
Pagi sekali rombongan pangeran Sanjaya telah siap untuk pergi berburu, bersama Rendra dan Kemuning, senopati yang sedang ada urusan bersama raja tidak bisa ikut.
Tidak ada puteri Kirana yang mengantar, kasihan dia sedang hamil muda, perutnya juga sudah terlihat membesar, butuh istirahat yang cukup, Kemuning sengaja tidak berpamitan kepada Kirana.
Mereka pun memulai perjalanannya, dengan menaiki kuda, Sanjaya yang sangat percaya terhadap Rendra tidak menaruh curiga macam-macam. Mereka terus berjalan sampai mereka bertemu dengan pertigaan jalan, sebelah kanan masuk wilayah Kerajaan Amartha dan kiri tempat biasanya mereka berburu.
"Sini dek"
kata Sanjaya yang hendak menangkap Kemuning yang turun dari atas kuda.
"Makasih mas..."
balas Kemuning tersenyum.
"Maaf ya dek, mas cuman sampai sini mengantar mu"
"Tidak apa-apa mas..."
"Rendra tolong ya, antar Kemuning sampai di Amartha"
pinta sang kakak
"Iya kakanda"
sahut Rendra yang memasang wajah biasa.
...💞💞💞...
Kemuning pun menaiki kuda putih milik Rendra, mereka pun berpisah di pertigaan, sepanjang jalan Kemuning hanya terdiam dan tidak bicara, pangeran Rendra juga begitu.
Awalnya dia melajukan kudanya hingga mereka memasuki wilayah hutan Amartha, padang ilalang nan tinggi suasana juga hampir sore, mereka berjalan perlahan.
"Ning...aku mau istirahat sebentar,boleh?"
tanya pangeran Rendra kepada Kemuning.
"Iya boleh pangeran"
tanpa menaruh rasa curiga mereka sampai di tepi sebuah danau.
Pangeran Rendra turun dan di susul Kemuning, Rendra sedang asik membiarkan kuda nya meminum, dirinya mencuci wajahnya t
yang terasa panas agar segar.
pemandangan, suasana dan wangi Amartha itu sangat khas, bau yang sering Kemuning rindukan, damai dan tenang, Kemuning rasakan walau sekarang dirinya belum sampai ke istana Amartha.
"Ning tidak minum?"
"Tidak pangeran..."
Kemuning tidak merasakan gelagat aneh terhadap Rendra.
Mata Rendra terus tertuju pada wajah Kemuning yang tersenyum, dia sangat senang bisa ke Amartha kembali, hati Rendra berdegub kencang, dia sangat menginginkan Kemuning.
Rendra berjalan perlahan, di hatinya terus bertentangan antara ingin memeluk dan enggan, dia tidak mengendalikan hawa nafsunya, entah kenapa Rendra sangat terobsesi terhadap Kemuning.
Hap....
Rendra memeluk Kemuning dari belakang.
"Lepas,,,pangeran..."
__ADS_1
ucap Kemuning.
Alih-alih mendengarkan pembicaraan Kemuning, Rendra langsung mencium wajah Kemuning, mendaratkan ciuman di pipi hingga bibir. Kemuning terus berontak, namun kekuatannya tidak lah berguna untuk seorang Rendra.
Rendra dengan mudahnya mengangkat badan Kemuning dan menghempas nya di rerumputan, tempatnya yang sepi sangat mudah untuk Rendra melancarkan aksinya.
Tubuh Kemuning di tindih oleh Rendra, perlahan Rendra melepaskan jubahnya, Kemuning terus berontak tapi tidak bisa.
"Tolong....tolong..."
teriaknya namun di tempat sepi itu tidak ada seorang pun yang mendengar, Kemuning tidak hentinya berharap Sanjaya atau siapapun dapat menolongnya.
Dia terus menangis tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi, Rendra terus mencumbu Kemuning, bahkan merobek pakaian Kemuning hingga terlihat paha putih mulus miliknya, membuat Rendra semakin menjadi, dirobeknya kembali bagian penutup atas badannya.
Seperti melihat mangsa, Rendra terus mencium tubuh Kemuning, seraya air matanya keluar, terus berteriak meminta tolong, kedua tangan dan kakinya sekarang tidak dapat bergerak.
"Tolong....tolong"
suara Kemuning lirih tidak berdaya.
Tenaganya sudah habis memberontak kepada Rendra, sang pangeran itu menjadi beringas, terus mencium tubuh Kemuning yang menangis.
Bruuuukkkkkk !!!!
Entah dari mana, tubuh Rendra terpental, di tendang oleh seseorang.
"Kamu tidak apa-apa?"
tanya seorang pria yang memakai jubah putih.
Kemuning yang sudah lepas dari cengkraman Rendra, segera bangun, dirinya tidak dapat menahan rasa malu, pakaiannya telah robek oleh pangeran Rendra.
"Pakailah ini"
Kemuning terdiam, dirinya sangat shock dengan apa yang terjadi.
"Jangan ikut campur...."
ucap Rendra yang kemudian mengambil pedangnya.
Kemudian Rendra melompat ke arah pria tersebut dengan mengayunkan pedangnya, pria itu seketika bisa menghindar seperti sudah bisa menebak arah pergerakan pangeran Rendra, dia hanya menghindar, memukul setiap titik lemah syaraf manusia, dengan tangan kosong tidak seperti pangeran Rendra yang begitu marah niat jahatnya di gagalkan.
Kemuning hanya bersembunyi di balik sebuah pohon, melihat pertarungan antara Rendra dan pria berpakaian serba putih itu. Rendra masih berusaha tidak menyerah sampai si pria itu memukul bagian belakang pundak Rendra, membuatnya jatuh dan namun dengan liciknya pangeran Rendra makah mengambil pasir supaya pria itu tidak mengajarnya, Rendra segera pergi dengan membawa kudanya kembali.
Tidak sempat mengejar Pria itu menghampiri Kemuning yang masih terlihat ketakutan.
"Mbak...tidak apa-apa?"
tanya pria itu.
Kemuning hanya terdiam takut dia tidak menjawab, seperti orang linglung dia hanya bisa menangis tidak bersuara.
"Mbak...saya bukan orang jahat, nama saya pangeran Kesuma"
"Saya Kemuning"
jawab Kemuning yang masih terduduk bersembunyi di balik pohon.
"Mari saya akan antar mbak pulang..."
Mendengar perkataan itu Kemuning yakin dia adalah pria yang baik, tidak akan berbuat aneh-aneh kepadanya.
__ADS_1
"Mbak tinggal dimana?"
"Istana Amartha"
jawab pangeran Kesuma.
"Baiklah..."
Pangeran Kesuma pun mengantar Kemuning ke Amartha, dia tidak tahu dimana letak istana Amartha itu, namun Kemuning sangat hafal betul jalan setelah keluar dari padang rumput ilalang tersebut.
Tidak banyak bicara, pangeran Kesuma juga tidak berbuat atau menandakan hal yang aneh, melaju dengan kuda milik pangeran Kesuma, butuh waktu 50 menit untuk sampai di gerbang istana.
Sesampainya di istana Amartha, Kemuning yang tiba dengan pakaian compang-camping, membuat pengawal istana langsung mengepung pria yang telah menyelamatkannya. Pangeran Kesuma hanya mengangkat kedua tangannya, tidak ada perlawanan.
"Kau siapa?"
sentak pangeran Abimayu yang melihat Kemuning datang dengan pakaian sobek dan ditutup jubah.
"Saya pangeran Kesuma"
"Dia sudah menolong saya pangeran..."
ucap Kemuning.
Mendengar hal itu pangeran Abimayu memberi isyarat kepada pengawal agar menurunkan senjatanya.
"Tadi mbak Kemuning di jahati oleh seorang pria, saya tidak sengaja mendengar teriakan minta tolong nya"
jelas pangeran Kesuma.
"Baiklah...bagaimana kalau kita berbincang di dalam"
sahut pangeran Abimayu.
"Terimakasih pangeran...tapi maaf saya sedang sibuk, lain waktu saya akan terima undagan pangeran"
jelas pangeran Kesuma.
"Terimakasih banyak, saya akan terus mengingat nama pangeran Kesuma"
"Sama-sama mbak, saya permisi"
sahut pangeran Kesuma yang naik dan menarik pelana kudnya melaju meninggalkan Kemuning yang sudah aman berada di istana Amartha.
"Siapa yang tega melakukan itu Ning?"
tanya Abimayu.
"Nasib saya yang apes bertemu orang jahat pangeran"
"Kamu sendirian ke Amartha? pangeran Sanjaya kemana?"
"Dia mengantar sampai pertigaan, nanti dia akan menjemput pulang pangeran"
"Iya sudah kau segera istirahat, mbok lagi di dapur"
jelas pangeran Abimayu yang kemudian berjalan arah berlawanan dengan Kemuning.
...💞💞💞...
Nantikan kisah selanjutnya ya...
__ADS_1