
Ben selalu berada di istana dikarenakan Ayu tengah sibuk membantu Deska di gerai tattonya, Ben juga tidak merasa bosen dengan apa yang dilakukan di istana, sang ayah sering mengajak dirinya jalan-jalan menunggangi seekor kuda hitam besar, kuda kesayangan San.
Bermain dengan paman senopati dan malamnya bermain dengan Kakek (ayah Pangeran San), semua orang sangat menyayangi Ben, terutama San dan Ayu, sangat lengkap hidupnya memiliki anak yang gagah seperti dirinya.
"Yu...ini aku lihat dari hatinya Ben"
kata Tantri membangunkan lamunan Ayu.
Tantri yang telah mendengara bahwa Ayu dan San mengadopsi Ben, sangat senang tapi ada satu hal yang mungkin Ayu tidak.bisa di lakukannya untuk Ben, walau Ben sangat ingin.
"Apa Tan?"
tanya Ayu yang duduk di kursi Caffe Deska.
"Dia mau nyusu, layaknya anak sama ibunya netek Yu"
perkataan Tantri langsung membuat Ayu tercengang,Ayu sempat berfikir yang tidak-tidak.
"Nyusu? emang nyusu sama siapa? memangnya ada ibu Asi?"
(ibu Asi adalah ibu yang dengan rela menyusui anak yang bukan darah dagingnya dengan imbalaan uang).
Pikiran Ayu yang jadi kemana-mana, dirinya bingung secara Ayu belum pernah memiliki anak, tidak tahu bagaimana menyusui juga.
"Sama kamu aja"
kata Tantri langsung tersenyum menatap Ayu, dari perkataan nya Ayu langsung tahu Tantri memikirkan hal yang membagongkan.
"Iya mana bisa? lagian aku punya gunung kembar belum tentu ada airnya Tan"
jelas Ayu mulai merasa resah.
"Enggak apa-apa siapa tahu itu bisa wujudkan impian dia Yu"
seru Tantri.
"Serius???"
sahut Ayu
"Aneh si Tan, tapi coba aja Yu"
ujar Deska yang berdiri di dekat meja bar.
"Emang beneran bisa tan?"
tanya Ayu masih ragu.
Tantri hanya mengangguk dan tersenyum, dia paham betul Ayu mungkin sukar menerimanya dengan akal sehat, tapi itulah hal yang Tantri rasakan kepada Ben.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Ayu masih memikirkan perkataan Tantri, apa dirinya bisa yang belum memiliki anak tapi menyusui Ben? perasaan gugup dirinya sangat membuat bingung.
Selesai mandi Ayu masuk kedalam kamar, suasana kamar berubah, semerbak wangi bunga melati, dilihatnya mas San sudah datang siap tidur bersama dengan Ben.
"Hai bunda..."
kata Ben tubuh mungilnya memeluk Ayu.
"Ben....bunda kangen"
seru Ayu.
Sebelum tidur Ayu membuatkan secangkir kopi dan susu hangat untuk anak dan suaminya.
"Mas enggak apa-apa, aku menyusui Ben?"
tanya Ayu selesai membuat kopi.
__ADS_1
"Ya enggak apa-apa dek, dia kan anak kita"
sahut mas San.
"Memangnya kamu bisa dek?"
tanya mas San
"Enggak tahu, di coba dulu mas"
sahut Ayu yang membawakan susu untuk Ben yang bermain di dalam kamar.
Selesai minum susu Ben yang sedang menonton film kartun di kamar, mulai merasa kantuk, merebahkan kepalanya di pangkuan Ayu, naluri ke ibu an Ayu mulai tumbuh, mengelus sang anak.
"Ben mau nyusu sama bunda?"
tanya Ayu kepada Ben.
"Emang boleh bunda?"
Ben bertanya balik kepada Ayu terlihat sangat riang.
"Boleh dong, kamu kan sudah jadi anak bunda"
jawab Ayu.
"Makasih ya bunda"
peluk Ben.
Mungkin dengan ini nantinya Ben bisa lebih bahagia, Ayu tidak bisa berbuat banyak, melakukan hal ini membuatnya sudah merasa menjadi ibu yang baik.
Akhirnya Ayu mengambil posisi yang pas dirinya sebelumnya belum pernah menyusui seorang anak, Ben tidur dipangkuan Ayu, dirinya berubah perlahan menjadi bayi mungil, bayi manusia berumur 1 bulan, Ayu kaget akan perubahan wujud Ben, bayi mungil ini sangat lucu, Ayu kemudian menyusui Ben yang berubah menjadi bayi, memang tidak ada air susunya namun Ben tidak mempermasalahkan itu.
Mungkin ada momen dia yang belum pernah menyusu keoada ibunya, kini dia bisa merasakan menjadi anak sesungguhnya.
Ayu merasakan dirinya seorang ibu yang baru melahirkan seorang bayi, ada rasa haru di dalam hatinya, tidak menyangka seperti ini menjadi ibu, mas San juga merasakan hal sama, dirinya sangat kagum akan Ayu yang mau melakukan apapun untuk Ben.
"Sakit enggak dek?"
"Enggak kok mas"
jawab Ayu yang masih menyusui Ben, dengan posisi duduk dan memangku Ben.
"Rasanya bagaimana? kalau aku yang nyusu apa bakal sama?"
tanya mas San penasaran.
"Iya namanya ibu ya begini, kalau ada airnya mas enggak bisa nyusu"
seru Ayu sambil tertawa.
"Kenapa enggak bisa?"
"ASI enggak boleh untuk suami"
seru Ayu mulai sedikit kesal karena rasa penasaran suaminya.
"Aku sayang banget sama kalian"
kata mas San mengecup mesra kening Ayu.
"Aku juga sayang mas"
seru Ayu.
Tidak lama Ben tertidur dan Ayu merebahkan tubuh Ben di samping dirinya, perlahan badan Ben kembali ke ukuran semula.
mas San juga rebahan di samping Ayu, memeluk isterinya dari belakang, mengelus lembut lengan Ayu meletak kan wajahnya di pundak Ayu, badan Ayu yang wangi membuat mas San mendaratkan kecupan hangat di leher belakang isterinya.
"Enggak usah mancing deh, ada anak ini"
seru Ayu yang menahan rasa geli akan tindakan suaminya.
Mas San hanya tersenyum, melirik ke wajah isterinya yang menoleh kepada dirinya. Ayu pun berbalik dan memeluk suami tercintanya, sambil memejamkan mata.
__ADS_1
.
.
.
Keesokan paginya Ben yang lebih dulu bangun, membangunkan Ayahnya untuk minta di antar mandi, agar bundanya senang melihat anaknya telah rapi dan ganteng ketika sang bunda bangun.
"Ayah...anterin Ben mau mandi"
seru sang anak.
"Iya...."
Mas San pun membawa Ben ke kamar mandi, Ayu masih terlelap terjaga dalam tidurnya. Setelah selesai Ben dan San langsung turun untuk menemui sang nenek telah menunggu Ben sarapan.
"Ibunda..."
sapa San yang baru datang.
"Bunda sepi,enggak ada Ben kalau dia tidur barwng kalian, Ben biar tidur sama bunda ya?"
ujar sang ibunda ratu berkata kepada San.
"Nenek...Ben kangen"
sahut Ben yang memeluk sang nenek.
"Nenek juga kangen, Ben sudah mandi, ayuk terus makan bareng nenek ya"
"Sudah nek, ayah yang mandikan"
seru Ben menarik tangan San untuk mengangkatnya duduk di kursi meja makan.
Seperti sudah tugas wajib San selalu memandikan sendiri anaknya, entah kenapa dirinya tidak mau menyuruh sang pelayan atau Ayu sendiri.
Ben dan nenek sarapan bersama dengan kakek dan San. Dia menceritakan pengalamannya ketika di susui oleh Ayu.
"Ben nyusu sama bunda nek, Ben sayang bunda"
kata Ben sambil makan.
"Oh ya...apa tidak apa-apa Pangeran?"
tanya sang ibu.
"Tidak apa-apa bu, Ben berubah jadi bayi umur 1 bulan ketika itu"
jelas San.
"Ibu senang dengarnya,malam ini Ben tidur sama nenek ya"
kata sang nenek yang sangat sayang terhadap cucunya.
"Iya nek, nanti ijin bunda dulu ya nek"
seru Ben.
Bocah mungil itu sekarang sangat suka berada di kamar sang nenek, seperti keinginan dia, memiliki keluarga lengkap yang sayang sekali kepada dirinya.
.
.
.
(Visual Ben 90% mirip banget, tapi sekarang dah besar anaknya)
(Bersambung)
Mampir yuk di Cerpen aku, Si Bujang, anak rantau dari kalimantan yang selalu mendapatkan kesialan karena tingkahnya.
__ADS_1