
Ayu terus belari hingga tidak ada ujungnya, sejenak dia berhenti, dia kini berada di sebuah tepian sungai yang jernih, Ayu bahkan sempat meminum air sungai yang sangat melegakan dahaga.
Dia hanya melihat sekelilingnya, begitu sepi dan sunyi, ayu menyadari ini adalah dunia tipuan daryadana, bahkan yang di dorongnya ke jurang hanyalah sebagian boneka yang di persiakan Daryadana.
Ayu terus mencari cara agar dia bisa menemukan jalan kelua,r dari dunia tipuan ini, dia pun memikirkan sesuatu, setiap bagian yang di lewati Ayu tampak sama, dia hanya berputar-putar, mungkin dengan sebuah cermin atau benda yang dapat memantul kan bayangan bisa menunjukan pintu keluar yang sebenarnya.
Ayu hanya perlu sesuatu sebagai pengganti cermin, dia terus mencari dan mencari, sedangkan Arya yang telah melpas sukmanya masuk ke dalam tidur Ayu, dia masuk kesebuah dunia yang sangat gelap, tubuhnya melayang di ruang hampa tersebut, kini dia melihat sebuah gerbang besar yang bercahaya terang, dengan yakin Arya masuk kesana dengan mudah.
Daryadana yang merasa ada seseorang yang bisa masuk ke dunia buatannya, tubuhnya yang bersemedi langsung pergi ke dunia yang di ciptakannya, dunia ilusi yang hanya bisa di masuki dia dan Bramasena saja.
Ayu yang terus mencari seuatu untuk dirinya bisa menemukan pintu keluar, merasa kesal lelah dan di permainkan, Ayu melemparkan sebuah batu ke sungai, marah juga tidak ada gunanya, tapi dia melihat sepintas cahaya terang di sebelah barat hutan pinus, Ayu kemudian berlari kencang, dia yakin disana lah pintu keluar berada.
Tubunhya terus memacu jantungnya untuk terus bekerja, dia terus berlari sampai dia melihat seoarang pria yang tampak tidak asing, Karena takut itu adalah tipuan, Ayu memilih bersembunyi, dia tidak ingin tertipu Daryadana lagi.
Arya yang sampai ternyata dirinya berubah, dia memakai jubah putih dengan aksen merah dan gold, rambutnya panjang denga postur tinggi tersebut Arya mungkin tidak menyadari Ayu akan mengenalinya.
Arya pun berjalan dengan terburu-buru untuk segera menemukan Ayu, walau dunia ini hanya ilusi, semua tampak nyata dan daat membuat orang yang berada di sana aklan terlena dengan keindahan tempat tersebut.
Ayu diam-diam terus mengikuti Arya, dia kemudian melihat seseorang datang dari belakang Arya, tapi anehna dia menyerupai dirinya, Ayu yang melihat terkejut, kenapa dirinya bisa menjadi dua.
"Itu pasti Daryadana"
ucap batin Ayu.
Belum juga si Ayu palsu memanggil Arya, Ayu yang asli keluar dan berteriak memanggil dengan kata "MAS" sontak Arya dan Ayu palsu menoleh ke arah Ayu yang asli.
"Mas Bram, dia Daryadana..."
ucap Ayu yang palsu langsung berlindung di balik punggung Arya.
"Heh oncom...lu tuh ya nyamar pake nuduh segala gue palsu, jangan ngadi-ngadi deh lu"
celoteh Ayu asli yang membuat Areya langung tahu yang berada di balik nya adalah daryadana.
Deeziing !!!1
Arya menahan serangan pedang Daryadana yang hendak mengenai dirinya, Arya kemudian melompat mundur ke arah Ayu asli, Ayu kaget karena sebelumnya Arya tidak pernah menunjukan dia bisa karate atau silat.
"Tetap di belakang ku..."
kata Arya yang membuat Ayu menahan tawanya.
Ayu dengan santai duduk sambil melihat pertunjukan,Arya dan Daryadana mulai bertarung, entah dari mana pedang Arya itu muncul, dia terus memberikan pukulan yang di tankis oleh daryadana.
Deeziing, sink,,,..
__ADS_1
Arya terus melawn Daryadana, Ayu terheran-heran bagaiamna bisa Arya yang paling suka nonton film pischyo.
"Kapan dia ada waktu berlatih pedang segala, masa nonton film IP man sekali udah jago dia?"
batin Ayu ang bertanya-tanya.
Tidak ingin menyia-nyiakan tenaganya, Daryadana kabur dengan mebuat dunia ilusi itu menghilang, dengan sekejap, Arya dan Ayu berada di ruang hampa yang gelap, ada beberaa cahaya yang terang seperti bintang, Ayu yang kaget merasa dirinya melayang, entah mau jatuh atau tenggelam, dia merasakan sesak di dadanya.
Arya meraih pinggang Ayu, menangkap Ayu masuk ke dalam dekapannya, Arya tersenyum melihat Ayu kembali, dia mengajak Ayu seperti terbang, menuju sebuah cahaya bintang nan terang, disana lah pintu keluar dari alam mimpi yang penuh dengan ilusi.
Semakin dekat cahaya nya semakin terang, Ayu yang melirik ke arah Arya hanya tersenyum, akhirnya ada yang bisa membantunya keluar dari dunia ilusi Daryadana.
Srrriiiiinnnggggg !!!!!
Ayu kini telah kembali ke tubuhnya, begitu pula dengan Arya, mererka kahirnya tersadar dari tidur panjang, hampir subuh, San terus berjaga di samping Ayu.
Arya juga memberikan sebuah pagar dan pelindung yang sama seperti Bella, kemudian di lanjut oleh San, Ayu yang duduk merasa sesuatu cahaya bundar yang terang masuk ke dalam dirinya.
Dua orang yang memberikan kekuatan kepada Ayu, seperti membuat Ayu menjadi lebih bertenaga, kuat dan dia tidak merasakan lemah atau loyo.
Dan satu lagi hal itu membuat dirinya kelaperan.
Gruuakkkk gruuukk !!!
"Perut apa karet sih tu?"
celetuk Arya.
"Apaan si..."
"Kamu mau makan dek?"
tanya San.
"Boleh mas..."
jawab Ayu dengan senyuman lebar.
"Ya sudah binik ku nungguin, aku balik dulu ya..."
Arya yang menepuk pundak San.
"Paman akan mengantarmu, terimakasih hari ini"
ucap San.
__ADS_1
"Ya sama-sama...balik ya Yu"
ujar Arya.
"Iya mas, hati-hati"
sahut Ayu yang turun dari kasur nya.
Dia bersama San mengantar kepulangan Arya di depan pintu, kemudian San mengajak Ayu untuk makan di ruang makan. Walau hanya berdua dan makan sepotong roti dengan daging, Ayu cukup merasakan kenyang.
Arya kembali kerumah Bella dengan di antar paman, dia bersyukur kalau Ayu bisa selamat, entah apa yang membuatnya tersenyum mengingat kejadian lucu di saat Daryadana menyamar menjadi Ayu, bagaimana dia bisa membedakan mana Ayu asli dan palsu, karena pada dasarnya mereka hidup di masa lalu, kosa kata juga banyak berubah, dari perkataan Ayu tertera jelas bahwa di zaman dahulunya tidak ada kata-kata lu gua.
Dia juga masih menyimpan rasa terhadap Ayu, entah rasa sebagai apa? ada sesuatu di hatinya yang hanya dia saja yang tahu, dan tidak ada yang tahu, dia merasa senang, tapi di lain sisi dia juga menjaga hatinya untuk Bella dan buah hatinya.
Dia berharap San adalah pilihan Ayu yang sangat tepat, Ayu pasti bahagia, San sangat menyayangi dan mencintai Ayu, tidak akan dirinya tega untuk meninggalkan Ayu, Arya kemudian teringat akan pedang yang di pegang olehnya di dunia ilusi.
"Pedang itu, pedang itu tidak ada di tubuh ku? di mana dia berasal?"
tanya Arya dalam dirinya.
"Pedang itu ada bersama seseorang di dunia ini, kau bisa mencari reinkarnasi bernama Rendra"
ujat naga bulan berkomunikasi dengan batin Arya.
"Rendra?"
"Kenapa mas Arya?"
tanya paman yang mendengar Arya mengucapkan nama Rendra.
Mungkin pihak ibunda dan ayah San juga berharap sang putera bereinakrnasi dan bisa bertemu dengan mereka dan berkumpul lagi.
"Tidak paman...."
ucap Arya.
Paman pun terus melajukan mobilnya dan paman masih saja memikirkan perkataan Arya, bahwa reinkarnasi bernama Rendra.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1