Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 111 Menolong


__ADS_3

"Wanita tadi seperti Siska adiknya Arsyaka?" lirih Rayanza yang baru melihat  Siska dengan jelas. Saat Rayanza datang menghampiri Samara, yang terjatuh oleh Siska.


Sedangkan Siska yang panik dan ketakutan, ia langsung melepaskan genggaman tangannya yang memegang tangan Samara, dan bergegas pergi meninggalkan Rayanza dan Samara.


"Itu memang Siska adiknya Arsyaka, Ray. Kalau aku boleh jujur. Sebenarnya... waktu aku dan kamu sampai di depan rumah. Aku pernah melihat Siska berada di sekitar rumah." Samara pun berterus terang kepada Rayanza, tentang dirinya yang pernah melihat Siska yang melewati rumah Rayanza. Di saat Samara dan Rayanza baru sampai di depan rumah Rayanza.


"Jadi yang kemarin kamu maksud itu, bukan melihat pemandangan di sekitar rumah. Tapi melihat Siska yang melewati rumah, betul begitu?" tanya Rayanza yang memastikan kebenarannya pada Samara.


"Iya benar, Ray." Samara pun membenarkan pertanyaan dari Rayanza.


"Tapi... keadaan Siska sekarang ini, seperti wanita hamil saja. Apa jangan-jangan! Dia itu sudah menikah dengan kekasihnya di negara ini?" sambung Samara yang menanyakan tentang status Siska.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Lebih baik sekarang ini, kita pergi mencari tempat makan. Pasti kamu sudah lapar, iyakan?" Rayanza mengalihkan pertanyaan Samara, yang menanyakan tentang status Siska yang sekarang ini tengah berbadan dua.


"Iya," sahutnya.


Samara dan Rayanza pun pergi mencari tempat makan, yang berada di negara Prancis.


"Di situ ramai sekali," ucap Samara sambil menunjuk ke sebuah tempat makan yang bernama di L'as Du Fallafel.


"Kamu mau mencoba makanan Falafel?" tanya Rayanza.


"Iya," jawabnya.


"Kamu tunggu di sini, biar aku yang mengantri," ujar Rayanza yang akan ikut mengantri membeli makanan Falafel, yang begitu banyak peminatnya.


Samara pun mengagukkan kepalanya, dan menunggu Rayanza yang sedang mengantri makanan yang bernama Falafel.


Di saat Samara sedang menunggu Rayanza, ia lagi-lagi melihat Siska yang sedang bersama dua orang lelaki yang menarik tangan Siska secara paksa.


"Hiks__hiks." Samara pun mendengar suara isak  tangis Siska, yang seperti tidak mau ikut pergi dengan kedua orang lelaki itu.


Samara yang penasaran, ia diam-diam mengikuti jejak Siska yang pergi bersama dua orang lelaki itu.


"Mereka mau apa berhenti di sini?" gumam Samara yang melihat Siska dan kedua lelaki itu berhenti di depan sebuah rumah, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Samara dan Rayanza yang membeli Falafel di L'as Du Fallafel.

__ADS_1


"Glen, aku mohon sama kamu. Jangan menyuruhku melakukan pekerjaan kotor itu lagi," rengek Siska sambil berderai air mata.


Degh!


"Jadi salah satu dari dua lelaki itu adalah Glen kekasihnya Siska," gumam Samara yang mendengar suara rengekan Siska, yang sedang memohon pada Glen.


Glen yang melihat Siska menangis, ia segera menghapus air matanya.


"Jangan pernah perlihatkan air matamu di depanku, apalagi membantah ucapanku. Mau tidak mau, kamu harus melakukan pekerjaan ini. Sudah hapus air matamu itu. Karena sebentar lagi orang yang harus kamu layani akan datang."


"Aku tidak mau melakukan itu, dengan kondisiku yang sedang hamil anakmu." Siska tetap menolak melakukan pekerjaan yang di suruh oleh Glen.


"Ha-ha-ha, kamu pikir anak di dalam perutmu itu anakku. Sedangkan dirimu saja sering melayani bule yang ada di negara ini," ejek Glen yang tidak mau mengakui anak yang tengah di kandung oleh Siska.


"Itu semuanya bukan keinginanku, tapi kamu yang menyuruhku melakukan pekerjaan kotor seperti itu. Aku benar-benar menyesal ikut pergi denganmu," sahut Siska yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama Glen kekasihnya.


Glen yang kesal dengan ucapan Siska, ia mencekik leher Siska.


"Dengar baik-baik ucapanku, kamu harus menuruti semua perintahku. Karena hanya kamu yang bisa memenuhi kebutuhan hidup kita, selama tinggal di sini."


Glen yang sudah merasa cukup puas mencekik leher Siska, ia segera melepaskan tangannya secara kasar. Sehingga membuat Siska merasa kesakitan di bagian lehernya.


Akan tetapi, Siska tidak bisa pergi jauh. Karena Glen dan temannya, dengan mudah bisa menangkap Siska yang kondisinya tengah hamil.


"Rupanya kamu masih mau melarikan diri dariku lagi," ucap Glen yang langsung memberikan pelajaran kepada Siska, dengan cara menampar pipi kiri dan kanan Siska.


Plak


Plak


"Aaah," jerit Siska.


Samara yang sedang bersembunyi, ia bisa melihat dengan jelas. Saat Siska di perlakukan secara kasar oleh Glen kekasihnya.


"Sebaiknya aku harus menolong Siska dari kekasihnya itu," batin Samara yang tidak tega melihat Siska di perlakukan seperti itu oleh Glen. Samara pun memutuskan untuk menolong Siska.

__ADS_1


Akan tetapi, di saat Samara akan melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja ia merasakan ada orang yang menepuk pundaknya. Sehingga membuat Samara menengok ke belakang, dan menghentikan langkah kakinya yang akan pergi menolong Siska dari kejahatan Glen kekasihnya.


"Kamu mau kemana Ra?" tanya Rayanza. Ketika Samara membalikkan badannya, menghadap ke arah Rayanza.


"Fiuh, aku kirain siapa. Ternyata Rayanza," Samara membatin sambil menghela nafas lega.


"Kamu buat aku kaget saja," jawabnya.


"Aku dari tadi mencari-cari kamu terus, dan kenapa bisa kamu pergi sampai ke sini?" tanya Rayanza lagi.


"Ssst... kamu jangan berisik." Samara segera menutup mulutnya Rayanza, dan ia segera melihat Siska yang bersama Glen dan temannya.


"Loh kok tidak ada, kemana perginya?" lirih Samara yang tidak melihat keberadaan Siska yang sedang bersama Glen dan temannya.


"Ada apa sih, Ra?" tanya Rayanza lagi.


"Tadi itu, aku melihat Siska dan Glen kekasihnya. Tapi sekarang ini, aku tidak tahu mereka pergi ke mana." Samara akhirnya menjawab pertanyaan dari Rayanza.


"Aku tidak tega melihat Siska di perlakukan kasar oleh Glen, aku ingin menolong Siska," sambungnya yang berterus terang kepada Rayanza, tentang keinginannya yang ingin menolong Siska.


"Sudahlah Ra. Kamu jangan urusin, urusan mereka. Kita datang ke sini untuk berbulan madu, apalagi kita tinggal di sini cuman tiga hari saja. Ini aku sudah mendapatkan Falafel untukmu," sahut Rayanza yang memperlihatkan bungkusan Falafel yang ia beli untuk Samara.


"Terima kasih suamiku," balasnya sambil memaksakan sedikit senyuman. Karena Rayanza tidak mengijinkan dirinya menolong Siska.


Samara dan Rayanza pun segera pergi meninggalkan tempat ini, untuk memakan Falafel yang Rayanza beli.


__________


Malam harinya.


Rayanza mengajak Samara diner di sebuah restoran Le Bistro Parasien, yang letaknya dekat dengan menara Eiffel.


"Pemandangan malam hari di sini begitu indah," lirih Samara yang menikmati suasana malam di kota Paris.


"Tempat ini merupakan tempat favoritku. Untuk menghilangkan rasa penat, dan di tempat ini aku pernah berharap. Suatu saat nanti, aku ingin datang ke tempat ini bersama orang yang aku cintai. Dan akhirnya, aku bisa mewujudkan harapanku itu. Karena sekarang ini, kamu orang yang aku cintai bisa menemaniku di tempat ini," ucap Rayanza yang menceritakan sedikit tentang pengalamannya, yang pernah datang ke Le Bistro Parasien.

__ADS_1


Samara yang mendengar cerita dari Rayanza, ia merasa terharu dan bersyukur sekali. Karena ia bisa mewujudkan harapannya Rayanza, yang ingin datang ke Le Bistro Parasien bersama orang yang ia cintai.


Di saat Samara dan Rayanza tengah menikmati makan malam di Le Bistro Parasien, ada seorang wanita yang datang menghampiri Rayanza.


__ADS_2