
Mereka resmi mengadopsi Ben sebagai anak mereka, untuk hari ini Ben akan bermain dulu dengan San, Ayu akan ke kantornya sebentar, dia lupa beberapa file liputan konser belum di serahkan ke Deska dan rekan lainya.
"Ben hari ini main sama ayah San dulu ya..."
Ayu yang telah bersiap berangkat ke kantor lamanya.
"Bunda mau kemana, Ben ikut ya...."
pinta Ben.
"Ben sama ayah ya, nanti kita jemput bunda sama-sama"
ujar San yang kemudian menggendong Ben.
Ayu lega San bisa di andalkan dalam mengurus anak, dia segera pergi ke kantor dengam di antar Kum, dia juga membawakan beberapa cake untuk teman-teman di kantornya, sebagai ucapan terimakasih telah menerimanya di Radio J.
.
.
.
Celana Kain yang di pakai Ben selutut dan baju seperti rompi dengan warna senada, membuat Ben kecil gagah seperti ayahnya.
"Kamu kok mirip ayah waktu kecil"
seru sang ibunda ratu.
"Ganteng enggak nek?"
tanya Ben.
"Ganteng banget..."
ibunda ratu yang memang menantikan seorang cucu sekarang bisa merasakan mempunyai cucu.
"Makanannya sudah siap ndoro"
sahut seorang abdi dalem atau pelayan istana.
"Iya sudah...Ben makan dulu yuk"
seru sang ibu ratu.
"Iya nek.."
"Ayu gak senpat sarapan ya?"
tanya sang ibunda.
"Sarapan di dekat kantornya bunda"
sahut si San.
Meja makan yang terbuat batu marmer itu dipenuhi makanan enak, serba serbi daging mulai ayam, sapi dan kambing, beberapa buah dan susu untuk Pangeran kecil Ben. Para dayang melayani Ben, menyuapi denga lembut, ada juga dayang yang ingin melayani San namun di tolak olehnya.
Tingkah Ben sangat lucu dan menggemaskan, banyak yang menyukai nya, selain itu Ayu juga sempat berpikir bagaimana nanti kalau Ben bisa pergi ketempat yang lebih baik, tempat yang hanya ada di atas langit sana.
"Jangan kan lu gue aja udah sayang Yu sama tuh anak"
seru Deska yang sibuk menyambut pesanan sarapannya pagi itu.
Mereka berbicara di warteg dekat kantor, sambil memesan sarapan yang menjadi teman Ayu dan Deska selama beberapa tahun.
"Mas San sayang banget kayaknya."
__ADS_1
"Emangnya lu belum pengen punya anak?"
tanya Deska penasaran.
"Iya kepengen, tapi aku masih mau menikmati masa berdua"
jawab Ayu.
"Ya sudah, semoga dengan hadirnya Ben perut lu cepat isi Yu"
seru Deska tersenyum.
Deska sedikit penasaran dengan Arya dan Bella, tapi tidak mungkin untuknya bertanya dengan Ayu, jiwa keponya memang sedang di uji, Bella yang sebulan lalu datang ke kantor dengan prut yang masih rata, tiba-tiba dalam hitungan minggu perutnya membesar dan kemudian melahirkan.
Deska hanya tahu bahwa San adalah orang kaya, begitu juga Bella, tapi selebihnya siapa San dan Bella dia tidak tahu, Ayu juga enggak mau Deska kepikiran bahwa San tidak baik untuknya, lebih baik kalau Deska tidak tahu asal muasalnya.
Sedangkan Ben, Ayu hanya menjelaskan ada orang pintar yang memberikan ramuan agar Ben bisa terwujud fisiknya, tapi sepertinya Deska tidak begitu peduli, yang penting Ben keadaan baik dan bahagia, sama halnya tante, mungkin dia juga beranggapan yang sama dengan Deska.
.
.
.
"Bunda...."
kata Ben yang tiba-tiba datang bersama San
"Hai...habis makan ya? gemuk pipinya?"
seru Ayu yang baru tiba malam itu.
"Iya...bunda malam ini Ben tidur sama bunda ya?"
"Boleh...."
seru Ayu.
"Hmm kalo ayah juga di suapin enggak nak?"
tanya Ayu yang melirik tajam kepada San,kesempatan karena pasti anak kecil akan jujur menjawab pertanyaan orang dewasa.
"Tadi mau di suapin tapi ayah enggak mau"
jawab Ben dengan polosnya.
"Ouh...di suapin..."
celetuk Ayu memasang mata elang, mata yang siap mencabik mangsanya.
"Enggak loh dek, cuman Ben tu yang disuapin?"
elak San.
"Emangnya ayah enggak boleh disuapin ya buda?"
tanya lagi anak mereka.
"Boleh kalo itu bunda"
sahut San yang tersenyum.
"Kan isteri nya ayah siapa? bunda kan, jadi cuma bunda yang boleh"
"Ouh begitu"
sahut Ben dengan polosnya menatap sang bunda.
__ADS_1
"Ben ngantuk bunda"
seru Ben.
"Sebentar ya nak, bunda mandi terus bobo ya, Ben tunggu di kasur ya"
ujar Ayu.
Selain pintar Ben juga sangat penurut, dengan wajah riangnya Ben telah siap merebahkan badannya menunggu Ayu selesai mandi.
Ayu kemudian menemani anaknya, menidurkannya di ranjang, sambil menepuk pundak Ben dengan pelan, sang anak juga memeluk bundanya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan mas San hanya bisa memeluk Ayu dari belakang.
Ben seperti anak pada umurannya yang suka main, makan banyak, tidur siang, tidur malam cepat. Tiba-tiba Ayu meliha flashback dari Ben, sang ibu kandung Ben menyesali perbuatannya, setiap malam dirinya yang pulang bekerja selalu menangis, tersedu sampai menahan rasa sakit di dalam hatinya.
Dia juga melihat Ben kecil, melihat sang ibu menangis Ben merasa iba, pengen menghibur tapi ibunya tidak bisa melihatnya, pertanyaan yang selalu ingin ditanyakan Ben, kenapa mama buang Ben? salah Ben apa ma?.
Ayu yakin namanya seorang ibu ,yang telah melakukan kesalahan pasti akan menyesali perbuatannya. Ayu juga kagum akan sosok tante yang selama ini menjaga Ben, tidak menyangka bahwa sosok seorang kuntilanak bisa merawat dan membesarkan Ben sendirian. Sikapnya sama pada ibu umunya melarang bermain jauh, melarang bermain sama mahkluk yang nakal, menuturkan yang baik kepada Ben, menimang seperti anaknya sendiri.
Ayu benar-benar terharu, hantu atau makhluk astral yang banyak mengganggu dan dianggap menakutkan namun ternyata disini Ayu melihat langsung mereka tidaklah seperti orang bilang, mereka baik walau wujudnya seperti itu. Don't judge a book by it's cover, jangan menilai seseorang itu hanya dari luarnya saja.
San sangat menyanyangi mereka, melihat Ayu yang menidurkannya, serasa telah memiliki anak sendiri, Setelah lelap tertidur Ayu perlahan menutupnya dengan selimut dan turun dari kasur.
"Mau kemana dek?"
tanya san melihat sang iteri yang turun dan menguncir rambut nya yang panjang.
"Mau bikin kopi...ikut?"
ujar Ayu.
Tanpa menjawab San mengikuti sang isteri yang menuju dapur dan membuat kopi, walau telah tengah malam Ayu tetap minum kopi, entah apa yang dipikirkannya, bingung hendak berbuat apa, dia sudah tidak bekerja lagi, hanya menunggu suami dan anak di rumah memang bukan style Ayu.
"Kamu kenapa dek?"
tanya San yang memeluk sang isteri.
"Enggak kok, mas, aku boleh kerja lagi enggak?"
ucap Ayu.
Wajah San berubah, ada perasaan tidak setuju di hatinya, tapi hari ini Ayu bertemu dengan teman yang telah menikha dan dia tetap bekerja, terlihat menyenangkan, belum lagi mereka membawa bekal yang sama dengan yang di bawa suami, Ayu ingin seklai merasakan hal tersebut, tapi dia juga tahu kalau San tidak akan mengijinkannya.
"Mas juga enggak kerja lagi kok, biar sama-sama di rumah"
sahut San sewot.
"Kok begitu?"
"Udah kamu ngurus Ben, ngurus aku, perhatian kamu cuman untuk kita, bisa?"
Ayu hanya mengangguk, mengiyakan wlaau berat dihatinya, setidaknya dengan bekerja ada teman yang bisa mendengar keluh keah saat menguru anak dan suami.
"Mas enggak mau dengar kamu bahas ini lagi."
**Cup...
San mendaratkan ciuman di pipi Ayu, dia juga membawa secangkir kopi yang dibuatkan Ayu untuk di bawa ke kamarnya, dengan tangan satunya menggandeng tangan Ayu.
.
.
.
(Bersambung)
Mampir yuk di Cerpen aku "Si Bujang"
__ADS_1