
Akhirnya di putuskan Ben di ajak ikut bersama San, berharap Ben bisa kembali normal, agar dia bisa menjadi manusia seutuhnya, hanya ibunda San yang mempunyai ramuan tersebut,
Ayu juga senang, dia dan Ben juga terlihat sangat akrab, namanya juga anak kecil, dia suka bertanya, tentang Ayu dan San, dia bahkan tahu San bukanlah manusia biasa,
Kedua matanya hanya melirik San dan Ayu, Ben yang duduk di tengah antara keduanya merasa heran akan tingkah anak kecil sati ini.
"Kakak berdua sudah menikah?"
tanya Ben dengan polosnya.
"Emang Ben tahu dari mana kakak sudah menikah?"
tanya Ayu dengan senyum penasaran.
"Tahu, kakak ini selalu lihat kakak"
ujar nya menunjuk San.
Ayu tersipu malu karena perkataan Ben, jiwa ke kepoan nya meronta-ronta.
"Tapi kakak tahu, kakak ini siapa?"
tanya Ben kepada Ayu.
Ayu mungkin mengerti maksud dari Ben, apakah dirinya tahu bahwa San bukanlah manusia seutuhnya, Ayu hanya mengangguk mengiyakan perkataan Ben.
"Kakak tahu, kakak ini siapa, tapi kakak sayang sama dia"
tambah lagi Ayu.
San hanya terdiam tidak berkata, dia merasa senang, Ayu mengatakan hal tersebut, mereka pun akhirnya sampai di rumah megah San, di sambut oleh beberapa pelayan, Ben terkesima akan rumah megah aliasa istana.
"Rumah kakak kayak istana"
ujar Ben.
"Memang istana"
sahut San sedikit sombong.
"Sebentar ya dek, aku bicara sama bunda"
San kemudian melangkah menuju kamar sang bunda.
San pun menjelaskan maksud dan tujuannya mengajak Ben ke istana, ibundanya pun bersedia membantu, membuat ramuan memang ke ahlian ibunda ratu Jayanaga.
Sementara itu Ben asyik bermain dengan Ayu, jalan-jalan keliling istana yang luas dan megah. Mungkin orang-orang di istana merasa heran, baru kali ini ada anak kecil yang datang ke istana.
Sambil menunggu ramuan yang di buat selesai, Ayu mengajak Ben bersama San untuk bermain di kamar mereka, entah harus bermain dengan apa, San sampai-sampai meminta paman untuk membelikan beberapa mainan anak cowok.
.
.
.
Deska yang masih beberes di Caffe merasa sedikit khawatir dengan Ben, tapi dia juga merasa lega, San dan Ayu pasti memperlakukan Ben dengan baik, anggaplah pancingan untuk Ayu dan San agar cepat mendapatkan momongan.
Tantri yang mendengar juga merasa senang, dia berharap Ben bisa bahagia, dia bisa merasakan kasih sayang orang tua di rumah San. Jam makan malam pun tiba, ayahanda San juga menyambut kedatangan Ben dengan senang.
Bahkan Ben makan dengan lahapnya, tidak lupa ramuan yang dibuat di canpurkan oleh minumannya agar tidak ketara pahitnya, ibunda San senang istana terlihat seru dan ramai dengan ke hadiran Ben.
__ADS_1
"Apa kalian tidak berniat mengangkat nya menjadi putera kalian?"
tanya ibunda saat makan malam.
"Memangnya boleh ibunda?"
ujar Ayu terlihat sangat senang.
"Iya tentu boleh"
Ayu langsung memegang tangan San, wajahnya penuh dengan senyum bahagia, mungkin dengan adanya Ben Ayu bisa perlahan membuka hatinya untuk segera memiliki momongan sendiri, San juga setuju akan usul sang bunda.
"Ben...mulai hari ini panggilnya Bunda ke kakak ya dan ini ayah"
ujar Ayu mengajari Ben.
wajah polosnya hanya memandang, Ayu dan San, tidak menyangka dia akan memiliki orang tua yang lengkap dan sayang kepada dirinya.
"Baik bunda"
sahut Ben.
Ayu terlihat bahagia, dia bahkan mengajak Ben tidur bersamanya malam ini, ibunda juga memberikan beberapa kotak berisi pakain mas San di kala masih kecil.
"Yu...ini baju San ketika masih kecil, masih bagus untuk Ben"
ujar ibunda.
"Makasih ya bunda."
"Iya sama-sama"
ibunda pun berlalu kembali ke kamarnya.
Ditemani Ayu, Ben yang tidur pulas di pelukan Ayu perlahan badannya mulai terlihat jelas bukan seperti hologram lagi, badannya sedikit berisi dengan kulit putih, pipi nya gemas Ayu rada kaget ketika Ayu bisa menepuk pundak Ben untuk menidurkannya.
Terasa dia menepuk sesuatu yang nyata, ramuan yang dibuat telah bereaksi, Ayu merasa senang, sekarang Ben bukan lagi makhluk yang dianggap horor atau seram, ditambah tingkahnya yang lucu.
San yang melihat Ayu menidurkan Ben terlihat seperri menidurkan anaknya sendiri, ada perasaan bahagia melihat keduanya. San dengan sikap yang cuek mungkin akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan adanya Ben.
Ibunda San melupakan efek samping dari ramuan yang di buatnya, rahasia yang sengaja di simpan agar Ben dan Ayu tidak sedih mendengarnya, berharap semua akan berjalan dengan baik.
.
.
.
San yang tidak dapat tidur malam itu, pergi diam-diam ke danau seorang diri, berapa lama dia belum mengunjungi danau tersebut, San paling suka suasana malam di tepi danau, sendiri dan sunyi.
Entah apa yanh di pikirkannya, ada kalanya dia selalu menyendiri, walau ada Ayu sekarang tapi tetap saja, dia butuh ruang untuk dirinya sendiri, merenung dannmengintropeksi dirinya.
San dengan mudah wara wiri dengan kekuatannya, resiko yang datang tidak seperti dulu, semua bisa di kontrol dengan baik, Ayu terbangun di tengah malam mendapati sang suami tidak berada di kamar, tangannya mengelus kasur di sebelah Ben.
Kemudian matanya terbuka dan mendapati San tidak berada di kamarnya, dengan wajah yang masih sayu akan ngantuk, Ayu berjalan menuju ruang baca San, benar saja San yang memejamkan matanya, duduk diam di kursi.
"Mas..."
bisik Ayu, mendengar Ayu memanggil San buru kembali ke raganya.
Perlahan San mulai tersadar dari VI'AR, tangannya merangkul pinggang Ayu, kemudian membiarkan Ayu duduk di pangkuannya.
"Kok tidur disini?"
__ADS_1
tanya Ayu yang mengalungkan tangannya di leher San.
"Up sebentar tadi, ke danau"
jawab San.
(Up \= VI'AR)
"Kapan-kapan ajak aku ya...jangan sendirian"
ujar Ayu yang kemudian mendaratkan kecupan hangat di bibir San.
.
.
.
Pagi sekali San dan Ayu yang masih tidur di bangunkan oleh Ben, dengan polosnya dia mengecup pipi ayah dan bunda barunya, seraya berkata.
"Bunda bangun, ayah bangun"
ujar Ben yang bangun dengan ceria.
"Ben...mandi sama ayah ya"
ujar San yang bangun terlebih dahulu.
"Siap ayah !!!"
sahut Ben.
"Biarin bunda tidur ya, ayuk."
"Ayuk..."
Mereka pun bergegas masuk ke kamar mandi, San seperti ayah sungguhan, memandikan Ben sambil bercerita tentang masa kecilnya, Ayu yang mendengar suara San yang bercerita kepada Ben, dia ikut terbangun dan menengok ke kamar mandi, seperti ayah pada umumnya yang mau membantu isteri merawat anak mereka.
Ayu tersentuh melihat sikap San terhadap Ben, ini hari pertamanya menjadi Ayah dan orang tua, Ayu juga harus bisa menempatkan diri sebagai ibu yang baik untuk Ben.
"Ayah...Ben boleh ketemu tante lagi? dia yang udah rawat Ben"
pinta Ben kepada San.
"Boleh..."
"Bunda juga yah?"
"Bunda bolehin kok"
ujar Ayu yang menyahut di depan pintu kamar mandi.
Ayu dan San merawat Ben dengan baik, selesai mandi mereka memberikan handuk dan memakaikan baju di kala mas San masih kecil, selepas itu sarapan dan tidak lupa susu kesukaan Ben.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1