Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Itu Benar adalah Cinta


__ADS_3


...🌸🌸🌸...


Malam itu juga San mengendong Ayu untuk pergi kerumahnya, Ayu tidak banyak bicara, dia hanya melihat San yang membopongnya keluar dari rumah Tantri.


"Aku ikut..."


Arya yang masuk ke mobil yang sama dengan San.


San hanya membiarkannya, sementara Deska terpaksa harus membawa mobil Arya, dia juga berpamitan kepada Tantri, secepatnya dia akan di kabari keadaan Ayu.


"Mas ...dingin..."


ucap Ayu lirih. San terus memeluk dan memberikan jaket yang di kenakan nya.


Anehnya Arya melihat badan Ayu menjadi dua, namun satunya berbentuk hologram. Arya penasaran apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Ayu sampai seperti ini.


"Kamu bisa lihat siapa yang ada di badan Ayu?"


tanya San dalam perjalanan.


"Benar, aku melihatnya, tapi ini baru pertama kali."


"Jangan beritahu siapapun, aku tidak ingin orang lain tahu."


"Baiklah."


.


.


.


Ayu terbaring lemah di tempat tidur San, paman juga telah membuatkan ramuan herbal agar kondisi Ayu semakin membaik, entah mengapa mereka tidak memanggil dokter seperti biasa, sakit Ayu juga bukan sakit yang harus di obati oleh dokter, paman membuatkan ramuan obat untuk Ayu, setelah di minum kan beberapa kali, badan Ayu kini kembali normal, Ayu tidak lagi menjadi dua seperti apa yang Arya lihat.


Beberapa pelayan juga telah mengganti pakaiannya yang basah akibat peluh di tubuhnya. Pelayan lainnya menyiapkan bubur untuk Ayu yang kini terlihat mulai sadar.


"Sebaiknya aku pulang..."


kata Arya merasa kondisi Ayu telah membaik, dari semalam dia tidak pulang dan tidak mengabari Bella apa yang terjadi.


"Iya, terimakasih sebelumnya sudah mengkhawatirkan Ayu"


kata San mengantar Arya ke depan pintu.


"Mas..."


panggil Ayu lirih, dirinya hanya memanggil nama yang terlintas di pikirannya.


"temani lah Ayu..."


ucap Arya yang menganggap San bisa di andalkan dalam menjaga Ayu.


"Dek...kamu mau apa? makan?"


San yang kembali menghampiri Ayu.


"Tidak, aku baik-baik saja"


Ayu yang kemudian memeluk San, tenang dan nyaman Ayu hanya membutuhkan San untuk bersandar.


"Aku kangen dengan puteri kirana, aku juga kangen mbok"


tambah Ayu.


"Ingatan kamu benar-benar kembali?"


tanya lagi San.


"Mas sendiri sejak kapan menunggu aku?"


tanya Ayu meneteskan air matanya.


Seperti kepingan kebahagian yang ilang kembali lagi, Ayu bahkan tersiksa melihat San yang terus sendiri, di danau, terkadang dirinya tidak dapat tidur karena merindukan Kemuning, di pantai pula terdapat makam Kemuning, menyesali sampai bertekat tidak ingin dirinya menikah kembali, jalan terakhir yang di sarankan untuk bertapa.


Semua kenangan mereka dikala San benar-benar mendekati Kemuning, penolakan dan terus di tolak, sampai akhirnya Kemuning bisa luluh, rasa cemburu San terhadap pangeran Abimayu,kemudian menikah dan menghabiskan waktu bersama, sampai mereka kehilangan anak pertama mereka, semua selalu tersimpan rapi dalam ingatan ke duanya.


"Masih banyak wanita yang lebih baik dari aku, kenapa mas?"


Ayu yang terus menangis dan memeluk San.


"Tidak ada yang mas cintai selain kamu dek"


San yang menyeka air mata di pipi Ayu.


"Jangan pernah tinggalin aku lagi mas, walau sekarang aku bukan Kemuning"


ucap Ayu yang benar-benar ingat masa lalunya.


San mengangguk bertanya bahwa menyetujui perkataan Ayu. Cukup lega, paman terlihat bahagia Pangeran Sanjaya bisa bahagia kembali.


.


.


.


Arya sebanarnya mengetahui dirinya Bramasena sejak dia kembali dari rumah Buna dan Maria, dia selalu memungkiri, belum bisa di terima akal logikanya.


Bahkan pria yang bernama Mahendra, beberapa waktu lalu bertemu dengannya di studio, aneh sekali apa yang di rasakannya, ada rasa membencinya ketika tahu masa lalu orang tersebut yang pernah menyakiti gadis yang sangat mirip dengan Bella.


Tidak bisa di terima akal sehat, reinkarnasi? manusia abadi? atau apalah sejenisnya, Arya selalu membuatnya masuk kedalam nalarnya, bahkan dirinya tidak begitu terima akan dirinya yang meninggal akibat di racun, sampai Arya tahu siapa pelakunya.


"Bella...aku harus tahu kamu siapa"


gumamnya dalam hati, dia tidak masuk kerja hari ini, menenangkan dirinya lebih baik.


Sama halnya ketika dirinya sedang praktik kerja di sebuah rumah sakit, dirinya selalu terbayang akan dirinya yang pernah melakukan pekerjaan yang sama di masa lalu, Arya lebih memilih cuti dan akhirnya menekuni DJ.


Ayu yang telah benar-benar sembuh, duduk termenung menatap ke luar jendela kamar San, sejenak dia berpikir kala itu dia di tunjukan sebuah makam, makam dirinya, namun Ayu tidak berani untuk melangkah kembali ke sana.


"Dek..."


San yang abru masuk langsung menghampiri Ayu dan mencium pundaknya.


"Mas tahu setahun belakangan aku sering bermimpi dan terus merasakan sakit di hati ku, yang aku sendiri tidak tahu kenapa, setahun aku harus bertahan dari rasa vertigo akibat mimpi yang tidak masuk akal di hidup ku, sampai disini, aku terus berpikir sebenarnya mas apa? mas siapa? kalau dulu kita pernah bersama tapi kenapa mas tidak percaya perkataan ku?"


Ayu yang mengungkapkan isi hatinya, setelah semua ingatannya kembali, dia dan San hanya lah kenangan masa lalu dari kehidupan lampau.

__ADS_1


"Mas minta maaf dek, mas tidak akan mengulangi hal itu"


peluk San dari belakang.


"Harusnya kan mas bilang begini, Ayu...seharusnya kamu bisa berpikir, kenapa mas sampai sejauh ini menunggu mu"


Ucap Ayu tidak bisa pungkiri walau terasa sakit tapi Ayu juga merasakan bahagia bisa mengingat siapa San dan dirinya.


"Tanpa mas bilang, kamu tahu hati mas seperti apa"


ujar San tersenyum bahagia.


San menatap wajah Ayu seraya tangannya mengelus lembut bibir Ayu, mata mereka saling bertatap. San mendaratkan kecupan lembut di bibir Ayu, dengan penuh rasa rindu Ayu membalasnya, mata yang terpejam terus dan terus mengecup bibir San. Terlarut keduanya dalam rasa rindu, San terus mencumbu bibir Ayu. Jantung ayu seakan meledak karena terus berdegub kencang.



Kini PR terbesar nya adalah menunjukan perubahan tubuhnya yang terjadi karena efek samping dari ilmu keabadian, namun ada rasa belum siap mengungkapkannya.


"Mas, aku kangen mbok."


"Apa mbok juga bereinkarnasi?"


tambah Ayu.


"Mas tidak tahu dek, setelah perang mas tidak melihat mbok"


ucap San yang tidak ingin sedih.


Ketika San mengatakan perang Ayu melihat San sempat terluka dan meninggalkan bekas yang panjang pada bagian perut di sebelah kiri, Ayu mengangkat baju San dan melihat bekas itu masih ada, di pegangnya perlahan, Ayu melihat seperti biasa pria yang melukai San tidak asing, tapi Ayu tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.


"Sakit mas?"


tanya Ayu merasa sedih, San hanya menggelengkan kepalanya menandakan sudah tidak sakit.


"Kamu tinggal di sini, mas tidak mau kamu sendirian lagi"


ucap San menatap Ayu.


"Mau tinggal bersama itu harus menikah, tercatat di kantor agama"


sahut Ayu dengan tersenyum.


Tidak seperti dulu yang menikah hanya melalui acara adat dan pesta, zaman sekarang banyak yang harus di pertimbangkan, menikah bukanlah karena menghindari zinah, tapi kehidupan setelah menikah, bagaimana keduanya berperan sangat penting, sama-sama bertanggung jawab, Ayu sedikit trauma akan pernikahan orang tuanya yang kandas di tengah jalan dan meninggalkannya.


"Paman yang mengurusnya, apa yang adek khawatirkan? orang tua?"


tanya San penasaran.


"Sedikit memikirkan mereka, Ayu jahat enggak sih, kalau menganggap mereka sudah pergi selamanya?"


"Tidak, kamu hanya korban dari mereka, lakukanlah apa yang membuat mu yakin terhadap mereka"


jawab San.


.


.


.


Malam ini Arya sengaja mengundang Bella kerumahnya, Arya beralasan tidak enak badan, Bella dengan sigap memasak dan membawakan beberapa kotak makanan berisi masakannya.


Tidak berapa lama Bella datang kerumah Arya, tampak sepi karena sang ayah pergi untuk dinas di kota terpencil, sementara kliniknya di pasrahkan kepada sahabat sang ayah.


Tok....tok...


Bella mengetuk pintu rumah Arya yang terlihat seperti rumah jaman old, rumah tempat Arya besar hingga sekarang, dia enggan pindah karena sudah merasa nyaman, rumah yang sangat terasa akan sosok ibunya.


Kriieeeetttt...


Arya membuka pintunya perlahan, hanya mengenakan kaos berwarna coklat dengan celana pendek.


"Mas...sakit apa?"


tanya Bella melihat Arya terlihat pucat.


"Enggak apa-apa kok, masuk"


sahut Arya yang kemudia menutup pintu setelah Bella masuk.


Seperti biasa Bella langsung menuju dapur dan mengambilkan piring agar Arya bisa segera makan dan minum obat, tiba-tiba Arya memeluk Bella dari belakang.


"Ada apa mas?"


"Apa aku reinkarnasi pria bernama Bramasena?"


ucap Arya.


Brrrraaaannnkkkk


Kaget mendengar hal itu, Bella tidak sengaja menjatuhkan piring yang di pegangnya.


"Maaf mas...aku..."


"Awas...duduk lah biar mas yang bereskan"


ucap Arya menggandeng Bella untuk duduk di kursi meja makan.


Arya pun membersihkan sisa pecahan piring, sesekali dia melirik wajah Bella yang bimbang dengan tatapan kosong. Selesai Arya menghampiri Bella yang terus terdiam.


"Hei...apa yang kamu pikirkan dek? mas masih disini, masih mencintai mu apa adanya"


ucapan Arya yang menenangkan hati Bella.


"Aku belum siap kehilangan kamu lagi mas"


peluk Bella lirih.


"Maaf mas tidak akan tanya kan hal itu lagi, siapa pun mas sebelumnya mas harap kamu benar-benar mencintai mas, seperti mas cinta kamu apa adanya"


ucap Arya yang memeluk Bella.


Perasaan Bella sama halnya perasaan San terhadap Ayu, tidak akan berubah walau mereka bereinkarnasi. Meskipun Arya tahu kebenarannya, dia tidak akan melukai perasaan Bella.


Arya mendaratkan ciumannya kepada Bella, mereka tahu bagaimana perasaan satu sama lain, Bella hanya memejamkan matanya menerima setiap kecupan bibir Arya.



Namun Arya teringat ketika dirinya selalu di marahi karena dekat Bella pada masa kerajaan dulu, dia juga ingat bahwa Ayu melihat Arya mencium Bella di depan Ayu kala itu,

__ADS_1


"Kenapa aku merasa bersalah, aku tidak sengaja menunjukan itu"


gumam Arya yang berhenti mencium Bella.


"Kenapa mas...?"


tanya Bella.


"Tidak...mas lapar dek"


ucap.Arya tersenyum.


"Aku masakin lagi ya."


"Tidak usah...kita pesan saja"


Arya menarik tubuh Bella sehingga berada di pelukan Arya.


"Mas masih kangen"


ucap Arya yang kembali mendaratkan ciumannya kembali.


.


.


.


Makan malam di rumah San juga tampak rampai, ibunda dan ayah San baru saja kembali, beberapa menu daging yang menjadi makanan favorit keluarga mereka.


"Nak Ayu makan lah yang banyak..."


ucap ayah San.


Terlihat santai bahkan sederhana, ayahnya yang biasanya sibuk menyempatkan waktu untuk makan bersama, mungkin di meja makan pula mereka bisa berkumpul dari kesibukan masing-masing.


"Makasih pak."


"Panggil saja ayah."


"Benar, panggil aku ibu, kami seperti sudah seperti anak kami sendiri"


tambah ibunda San.


Ayu cukup terharu, mungkin benar hidup nya selama ini merindukan sosok orang tua yang benar-benar mendidik dan mengayomi anaknya. Mungkin dari orang tua San Ayu bisa mendapatkan kasih sayang dan kebahagian sebagi anak mereka.


"Makan yang banyak dek..."


San yang mengambilkan beberapa daging untuk Ayu.


"Makasih mas..."


sahut Ayu tersenyum.


Terlihat sempurna, Ayu masih pesimis akan pernikahan, dia ingin menjalani layaknya orang pada umumnya, bahagia dan tidak akan pernah bosan kepada pasangan, Ayu akan terus menjaga perasaan cintanya kepada San.


.


.


.


Esok paginya San telah bersiap bekerja seperti biasa, Ayu juga semangat melanjutkan kehidupannya, San akan sibuk beberapa hari dengan beberapa staff, walau belum sepenuhnya paham akan perusahaan yang di kelola, San terus belajar dan belajar.


"Maaf pimpinan San, saya mengundang anda acara makan malam antar staff"


ajak seorang pria paruh baya yang bernama Wicaksono.


"Baiklah..."


sahut San yang langsung menyetujui perkataan Wicaksono.


Beberapa staff yang separuh lebih adalah para wanita muda dan salah satunya adalah puteri dari pak Wicaksono, Karla, gadis muda cantik dengan tinggi badan yang semampai, siapa saja pasti suka dengan sosok Karla.


"Selamat datang pimpinan San"


Karla yang datang langsung merangkul tangan San namun San merasa tidak nyaman.


"Maaf saya hanya mampir, semoga kalian bersenang-senang, biar saya yang akan bayar"


ucap San yang kemudia memilih untuk berlalu.


Tanpa berkata apa-apa, Karla dengan kesal meremuk kan sekaleng minuman soda. Sedangkan sang ayah menyusul San sampai ke parkiran sekedar mengantarnya.


"Ada apa pimpinan?"


tanya Wicaksono yang mengikuti San.


"Aku tidak selera, lain kali saja"


ucapnya.


"Kenapa tidak jadi, pangeran?"


tanya paman Wirakha.


"Wicaksono merencanakan sesuatu dengan puterinya, pindahkan divisi mereka"


ucap San yang masuk ke dalam mobil.


"Baik pangeran...."


Wicaksono adalah pegawai ayahnya yang cukup lama mengabdi untuk perusahaan JBO, walau begitu ayah San tidak sembarang memilih orang untuk menjadi pemimpin divisi, karena beliau begitu baik atas pengambdian nya, beliau di pilih dan puteri beliau juga di pekerjaan divisi yang sama.


Namun ada hal yang membuat Wicaksono berambisi agar sang puteri bisa menjadi menantu keluarga Jaya Surapha. Berbagai cara akan mereka lakukan agar terwujudnya impian mereka.


San pun berlalu menuju kost Ayu tanpa du sadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam dan masker, tampak sekali pria tersebut seperti orang bayaran.


Tidak ada rasa curiga di antara San dan paman, mereka terus melajukan mobilnya sampai di kost Ayu. Walau Ayu sendiri belum kembali dari kerjaannya, San merasakan rindu akan sang kekasih dan memilih menunggu di kamar kostnya saja.


.


.


.


(Bersambung)


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1



__ADS_2