Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Seperti Mimpi


__ADS_3


(Cerita sebelumnya)


"Kamu mau kan menikah dengan ku?"


tanya kembali San pada Ayu.


"Bolehkan kita menjalani sebagai manusia yang normal pada umumnya, menjadi sepasang kekasih, mengenal satu sama lainnya"


kata Ayu yang merubah intonasi bicaranya kepada San.


"Baiklah aku akan menunggu mu sampai kau siap."


.


.


.


Ayu yang memejamkan matanya terbangun, tersadar dirinya telah berada di kamarnya, Ayu terperangah heran, ingatan terakhirnya ketika dirinya berada di tepi danau bersama San.


Apa ini semua hanya mimpi?


gumam Ayu dalam hati.


Ayu merasa kepalanya kembali pusing, di tambah dengan kejadian malam tadi, seperti tidak jelas kenapa dirinya sampai bisa berada kembali ke kamarnya.


Masih menjadi misteri, San yang juga berada di kediamannya hanya duduk terdiam menatap pemandangan dari luar jendela kamarnya, entah apa yang di pikirkannya, terdiam dalam kerinduan yang mendalam, aneh tapi dia juga bingung dengan apa yang terjadi.


Terlalu dalam Ayu mengingat dirinya, semakin jelas sosok asli yang berubah, efek dari pertapaan Sanjaya, resiko yang memang harus ditanggungnya, karena San tidak mau Ayu melihatnya berubah San terpaksa menghapus beberapa ingatan Ayu.


"Pangeran...."


panggil Senopati kepada dirinya.


"Iya paman."


"Bagaimana keadaan pangeran?"


"Sepertinya ramuan paman bekerja..."


sahut San yang memegang pergelangan tanganya.


"Syukurlah...kalau begitu hamba pamit."


"Paman, kalau Ayu bertanya..."


"Tenang saja pangeran, percayakan semua kepada hamba"


ucap sang senopati.


Tidak lama senopati akhirnya keluar kamar San dan berlalu kembali ke rutinitasnya, sedangkan San di haruskan beristirahat mengingat kondisi nya tidak mungkin untuk bertemu dengan Ayu.


.


.


.


Ayu kembali beraktivitas seperti biasa, namun ada hal aneh yang dirasanya, ketika dirinya bertemu dengan Arya, Ayu melihat Arya berdiri di sebuah jembatan kecil tempat Ayu melihat gadis yang mirip dirinya merenung. Postur tubuhnya sangat mudah Ayu kenali, di tambah Arya di zaman itu juga mengenakan pakaian yang tidak jauh beda dari Ayu, bahkan rambut panjangnya tidak membuat ketampanannya berubah.


Dan kembali Ayu merasakan oleng, kepalanya kembali berat dirasakannya.


"Yu....."


Arya yang menangkap badan Ayu yang hampir jatuh karena oleng.


"Mas...Bram...."


seru Ayu yang dengan tatapan kosong.


"Ayu....kamu panggil siapa?"


tanya Arya yang tidak paham akan perkataan Ayu.


"Maaf mas....aku tidak enak badan"


sahut Ayu yang tersadar dan bergegas pergi kesuatu tempat seorang diri.


Ayu pergi ke rumah Tantri, teman Deska yang baru saja berkenalan dengannya, lumayan jauh menuju rumah Tantri, bahkan ojek online saja tidak bisa menjangkau area rumah Tantri.


rumah yang lumayan besar, namun sepi seperti tidak berpenghuni, tidak menyangka pemandangannya sangat indah dengan hamparan sawah, Ayu yang berjalan kaki sekitar 20 menit untuk bisa sampai kerumah Tantri.


Tantri yang sedang memetik bunga di perkarangan depan rumah tua itu, tersenyum menatap Ayu datang kepadanya.


"Susah tidak ke sini?"


tanya Tantri yang menyuguhkan secangkir teh melati kepada Ayu.


Ayu merasa tidak nyaman berada di rumah Tantri, dirinya terus melihat-lihat di sekeliling ruangan yang sangat sepi itu.


"Mbak Tantri tinggal sendiri?"


tanya Ayu merasa kan hawa rumah yang tidak nyaman.


"Tentunya sendiri, dengan siapa memangnya?"


jawab Tantri tersenyum.


"Jadi tujuan kamu ke sini apa?"


tanya Tantri.


Ayu pun menceritakan sebenarnya apa yang terjadi, Tantri dengan santai mendengarkan semua cerita Ayu, bahkan seolah tidak kaget, Ayu merasa ini semua aneh.

__ADS_1


"Aku cuma bisa bantu kamu satu kali, selebihnya kamu cari tahu sendiri"


ucap Tantri yang berjalan masuk ke sebuah ruangan gelap.


"Maksudnya bagaimana mbak?"


tanya Ayu masih belum paham.


Tantri mempersiapkan beberapa barang bawaannya, bersiap untuk pergi ke suatu tempat bersama Ayu. Tantri membawa Ayu menggunakan mobil klasik yang di milikinya.


Tanpa bertanya Ayu malah ikut saja, Ayu terus memandang Tantri dengan serius, Tantri terus menyetir sekitar 3 jam perjalanan dari rumahnya.


Disepanjang jalan Ayu hanya mendengarkan musik, sesekali membalas chattingnya bersama Deska yang bertanya dirinya pergi kemana.


Ayu hanya dapat melihat beberapa pemandangan gunung, jalan yang berkelak-kelok membuatnya sedikit pusing. Tapi tidak dia rasakan. Berharap perjalanan mereka cepat sampai.


Akhirnya mereka sampai, suasana nya seperti cagar alam asri banyak pohon, sebelah kanan ada galery foto kerjaan, sebelah kiri ada situs peninggalan kerajaan, pertama masuk Ayu merasa pusing, pundaknya seperti di tekan, hawa yang dirasanya saat ini panas.


"Kenapa Yu?"


tanya Tantri yang menyerahkan bunga untuk di letakan disitus cagar budaya.


"Enggak apa-apa mbak"


sahut Ayu yang tidak mau membuat Tantri khawatir.


Mereka pun berjalan disebuah cagar budaya, seperti candi yang dibawah tanahnya terdapat sumur dengan air yang bening, ada seorang juru kunci yang menjelaskan asal muasal candi, saat hendak memasuki tempat tersebut, sepintas Ayu melihat dua sosok tinggi besar, penjaga gerbang candi berpakaian lengkap seperti prajurit pada umumnya.


Mata mereka menatap Ayu yang baru memasuki area tersebut,


"Maaf Ayu tidak bermaksud jahat."


ucap batin Ayu yang terus merasakan tekanan, benturan energi dibadannya sangatlah kuat.


Tantri sedang memanjaatkan doa dan memberi bunga di empat tiang candi, sedangkan Ayu masuk kedalam pendopo yang terdapat mata air candi, juru kunci menjelaskan beberapa peraturan dan manfaat dari air tersebut bila dibawa pulang dan tidak lupa semua dibarengi dengan doa dan ikhtiar kepada Tuhan.


Dalam hati Ayu terpikir satu hal, dia ingin tahu kebenaran siapa dirinya dan San.


Ibu juru kunci tersebut mengambilkan air tersebut dan menyuruh Ayu untuk mencuci wajahnya.


Selesai dari tiang empat candi, Ayu dan Tantri berjalan menuju petilasan sang Puteri Raja, sepintas Ayu melihat seseorang yang sangat cantik, rambut panjang terurai, lengkap mengenakan pakaian kerajaan, walau beliau hanya berdiam dan menatap Ayu, tapi Ayu mendengar suara beliau.


"Aku akan membantu mu."


Suara yang di yakini sang Puteri Raja.


Tanpa sadar Ayu membalas pertanyaan sang Putri.


"Terimakasih, puteri."


Jelas Ayu yang juga berucap dalam hati.


"Ayu..."


Tantri yang membangunkan Ayu dari lamunan.


Ayu juga membaca situs danau kembar, yang berada di sisi barat taman, setelah membaca Ayu juga dapat melihat kejadian aneh, dilihatnya sepasang pria kembar, mereka terlihat tampan namun masuk kedalam lingkaran air yang berada ditengah danau.


Sesuai dengan diskripsi yang ada di papan bacaan, Ayu bercerita kepada Tantri namun Tantri hanya tersenyum seakan telah mengetahui hal tersebut.


Setelah mereka beranjak, Ayu melihat kembali sosok kembar itu memang ada berdiri di pinggir danau.


Selepas itu mereka masuk ke sebuah tempat yang menjadi museum, batu besar terhampar di sana, Tantri yang telah siapkan beberapa ritual bersama sang juru kunci.


Seakan telah biasa melakukan nya, Tantri dan ibu juru kunci juga menyiapkan beberapa bakaran kemenyan dengan potongan kayu gaharu. Seketika suasana menjadi sangat dingin, bulu kuduknya berdiri, suasana nya juga menjadi tidak enak tapi Ayu hanya diam merasakan semua keanehan ini.


"Ayu...kamu bisa duduk di sini!"


perintah Tantri yang menyuruh Ayu duduk tapa di atas batu besar.


Tanpa bertanya Ayu pun duduk, sedangkan Tantri dan ibu si juru kunci telah menyiapkan air di penuhi dengan bunga 7 rupa. Matanya terpejam sendiri, ketika Ayu mulai memejamkan matanya, Ayu mulai merasakan hal aneh, kepalanya pusing hebat, bahkan vertigo nya seperti kumat, namun anehnya, Ayu tidak merasakan khawatir tentang rasa melayang di kepalanya, dia justru seperti masuk ke alam bawah sadarnya, memasuki lorong panjang, nan gelap, hanya ada seberkas cahaya putih terang, Ayu terus berjalan ke arah sana sampai semua terlihat jelas, Mas San yang di lihat Ayu selama ini adalah seorang pangeran sebuah kerajaan, dia jatuh cinta dengan seorang gadis dan menikah dengan gadis yang sangat mirip dengannya, kemudian Ayu kembali melihat pangeran San duduk di sebuah gua beratap kan langit, entah apa yang sebenarnya dirinya lakukan.


Hal aneh terjadi, pangeran San menyadari kehadiran Ayu, menatap dan memandang dalam kepada Ayu. Sentak Ayu kaget karena mata pangeran San berubah, matanya bisa berubah menjadi kuning kehijauan, dengan bola hitam memanjang. Ayu yang takut terbangun dari semedinya.


"Hosh...hosh..."


teriak Ayu tersadar sang juru kunci yang tadinya terus menguyur badan Ayu dengan air kembang.


"Ada apa Yu?"


tanya Tantri yang kaget melihat Ayu tersadar.


"Aku lihat mas San...matanya juga menatap ku..."


jelas Ayu terengah-engah.


Sedangkan San yang tengah berdiam diri di rumah, juga kaget bisa melihat Ayu, seakan ada koneksi di antara keduanya, San khawatir Ayu yang mengetahui keadaan San yang sesungguhnya, dia akan takut akan dirinya yang sekarang.


"Paman, antar aku ke tempat Ayu"


San yang berbicara melalui telepon.


.


.


.


Setelah selesai Ayu dan Tantri pergi dari tempat terebut, sepanjang jalan ayu teru memikirkan San, matanya bukanlah mata seorang manusia.


"Nanti kapan-kapan aku ajarin kamu VR"


ucap Tantri sambil fokus menyetir.


"VR?"

__ADS_1


"Virtual reality (VR), realitas maya, atau realitas virtual adalah tindakan yang membuat kita dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang tidak kasat mata."


jelas Tantri.


"Lantas hubungannya apa mbak dengan San?"


tanya Ayu sedikit bingung.


"Setelah apa yang kamu lihat, kamu masih bilang dia manusia normal?"


celetuk Tantri.


"Kalau dia bukan manusia lalu apa? makhluk astral? jangan ngaco deh mbak!"


"Aku tidak akan memaksa apa yang menjadi pendapat mu..."


ucap Tantri tersenyum.


Akhir dari perbincangan Ayu tertidur selama perjalanan.


.


.


.


Sesampainya Tantri di kost Ayu, mereka telah di hadang oleh San dan beberapa bodyguard beserta paman senopati. Tantri yang melihat banyak orang di depan kost Ayu hanya bisa terdiam. San berjalan menuju mobil Tantri. Tidak berkata apa-apa, San langsung membuka pintu mobil dan menggendong Ayu ke pelukannya.


Sedangkan paman senopati meminta Tantri untuk turun dari mobilnya, sekedar memberikan arahan melalui tangannya, Tantri yang tidak merasa khawatir pun mengikuti apa yang telah di perintah untuknya.


Mereka pergi ke rumah San, Ayu pun nampak masih tidak sadar, masih terlelap tidur di pangkuan San, sedangkan Tantri dan paman senopati menempati mobil lainnya.


"Ada apa membawa saya segala?"


tanya Tantri.


"Pangeran hanya mengundang mbak, saya harap mbak tidak berpikir aneh-aneh"


jelas paman senopati.


"Baiklah..."


Mereka pun melajukan mobilnya dan bergegas beranjak untuk pergi ke istana San. Tantri hanya bisa terdiam dan tenang, tidak banyak bicara. Dia percaya bahwa pangeran San tidak akan melukainya.


Ayu masih terlelap tidur, kali ini dirinya terlihat sosok seorang pria namun bukan San, melainkan Arya, jelas dengan rasa yang di pendam nya untuk Arya, Ayu tersadar kenapa dirinya bisa melihat Arya dan San di masa lalu, apa hubungannya dengan dirinya?.


Sesampainya di istana, Ayu tersadar dan kaget karena dirinya telah berada di pangkuan San, pria yang sedikit membuatnya takut dan penasaran menggendong dirinya masuk ke sebuah kamar.


Mata mereka saling bertatapan, terbesit ucapannya dalam hati.


"Matanya seperti orang normal"


ucap Ayu dalam hatinya.


"Kenapa de?"


tanya San yang melihat Ayu terdiam menatapnya.


"Enggak apa-apa, turunin aku mas."


kata Ayu merasa sedikit gugup.


San pun menurunkan badan Ayu, di susul Tantri dan senopati yang berjalan di belakang San.


"Dek...sebaiknya kamu istirahat, aku mau bicara dengan Tantri"


perintah San.


"Baiklah..."


ayu tanpa perlawanan dan pertanyaan masuk ke dalam kamar.


Sedangkan San, Tantri dan paman senopati berjalan menuju sebuah ruangan untuk berbincang-bincang, Ayu penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan, tapi Ayu tidak berdaya melawan penjaga yang berada di depan pintu kamarnya.


Pembicaraan Tantri dan San berlangsung biasa saja, San menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud jahat, dia berterus terang siapa dirinya sebenarnya, tidak ingin Tantri memberitahukan apa yang terjadi, Ayu harus berusaha mengingat sendiri siapa dia dan San.


Tantri tidak berpikir kalau makhluk seperti San benar-benar ada, makhluk penjelmaan manusia abadi yang biasa di dengarnya melalui cerita nenek, beberapa buku kitab yang di pelajari nya juga menerangkan makhluk seperti San ada.


Tantri hanya berpesan kepada San, agar dirinya bisa menjaga Ayu dengan baik, apapun keputusan Ayu, San tidak boleh memaksakan hati Ayu, Ayu sekarang bukanlah wanita yang di cintainya 500tahun lalu.


San menerima nasehat Tantri dengan lapang dada, semua keputusan memang ada kepada Ayu. San paham betul resikonya, Ayu mungkin akan merasakan takut akan dirinya yang bukan manusia pada umumnya.


Dan suatu saat San harus bisa memberitahu siapa dirinya sesungguhnya, tanpa menghapus ingatan Ayu tentang dirinya, walau resiko Ayu akan menjauhi dirinya, kalau ayu adalah Kemuning, dia pasi akan kembali ke pelukan San.


.


.


.


Dilain tempat, Arya juga merasa kan apa yang sebenarnya dirasa oleh Ayu, melihat Ayu lebih terlihat cantik namun dengan pakaian pada zaman kerajaan. Arya bisa melihat hal tersebut ketika dirinya mengobati San yang kala itu terbaring lemah di kost Ayu.


Arya terus memikirkannya, tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan San dan Ayu, sejak saat itu juga Arya memiliki rasa aneh kepada Ayu, entah seperti rasa bersalah atau apa, namun Arya tidak bisa berdiam diri menunggu jawaban akan teka-teki ini.


"Bun...sibuk enggak, boleh kita ketemuan besok?"


Arya yang berbicara kepada seseorang melalui telepon genggamnya.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa ❤️



__ADS_2