
Malam di temani beberapa suara jangkrik, terlihat kunang-kunang beterbangan, kelap-kelip seperti bintang di langit, Kemuning hanya tertunduk diam di atas kuda.
Walau sedikit Kantuk, Kemuning tetap menahan diri, alhasil pagi buta mereka baru sampai di Jayanaga, Kemuning dan Sanjaya hanya terdiam, tidak berkata apa-apa, Kemuning juga terlalu takut untuk memulai pembicaraan.
Akhirnya mereka sampai ke Jayanaga tepat ketika semua orang berkumpul saat sarapan, lelah dan capek mungkin sudah tidak mereka rasakan, mata Sanjaya begitu tajam, mata yang terlihat marah.
"Puteri Kemuning dan pangeran Sanjaya tiba ndoro..."
kata salah satu dayang.
"Ya sudah siapkan sekalian sarapan untuk mereka"
kata ibunda ratu Ratna.
Pangeran Sanjaya yang baru tiba langsung menuju ruang makan dari istana, berjalan dengan tatapan sinis, Sanjaya membuka jubahnya, di ikuti Kemuning berjalan ke arah yang sama.
Kepala Kemuning terasa berat, dirinya begitu takut bila Sanjaya mengungkapkannya di depan semua orang termasuk puteri Kirana, dadanya seakan sesak, pertama kalinya ia melihat Sanjaya seperti ini.
"Pangeran...ayo sarapan bersama"
ucap sang raja di temani senopati yang setia berdiri di sebelah sang raja.
Tidak banyak bicara Sanjaya langsung menarik pakaian Rendra dan memberikannya bogem mentah di wajah sang adik.
Sentak semua orang kaget, termasuk puteri Kirana.
Blaaaammmm!
"Pangeran..."
teriak sang ibunda ratu.
tidak tinggal diam Rendra pun membalas sang kakak.
Bam!!!!
Sanjaya pun kembali memukul di tempat yang sama sampai bibirnya berdarah.
"Mas.....sudah...sudah..."
isak tangis Kemuning, peluk Kemuning kepada Sanjaya agar berhenti berkelahi, sedangkan senopati memegangi pangeran Rendra.
"Ada apa pangeran sebenarnya?"
tanya paduka raja.
"Ayahanda bisa tanyakan apa yang dia lakukan terhadap Kemuning"
kata Sanjaya dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Pangeran Rendra bicara lah...ada apa sebenarnya?"
Namun Rendra masih bergeming tidak berkata apa-apa.
"Ning...ada apa sebenarnya?"
tanya puteri Kirana.
Kemuning menatap Kirana, kehamilannya kini sudah besar tidak mungkin dia membicarakan hal tersebut, tapi dia juga tidak ingin semua salah paham.
"Pangeran Rendra mencoba memperkosa ku"
ucap Kemuning yang meneteskan air matanya.
Kirana hanya terduduk diam, dia tidak menyangka pangeran Rendra sebejat itu, setelah apa yang dilakukan kepada dirinya, sekarang Rendra berusaha memperkosa Kemuning, kakak iparnya.
"Apa itu benar pangeran?"
tanya sang ibunda yang menahan amarahnya.
"Itu tidak di sengaja ibunda..."
ucap pangeran Rendra yang masih berdalih.
"Apa???"
kesal dengan jawaban sang adik, Sanjaya hendak memukul kembali Rendra, namun Kemuning terus memeluknya.
Kata sang raja kepada anak-anaknya.
Tidak mau mendengar, Kirana pergi ke kamarnya, sambil menahan air mata, Kirana di temani seorang dayang berlalu begitu saja.
"Ning...coba ceritakan bagaimana masalahnya"
Akhirnya Kemuning menceritakan awal mula pangeran Rendra menyatakan perasaan suka dan tertariknya terhadap dirinya, nakun Kemuning selalu menolak, bahkan beberapa waktu Kemuning tidak pernah makan bersama, takut bertemu dengan Rendra.
Sampai Sanjaya berkata meminta tolong kepada Rendra untuk mengantar Kemuning, namun di perjalanan Rendra malah membawanya ke padang ilalang sepi, berdalih untuk istirahat sebentar, namun Rendra malah hendak memperkosa dirinya.
Untungnya Kemuning di tolong seorang pangeran Kesuma yang sedang mencari tanaman obat, dia mengahajar Rendra, menyerang titik lemah syaraf.
Senopati pun teringat akan pangeran Rendra yang datang meminta tolong kepadanya, bahkan sang senopati bertanya siapa lawan bertarungnya, Rendra berkata tidak mengetahuinya, kalau dia seorang tabib tentu dia bukan orang sembarangan menghajar pangeran Rendra seperti itu.
"Kenapa? kenapa putera ku Rendra? kau tahu siapa puteri Kemuning?bunda tidak habis pikir"
ungkapan kekecewaan sang bunda terhadap sang putera.
Rendra hanya terdiam tidak ada kata maaf yang terucap dari mulutnya, hanya membuat kesal Sanjaya berlalu kembali ke kamarnya.
"Paman...besok pagi siapkan pengawal, aku mau berburu"
ucapnya sebelum meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Mendengar hal itu Kemuning berjalan mengikuti sang suami masuk ke dalam kamar, pusing dan capek tidak dirasanya lagi, setidaknya dia bisa membuat Sanjaya percaya lagi kepadanya.
"Mas...."
panggil Kemuning masuk ke dalam kamar, namun Sanjaya masih tidak menghiraukan Kemuning.
"Mas, aku minta maaf, sekali saja dengarkan aku"
Sanjaya masih merasa kesal dan marah, dia tidak menyangka Kemuning tidak memberitahunya.
Sanjaya lalu pergi keluar untuk mencari udara segar, dirinya ingin membuat suasana hatinya tenang untuk sesaat.
Kemuning hanya terus menangis dan menyesal kenapa dirinya tidak memberitahu yang sebenarnya, Kemuning menangis sampai dia ketiduran.
...💞💞💞...
Sedangkan Kirana begitu kecewa nya dengan sikap pangeran Rendra yang tega melakukan hal itu, malam itu dia tidak dapat tidur, rasa kecewanya tidak dapat terobati, dia memikirkan akan pulang ke Amartha, mungkin itu lebih baik, dari pada bertahan disini, apalagi Rendra tidak seperti Rendra yang dahulu dia kenal.
"Pangeran..."
panggil senopati Wirakha.
"Paman..."
"Apa yakin besok pangeran akan berburu?"
"Iya paman, ada apa?"
"Tidak...kalau begitu saya akan mempersiapkan semuanya"
senopati.yang kemudian berlalu, meninggalkan Sanjaya yang berada di pendopo ditangah kolam.
Rendra yang membuat semua orang kecewa hanya melampiaskan dengan berlatih dan berlatih, kesal dan marah tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak lama setelahnya Sanjaya pun masuk kedalam kamar dan mendapati sang isteri tertidur, dia pun ikut tertidur, karena besok dia akan pergi berburu kembali.
Badan Kemuning terasa tidak enak, seperti merasa meriang, dirinya terbangun dan melihat Sanjaya terlelap di sebelahnya, Kemuning pun bergegas keluar kamar dan menuju dapur.
Dia membuat minuman terbuat dari jahe, rasa seperti mual dan pusing badan sedikit menggigil, Kemuning tidak ingin merepotkan dayang yang telah istirahat, sebisa mungkin dia membuatnya sendiri.
Lepas itu Kemuning kembali ke kamarnya, kembali tertidur namun Sanjaya yang mengetahui dan berpura-pura tidur, berpikir yang tidak-tidak, tentang Kemuning yang diam-diam keluar, mungkin saja dia bertemu dengan Rendra.
Semakin di pikirkan semakin membuat Sanjaya muak, lelah dan kesal kenapa seakan-akan dia tidak pernah tahu isi hati Kemuning.
...💞💞💞...
Nantikan Kisah Selanjutnya ya...
Jangan lupa like dan komen...
__ADS_1
GBU all...