Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Tidak ada hari bahagia


__ADS_3


Ayu terus memikirkan apa yang menjadi rencana Daryadana, seandainya ada hal yang bisa membuat Daryadana berhenti menganggu mereka, seandainya dia memilih tidak bersama San apa semua ini tidak akan terjadi? Sedikit penyesalan di hatinya, semenjak di\a bersama dengan Ssan ada saja hal yang buruk menimpa orang di sekitarnya.


Duduk diam termenung memandang bulan yang terang, sinar malam yang masuk melalui kaca jendela kamar, kondisi lampu kamar di padamkannya, Ayu tidak dapat tidur dengan tenang, pikiranna sedikit kacau. San masih bicara dengan ayah na dan paman senopati.


Semua orang tengah merencanakan sesuatu ntuk berjaga-jaga agar Daryadana tidak bisa mengacau di acara pernikahan San dan Ayu, serta Arya dan beberapa panglima yang di kirim Jayanaga untuk membantu mengamankan rumah ayah Bella.


.


.


.


"Aku tahu kau mendengar ku...."


suara Daryadana yang terdengar di kuping Ayu, dia kaget dan heran bagaimana daryadana bisa berkomunikasi dengan dirinya, sedangkan dirinya telah di kasih pagar ghaib.


"Aku hanya bisa bicara kepada mu, walau sekarang aku tidak berada di dekat mu"


lanjut Daryadana.


Ayu hanya diam tidak membalas perkataan Daryadana.


"Menikahlah dengan ku, tinggalkan pangeran Jayanaga itu dengan begitu aku tidak akan mengganggu mereka apalagi mengambil bayi Kirana"


pinta daryadana.


Tidak mungkin kalau dia kembali hanya untuk meminta Ayu pergi dari an, mungkin ada tujuan dan maksud lain dari hal tersebut yang tidak di ketahui. Ayu yang mendengar sedikit ragu, dia harus rela meninggalkan San dan pergi bersama Daryadana, apakah dengan begitu dia bisa membaik? apakah itu akan menjamin kalau Daryadana tidak akan mengganggu San dan Bella kembali? atau semua hanya taktik Daryadana untuk menjatuhkan San? semua masih misteri untuk Ayu, namun dia juga ingin semua orang tidak terluka karena dia menolak tawaran Daryadana.


"Bagaimana aku percaya kau tidak akan mengganggu mereka kembali?"


ucap Ayu yang celingak celinguk mencari sosok Daryadana yang bicara kepadanya.


"Setelah kau ikut bersama ku, Rico dan Karla akan mejadi seperti semula"


ujar Daryadana.


"Lalu kakek itu?"


"Dia adalah orang yang membantuku, sampai aku mendapatkan mu, tugas dia selesai"


tambah Daryadana.


Ayu memikirkan sesuatu siapa tahu dia bisa membantu San dan lainnya dengan cara yang dia susun nantinya, Ayu menyanggui permintaan Daryadana.

__ADS_1


"Tapi ada satu syarat ang harus kau lakukan"


pinta Daryadana.


"Apa itu?'


"Aku tahu kau menyimpan tusuk rambut giok hijau, tusuk kan itu di bekas luka Sanjaya, aku inginkan darahnya"


tambah Daryadana.


Ayu sedikit terkejut mendengar syarat yang di ajukan Daryadana, bagaimana dia bisa melukai mas San, dia tahu bagaimanapun dia tidak bisa melukainya, cintanya kepada San tidak akan sanggup membuat Ayu melakukan itu.


"Kalau kau ragu sebaiknya tidak usah, aku akan menyerang mereka"


Daryadana yang memang menyiasati agar dia bisa memiliki Ayu.


"Tidak bisakah kamu memiliki saja, tidak perlu memberi ku syarat untuk menyakiti mas San, karena dengan ku pergi saja dia pasti akan terluka"


ujar Ayu.


"Tidak !!! ku tidak menurut perkataan ku, maka aku akan menghancurkan mereka dengan tangan ku sendiri"


sentak Daryadana.


Ayu berada di dua pilihan yang memberatannya, dia hars pergi dan menyakiti San tidak hanya hati dan raganya, atau dia tetap berada di sisi San dan melihat mereka semua di hancurkan Daryadana.


ujar Daryadana.


Suara itu kini pergi dalam keheningan, tinggal lah Ayu yang sendiri memikirkan tawaran dari Daryadana, dia yang selalu berpikir tidak ada hari bahagia dalam hidupnya memang sudah menjadi takdir yang di gariskan untuknya, dia membawa misi bukan bahagia untuk dirinya melainkan bahagia untuk orang lain.


.


.


.


Mahendra yang berdiam dalam sebuah mobil memandang keluar, di lihatnya rumah besar Bella, dia sengaja menunggu Arya atau Bramasena keluar dari sana, dia bahkan bisa melihat Bella yang tengah berbadan dua, kesal mungkin saja dia rasakan, tapi tidak ada rasanya yang dahulu pertama bertemu dengan puteri Kirana.


Mahendra telah mengundrkan diri dari pekerjaannya, dia hanya akan menikmati waktunya sendiri, berusaha menjadi Mahendra yang baru dia tidak ingin terikat akan masa lalunya.


Dan lagi pedang yang entah datang dari mana, datang kepadanya, dia di pesani oleh seekor naga merah untuk menjaga sampai Arya atau Bramasena kembali. Rasa ingin memilikinya pasti ada, hanya saja Mahendra tidak bahkan tidak sanggup mengangkat nya dari sebuah peti kayu yang berukuran sama dengan si pedang.


Ayu masih memikirkan bagaimana cara dia bisa pergi dari istana tanpa ada yang tau, tanpa menyakiti San, beberapa hari Ayu di sana sering melihat para pelayan yang terkesima dengan ketampanan pangeran mereka, di tambah badan yang atletis.


Ayu merasa risih sebenarnya, tapi mau bagaimana di rumahnya banyak terdapat pelayan yang siap melayaninya 24 jam, Ayu terlihat banyak diam, San merasa curiga dengan sikap Ayu yang tidak biasanya diam.

__ADS_1


Entah mencari alasan atau bagaimana, Ayu sedikit kesal akan para pelayan di rumah San, antara hati yang bimbang, Ayu sedikit ragu untuk menjalankan syarat dari Daryadana.


"Kamu kenapa dek?"


tanya San yang baru selesai berenang.


"Enggak..."


sahut Ayu kesal.


"Ada apa?"


tanya San yang menarik tangan Ayu.


Ayu menghempaskan pegangan tangan San, dia memilih pergi ke kamarnya, Ayu sangat bimbang seperti ragu akan melakukan hal tersebut.


Tok..tok...


San yang mengetuk pintu kamar Ayu.


"Dek...kamu kenapa sih?"


tanya San yang berdiri di bali pintu.


"Enggak apa-apa mas, Au mau sendiri dulu"


ujar Ayu yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Dia pun merendamkan badannya ke dalam bak mandi, berusaha menenangkan otaknya, dia berusaha memendam apa yang dirasakan seorang diri.


San hanya menunggu sampai Ayu benar-benar siap mengatakannya, mungkin juga San telah tahu apa yang menyebabkan Ayu bersikap begitu.


Dengan mengikuti alur dari Daryadana mungkin saja San bisa mengetahui kelemahan Daryadana, bukan hanya San tapi juga Arya sampai Arya bia menemukan pedang naga merah yang bisa menembus jantung Daryadana.


Di lain tempat Mahendra yang kesal akan kenyataan tentang dirinya, dia berniat membuang peti yang beriis pedang naga merah, dengan menjatuhkannya ke sebuah sungai dari atas jembatan.


Mungkin dengan begini Mahendra merasa adil akan kehidupan yang di dapatanya, dendam dan dirinya yang belum bisa menerima kenyataan mungkin akan di rasakan oleh Arya, Ayu, Bella dan kakaknya Sanjaya.


.


.


.


(Bersambung)

__ADS_1



__ADS_2