
POV Samara.
Mas Syaka melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda. Karena aku tidak mau menerimanya menjadi suamiku lagi. Tapi untuk sekarang ini, aku mencoba mengikuti permainannya. Agar aku bisa bertemu dengan ketiga anakku.
"Sayang, aku dan Chelsea sudah bercerai. Jadi sekarang ini kamu akan menjadi istriku satu-satunya, dan kehidupan anak-anak kita akan bahagia. Jika mereka bertiga melihat kita hidup bersama, seperti dulu lagi," ucap Mas Syaka sambil menengok ke arahku, dan memberitahukan perihal dirinya yang sudah bercerai dengan Chelsea.
"Aku tidak perduli dengan perceraianmu dengan Chelsea, dan jangan berharap aku mau hidup bersamamu lagi," timpal ku dalam hati sambil membuang muka.
"Aku merindukan kebersamaan kita, sayang." Mas Syaka terus mengajakku berbicara. Tapi aku tetap menghiraukan ucapannya.
"Kamu jangan diam terus dong, aku seperti berbicara dengan patung. Kalau kamu diam terus seperti ini," ucap Mas Syaka sambil memegang tanganku.
"Aku masih mencintaimu, Ra." Mas Syaka mengangkat tanganku yang di pegang olehnya, dan sepertinya ia mau mencium tanganku. Aku yang tidak mau di perlakukan seperti itu, segera melepaskan tanganku yang di pegang olehnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Mas Syaka yang sepertinya kesal padaku, membuat ia menghentikan mobilnya lagi.
"Dengarkan aku, Samara! Aku melakukan ini semua, demi ketiga anak kita yang ingin melihat kedua orang tuanya hidup bersama seperti dulu lagi. Jadi aku mohon, maafkanlah kesalahanku yang dulu, kita mulai semuanya dari awal lagi," sambungnya yang berusaha membuatku. Untuk menerimanya kembali menjadi suamiku.
"Kaca yang sudah di pecahkan tidak akan utuh seperti dulu lagi, meski kamu berusaha memperbaikinya," balasku dalam hati yang semakin kesal dengan sikapnya yang sekarang ini.
"Andai saja, aku sudah bertemu dengan ketiga anakku. Ingin rasanya aku segera pergi meninggalkannya. Karena aku sudah muak mendengar ucapannya," sambungku dalam hati, yang malas mendengarkan ucapan Mas Syaka.
"Sayang, jangan diam terus. Kamu harus percaya dengan ucapanku, aku tidak akan menduakan kamu lagi. Kembalilah jadi istriku, kita urus ketiga anak kita bersama-sama. Aku masih mencintaimu, Samara Ananda Putri, '' ucapnya lagi.
"Sudahlah Mas, cepat pertemukan aku dengan ketiga anakku," sahutku yang akhirnya menimpali ucapannya. Karena aku semakin kesal mendengar ucapannya, yang terus berusaha meluluhkan hatiku. Agar aku mau rujuk dengannya, dan ia terus mengatakan masih mencintaiku. Setelah apa yang dia perbuat kepadaku, memaafkannya mudah bagiku. Tapi untuk kembali bersamanya seperti dulu lagi, maaf aku tidak mau jatuh pada lubang yang sama.
"Nah gitu dong, aku kangen mendengar suara kamu. Sudah lama kita tidak sedekat ini lagi, kamu masih ingat tidak? Saat kamu jauh dariku. Kamu selalu menghubungiku. Karena kamu ingin mendengarkan suaraku, dan sekarang ini, aku juga ingin mendengar suaramu. Makanya dari tadi aku terus mengajakmu berbicara, agar aku bisa mendengar suaramu. Jadi aku mohon, kamu jangan diam terus ya," ujar Mas Syaka yang mulai menceritakan kebersamaanku dengan dia di masa lalu, sambil melihatku yang duduk di sampingnya, dan ia menceritakan itu semuanya dengan tersenyum senang.
Aku menghela nafas panjang dan membuangnya secara kasar, ingin rasanya tanganku ini menutup mulutnya, yang terus membicarakan masa lalu yang tidak mau aku ingat lagi. Tapi untuk sekarang ini, aku tidak bisa melakukannya. Aku harus menahan itu semua, demi bisa bertemu dengan ketiga anakku.
"Aku merindukan saat-saat kita bersama di..."
"Kapan sampainya ini? Kalau dari tadi mobilnya berhenti terus," gerutuku yang kesal padanya, dan segera memotong ucapannya.
''Rupanya kamu sudah tidak sabaran, ingin rujuk denganku..."
__ADS_1
"Iya memang benar, aku sangat tidak sabar ingin..." aku memotong ucapannya lagi. Akan tetapi, untuk kali ini. Aku tidak melanjutkan ucapanku. Karena aku takut Mas Syaka akan menyuruhku turun dari mobil, tanpa mempertemukan aku dengan ketiga anakku.
"Bertemu dengan ketiga anakku. Tapi bukan berarti aku mau rujuk denganmu," sambungku dalam hati.
"Cepat jalan Mas," aku menyuruh Mas Syaka. Untuk menyalakan mesin mobilnya, dan mempertemukan aku dengan ketiga anakku.
"Iya sayang," sahutnya sambil menyalakan mesin mobilnya lagi, dan melanjutkan kembali perjalanan yang terhenti.
"Huuuh, aku harus ekstra hati-hati dan sabar dalam menghadapi situasi seperti ini," batinku sambil membuang nafas berat.
Perjalanan kali ini Mas Syaka tidak mengajakku berbicara lagi. Dan sampai pada akhirnya, mobil yang di kendarai oleh Mas Syaka berhenti di sebuah rumah yang jauh dari pusat kota Surabaya.
"Ini di mana?" tanyaku pada Mas Syaka. Sebelum aku turun dari mobilnya.
"Ini adalah rumah masa depan kita bersama anak-anak, Sayang." Mas Syaka menjawab pertanyaanku sambil tersenyum manis.
"Iiikh percaya diri sekali kamu, Mas." gerutuku dalam hati, yang benar-benar sudah muak mendengar ucapannya yang seperti itu.
"Yuk kita turun dari mobil. Untuk bertemu dengan anak-anak," ajaknya kepadaku.
"Sepertinya aku akan kesulitan. Jika aku membawa kabur ketiga anakku dari rumah ini," gumamku dalam hati.
"Sayang. Jangan berdiam diri di sana, katanya mau bertemu dengan anak-anak," ucap Mas Syaka sambil menarik satu tanganku.
"Tidak usah seperti ini," sahutku yang segera melepaskan tanganku yang di pegang oleh Mas Syaka.
"Kamu jangan malu-malu seperti itu, sebentar lagi aku dan kamu akan menikah di rumah ini." Mas Syaka kembali memegang tanganku, dan membawaku masuk ke dalam rumah.
"Mas Syaka bener-bener percaya diri sekali, siapa lagi yang mau menikah dengannya?" batinku yang tidak suka di pegang tanganku olehnya. Tapi untuk kali ini, lagi-lagi aku terpaksa membiarkan tanganku di pegang olehnya.
Saat aku masuk ke dalam rumah, aku melihat ketiga anakku yang sedang duduk di ruang tamu sambil termenung, mungkin mereka bertiga sedang menunggu kedatanganku.
"Bunda..." teriak ketiga anakku, yang memanggilku sambil berlari pergi menghampiriku.
"Aku kangen sama bunda," ketiga anakku langsung memelukku.
__ADS_1
"Bunda juga kangen sama kalian bertiga," balasku yang tidak mau melepaskan pelukan dari ketiga anakku.
"Akhirnya kamu berhasil juga membawanya datang ke sini," ucap mantan ibu mertuaku yang datang menghampiriku, yang sedang berpelukan dengan ketiga anakku.
"Aku sudah bilang sama ibu. Kalau hal seperti ini mudah bagiku, Bu." Mas Syaka menimpali ucapan ibunya dengan senyuman penuh kemenangan.
Aku segera melepaskan pelukan dari ketiga anakku, dan mendekati mantan ibu mertuaku.
"Katakan padaku! Apa tujuan kalian berdua menculik ketiga anakku?" tanyaku pada Mas Syaka dan ibunya, sambil menatap tajam ke arah mereka berdua dengan secara bergantian.
"Aku tidak menculik ketiga anakku, tapi mereka bertiga yang mau tinggal bersamaku di rumah ini," jawab Mas Syaka.
"Bunda aku mau..."
"Kalian bertiga pasti mau bunda dan ayah kembali bersatu, iyakan?" Mas Syaka dengan cepat memotong ucapan ketiga anakku yang belum selesai berbicara.
Ketiga anakku mengagukkan kepalanya, sambil tersenyum. Tapi aku melihat senyuman ketiga anakku, seperti terpaksa dan bukan atas keinginannya.
"Samara ayo ganti pakaianmu. Karena hari ini kamu dan Arsyaka akan menikah," ucap ibunya Mas Syaka sambil menarik tanganku, dan membawaku pergi menjauh dari ruang tamu.
"Lepaskan!" pintaku pada mantan ibu mertuaku, yang memegang tanganku dengan sangat erat.
"Aku sudah bilang berkali-kali padamu, Mas. Kalau aku tidak mau menjadi istrimu lagi," teriakku sambil berusaha melepaskan tanganku yang di pegang oleh ibunya Mas Syaka.
"Bunda..." ucap ketiga anakku, dan di saat mereka bertiga akan berlari menghampiriku.
Tiba-tiba saja datang orang-orang yang masuk ke dalam, dan orang-orang itu segera mencegah ketiga anakku yang mau datang menghampiriku.
"Bawa ketiga anak itu ke dalam, dan kamu tidak usah mengganti baju wanita itu. Cepat nikahkan mereka berdua," ucap seorang lelaki yang tidak aku kenal sama sekali, dan menyuruh seorang yang berpenampilan seperti penghulu. Untuk menikahkan aku dengan Mas Syaka.
"Aku tidak mau menikah dengannya lagi," teriakku lagi.
"Mau tidak mau, kamu harus menikah lagi dengan mantan suamimu..."
Aku kaget melihat orang yang menimpali ucapanku. Karena orang itu baru masuk ke dalam rumah ini.
__ADS_1