Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
Akhir Pertempuran


__ADS_3


Langit masih gelap rombongan prajurit Jayanaga telah sampai di Sangkapura, senopati masih mengintai membidik tempat yang paling empuk untuk menembus blokade Sangkapura.


Beberapa penjagal terbaik Amartha juga menyelinap, naik ke pintu penjaga, menusukkan belati kecil di leher sang penjaga, mulut mereka di tutup sehingga tidak menimbulkan suara.


Dengan cepat sang penjagal membuka perlahan pintu gerbang, membiarkan semua prajurit masuk Sangkapura dengan aman. tidak ada yang curiga, semua prajurit Sangkapura dalam keadaan terlelap, seperti biasa selepas latihan mereka di perbolehkan meminum arak.


Belum juga masuk semua prajurit Jayanaga dan Amartha, seorang pati menyadari kedatangan mereka dan membunyikan alaram bahwa penyusup masuk Sangkapura.


Terjadi pertarungan sengit sang pati dengan Senopati, ilmu kanuragan yang mereka sama-sama kuat, senopati terus menghujani sang pati pukulan tenaga dalam, sempat membuat mundur namun kali ini dia mengeluarkan pedang yang menjadi senjatanya.


"Serannnnngggggg !!!!!"


teriak prajurit Sangkapura yang berdatangan, kali ini bukan hanya senopati yang turun, raja Surapha, raja Kahayang bahkan ratu mereka juga ikut berperang.


Suara pedang saling bertaut, salah seorang prajurit memberitahukan kepada sang raja Sangkapura bahwa mereka sedang di serang.


"Tuang ku Daryadana, Kerajaan Jayanaga bersama dengan Amartha datang menyerang balik"


kata sang prajurit di depan pintu kamar.


"Apa..."


dengan nada kaget, Daryadana bergegas memakai baju jirah nya dan segera keluar, namun sebelum itu dia memeriksa tawanan puteri Kirana dan Kemuning.


Kamar Kemuning yang tidak jauh dari kamarnya, berniat memindahkan mereka namun Daryadana kaget melihat Kemuning,


"Tidak.....kau tidak boleh mati !!!"


seru Daryadana melihat kondisi Kemuning terbujur kaku dengan bersimbah darah.


"Tuan ku...kami membutuhkan anda"


sahut sang prajurit.


Terlepas itu Daryadana merasa sedih akan kepergian Kemuning yang lebih memilih mengakhiri hidupnya. Daryadana pun bergabung bersama dengan tentara-tentaranya.


Pertarungan antara kerajaan itu semakin sengit, sang ibu suri, ratu Varwati malah sibuk menyiapkan beberapa barang untuk mereka kabur sementara dari Sangkapura. Dia tidak mau apa yang dia lakukan menjadi sia-sia.


Kali ini Daryadana langsung yang menghadapi para raja, beberapa juga ikut menghadang, Sanjaya Abimayu bahkan para senopati kerajaan.


Zriinggg...zriinggg...


suara gesekan benda tajam saling bertaut, terdengar suara mereka yang berteriak, mencabik lawan dengan pedang, tombak, mereka bertarung sampai titik darah penghabisan. Bahkan langit mulai terang, sinar matahari menyeringai menyinari naik, namun langit tampak mendung, seakan tahu bahwa akan derita peperangan.


Beberapa prajurit juga ada yang memanah, benteng Sangkapura tidak dapat menahan lajunya prajurit Jayanaga dan Amartha masuk. Geram melihat pasukannya kewalahan Daryadana bergerak maju melawan para raja itu.


Daryadana tepat berdiri di depan 2 pimpinan Jayanaga dan Sangkapura, sambil memegang senjata andalan yang di berikan gurunya, Daryadana dengan mudah membuat kedua raja itu tersungkur.


"Hiya...."


Daryadana mengusungkan kapak nya, pedang sang raja Surapha tidak tahan menahan kekuatan kapak Daryadana.


"Arrrkkk..."

__ADS_1


teriak raja Kahayang mengayunkan pedang ke wajah Daryadana, tepat di dagunya Daryadana terluka, dia tetap tidak menyerah.


Daryadana kembali menendang badan raja Kahayang,membuatnya tersungkur dan ketika kapak hendak melukai raja Kahayang, sang anak pangeran Abimayu melindungi


"Ayah..."


teriak pangeran Abimayu.


Braaaakkkkk !!!


suara keras dari kapak Daryadana melukai punggung Abimayu, seketika Abimayu kandas. Gugur dalam perperangan.


"Putera ku..."


sentak sang ayah kaget.


"Hhaaaaa....."


teriak ratu Dewi Amartha.


Teknik pedang yang dimiliki sang ratu lumayan hebat, berkali-kali beliau mencoba menusuk daryadana selalu gagal, seperti badannya yang besar tidak dapat terluka akibat tusukan.


Plaaakkkk !!!


hanya dengan tamparan keras di perut sang ratu tersungkur, pukulan tenaga dalamnya memang membuat orang menjadi hati-hati.


Raja Surapha, senopati dan Sanjaya langsung menyerang kembali Daryadana, serangan yang bertubi-tubi membuat Daryadana kewalahan, Sanjaya juga menghancurkan gagang kapak milik Daryadana, kali ini hanya bermodal kan tangan kosong, lagi-lagi Daryadana mengeluarkan tenaga dalamnya.


"Hhaaaaa!!!"


Ssrruuukkkkk !!!


panah menusuk tepat di bahunya, panah berasal dari ratu Ratih, dia melompat dari atas kudanya, memberikan tendangan ke Daryadana, namun sayang belum juga sampai Daryadana menangkap kaki ratu Jayanaga tersebut dan melempar badan sang ratu ke tanah, membuat ratu Ratna terluka.


"Uhuhhkkk"


ratu Ratna yang menahan rasa sakit di badannya.


"ibunda..."


Sanjaya pun bagun dan menghadapi Daryadana.



Pertarungan sengit pun terjadi, Daryadana dapat menghindar dengan lincah, hanya dengan sekali hentakan di tangan Sanjaya, pedangnya terlepas, sambil berbisik.


"Tubuh isteri mu sangat indah"


kaya Daryadana dengan tersenyum.


Marah mendengar perkataan Daryadana, Sanjaya nekat menghajar Daryadana, beberapa kali Daryadana sempat mendapatkan luka di bibirnya. Kali ini Daryadana membalasnya, pukulan terkuat yang dimilikinya.


"Ha....."


Sanjaya jatuh dengan menahan sakit di perutnya, belum berhenti di situ Daryadan mengambil pedang Sanjaya dan menusukkannya di perut sebelah kiri, bahkan Daryadana membuat lukanya memanjang.

__ADS_1


"Aaarrrkkkk"


teriak Sanjaya.


Brrraaaakkk !!!


Daryadana terjatuh oleh tendangan Rendra.


Rendra akhirnya sampai di sangkapura setelah semalaman berkuda tanpa henti, pangeran Rendra terus memberi serangan kepada Daryadana, sempat tersungkur namun Daryadana kembali bangkit dan mengumpulkan tenaga dalamnya kembali, keduanya bertarung sengit, cukup kewalahan namun Daryadana dengan sigap memukul kembali dengan tenaga dalamnya.


Rendra terjatuh mundur tapi masih bisa kembali mengambil pedangnya, terus bergerak menyerang Daryadana, sampai titik Daryadana benar-benar marah, bukan hanya memukul kali ini Daryadana menendang Rendra di tambah seorang pati yang membidik Rendra dengan busur panah, tepat di jantung Rendra.


Jatuh tersungkur, semua orang kaget hal itu langsung di balas senopati dengan melemparkan tombak ke arah pati Sangkapura, seketika tewas dengan tombak menancap di ulu hati.


"Rendra...."


teriak semua orang.


Rendra yang tidak berdaya langsung di lempar oleh Daryadana.


Badanya tidak bisa bergerak, panah tersebut tidak dapat membuatnya bernafas, perlahan Rendra pun memejamkan matanya untuk selamanya, dua kerajaan itu kehilangan pangeran terbaiknya.



Entah berapa orang lagi yang akan gugur dalam perperangan, hanya karena rasa iri, dengki dan tidak pernah merasa puas semua orang jadi terkena dampak akan perang ini.


Daryadana akhirnya mengeluarkan ajian terakhirnya, dimana hal itu bisa membuat semua orang di depannya bisa tewas. Dengan posisi kuda-kuda kedua tangannya seakan mengumpulkan kekuatan, mengeluarkan dari dalam dirinya.


"Hhhhhhaaaaaaa"


teriak Daryadana yang mengeluarkan semua tenaga dalamnya.


Dengan penuh Tekanan seberkas cahaya kuning keluar dari kekuatan yang di keluarkan, mengarahkan ke pada ke dua pimpinan tersebut.


Zrrinnnngggggg !!!!!!


Dengan sigap cahaya itu teralihkan. Membuat itu menimbulkan asap tebal.


Daryadana kaget, serangannya dapat di tangkis oleh seseorang.


"Apa itu...."


ucap Daryadana.


........💞💞💞........


Cerita bersambung ya lanjut ke episode selanjutnya...


terus dukung karya ku ya dengan like dan komen...


terimakasih yang sudah mampir, maaf juga bila aku tidak bisa membalas satu-satu komen kalian.


Kalian selalu di hati ku, mari saling mendukung.


__ADS_1


__ADS_2