
Pagi Ayu terlihat membaik dia juga tengah memasak sup untuk Ben, di bantu mbok Ayu mulai mengiris sayuran yang menjadi pelengkap isian Sup daging.
Ayu masih merasakan efek dari trauma Kemuning, dimana tanganya gemetaran, secara ilmu kedokteran bisa disebabkan karena perubahan emosi yang cukup kuat. Emosi yang dialami memicu sistem saraf otonom untuk memicu tremor fisiologis pada tubuh. Perasaan gugup, amarah, stres dan gembira yang berlebihan dapat bertindak sebagai sistem darurat tubuh yang berpotensi sebabkan tangan menjadi gemetaran.
Ayu tidak bisa memegang pisau dengan benar, dia meletakan pisau danmenggenggam tangnaynya yang masih bergetar. Ayo Yu, kamu bisa, kamu bisa melewati ini,ujarnya menyemangati dirinya sendiri, mbok yang melihat memintanya untuk beristirahat.
Walau dia telah memaafkan, tapi dia tidak bisa melupakan, memoris pahit sekali pun, akan sangat susah dilupakan, mungkin dengan berjalannya waktu Ayu akanmembaik.
"Bunda....."
ujar Ben yang berlari kearahnya.
Ayu hanya tersenyum,dia masih menggenggam tangannya, dia tidak ingin San melihat dan merasa khawatir.
"Seru naik kudanya?"
tanya Ayu.
"Seru bunda, eehhm baunya enak"
Ben yang berlari ke arah dapur.
"Besok kamu ikut juga ya..."
ujar San menghampiri danmengecup kening Ayu.
"Enggak ah, takut."
"Kan sama aku..."
peluk San dari belakang.
"Mas...lepas ah malu di lihat dayang."
"Mereka yang malu lihat kita."
"Ayah...Bunda..."
Ben yang berlari menghampiri kemudian terdiam melihat sang bunda dan ayahnya tengah berpelukan.
"Iya sayang"
ujar Ayu yang buru melepaskan tangan San yang memeluknya dari belakang.
"Bunda, Ben mau makan, laper"
ujar Ben menarik tangan Ayu.
Ayu yang tersenyum melirik San, Ayu kemudian menyuapi Ben yang makan sangat kuat. Masakan mbok hal yang di rindukan Kemuning,masakannya selalu enak dan membuat Ben selalu minta tambah.
.
.
.
Sore itu Ayu mengajak Ben untuk bermain di caffe, Ben bermain di belakang bersama tante kun, Ayu cerita tentang dirinya yang mengalami trauma yang dirasa Kemuning, bahkan sampai sekarang dia masih merasakan tangannya kadang gemetaran saat mengambil barang.
"Saran aku sih, periksa ke dokter, kalau terus-terusan kita gak pernah tahu?"
ujar Deska.
"Intinya kamuharus berpikiran positif Yu, aku yakin kamu bisa melewatinya Yu"
sahut tantri yang vidio call dengan Deska.
"Iya Tan...mksh ya Tan"
"Sama-sama"
Tiba-tiba Ayu melihat seoarang pria yang berperawakan seperti kyai bersorban putih, tepat berada di belakang Tantri, parasnya tidak asing.
"Kamu lihat apa Yu?"
tanya Tantri yang memperhatikan Ayu.
"Kamu di rumah sendiri Tan? itu di belakang cowok kamu?"
tanya Ayu kembali.
"Cowok...sejak kapan Tantri punya cowok?"
Deska yang penasaran dengan ucapan Ayu.
"Dia sahabat aku Yu, dia sama dengan San, abadi"
jawab Tantri dengan santai.
"Tapi aku berbeda dengan pangeran Sanjaya"
ujar pria yang memiliki hidung yang mancung seperti orang arab.
"Waaahhh gila,ganteng banget..."
seru Deska yang tidak sadar mengucucapkannya, dengan segeramenutup mulutnya takut Adam mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu kenal dengan mas San?"
"Lama kami tidak berjumpa"
Seru pria yang biasa di panggil tantri, Dio.
"Aku pangeran Kesuma,panggil saja Dio"
tambahnya memperkenalkan diri.
"Pangeran Kesuma?"
Ayu serasa ingat dengan pria dengan nama yang tidak asing dia dengar.
"Sudah lama ya mbak Kemuning..."
ujarnya dengan senyum.
Seketika Ayu kembali mengingat kembali mana dia pertama kali bertemu dengan Pangeran Kesuma, dia yang menolong Kemuning ketika dia hendak di perkosa pangeran Rendra.
"Sudah ingat?"
ujar pangeran Kesuma.
"Terimakasih ya,,,,setidaknya kamu telah menolong ku"
ujar Ayu tersenyum.
Deska yang tidak paham, hanya mendengarkan, Ayu juga tidak menyangka bahwa Tantri berteman akrabdengan pangeran Kesuma.
(cerita ini ada di eps.Niat Jahat Rendra)
"Mumpung kamu sudah ingat,balikindeh jubah ku"
ujarnya yang menjadi gelak tawa Tantri.
"Lu ah, udah beratus tahun lalu kali, masa iya masih ada?"
seru Tantri sambil tertawa.
"Jubah???"
"Iya yang ku berikan untuk menutupi pakaian muyang sobek?"
jelas lagi pangeran kesuma.
"Eee..nanti coba aku tanya mas San dulu ya?"
ujar Ayu yang masih ragu apakah pakaian itu masih ada atau tidak.
"Iya, kalo sudah kasih ke Tantri ya, jubah kesayangan soalnya"
"Iya pak..."
sahut Ayu.
.
.
.
Sepulangnya dari caffe Ayu segeramencari jubah putih yang di maksud pangeran Kesuma, Ayu bingiung harus mencari kemana,dia saja lupa bagaimana bentukan itu jubah.
"Lagi cari apa dek?"
tanya Sanyang masuk bersiap untuk mandi.
"Mas,pernah ingat enggak ada cowok bernama pangeran Kesuma?"
tanya Ayu.
"Kamu ketemu dia? dimana?"
tanay San penasaran.
"Tadi sempat vcall dengan Tantri, dia temannya tantri?"
jelas Ayu.
"Kenal, dia orang yang baik"
jawab mas San.
"Nah dia pernah nolongin Kemuning, jubah putih di berikan ke Kemuning itu, dia mau minta balik"
ujar Ayu.
"Jubah putih...sebentar kayaknya ada di kamar bawah"
sahut San.
San pun berjalan menuju lantai satu istananya, di ikuti Ayu. sebuah kamar yang di khususkan mengisi pakian raja dan ratu jaman dulu, tidak ada yang boleh masuk kecuali anggota kerajaan.
Ayu kagum ketika masuk ruangan yang gelap dan penuh debu itu, hanya memiliki satu lampu penerangan, banyak terdapat baju raja dan ratu zaman dulunya.
San kemudian membuka sebuah laci yang terdapat di pojok ruangan, dia mengeluarkan kain yang di ikat rapi berwarna merah, di dalamnya ada jubah putih milik Pangeran Kesuma.
__ADS_1
"Hanya pakian ini yang terlihat aneh di runah ini"
ujar San membawa pembungkus jubah yang dibawanya keluar ruangan tersebut.
"Mungkin benar ini mas."
"Besok mas ikut ya, mas lama tidak berjumpa"
ujar San.
"Iya mas..."
.
.
.
Ke esok harinya Ayu dan San bergegas ke rumah Tantri yang lumayan jauh dari rumah mereka, tidak lupa mereka juga membawa Ben.
Namanya juga sudah punya anak, walau ketemu besar tetap saja anak, udah ada buntut yang keman-mana di ajak, Ben juga sangat penurut anaknya, dia paling anteng bila sudah duduk di mobil sambil memegang mainan mobil-mobilan kecil.
"Kemaren Ben main sama tante?"
tanya San yang memangku Ben duduk.
"Iya tante kangen katanya."
"Ben...kalau bunda punya anak lagi gimana?"
tanya Ayu menggoda Ben.
"Kapan bunda? Ben nanti ajak main dede nya, Ben bisa kok jadi kakak"
sahut Ben dengan semangat.
"Emang kamu udah siap?"
tanya San melirik ke arah Ayu.
"Nanti siap kok"
ujar Ayu tersenyum.
San yang gemas mencubit pipi cubby Ayu.
Sesampainya disana, Ayu langsung menyerahkan jubah yang tekah di kemar dalam paper bag berwarna senada. Tantri suka berada di tempat itu menenangkan diri, pangeran Kesuma memiliki pedepokan atau pesantren, semua di bangun dari nol sampai sebesar ini.
"Terimakasih sudah meminjamkannya, maaf agak terlambat"
ujar Ayu menyerahkan paper bag berisi jubahnya.
"Senang bisa bertemu kalian lagi."
"Silahkan masuk"
tambah Pangeran kesuma yang mempersilahkan Ayu dan San masuk ke sebuah ruang tamu, ada Tantri dan seorang wanita berwajah arab sangat cantik, membawakan teh untuk Ayu dan San.
"Ben...mau main sama kakak Zahra?"
Tantri yang mengajak Ben bermain dengan salah satu anak dari pangeran Kesuma.
"Boleh bunda?"
"Boleh kok sayang."
"Perkenalkan ini isteri saya...Aisyah, kalau zaman sekarang kalian bisa memanggil ku Dio"
jelas pangeran Kesuma.
"Ayu...."
"Aisyah..."
"Dia adalah pangeran dari Jayanaga, aku pernah menolong mbak Kemuning ketika di jahati seoarang lelaki"
jelas Dio kepada isterinya.
"Jubah itu mas Dio pinjamkan untuk saya,mbak"
"Senang, suami saya bisa membantu, terimakasih juga telah datang mengemantarkan"
ujar Aisyah.
"Terimakasih kembali mbak, saya beruntung saat itu mas Dio datang membantu"
sahut San.
Percakapan mereka terus berlanjut, seperti bertemu dengan teman lama, San dan Dio berbincang sambil berkeliling pesantern, sedangkan Ayu, Aisyah dan Tantri menyiapkan makan siang dintengah tepian sawah, suasana sangat asri, di hamparan sawah dan kebun tanaman obat milik pangeran Kesuma, berbaur satu di kaki gunung nan hijau.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1