Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
Masa Pertempuran_05


__ADS_3


(Istana Sangkapura)


Daryadana tengah sibuk melihat latihan para prajurit Sangkapura, terus memperkuat pertahanan, tiba-tiba seorang pati datang.


"Tuan ku...."


kata seorang pati yang kemudian membisikan sesuatu.


Pangeran Daryadana yang mendengar sang ibu menghampiri Kemuning, langsung bergegas menuju kediaman sang ibu. Lumayan jauh dari basecamp pelatihan, Daryadana merasa sang ibu terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya.


"Ibu...."


Daryadana yang masuk ke dalam kamar sang ibu.


"Ada apa pangeran?"


ibunya yang tengah menikmati secangkir teh.


"Kenapa ibu menamparnya?tidak bisakah ibu tidak ikut campur dalam masalah pribadi ku?"


sentak Daryadana.


"Berani sekali kau, hanya karena wanita rendahan itu"


"Lalu ibu apa? akan ku jadikan dia permaisuri ku"


sahut lantang Daryadana.


Ratu Varwati tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia kaget akan perkataan putera sematawayangnya. Daryadana berlalu keluar kamar sang ibu.


Baru kali ini Daryadana berani menentang sang ibu, dia yang seperti itu mengingatkan kembali akan sosok dirinya yang di jadikan selir oleh raja Sangkapura kala itu.


......πŸ’žπŸ’žπŸ’ž......


(Istana Jayanaga)


"Bagaimana kalau tengah malam ini kita bergerak?"


tanya senopati kepada kedua raja.


"Apa kau yakin senopati?"


tanya raja Surapha.


"Saya yakin tuan ku, sebelum mereka mengumpulkan pasukan lebih banyak lagi"

__ADS_1


"Ada benarnya ayah handa"


seru Abimayu.


"Baiklah, semoga pangeran Rendra bisa membawa Bramasena bersama"


ucap raja Kahayang.


"Baiklah hamba akan persiapkan pasukan"


senopati yang kemudian mengatur kan barisan para prajurit.


Tepat tengah malam, pasukan gabungan bersiap meluncur ke Sangkapura, setidaknya nanti subuh mereka sudah bisa menyerang Sangkapura. Rendra yang terus melajukan kudanya tidak berhenti,


dirinya hanya ingin segera bergabung untuk melanjutkan perang.


Bramasena sendiri yang baru tersadar masih menetralkan tubuhnya, masih memerlukan penyesuaian diri untuk bisa segera mengalahkan Daryadana. Melanjutkan pertempuran yang dulu sempat tertunda.


Pedang dengan pegangan kepala naga bermata merah delima itu, di tarik Bramasena dengan mudahnya, seperti menyatu, kekuatan sang naga dalam pedang dengan dirinya.


Kekuatan yang menjalar masuk melalui otot-ototnya, membuat tubuh Bramasena panas, seperti besi yang terendam dalam lautan api. Bramasena kini telah siap untuk pergi ke medan perang.


......πŸ’žπŸ’žπŸ’ž......


Malam harinya, Daryadana beranjak ke kamar Kemuning, entah apa yang mengusik dirinya, sehingga begitu peduli akan Kemuning, kecantikannya memang sebanding dengan Kirana, hanya Kemuning terlahir dari seorang dayang, berbeda nasib dengan puteri Kirana.


Kemuning yang duduk di sudut kamar, sesekali hanya menangis, masih selalu bertanya-tanya kenapa akhirnya seperti ini, salah apa sehingga dirinya harus melalui masa ini.


Dengan lembut dia memegangi wajah Kemuning, menyentuh bibir merah jambu, terdapat luka yang mengering di bibirnya, tidak dapat menahan nafsu dirinya.


Daryadana mendaratkan ciuman di bibir Kemuning, terus mencumbu Kemuning, sampai Kemuning tersadar Daryadana telah berada di atasnya.


"Lepas..."


Kemuning yang memukul badan Daryadana.


Dengan sigap, tangan Daryadana menekan kedua tangan Kemuning dengan tangannya, membuat Daryadana leluasa mencium tubuh Kemuning.


"Aaarrrkkkhhh...aawww...lepas..."


teriak Kemuning yang tidak dapat melawan Daryadana.


Daryadana menarik pengingat pakaian Kemuning, sehingga nampak jelas tubuh Kemuning, tidak banyak berkutik, Kemuning hanya bisa menangis Daryadana berhasil memperkosanya.


Kirana yang berada tidak jauh dari kamar Kemuning, memang mendengar suara jeritannya, tapi tidak pernah tahu dan tidak pernah mengerti, apa yang terjadi kepada Kemuning.


Daryadana yang melakukannya secara brutal, membuat tekanan yang kuat, Kemuning merasakan sakit di perutnya, teramat sakit, Kemuning seperti orang yang tidak bertenaga, lemah lunglai, pipi nya banjir air mata.

__ADS_1


Dipikirannya, bagaimana menjelaskan hal ini kepada Sanjaya, apa masih bisa Sanjaya menerimanya? Setelah selesai memuaskan nafsunya Daryadana kemudian keluar kamar Kemuning, hanya pengawal yang akan berjaga di depan ruangan kamar.


Kemuning seakan tidak sanggup bangun dari kasurnya, perutnya masih saja sakit, Kemuning masih berusaha, perlahan Kemuning yang masih dengan posisi tiduran berusaha bangun dan menutup pengikat pakaiannya.


Di kakinya kini mengalir darah segar keluar, di barengi dengan rasa tertusuk dari perutnya, membuat baju dan kasur nya basah akan darah, dia hampir lupa kalau dirinya tengah mengandung, air mata yang terus mengalir membuat Kemuning terus berpikir bagaimana menghadapi orang-orang, terutama keluarga kerajaan Jayanaga.


Dia bahkan tidak bisa berkata sakit, darah terus mengalir, tidak banyak yang di lakukan dirinya, kali ini dengan sangat terpaksa dan berat, Kemuning yang hanya tertidur memegangi perutnya.


"Mas san...maafkan aku"


ucap Kemuning lirih, wajah nya kini tampak pucat pipinya terus berderai air mata.


Perlahan Kemuning mengambil hiasan berupa tusuk rambut dengan hiasan batu giok hijau, lumayan panjang, dengan ujung yang runcing.


Craaakkk !!!


tepat di jantungnya, dia menancapkan benda itu, Kemuning memilih mengakhiri hidupnya, tidak berani mengahadapi Sanjaya dengan kondisi seperti ini.


Sama halnya kesalah pahaman yang terjadi kepada Rendra, Sanjaya sampai tidak bicara kepadanya, apalagi Sanjaya mengetahui dirinya telah di perkosa Daryadana. Sanjaya tidak akan mungkin bisa menerima Kemuning lagi.


Sinar matanya mulai memudar, darah terus mengalir, nafasnya terasa sesak, semua mulai menghitam, hanya wajah Sanjaya yang terakhir di ingat Kemuning, wajah yang selalu tersenyum manis, wajah yang selalu di rindukannya, Sanjaya yang selalu membuat dirinya nyaman bisa melupakan Bramasena. Dan hanya Sanjaya yang akan selalu ada di hatinya.










"Sampai kapan pun...aku akan selalu mencintai mu"


kata terakhir Kemuning.


Matanya pun kini terpejam untuk selamanya.



.....πŸ’žπŸ’žπŸ’ž......

__ADS_1


(Agak gak karuan nulis ini, πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί)



__ADS_2