Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
Akhir Pertempuran 02


__ADS_3


Pukulan maut dari Daryadana dapat di halau oleh Kekuatan pedang Bramasena. Setelah semua orang di kedua kerajaan kewalahan, Bramasena hadir membantu menumpas Daryadana.


"Apa...."


seru Daryadana geram, ajian pamungkasnya di halau oleh Bramasena musuh bebuyutan nya.


"Kurang ajar...haa.."


Daryadana maju dengan tangan kosong, seakan menghadapi bocah 5tahun, Bramasena tampak santai dapat menepis semua serangan Daryadana.


Daryadana tidak habis akal, kapak yang di wariskan di lemparkan seakan melempar bumerang, lagi-lagi dengan mudah Bramasena melewatinya, pertarungan kembali sengit di mana tak kala sang guru yang diam-diam membantu dengan menembakan panah beracun kepada Bramasena.


Tidak semudah itu Ferguso !!!


Bramasena dengan mudah membalikkan arah anak panah dengan pedangnya, dan tepat di kepala sang guru panah itu tertancap.


"Sial..."


Daryadana kembali mengeluarkan ilmu kanuragannya dan sasarannya kali ini Bramasena.


dengan santai namun pasti Bramasena melangkah maju ke depan, dirinya tidak ada rasa takut akan ajian ilmu Daryadana.


Sekarang Daryadana melihat sosok naga merah dan harimau putih yang bersatu dalam tubuh Bramasena, tidak kenal takut Daryadana terus mengumpulkan kekuatannya, dia tidak ingin kalah dalam perperangan ini.



"Ha...."


teriak Daryadana kembali mengeluarkan cahaya kuning menyala, berjalan lurus tepat di depan Bramasena.


Sama halnya dengan Daryadana, Bramasena tidak mundur bahkan dia melajukan langkah kakinya.


"Haarrrrkkkk...!!!!"


teriak Bramasena berlari ke arah cahaya yang akan mengenai dirinya nya.


Zrrriiiiiiinggg !!!!!


pedang naga merah membelah barisan cahaya yang akan mengenainya.


Bramasena terus berlari sampai ujung cahaya, akhir dari cahaya adalah jantung Daryadana.


Krrrraaaakkkkk !!!!


tajamnya pedang naga merah menembus jantung hingga ke punggung Daryadana.


"Aaarrrrrkkkkkk !!!!"


Daryadana tidak dapat berkata apa-apa.


Bruuukkkk !!!


seketika badannya yang besar tumbang, pertanda bahwa kerajaan Sangkapura kalah.


Prajurit Sangkapura menyerah tanpa syarat, sedangkan ratu Varwati menghilang tanpa jejak.


Semua sorak prajurit Jayanaga dan Amartha bersorak atas kemenangan itu, namun ada duka yang mereka bayar, mereka kehilangan pangeran terbaik kedua kerjaan itu. Pangeran Rendra dan pangeran Abimayu.


Tidak sampai di situ, Bramasena juga menyembuhkan luka Sanjaya, kedua raja dan ratu serta para prajurit.


Prajurit yang tidak terluka membantu mengevakuasi untuk menguburkan prajurit tewas.


"Bramasena...tolong cari puteri Kirana, Daryadana menyekapnya bersama denga Kemuning"


ungkap raja Kahayang yang telah selesai di obati sementara.


Bersama dengan Sanjaya Bramasena mencari keberadaan Puteri Kirana dan Kemuning, beberapa gadis yang di sekap juga mereka bebaskan.


"Puteri Kirana..."

__ADS_1


panggil Bramasena yang menggedor sebuah pintu.


"Mas Bramasena...!!!"


Kirana yang langsung mengenali suara Bramasena.


"Mundur puteri..."


ungkap Bramasena yang akan mendobrak pintu.


Gubbbraaakkk !!!


Bramasena berhasil menerobos pintu.


"Puteri Kirana...."


"Mas Bram...."


peluk lirih Kirana yang sangat merindukan Bramasena.


Sedangkan Sanjaya tidak sengaja melihat sebuah kamar dengan pintu sedikit terbuka. Perlahan dia pun masuk, dilihat sang isteri sudah tidak bernyawa pakaian nya bersimbah darah, di bagian dadanya tertancap tusuk rambut berwarna emas dengan hiasan batu giok.


"Dek....dek...."


peluk Sanjaya meneteskan air matanya.




Tidak dapat berkata, Sanjaya terus memeluk jasad sang isteri.


"Kemuning...."


Kirana yang tiba di depan pintu kamar itu, tidak percaya suara jeritan malam itu, suara Kemuning.


"Tenang dek Kirana, ingat kau sedang hamil"


Kirana juga tidak percaya kalau suaminya pangeran Rendra telah gugur dalam peperangan. Sempat pingsang karena kelelahan, akhirnya mereka kembali ke Jayanaga, cuaca yang cerah berubah seketika menjadi mendung dan hujan.



Sanjaya menggendong jasad Kemuning, mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Sanjaya sangat menyesal karena dia tidak langsung pulang karena memiliki perasaan aneh saat berburu.


Rasa merindukan Kemuning, ternyata dirinya yang di tinggal Kemuning pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya, namun semua menjadi takdir dari yang Maha Kuasa.


......💞💞💞......


Mereka mengkebumikan mereka tidak jauh dari sebuah pantai, bermakna mereka yang pergi akan bereinkarnasi dan menjalani hidup lebih bahagia, biarkan ombak yang akan menuntut langka mereka kembali.



Bukan hanya Sanjaya tapi Kirana juga harus kuat, dirinya yang mengandung anak Rendra harus bisa membesarkannya sendiri.


Terpukul pasti, rasa menyesel juga pasti ada, bercampur menjadi satu yang Kirana rasakan.


Kirana berencana akan membawa Bima tinggal di Amartha, setidaknya membuat Kirana bisa melupakan Rendra. Walau berat untuk ratu Ratna, beliau sangat menghormati keputusan anak menantunya.


🌸


🌸


🌸


Seminggu setelah perang, Sanjaya lebih sering merenung di tepi danau, tempat yang menjadi favorit Kemuning dan Sanjaya, tempat dia mengingat semua kenangan mereka, sejenak membuat Sanjaya tenang.


Gadis manis yang sangat acuh kala itu, benar-benar membuat Sanjaya jatuh hati, mencintainya selamanya. Walau sedih sekarang Sanjaya berjanji tidak akan pernah memberi cintanya kepada siapa pun.



__ADS_1






Sedangkan Kirana yang berada di Amartha, sedikit mulai tenang, Kirana juga yang selalu perhatian kepada mbok Mirah, terkadang melihat punggung mbok Mirah dari belakang membuat Kirana sedih, seakan mengerti isi hati mbok Mirah, kehilangan suami saat perang dan kini puteri satu-satunya harus pergi untuk selamanya.


"Bramasena, tinggal lah disini temani puteri ku Kirana"


kata raja Kahayang.


Dikala itu ibunda ratu Dewi yang sangat tidak menyukai Bramasena hanya bisa terdiam, karena Bramasena telah menyelamatkan kerajaan mereka dari peperangan.


"Maksud baginda raja...?"


"Aku tahu kau mencintai puteri ku Kirana, begitu pula Kirana, apa kau bersedia menerima puteri ku, Bramasena"


ucap raja Kahayang yang berjalan menghampiri Kirana.


"Saya serahkan kepada Puteri Kirana....bagaimana baiknya"


Bramasena yang masih sangat mencintai Kirana.


Begitu pula dengan Kirana, mereka masih saling mencintai namun dirinya tengah mengandung anak pangeran Rendra.


"Tenang puteri Kirana, aku akan menjadi ayah dari anak mu"


tambah Bramasena.


Kirana pun mengangguk, setelah bayinya lahir, mereka akan menggelar pesta untuk pernikahan Kirana dan Bramasena. Ibunda nya sangat kecewa kepada suami dan puteri nya, yang bisa-bisanya mencintai lelaki yang tidak berlatar belakang bangsawan.


Namum sang ratu hanya bisa terdiam, menahan dirinya karena sementara Bramasena di elu-elu kan di Amartha sebagai pahlawan.


(Kerajaan Jayanaga)


Sering melihat putera mereka diam, sang raja merasa tidak bahagia, dia ingin Sanjaya bahagia walau saat ini tidak memungkinkan.


"Pangeran Sanjaya putera ku"


panggil sang raja.


"Iya ayah handa..."


"Pergilah kau ke air terjun Rusuk pana, bertapa lah disana"


titah sang ayah handa yang kemudian langsung di setujui oleh Sanjaya.


"Tapi kakanda...."


"Tidak apa-apa ibunda, mungkin dengan bertapa Sanjaya bisa menjadi lebih tenang"


ungkap Sanjaya.


"Kapan kau akan berangkat pangeran?"


"Besok ayah handa"


jawab tegas Sanjaya.


Selain membuat diri lebih tenang, itu cara mereka akan abadi di dunia ini, walau ada harga yang harus di bayar. Sanjaya tidak ingin kenangan dirinya dengan Kemuning sirna, paling tidak dia bisa bertemu kembali dengan Kemuning di kehidupan yang baru.


Tidak mengapa bila nantinya Kemuning tidak ingat kepada dirinya, karena hati tidak akan memilih orang yang salah untuk jatuh cinta.


......❤️❤️end❤️❤️......


Mampir juga yuk ke cerita pertama aku 🥰


__ADS_1



__ADS_2