
Mendengar suara benda pecah dari luar kamar, Kirana khawatir terjadi sesuatu. Dia pun bergegas keluar beberapa dayang terkapar di depan.
"Kemuning !!!"
seru Kirana yang kemudian hendak keluar kamar.
"Puteri,,,sebaiknya jangan"
cegah seorang dayang.
"Kamu jaga Bima sebentar"
perintah Kirana kemudian keluar kamar.
Sang dayang menyuruh Bima untuk tetap sembunyi di dalam almari besar berisi jubah pangeran Rendra.
Di dapatinya dayang dan pengawal tewas dengan mengenaskan, Kirana pun berjalan menuju kamar Kemuning, namun apes Kirana bertemu dengan seorang pria yang juga mengenakan pakaian yang sama dengan si pati.
Bruuuukkkkkk !!!
Kirana pingsan dibuatnya, segera mereka keluar dari istana, sebelum yang lain menyadari.
"Aku tidak bisa diam saja..."
ucap sang ratu yang khawatir.
"Tapi ndoro...."
Belum juga selesai bicara, ibunda ratu keluar kamar dan mendapati seorang berpakaian hitam berlari dengan membopong puteri Kirana dan menghilang melompati tembok tinggi Kerajaan Jayanaga.
"Puteri...."
ucap sang ratu, kemudian dia berlari ke arah kamar Kirana dan mendapati Bima yang disembunyikan dayang, disebuah almari yang terdapat beberapa jubah pangeran Rendra.
"Yang mulia ratu..."
dayang yang berusaha melindungi Bima.
"Cucu ku..."
"Tuan muda Bima aman bersama dengan saya"
Mendengar hal itu, ratu sedikit lega dia pun berlari ke arah kamar Kemuning, beberapa mayat dan dayang yang tewas karena pati masih bersimbah di lantai.
"Puteri Kemuning..."
sang ratu yang masuk ke dalam kamar tidak menemukan Kemuning di dalamnya, hanya pecahan vas bunga.
"Apa maksud semua ini? kenapa mereka menculik ke dua puteri Jayanaga?"
kata ratu yang merasa kesal akan tindakan Daryadana.
Pati yang menculik Kirana dan Kemuning segera membawanya ke Sangkapura dan memberikan kode kepada prajurit lain bahwa misi mereka telah selesai.
Priiiwittt...
siul salah seorang prajurit yang membawa kereta kuda berisi Kirana dan Kemuning yang pingsan.
Siulan itu bersahut sehingga Daryadana mendengar, dirasa pas waktu untuk dirinya mundur kembali membawa pasukannya ke Sangkapura.
Hanya dengan isyarat tangan para prajurit Sangkapura mundur, meninggalkan banyak mayat tentara Jayanaga yang meninggal, belum lagi luka dalam yang di derita raja Surapha dan Rendra. Mereka tidak mau gegabah, sementara Sangkapura mundur, Jayanaga bisa menyusun serangan balasan.
......💞💞💞......
Sementara seorang pengawal yang di tugaskan mencari Sanjaya dan senopati, mencarinya juga tidak tahu kemana, hanya saja dia pernah ikut sang pangeran berburu dan tahu rute kemana saja yang di lalui sang pangeran.
Dia terus melajukan sang kuda, tidak ada kata berhenti sebelum bertemu dengan sang pangeran, pantang menyerah sebelum bertarung semboyan para prajurit Jayanaga yang memang di latih dengan baik.
(Kerajaan Jayanaga)
"Ibunda..."
teriak Rendra yang membopong sang ayah masuk ke kamar.
"Kakanda...."
"Aku tidak apa-apa adinda, kita hanya perlu menunggu senopati dan Sanjaya datang"
jelas sang raja yang terluka di bagian dada.
"Kakanda, puteri Kirana dan Kemuning di culik"
jelas sang ratu.
"Apa...."
sentak Rendra.
__ADS_1
"Maafkan ibunda....Bima aman bersama ibu"
"Mau tidak mau...kita harus meminta tolong kepada Amartha"
jelas sang paduka Raja.
"Tentara kita sudah banyak yang gugur, ini pasti awal, mereka pasti akan menyerang kembali"
tambah sang raja.
"Bagaimana kalau Rendra yang ke Amartha, ayah"
ucap Rendra.
"Bergegaslah putera ku"
sang raja yang menaruh tanganya di pundak Rendra.
Rendra bergegas pergi ke Amartha, dia melalui jalan hutam yang gelap, jalan pintas menuju Amartha. Rendra terus memacu kudanya agar segera sampai di Amartha, tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya ingin Kirana dan Kemuning kembali ke istana lagi.
(Kerajaan Sangkapura)
Sementara puteri Kirana dan Kemuning di kurung dalam sebuah penjara yang terdapat beberapa gadis, merasa heran dengan seorang puteri yang hamil, Ibunda ratu Varwati bertanya kepada sang anak.
"Putera ku Daryadana, kenapa kau menculik wanita hamil?"
tanya ratu Varwati.
"Hamil?"
Daryadana yang kaget bergegas menuju sebuah ruangan memang tidak seperti penjara memang, tapi lebih tepatnya ruangan yang mengurung tawanan gadis-gadis.
Daryadana merasa kesal akan perja sang pati yang tidak becus, dua wanita yang diculik itu salah satunya benar memeang puteri Kirana, namun perutnya nampak besar, dialah yang di maksud dengan wanita hamil.
"Maaf tuan ku...kami tidak tahu puteri Kirana yang mana !"
seru salah satu pati yang bertugas menculik.
Wajah Daryadana berubah seketika,
Plaaakkk !!!
dia mendaratkan tamparan keras ke wajah sang pati.
"Pindahkan ke dua nya, beri mereka kamar terpisah"
perintah Daryadana.
sahut pati yang lain.
......💞💞💞......
Prajurit yang terus melaju dan akhirnya bertemu titik terang, dia melihat asap perapian di tengah hutan, karena kelelahan sang pengawal sempat pingsan, badannya jatuh di punggung si kuda, kemudian kuda yang membawanya tetap meneruskan perjalanan sampai tempat api unggun itu berada.
Tuk tik tak tik tuk...
Suara sepatu kuda yang terus berlari ke arah tenda sang pangeran terdengar oleh senopati.
"Sebentar pangeran..."
senopati yang duduk di depan api unggun mendengarkan seksama.
Semua pengawal bersiap dengan senjata mereka untuk berjaga-jaga.
Namun pandangan senopati lambang kerajaan Jayanaga di kepala kuda yang berlari kencang itu.
"Tahan..."
ucap senopati.
Sang kuda pun perlahan mendekati senopati, benar saja ini memang kuda milik kerajaan Jayanaga.
"Pengawal...."
senopati yang membangunkan pengawal yang pingsan itu.
"Senopati....haus..."
ucapnya dengan nada lirih.
Dia pun di turunkan oleh pengawal yang lain, di berikan minum dan makan, Sanjaya terus mengerutkan keningnya, seperti ada yang tidak enak dia rasa di hatinya.
"Cerita lah...."
Senopati yang melihat kondisi pengawal itu telah stabil.
"Sangkapura menyerang Jayanaga..."
"Apa...."
__ADS_1
sentak Sanjaya kaget.
"Tenang pangeran..."
"Kita harus segera pulang paman..."
"Pulang tanpa bala bantuan akan sia-sia pangeran"
jelas sang senopati.
"Kita tidak boleh gegabah pangeran..."
Senopati pun menyusun rencana dengan prajurit yang ada, siapa tahu mereka masih menguasai Jayanaga.
Akhirnya setelah siap, mereka langsung menuju Jayanaga malam itu, Sanjaya dengan cepat menarik pelana kudanya.
"Tunggu aku...!!!"
seru Sanjaya dengan gagahnya memacu kecepatan kudanya.
(Kerajaan Amartha)
Pangeran Rendra yang hampir subuh tiba di Amartha langsung ingin menghadap raja, di sambut oleh pangeran Abimayu.
"Ada apa pangeran Rendra ?"
tanya sang raja Kahayang kepada menantunya.
"Maaf sebelumnya, hamba datang sebagai utusan Jayanaga ingin meminta bantuan"
"Bantuan apa?"
Rendra mulai menjelaskan apa yang terjadi, awal Sangkapura menyerang Jayanaga. Bahkan dia menjelaskan puteri Kirana dan Kemuning di culik. Mbok yang tidak sengaja mendengar kaget dan menjatuhkan nampan berisi minuman untuk pangeran Rendra.
Brannnkkkk !!!!
Mbok yang tidak sengaja menjatuhkan nampan berisi air.
"Mbok...."
pangeran Abimayu lupa bahwa mbok bangun awal sekali.
Memang kebiasaan mbok selalu bangun pagi buta.
"Mbok....tenanglah...kami akan berusaha menyelamatkan mereka"
jelas pangeran Rendra.
"Mbok...."
peluk sang ratu Amartha.
Mbok merasa sedih, dahulu sang suami gugur di medan perang, sekarang puteri satu-satunya di culik. Air matanya terus mengalir membasahi pipi wanita paruh baya itu.
Namun raja Amartha seperti tidak kaget. Beberapa hari lalu dia bermimpi bertemu dengan sahabatnya, raja Kahayang bahkan memberikan gelar bangsawan karena kecerdasaan beliau dalam ilmu pengobatan.
Tidak lain adalah tabib Sukma, ayah dari Bramasena. Beliau mengatakan bahwa akan ada peorrangan besar yang akan terjadi, hanya Bramasena yang dapat mengalahkan Daryadana.
Namun sebelum itu, mereka harus mencari Bramasena yang sedang bertapa di goa lireng.
"Hal ini persis dengan mimpi ku..."
ucap sang raja.
"Maksudnya ayah handa?"
tanya Abimayu.
Sang raja pun menjelaskan mimpinya, seseorang harus menemukan Bramasena di goa lireng.
"Dimanakah goa lireng itu berada paduka?"
tanya Rendra.
"Kau harus menempuh berhari-hari, tapat di ufuk timur diantara dua bukit, disanalah goa lireng berada"
jelas paduka raja Kahayang.
"Baiklah, hamba akan yang akan mencari Bramasena"
"Kalau begitu, akan mempersiapkan pasukan"
tambah Abimayu.
Tidak ada kata istirahat, pangeran Rendra kembali melajukan kudanya menuju timur mencari Bramasena. Sedangkan Amartha bersiap melaju ke Jayanaga mengirimkan bala bantuan.
......💞💞💞......
Sampai jumpa di episode selanjutnya ya...
__ADS_1
Dukung karya ku dengan like dan komen...