
Ayu mulai berdamai dengan ke adaan, dia telah memaafkan dirinya, maupun San atau Kemuning, dia bahkan menyadari, mereka berbeda dunia dengan dirinya, berharap mereka bisa bahagia menjaga anak-anak mereka.
Mungkin suatu saat Ayu akan bisa bertemu dengan anak-anaknya, siang ini Ayu kembali ke rumah baru, dia tinggal bersama dengan Tantri, di antarkan oleh Alingga, dia sampai di rumah Tantri.
Alingga juga memberikan hadiah sebagai tanda dia telah kembali, dia memberikan sebuah kacamata bening, Ayu yang membuka nya langsung memakainya.
"Kamu suka?"
Ayu mengangguk, dia senang mengenakan hadiah pemberian Alingga, Tantri hanya melihat dari bilik mini bar, dia senang Ayu bisa bahagia kembali, Tantri menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk syukuran Ayu.
"Ta....ra...."
ujar Tantri membawa kue tar bertulisan welcom.
"Ma..ka..sih"
ujar Ayu merasa senang.
Tantri langsung memeluk Ayu, dia berusaha membuat Ayu senyaman mungkin, tapi tetap saja kadang Ayu menangis tiap malamnya, namun besok paginya dia akan membaik.
Rasa rindu itu benar nyata, tapi dia tidak akan berduka selamanya, mungkin menangis cara terakhirnya, meluapkan emosi yang tertahan di hatinya.
.
.
.
"Ini"
Ayu yang memberikan secangkir teh untuk Alingga, dia membawanya ke sebuah rooftop belakang rumah Tantri.
"Makasih Yu..."
"Sama-sama"
ujar Ayu duduk di samping Ayu.
"Gimana perasaan mu?"
tanya Alingga.
"Aku memilih damai, memaklumi"
sahut Ayu.
"Dari...?"
"Akan cinta ku karena seseorang, tidak akan bisa kami bersama"
ujarnya.
"Ini pertama kalinya kamu cerita terus terang, aku suka"
sahut Alingga tersenyum memegang tangan Ayu.
Dia hanya diam, Ayu tertunduk tidak berani menatap Alingga, dia tahu apa yang di lakukan Alingga adalah untuk pengobatan mentalnya, bukan karena ada perasaan atau lainnya.
"Ayu...aku boleh ngajak kamu jalan, di luar kamu sebagai seorang pasien?"
tanya Alingga.
"Jalan??? kemana?"
tanya Ayu.
"Ayu mau ke pantai?"
__ADS_1
"Pantai???"
Kenangannya tentang pantai tidak akan pernah lupa,disaat masa paling bahagia, Ayu menyimpannya dalam kenangan untuk hatinya yang telah lalu.
"Boleh..."
Alingga langsung memeluk Ayu, senang rasanya, Ayu hanya tersenyum, tidak ada perasaan khusus tapi bisa membuat orang lain tersenyum menjadi sebuah kebahagian untuknya.
Tantri juga sangat setuju bila Alingga dekat dengan Ayu,karena memang selama ini Ayu tidak pernah dekat dengan orang lain selain Tantri. Berharap suatu saat Ayubisa bahagia walau tanpa ada Tantri.
.
.
.
Weekend yang cerah itu, Ayu taleh menyiapkan beberapa makanan untuk bekal perjalanan, Tantri memilih weekend dirumah menyelesaikan pekerjaannya, dia juga tidak mau jadi pengganggu untuk Alingga dan Ayu.
Mengenakan rok yang senada dengan blouse yang dikenakannya, Ayu tampak sangat cantik,Tantri juga membantu Ayu menyiapkan bekal untuk sahabatnya.
Tidak lama Alingga datang, dia segera keluar membuka kan pintu rumah, sambil membawa keranjang berisi bekal makanan, Alingga yang mengenakan style santai, mengenakan kaos lengan panjang,celana kain dengan warna senada, tidak ketinggalan kacamatanya.
Dia yang baru turun dari mobil, melongo melihatAyu yang sangat cantik, the best momen, Alingga memang tidak salah melihat,sejak kuliah Ayu memang sudah cantik,tapi sekarang jauh lebih cantik, cantik karena Alingga bisa melihatnya lebih dekat.
"Kamu udah siap aja"
ujarnya terus menatap Ayu.
"Iya...ini taruh dibelakang!"
Ayu yang memberikan tas keranjang berisi makanan.
"Yakin enggak ikut Tan?"
tanya Alingga.
"Enggak,kerjaan aku numpuk"
"Aku bawa Ayu dulu"
ijin Alingga kepada Tantri.
"Hati-hati,jangan balik kemalaman ya"
"Jalan dulu ya Tan,,,"
Ayu berpamitan yang kemudiandi lanjut cipika-cipiki.
Mereka melajukan mobilnya, menuju pantai yang jaraknya 4jam menggunakan roda empat, Ayu hanya menikmati pemandangan yang mereka lewati,dahulu rasanya mau kepantai sebentar saja.
Jauh di dalam hati Ayu, dia merindukan San, bila rasa itu datang,pasti dibarengi dengan air matanya yang jatuh. Ayuyang melewati segala penderitaan ingin juga bahagia, menikmati hidup yang sederhana dengan orang yang mengerti dan sefrekuensi dengannya.
Dia tidak bilang Alingga adalah orangnya, dia baru mengenalnya, tidak akan mudah untuknya membuka lembaran hati yang baru, dia tipikel cewek yang sudah sayang, sampai akhir dia akan menyimpan rasa itu, walau perasaannya tidak berbalas.
Alingga yang terus menyetir sesekali melirik Ayu yang terlihat santai di dalam mobil, sedang kan dia sedikit salting belum lagi detak jantung yang membuatnya gugup.
"Ayu suka pantai?"
tanya Alingga agar tidak terlihat bosan.
"Aku suka...banyak kenangan yang aku miliki di sana"
jawabnya.
"Kenangan?"
"Aku pernah berjalan di hamparan pasir putih, laut yang biru, langit yang cerah aku terus tersenyum merasa bahagia"
ujar Ayu.
__ADS_1
Dan ada kamu (San) dalam kenangan ku, aku yang terus berjalan dengan menggandeng tangan mu, entah berapa kali aku ucapkan aku cinta kamu mas ku.
Surara hati kecilnya Ayu.
Sesampai nya di pantai yang mereka datangi, terlihat tidak begitu ramai, Ayu hanya melihat di sekelilingnya, tanpa ragu dia berlari menuju hempasan ombak yang silih berganti datang ke bibir pantai.
Alingga tersenyum melihat Ayu, dia menghampiri Ayu sambil membawa keranjang berisi makanan. Alingga yang kemudian diam-diam memotret Ayu, terlihat riang dan bahagia, lepas seperti dirinya tidak ada tekanan.
"Sini"
Ayu menghampiri Alingga dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Alingga bermain ombak dengannya.
Alingga tanpa ragu meraih tangan Ayu, dia menggenggam tangan Ayu yang dingin karena basah, mereka tersenyum sambil berlari, terus bermain ombak yang menhempaskan air di kaki keduanya.
Ayu terus berlari dan bermain dengan Alingga, dia hanya terus tersenyum, begitu juga Alingga, sampai keduanya lelah dan duduk di dekat tas keranjang yang dibawanya.
"Ini"
ujar Ayu mengambilkan roti isi yang dibuatnya sendiri.
"Makasih Yu"
Alingga tidak pernah memalingkan tatapannya dari Ayu.
"Kamu mau enggak Yu jadi isteri ku"
kata yang tidak sengaja keluar dari mulut Alingga.
Ayu sejenak terhenti makan, dia menatap Alingga, apa yang di pikiran Alingga, tidak ada niatan pacaran tapi langsung menikah. Ayu tidak tahu bagaimana menjawabnya.
"Aah...maaf aku bukan maksud mengagetkan mu, tapi aku tidak bisa menahan nya Yu, dari jaman Kuliah, aku udah suka kamu"
Alingga yang meletakan makanannya, kedua tangannya memegang wajah Ayu.
"Apa tidak masalah, aku tidak punya keluarga selain Tantri, aku juga bekas orang gila"
sahut Ayu murung.
"Aku enggak peduli Yu, aku cuma mau kamu"
Alingga yang garcep banget hendak mencium Ayu.
Ayu hanya memalingkan wajahnya, dia bukan cewek sembarangan yang mau di cium oleh siapa saja, tanpa ada perasaan di hati Ayu itu tidak akan mungkin terjadi.
"Maaf...maafin aku Yu, aku khilaf"
ujar Alingga terduduk diam.
Ayu hanya tersenyum, dia tidak marah atau pun apa, hanya hatinya belum siap menerima cinta yang baru, bahkan hatinya belum bisa move on dari San.
Ayu sendiri yang memutuskan kapan dia akan siap untuk bisa membuka hatinya untuk orang lain.
Ayu yang terdiam menatap laut, tiba-tiba terdengar suara sepatu kuda yang berlari kencang, jelas sekali di telinganya, Ayu menoleh dan mencari asal suara tersebut.
Alingga merasa aneh karena Ayu tampak bingung, dia terus mencari di ikuti Alingga di belakangnya, Ayu seperti mendengar suara kuda dari mas San.
Begitu pula San, dia memang tengah berkuda seorang diri di pinggir pantai, entah seperti apa, kenapa San bisa melihat Ayu dan sebaliknya, sayang Ayu tidak dapat melihat jelas.
.
.
.
Bonus ya visual Alingga
Nantikan kisah selanjutnya 😘
__ADS_1