapan bapaknya Samara, dan ia akan menemani Samara pergi ke Jakarta.
"Aku juga akan menemanimu pergi ke Jakarta, Ra." Nayla menimpali ucapan Rayanza.
"Tapi menurut ibu, kamu jangan dulu pergi ke Jakarta, Ra. Nak Reza tolong hubungi orang yang ada di Jakarta, untuk pergi ke rumah Arsyaka. Karena ibu merasa tidak yakin, kalau Arsyaka membawa ketiga anaknya pergi ke Jakarta." Santi menyuruh Reza menghubungi seseorang yang ada di kota Jakarta. Untuk pergi ke rumah Arsyaka.
__ADS_1
"Baiklah Bu." Reza pun segera menghubungi temannya yang ada di Jakarta, dan menyuruhnya pergi ke rumah Arsyaka.