Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Bayi Kembar


__ADS_3


Hari kedua hamil yang berarti masa kehamilan jalan dua bulan, awalnya memang tidak ada masalah, Ayu melakukan aktivitasnya seperti biasa, tidak ada yang berat, selepas bangun pagi dia selalu jalan-jalan pagi membawa si calon bayi, selepas itu sarapan, mandi santai sebentar sampai jam makan siang, kemudian tidur siang, sore bermain dengan Ben, karena setelah sarapan biasanya Ben ikut neneknya ke butik.


Sering Ayu merasakan kram di perutnya, dia selalu beranggapan itu hal biasa, nyeri di pinggang, mungkin hal biasa di alami oleh ibu yang sedang hamil, Ayu tidak menganggapnya serius.


Kalau tidak telepon dengan Deska dia menelepon dengan Tantri, sering juga dia mengobrol bareng Aisyah, dia paling berpengalaman dalam masalah anak.


Sore harinya Ayu meminta ijin pergi ke rumah Bella bersama dengan mbok dan Ben, sedangkan San harus kembali kerja, dia harus membantu sang ayah, jadwal mereka bertemu hanya ketika San selesai bekerja yaitu malam hari.


Ayu pergi di antar oleh Kum, niatnya sih akan berbincang bincang, namun setelah sampai dirumah Bella, Arya yang melihat sesuatu di kandungan Ayu, aneh dan calon bayi yang masih berbentuk gumpalan darah seukuran kacang tanah itu satunya berada di atas dan satunya berada di bawah.


Bagaimana Arya bicara kepada Ayu dengan apa yang dilihatnya, pasti akan dikira aneh-aneh, walau Arya bukan dokter kandungan, namun kekuatan dari reinkarnasi Bramasena, dia bisa melihat hal tersebut.


Melihat Ayu dan Bella yang berbincang, Arya pergi ke ruang kerjanya, ruang dipenuhi tanaman obat yang telah di keringkan, entah ingatan apa yang ada dikepalanya,dia membuatkan sebuah ramuan jamu untuk Ayu.


Ayu dan Bella yang bercerita tentang masa kehamilan, namanya juga sudah menikah kalau bukan masalah anak, masalah suami yang menjadi topik pembahasan, Nadia yang juga sudah mulai berjalan mengejar Ben yang berlari-lari, diikuti oleh mbok.


Ayu juga bertanya apakah Bella mengalami namanya ngidam, Bella menjawab dia tidak mengalami fase mengidam, hanya saja ada satu khusus yang di bisikan oleh Bella ke kuping Ayu, wajah nya kaget mendengar hal tersebut.


“Emang benar ada begitu?”


tanya Ayu penasaran.


“Kamu akan tahu sendiri Yu.”


Bella hanya tersenyum, Ayu sedikit tidak percaya, itu mereka bukan dia dan San ujarnya dalam hati.


Hari mulai larut,  mereka berpamitan pulang, sebelumnya Arya membawakan air berwarna hijau pekat dalam sebuah botol kecil.


“Bawa ini bersama Yu, ini jamu untuk kandungan mu sehat”


ujar Arya membawakannya sebagai oleh-oleh.


“Makasih ya mas Arya...”


Tidak juga bertanya, Ayu merasa tidak merasa curiga dengan tingkah Arya.Segera Ayu, mbok dan Ben masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang.


.


.


.


Ayu hanya bingung kenapa Arya memberinya jamu, dia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya, kram perutnya terus kumat dengan rasa nyeri, tapi Ayu tidak merasa aneh, mungkin karena dia kelelahan, Ayu bahkan tertidur di mobil.


Sesampainya di rumah, mbok membangunkan Ayu memberitahu bahwa mereka telah sampai, tepat pada jam makan malam mereka sampai,  San juga telah sampai dan bersiap menyambut isterinya di depan pintu istana.


Ayu terbangun dengan penuh keringat di wajahnya, dia  masih merasa kram di bagian perutnya, namun ayu yang tidak tahu apa, hanya merasa itu hal biasa karena kelelahan, Ayu turun dengan wajah pucat. Ben dan nenek segera masuk kemudian berkumpul dimeja makan.


“Dek...kamu kenapa?


tanya San kepada sang isteri.


“Enggak apa-apa mas, aku baik-baik aja.”


San pun merasa lega dengan ucapan Ayu, kemudian mereka berkumpul untuk makan malam, kembali Ayu tidak nafsu makan, kram perutnya tidak kunjung reda, dia hanya diam terduduk melihat yang lain sedang menikmati makan malam.


Meresa badannya tidak kunjung fit, Ayu memutuskan untuk beristirahat, dia berpamitan kepada semua orang, Ayu tidak ingin terlihat manja, dia meminta untuk suaminya tidak mengikuti dirinya,  Ayu yang berjalan perlahan, sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, langkahnya terhenti dia berdiri di dekat anak tangga menuju kamarnya.


Seorang dayang yang melintas melihat Ayu terlihat aneh, lalu menghampiri Ayu, betapa terkejutnya dia ketika tahu ada darah segar keluar dari sela kakinya.


“Puteri Kemuning, puteri tidak apa-apa?”


Teriak dayang memapah Ayu untuk duduk di anak tangga.


 


Mendengar hal tersebut San langsung menghampirinya,  Ayu dapat melihat darah segar mengalir dari kakinya, dia masih sempat mengingat tanggal menstruasinya, kepalanya kembali pusing, Ayu kembali terbawa ke ingatan Kemuning, dia di perkosa Daryadana bahkan sampai darah segar mengalir di balik kakinya.


Dia ingat bahwa ketika itu Kemuning juga tengah hamil muda, tapi dia belum memberitahukan San, posisi San yang masih marah ketika tahu Ayu menutupi perbuatan kurang ajar sang adik.


Ayu hanya terus diam dengan tatapan kosong, frame dari bayangan itu mulai menghitam, ingatan Kemuning kala dia mengehmbuskan nafas teralhirnya.


"Dek...."


San segera menggendong istrinya membawa ke kamar dengan darah berceceran di lantai.

__ADS_1


Dayang yang bergegas memanggilkan mbah Jipo, mbok yang menghampiri lengsung memberihkan darah di kaki Ayu bersama dengan San.


Ayu terbaring lemah, wajah nya sangat pucat, San hanya terus membersihkan darah yang terus mengalir, ibunda San dan ayahnya menunggu di luar kamar.


Mbah Jipo datang langsung masuk ke kamar, dia meminta San menekuk kan kaki Ayu, agar dapat di bersihkan darah yang terus mengalir.


Mbah Jipo yang dengan telaten tangan satunya mengelus perut Ayu dan satunya memegang kain bersih, entah apa yang di lakukan mbah Jipo, tidak berapa lama Ayu mengerang ke sakitan, sakit yang luar biasa sakit.


"Aaarrwww...mas sakit...."


keluhnya di barengi dengan tangis.


San yang berada di sebelah Ayu mengelus, mencoba menenangkan Ayu, dia juga bingung bagaimana semymua berakhir sepeti ini. Tidak lama setelah nya, Ayu pingsan, mbah Jipo kemudian mengeluarkan tangannya yang memegang kain bersih tersebut, dalam bentuk gumpalan darah kecil, seperti bayi tikus, calon anak San dan Ayu.


Ayu mengalami pendarahan hebat, terpaksa salah satu bayi yang letaknya berada dibawah, tidak bisa di pertahankan, mbah Jipo meminta San menguburnya, kemudian mbah Jipo melanjutkan mengelus perut Ayu, agar posisi bayi yang satunya aman.


"Kuburkan pangeran, kau masih punya bayi di perut isteri mu"


ujar mbah Jipo.


"Baik mbah...."


Hancur perasaan San sedih, salah satu bayi kembar nya meninggal, bersama paman senopati San menguburnya dekat hutan pinus belakang rumahnya.


Selesai membersihkan mbah Jipo berpamitan pulang, dia berkata tidak usah khawatir, Ayu masih menggandung bayi satunya, perasaan lega di rasakan ibunda ratu dan mbok.


Ayu hamya perlu istirahat, teman cerita San adalah Arya, mereka saling mengabarkan, dia menceritakan kondisi Ayu, Arya juga memberikan ramuan jamu yang dtinggal kan Ayu di mobil, lupa membawa masuk si jamu, itu ramuan di buat oleh Arya untuk sebagai penguat janin, tapi memang posisi nya yang menyulitkan, di pijat salah tidak di pijat juga salah.


.


.


.


Pagi hari ini rintik gerimis datang, Ayu tersadar dan ingat akan kejadian malam tadi, dia hanya terbaring menatap jendela yang tirainya telah terbuka, hatinya sakit harus memflasback kenangan lalu, air matanya tidak dapat terbendung, sedikit ada rasa penyesalan, seandainya dia tidak tahu bahwa dirinya adalah Kemuning, mungkin ini semua tidak akan terjadi, mas San juga paati sangat kecewa dengan dirinya.


San menghampirinya mengecup tangan Ayu, Ayu memalinhkan wajahnya dan memeluk San, dia tahu apa yang di rasa kan Ayu, San juga merasakan itu, tapi mereka harus kuat, Ayu masih mengandung bayi satunya, Ayu harus bisa segera pulih.


"Mas tadi telepon Arya...."


"Kamu di kasih ramuan oleh Arya, katanya itu penguat kandungan, kamu minum dulu ya, kamu jangan sedih, kamu harus kuat untuk bayi kita satunya."


"Aku masih bisa jadi ibu mas"


ujar Ayu yang masih memeluk San.


"Kamu kan udah jadi ibu, semangat ya dek"


bisik San.


.


.


.


Sejak kejadian itu Ayu tidak menyurutkan semangatnya, sekarang keadaanya membaik setiap harinya, dia melakukan anjuran yang di baca di sebuah heatline untuk ibu hamil sehat.


San selalu mensupport apa yang isterinya lakukan, dia tidak lagi seperti kemarin yang uring-uringan, makan pun dia sangat lahap, mbah Jipi rutin tiap harinya datang untuk memastikan kandungan Ayu baik-bail saja.


Semua orang senang melihat dia behagia, melihat dia bersemangat kembali, kian hari perut nya juga membesar, mungkin sudah memasuki hari ke lima.


Hampir seminggu sang suami tidak menerima jatah, San ingin sekali minta tapi takut kangdungan sang isteri terganggu, apa lagi terkadang Ayu tidur menggunakan pakaian terbuat dari suter yang licin, membentuk tubuhnya, di tambah perut yang membuncit, San tidak tahan ingun mendekap sang isteri dan mengajaknya menyebrangi bulan malam ini.


Tapi wajahanya berubah ketika ingat calon bayi yang meninggal, dia kemudian menutup wajahnya dengan bantal, tidak ingin melihat kemolekab tubuh sang isteri.


Merasa aneh akan sikap San, Ayu menghampiri dan bertanya.


"Mas kenapa?"


tanya Ayu duduk di sebelah San.


"Enggak apa-apa dek, udah ya kamu istirahat, jangan capek"


ujar San.


Ayu pun tertidur di sebalah suami, dia meminta tangan San di taruh di atas kepala San sehingga keteknya terbuka, karena mas San tidak pernah tidur menggunakan baju, wangi ketek suaminya sebagai penenang dia tidur.

__ADS_1


Baru juga memejamkan mata, Ayu tidak dapat tidur, ada perasaan lain yang menggebu di hati ya, hidung terus mengendus ketek sang suami, mengendus perlahan sampai Ayu tiba di leher suami.


"Kenapa dek?"


tanya San yang melirik wajah Ayu.


Ayu hanya menatap suaminya dan benar yang di katakan Bella, ketika mengandung ada nafsu yang tidak bisa di tahan ketika melihat wajah suami.


Wajah Ayu memerah malu, Ayu tidak mungkin bahkan mempungkiri bahwa dirinya bisa lebih ganas dari San ketika berhubungan di saat hamil.


"Kamu sakit...? "


San terus bertanya karena melihat wajah Ayu memerah.


Dengan segera Ayu masuk ke kamar mandi, mencuci mukanya dan otaknya yang mesum. kenapa kata-kata Bella membekas di otaknya.


"Dek...buka pintunya?"


ujar San mengetuk pintu kamar mandi.


Ayu kemudian keluar dan melihat San berdiri di depannya, telanjang dada, badannya ateletis membuat dirinya semakin tidak bisa mengendalikan pikirannya.


Ayu kemudian mendaratkan ciuman di bibir San, suamibya tidak mengerti apa yang terjadi tapi dengan sigap membalas ciuman Ayu. Mereka berdua saling memuaskan hasrat, namun dengan gaya yang sama dan pelan, mengingat Ayu tengah hamil.


San merasa senang karena tanpa dia minta, Ayu mau memulai, sensasi beda dirasakan oleh San, berhubungan ketika sedang hamil itu, sangat berkesan, baru kali ini dia merasakan hal tersebut.


.


.


.


Seperti telah ketebak, Ayu bangun kesiangan, San telah berangkat kerja, Ben juga di beritahu untuk tidak membangunkan sang bunda.


Dia juga menyiapkan sarapan untuk isterinya, di letakan di meja dekat ranjang mereka, San bersemangat pergi bekerja, sumringah sehingga paman juga merasakan aura kebahagian dari pangeran San.


Setiap bangun tidur perutnya kian membesar, Ayu tahu ini aneh, tapi dia menikmati sekali proses menjadi seorang ibu, ibunda San sedang membicarakan acara mandi-mandi untuk Ayu, karena nanti malam usia kandungan Ayu memasuki tujuh bulan.


Mbok manut saja, Ayu juga manut saja, Ayu berpikir ini terlalu mendadak, tapi semua di persiapkan dengan segera, Ayu dan ibunda berbelanja untuk keperluan acara nanti malam.


"Bunda memangnya mas San sudah tahu"


tanya Ayu.


"Ya sudah, bunda sama San bicara melalui hati ke hati Ning"


ujar ibunda yang tengah memilih kain selendang berwarna merah dan jarik batik.


Bicara dari hati ke hati, telepati mungkin maksudnya, pantas saja mereka tidak perlu berkumpul dan berdiskusi berdua, ayah San dan San, mereka bicara hal penting dengan telepati.


Mungkin dengan paman juga begitu, pantas mereka semua tidak membutuhkan handphone, tapi itu semua hanya firmalitas dari kehidupab di zaman moderen.


"Acaranya meriah ya bunda?"


"Tentu saja Ning, San kan pangeran penerus, yang penting selesai di mandikan kamu bisa istirahat kok"


jelas ibunda San.


Lega mendengar ibunda ratu bicara seperti itu, setidaknya dia tidak akan capek sekali meladeni tamu yang datang, banyak barang dan bunga yang di beli oleh ibunda, untuk hidangan malam nanti mereka menyiapkan beberapa daging sapi dan kambing.


Cheff terbaik juga di persiapkan untuk memasak makanan malam nanti, layaknya mandi-mandi anak pertama ketika memasuki usia kandungan ke tujuh.


Ayu hanya mengikuti sang mertua yang menunjuk dan Kum yang membawa barang belanjaan, entah kenapa ibunda ratu banyak sekali membeli jarik batik, di pikiran Ayu mungkin buat cendramata.


Ketika di pasar, Ayu di hampiri seorang pengemis bernadan lusuh dan bungkuk, taoi setelah melihat ibunda ratu, pengemis itu mundur dan hanya melihat Ayu yang tengah hamil, wajahnya menatap Ayu tidak berkedip, Ayu yang juga tidak sengaja melirik, dia tidak asing dengan kakek tersebut.


Kenapa sang kakek menatapnya begitu? dia merasa tidak nyaman, hatinya juga merasa tidak enak, ada apa? siapa kakek tersebut? batin Ayu yang menjadi kacau karena sampai dia masuk ke dalam mobil, sang kakek terus melihatnya.


.


.


.


(Bersambung)


Mampir yuk ke cerpen aku 😘

__ADS_1




__ADS_2