
Apa yang ada dibenak kalian tentang sosok seorang ibu? setelah Ayu dinyatakan positif hamil, dia merasa bahagia, ada kehidupan sekarang didalam rahimnya, menjadi seorang ibu harus bisa menjadi seorang malaikat tanpa sayap untuk kehidupan anaknya.
Dari seorang ibu juga, kita belajar mencintai tanpa syarat, menjadi ibu bukan perkara mengandung lalu melahirkan,tapi kasih sayang diberikan sejak dia mulai berada dalam kandungan hingga mereka besar kelak.
Seperti udara yang di hirup, sebagai anak tidak akan ada kata atau harta yang bisa membalas jasa seoarang ibu. Ayu bangun pagi sekali, dia berjalan ke luar istana yang terdapat padang rumput dengan hutan pinus yang lumayan luas, seperti pohon yang menyukai air dan sinar mentari, begitu perasaan Ayu saat ini.
"Pagi dek..."
ujar San yang menyusul Ayu berjala-jalan santai.
"Pagi sayang..."
Kemudian Sanmengecup kening Ayu, entah kenapa, apa yang diperbuat San malah membuat Ayu jengkel.
"Jangan cium-cium aah"
celetuk Ayu cemberut.
"Kenapa? biasanya baik-baik aja"
tanya San bete.
"Enggak tahu..."
"Kamu mau sarapan apa dek?biasanya kan kalau hamil ngidam tuh"
kata San yang berjalan beriringan denganAyu.
"BIsa diem enggak?enggak bisa yaudah"
sikap aneh Ayu membuat San sedikitkesal.
San hanya bisa memberikan perhatian lebih untuk Ayu, dia bingng bila Ayu bersikap begini, kesal San pergi ke dalam rumah dan bersiap pergi ke rumah Arya dan Bella.
Bersama Ben San pergi tidak pamitan dengan Ayu, dia sampai berpikir, apa selabil itub manusiakalau sedang hamil. Ayu mengabari kepada Deska dia hamil dan Deska dengan ekspresi berlebihan merasa bahagia, dia senang sahabatnya sudah tidak
takut lagi, Deska yakin Ayu bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak.
Ayu juga tidak nafsu makan di kehamilan awal, dialebih suka tidur dan tidur, rasanya mengantuk sangat,walau sebenarnya sudah di beritahu untuk makan, bahkan bila dia meminta masakan apa saja pasti akan di buatkan.
Mertuanya juga sangat perhatian, beberapa dayang mempersiapkan beberapa buah yang telah di potong, untuk Ayu, sang dayang juga berkata bahwa buah tersebut dikirim oleh ibunda ratu.
Walau tidak nafsu makan,Ayu mengisi tenaganya,agar dia tidak lemas saat hamil, hamil juga membuatnya malas, malas untuk beraktivitas di luar ataupun mandi.
.
.
.
San yang pergi bersama dengan Ben, menuju rumah Arya, walau tidak cerita dia datang dengan tujuan apa, tapi Arya tahu San sedang tidak mood akan sesuatu.
Setidaknya Ben ada teman bermain dengan Nadia, San dapat leluasa bercerita dengan Arya. Ben yang masih anak-anak juga bilang kepada Bella, kalau sang bunda lagi hamil adik nya.
Tingkah lucunya membuat Bella dan ibunya tertawa, Ben anak yang pandai, bisa mencairkan suasana, saat bermain dengan Nadia juga dia banyak membimbing sebagai kakak.
"Selamat ya atas kehamilan Ayu"
uajr Arya yang berjalan santai dihalamanbelakang rumah.
"sama-sama, hanya aku bingung dengan sikap dia"
ujar San mulai menceritakan.
San bingung kenapa Ayu selalu marah dengannya, sejak kemarin selalu marah dan tidak suka dengan apa yang dia lakukan, padahal sebelumnya dia biasa saja.
Arya pun menjelaskan, bahwa bisa saja itu bawaan bayi, Ayu akan bersikap seperti itu tidak ada yang tahu sampai kapan, mungkin setelah melahirkan diakan berubah.
Mendengar seperti itu, San bisa memahami perubahan emosi setip ibu yang sedang hamil, Arya juga memberi tahu siklus hamil yang cepat satu hari ama dengan satu bulan masa kandungan, dalam artian San harus menahan itu selama sembilanharike depan.
Ayu tidak mengalami namanya ngidam, mungkin karena dia memang tidak merasakan itu, dia hanya sebal dan kesal bila San mendekati atau melakukan sesuatu di depan Ayu.
Sedangkan Ayu jug menelepon Tantri, dia merasa aneh akan sikapnya kepada mas San, Ayu hanya mendapatkan nasehat dari Aisyah, istri pangeran Kesuma.
Aisyah mengatakan, bahwa mungkin saja hal itu di karenakan bawaan bayi, tapi ada momen nanti Ayu sangat merindukan suami, karena Aisyah sebelumnya seperti itu.
Setelah mendengar hal tersebut Ayu langsung keluar kamarnya dan mencari Ben dan San, mulai dari ruang tivi sampai kandang kuda, Ayu tidak menemukan San.
"Mbok...mbok lihat Ben sama mas San?"
tanya Ayu.
"Bukannya mereka mau kerumahKm Kirana nduk, mau bertemu dengan Arya katanya"
sahut mbok yang membersihkan beberapa bahan makanan.
Sedih karena dia tidak di ajak ikut ke rumah Arya, Ayu kembali masuk ke kamrnya dan dengan perasaan kesal mengunci pintu kamarnya.
.
.
.
Setelah sore harinya San danBenm kembali pulang kerumah, Ben senang sekali bermain dengan Nadia, tapi dia inginkan adik laki-laki, kalau perempuan tidak bisa di ajak perang-perangan ujar Ben, mendegar Ben bercerita, San hanya tersenyum.
Tidak lupa San membawa beberapa buah yang di belinya ditoko buah, mungkin saja sikap Ayu baikan dengan dia membelikan buaah.
Sesamainya di rumah, Ben langsung berlari ke kamar bundanya untuk bercerita, namun langkah kaki Ben berhenti karena pintu kamar bunda nya terkunci.
"Ben,,,,sama nenek dulu ya, bunda sedang sibuk"
ujar mbok membujuk Ben untuk ikut dirinya mandi dan makan.
"Bunda enggak sakit lagi kan nek?'
tanya Ben dengan polosnya.
"Bunda mu sedang tidur, kasihan nanti adek mu, ya..."
Akhirnya Ben bersedia ikut dengan sang nenek, sedangkan San yang datang sedikit sabar mengingat Ayu hamil akan tingkah isterinya, dia meminta Kum membawakan kunci cadangan kamarnya.
Ayu yang di kamar tertidur, dengan guling yang di kenakan baju San, entah biar apa, tapi Ayu pulas tidur bila mencium aroma tubuh suaminya yang melekat di pakaian.
San tidak marah dia hanya tidak mengerti kenapa hamil bisa membuat emosi sesorang sangat sensitif dan labil, San yang datang mengelus lembut rambut Ayu, merasa suaminya telah kembali, matanya mulai terbuka, dia melihat suaminya duduk di sebelahnya.
Dengan sigap tangannya Ayu merogoh ketiak San, ketiak dengan bulu tipis itu membuat Ayu mengusalkan jarinya ke dalam sana, San yang heran tertawa akan tingkah isterinya, belum lagi rasa geli yang di rasakan San.
__ADS_1
"Apa sih dek?"
kata San sambil tertawa.
Ayu tidak menjawab, dia hanya mencium tangannya yang baru saja merogoh ketiak suaminya, melihat tingkat Ayu, San tertawa kebiasan itu sebelumnya tidak pernah dia lakukan, benar mungkin kata Arya kebiasaan baru itu muncul karena pembawaan setiap bayi.
"Tadi marah ya?"
tanya San.
"Kesel...kesel lihat mas San tapi kangen"
ujar Ayu terdengar tidak seperti biasanya.
"Kangen, kangen aja, gak usah kesel juga."
"Kangen...."
"Sini peluk..."
ujar San membentangkan tangannya.
Ayu pun memeluknya, rasa rindu di hatinya terbayar.
"Kamu belum makan kan?"
Ayu hanya menggelengkan kepalanya dan bersandar di dada bidang San.
"Kita turun dulu ya, kita makan bareng-bareng"
ucap San.
"Iya mas..."
"Kamu belum mandi ya?"
Ayu hanya tersenyum, dia seharian hanya tidur d kamar, tidak mau makan dan mandi, entah kebiasaan itu biasanya berpengaruh pada jenis kelamin bayi yang di kandung.
"Mandiin ya?"
ucap Ayu yang terlihat menggoda San.
"Hmmm"
sahut San yang kemudian menuntun sang isteri masuk ke kamar mandi.
Dia hanya memandikan sang isteri seperti pada umumnya, Ayu terlihat seperti anak kecil yang manja kepada ayahnya, selesai mandi, San dan Ayu turun untul makan malam bersama.
"Bunda...."
seru Ben berlari dan memeluk Ayu.
"Ben bunda kangen...."
peluk Ayu, secara refleks dia menggendong Ben yang badanya mulai terlihat gemuk, Ayu lupa bahwa dia sedang hamil.
"Dek..!!!"
ujarnya San yang mengambil Ben dari gendongannya.
Ayu bingung kenapa San begitu kepadanya, dia juga lupa kalau dirinya tengah hamil muda, akan sangat rentan untuknya keguguran bila dia mengangkat beban yang berat.
"Ning ayuk duduk kita makan bersama, bunda enggak tahu kamu mau makan apa, mbok coba masak makanan kesukaan Ning"
kata ibunda ratu yang sangat memperhatikan Ayu.
"Mbok...mbok enggak usah repot-repot nanti kecapeaan"
"Ndak apa-apa cah ayu, mbok sudah terbiasa"
"Mbok padahal sudah dianggap bagian kerajaan, tapi katanya enggak bisa diam, kalau diam diri badannya pegel"
celetuk besan mbok yang menggundang gelak tawa.
Akhirnya mereka pun makan malam dengan hikmat, Ayu hanya mengambil sayur-sayuran, dia tidak tertarik dengan beberapa masakan daging yang telah di siapkan.
.
.
.
Selesai makan malam, Ben yang sedang bermain dan sang nenek menonton televisi, Ayu menemani Ben bermain mewarna beberapa buku dan gambar.
"Ibunda, apa sebaiknya Ben bersekolah, umur juga sudah cukup kan?"
tanya Ayu kepada sang mertua.
"Dia akan sekolah, tapi tidak di dunia luar"
"Maksudnya ibunda"
"Dia akan belajar sama seperti San dulu, bisa belajar di rumah dengan paman senopati, dia bisa belajar apa saja yang dia sukai, tentunya dia akan belajar ilmu turun temurun dari Jayanaga"
jelas Ibunda.
Ayu hanya terdiam sejenak, benar memang keluarga San sangat kaya raya, tidak ada yang bisa menandingi mereka di kota itu, tapi soal pendidikan Ayu ingin anak-anaknya mendapatkan yang terbaik.
Apapun cita-cita mereka, Ayu hanya lah orang tua yanga akan selalu mendukung apappun yang anaknya pilih dalam kegiatan yamg baik. Tapi bila harus di tuntut untuk bisa meneruskan JBO Ayu sedikit kecewa, dia ingin melihat anaknya menjadi apa yang mereka inginkan bukan yang seperti kita inginkan.
Mau bagaimana lagi, Ayu hidup di lingkup berdarah biru, anggota kerajaan yang sekarang telah berbaur dengan zaman dan waktu, mengikuti mode dan trend, tapi tetap saja JBO adalah utama.
"Bunda malam ini ben boleh tidur sama bunda?"
tanya Ben.
"Boleh sayang..."
"Enggak apa-apa Ning? kamu kan hamil muda, Ben usik loh"
sahut ibunda mas San.
"Setelah tidur bisa d angkat ibunda"
"Ya sudah, Ben cuci kaki lalu gosok giginya ya sayang"
perintah si nenek.
"Siap nek"
__ADS_1
ujar Ben bergegas berlari ke arah kamar mandi.
Dayang penjaga Ben mengikuti Ben ke kamar mandi, takut bila nantinya Ben akan terjatuh atau bila Ben memerlukan bantuan.
"Ning kesini..."
ujar ibunda San memerintah Ayu duduk di sampingnya.
"Iya bunda..."
"Bunda harap kamu bisa jaga kondisi kamu, bunda tidak mau kamu kenapa-kenapa, kamu pasti tahu kan San melakukan semua ini untuk mu, bunda tidak mau dia sedih lagi"
ujar bunda San mengelus lembut kepala Ayu.
"Tentu ibunda, terimakasih sudah memperhatikan Ning"
sahut Ayu dengan tersenyum dan memeluk sang mertua.
.
.
.
Malam pun berlalu Ayu mengelus lembut Ben sambil tertidur di pelukannya, San yang entah dari mana, baru saja masuk ke dalam kamar mereka.
"Udah tidur Ben?"
tanya San duduk di samping Ayu.
"Baru aja mas, habis dari mana?"
tanya Ayu.
"Dari ruang kerja ayah, besok mas masuk kantor lagi"
ujar San mengenggam tangan Ayu.
"Kalau gitu aku iku ke kantor ya."
"Kenapa ikut, kan bisa di rumah aja."
"Terus kalau aku mau cium ketek mas gimana?"
tanya Ayu dengan wajah yang cemberut.
"Ya kalau pengen, mas pulang."
"Bener ya...awas bo'ong"
ancam Ayu.
Malam kian larut, San memang jarang tidur itu melanjutkan beberapa tugas yang sempat di pendingnya, melihat anak dan isterinya tertidur pulas, San makin bersemangat untuk bekerja, setidaknya ada pelangi yang menunggu di hati nya saat ini, dia tidak ingin kehilangan pelangi tersebut.
Sebisanya dia ingin berjalan lancar untuk semua urusan, termasuk tentang Ayu yang akan melahirkan sembilan hari ke depan. Dia harus benar-benar menjadi suami siaga.
Dan seperti biasa San sambil menunggu pagi berdiri di rooftop rumahnya, perlahan-lahan warna jingga di langit mulai tampak, matahari mulai memunculkan auranya.
Ayu juga terbangun, di lihat Ben masih terlelap tidur dan San tidam ada di tempat, Ayu lanhsung tahu dimana San berada, dia menyusul sang suami yang paling suka cahaya matahari di pagi hari.
Ayu melihat punggung sang suami, Ayu berjalan dan memeluk San dari belakang, punggung San yang hangat membuat Ayu merasa nyaman berada disana.
"Kenapa dek?"
"Aku masih ngantuk, tapi kamu enggak ada"
ujar Ayu masih memeluk San.
"Ya sudah mau tidur lagi apa jalan-jalan?"
ucap San.
"Gendong ya"
pinta Ayu aneh-aneh.
"Iya dek"
ujar San mengiyakan permintaan sang isteri.
San pun menggendong Ayu turun dari rooftop, Ayu dengan sumringah mengalungkan tangannya di leher San, keduanya pun turun, lanjut jalan-jalan pelan di halaman belakang.
Di temani suami yang selalu setia mendampingi, tidak berapa lama suara tangisan terdengar dari dalam istana, mereka lupa bahwa Ben masih tidur di kamarnya.
"Mas...kayaknya suara Ben deh"
ujar Ayu, dengam segera Sn mengahampiri Bem, tapi dengan mandirinya Ben yang menangis keluar menemui ayah dan ibunya.
"Ben..."
ujar Ayu.
"Hiks...hiks...Bunda, ayah tinggalin Ben sendirian"
rengek anak pertama mereka.
"Maaf ya sayang...tadi kakak Ben tidurnya pulas banget, ayah sama bunda gak tega banguninnya"
jelas Ayu.
Mendengar di panggil kakak Ben, dia langsung mebghapus air matanya, kalau menjadi seorang kakak tidak boleh cengeng, itu yang dipikirannya Ben.
"Kakak Ben enggak cengeng kan bunda?"
tanya Ben yang membuat San tersenyum.
"Iya enggak, kakak Ben kan pinter...."
kecup Ayu di kening puteranya.
Mereka pun menikmati oagi dengan membawa calon adik Ben jalan-jalan keliling halaman luas tersebut.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1