
Hari ituu hanya di habiskan bersantai di rumah, bersama Ayu dan Ben, Ayu juga kembali mencoba memasak kesukaan suaminya, daging yang di iris tipis dan di bakar setengah matang, tetap di bantu mbok, Ayu berhasil memasakkan suaminya makanan favoritnya.
Malam itu semua anggota keluarga berkumpul, Ben dan San sangat lahap makan masakan Ayu, mbok juga duduk bersama makan malam dengan formasi lengkap, ayah San baru selesai pulang dari dinas nya.
hanya Ayu yang tidak menikmati makan malam itu, badannya sedikit meriang, perutnya terasa mual, dia bahkan tidak selera makan masakannya sendiri.
"Kamu enggak makan dek?"
tanya San, dia hanya memperhatikan Ayu yang tidak nafsu makan.
"Enggak mas, nanti aja, kek masih penuh perut ku"
ujarnya.
"Kamu sakit cah ayu? mbok buatkan jahe anget mau?"
ucap si mbok.
"Mbok, mbok duduk aja, aku nanti bisa bikin sendiri."
ujar Ayu.
Namun saat hendak ke dapur membuat minuman jahe, kepala Ayu seakan merasa vertigo yang dulu datang, nelayang tubuhnya seakan ringan, namun dengan cepat San menangkap tubuh Ayu.
"Kamu kenapa dek?"
tanya San dengan wajah yang khawatir.
"Enggak apa-apa mas"
ujar Ayu yang kemudian merasakan mual hebat.
Dia segera berlari ke arah toilet dan mualnya menjadi-jadi, bahkan sampai isi perutnya semua dia muntahkan nya, mbok segera membuatkan minuman jahe, ibunda San segera meminta Kum untuk memanggilkan mbah Jipo, dukun beranak yang biasanya, kalau-kalau Ayu hamil.
Ayu sampai lemas keluar kamar mandi, San yang menunggu Ayu keluar memegang segelas air jahe yang di buatkan mbok.
"Dek, kamu minum dulu"
San yang menyerahkan minuman buatan mbok.
"Gak suka baunya"
ujar Ayu terdengar tidak seperti biasanya.
Ayu memilih untuk istirahat di kamarnya, dia merebahkan badannya di kasur yang empuk, dia juga melepaskan br*a nya, agar dia bisa bernafas dengan lega.
Tangannya menutup separuh wajahnya, dia merasa sangat pusing, dia bahkan tidak nafsu untuk makan dan minum.
San dengan setia menemani Ayu, dia mulai memijat kaki isterinya, mungkin Ayu kelelahan karena tadi malam.
"Mas...udah..."
ujar Ayu yang benar-bemar merasakan badmood.
"Mas...udah mas keluar aja"
kata Ayu yang nampak kesal dengan San.
__ADS_1
San merasa bingung akan sikap Ayu, kesal karena niat baiknya tidak membuat Ayu lebih baik, dia akhirnya keluar dari kamar.
Ayu tersadar sendiri, dia juga bingung, kenapa dia amat sebal melihat San, ada perasaan aneh di dirinya yang tidak seperti biasanya.
Tidak berapa lama Kum datang bersama mbah Jipo, San heran kenapa mbah Jipo berada di rumahnya, ibundanya yang mengundang kemudian berjalan ke arah kamar San dan Ayu.
"Bunda memangnya ada apa?"
tanya San yang mengikuti sang ibunda.
"Bunda juga masih nunggu informasinya mbah Jipo"
ujar ibundanya, mbok yang menjaga Ben tengah Asyik bermain di ruang tivi, Ben paling cemas bila melihat bundanya sakit atau kenapa-kenapa, jadi sengaja di ajak main agar Ben tidak merengek untuk bertemu dengan Ayu.
"Nduk....aku permisi periksa perut mu ya"
ujar si mbah yang datang dan langsung membuka baju Ayu, terlihat perut rata Ayu dengan lubang pusar yang kecil.
"Mbah siapa?"
tanya Ayu kebingungan.
"Dia mbah Jipo, dia dukun beranak, periksa kamu siapa tahu kamu hamil Yu"
ujar ibunda menjelaskan.
"Hamil???"
Ayu masij bingung, baru malam tadi mereka melakukannya, masa cepat sekali prosesnya.
"Oh iya nduk...ini kamu hamil, selamat ndoro ratu akan daoat cucu"
"Hamil?"
"Masa sih?"
Ayu yang masih tidak percaya, dia tidak tahu bahwa dia akan hamil secepat ini.
"Kamu tidak yakin Yu?"
tanya ibunda.
"Bagaimana kalau di test saja"
sahut si mbah.
San hanya mendengarkan dari depan pintu, sepertinya benar fellingnya, Ayi hamil, dari Ayu mual-mual dia merasa Ayu hamil anak mereka.
Akhirnya Ayu oun melakukan test, perasaan was-was menghampirinya, dia takut menengok hasil test, takut dia akan mengecewakan, dia meminta San untuk membaca alat test.
"Ini"
Ayu menyerahkan alat test yang berbentuk panjang.
San dan ibunya melihat dengan seksama, benar garis merahnya dua, Ayu kini tengah hamil anak San, San dengan sumringah mengecup pipi sang isteri.
"Terimakasih dek"
ujar San.
__ADS_1
Ibundanya San pun berlalu menuju ruang tivi dimana mbok dan Ben bersantai sambil bermain. Ayu tidak percaya dirinya hamil, bagaimana prosesnya sangat cepat sekali, bahkan belum ada 24 jam.
"Serius aku hamil mas"
ujar Ayu masih tidak percaya.
Ayu masuk ke dalam kamar mandi, dia pun menelepon Tantri, dia bingung harus bicara apa, tapi hal ini membuatnya tidak percaya, kenapa bisa cepat sekali.
Tanti : "Hallo Yu..."
Ayu : "Hallo Tan, aku mau nanya boleh..."
Tantri :"Silahkan..."
Ayu : "Aku hamil Tan..."
Tantri : "Bagus dong, kamu bisa hamil kan"
Ayu : "Bukan itu masalahnya..."
Ayu pun menjelaskan apa yang menjadi akar masalahnya, dia tidak percaya bila prosesnya akan secepat ini, namun Tantri menjelaskan bahwa itu memang wajar apalagi San bukanlah manusia seutuhnya.
Siklus hamil, melahirkan dan tumbuh di atas manusia normal, semuanya biasa bagi bangsa seperti San, Ayu pun teringat akan Bella, dia hail dan melahirkan bahkan puteri mereka tumbuh dengan sangat cepat.
Setelah mendengar penjelasan Tantri dia mulai mengerti, Tantri juga berpesan agar di saat hamil muda minimal tiga hari mereka dilarang berhubungan. Kehamilanmuda untuk bangsa mereka memang sangat rentan keguguran, karena itu, setidaknya setelah tiga hari semua akan berjalan normal mereka bisa lanjut seperti biasanya.
Ibunda San sangat senang sang menantu tengah hamil,diadengan semangat memberitahukan mbok dan Ben, Ben terlihat senang, dia berlari dan melopat-lompat, sambil berteriak bahwa dia akan memiliki seorang adik, semua senang mendengar kabar bahagia itu.
Ayu yang selesai menelpon Tantri keluar dari kamar, San dengan sabar menunggu Ayu keluar, mungkin Ayumasih bingung karena proses hailnya sangat cepat.
"Kamu tidak senang ya dek?"
tanya San wajahnya sedikit sedih.
"Tidak mas, bukan itu, hanya saja aku baru tahu bahwa proses cepat hanya Bella yang mengalaminya,aku tidak"
jelas Ayu menghampiri San.
"Duduk, mas tidak ingin kamu kecapeaan,kamu harus menjaga kandungan mu"
ujarnya mengikatkan gelang hitam di tangan Ayu.
"Ini untuk apa mas?"
"Menjaga kamu dan calon anak kita"
San yang menjelaskan sambil mengecup kening Ayu.
Mungkin yang dimaksud menjaga Ayu dari orang-orangjahat yang menginginkan bayi mereka, seperti Daryadana dulu, Ayu bersiap istirahat, besok pagi dia harus bangun pagi sekali, untuk berjalan-jalan membawa bayi yang baru berupa gumpalan darah dalam rahim Ayu.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1