
San yang mengetahui apa yang terjadi sebenarnya bergegas pergi ke rumah empu Gatma, entah apa maksud dari semua ini, dia tidak ingin berpisah dengan isterinya, walau pun Kemuning bersemayam di tubuh Ayu, mereka adalah orang yang sama tidak ingin keduanya benar-benar pergi.
Sesampainya di rumah empu Gatma, suasana yang gelap dan dingin, seperti telah di tebak oleh empu Gatma, beliau keluar dan melambaikan tangan, memberi kode agar San masuk ke rumahnya.
"Apa maksud dari semua ini empu?"
tanya San duduk di depan empu Gatma.
"Bangsa kalian berbeda, tidak akan di satukan oleh semesta"
ujar si empu.
"Tapi empu lihat sendiri, bagaimana hidup Ayu selama ini?"
"Karena itu Aku menutup dan membuka gerbang nya, memberikan ruang di hatinya, bila kau menemuinya pun mungkin dia tidak akan mengenali mu"
jelas empu.
"Aku sangat mencintai nya, izinkann aku bersamanya sampai masa hidupnya di dunia ini"
pinta San.
Empu Gatma hanya terdiam tertunduk, dia tahu aturan dunia yang memang tidak boleh di langgar, tapi untuk saling mencintai jangankan dunia, maut saja pasti mereka hadapi, melihat hal tersebut empu Gatma tidak akan tega dia melakukan hal tersebut, dia hanya bisa memberikan sebuah kekuatan baru untuk sang pangeran.
"Bersiaplah pangeran"
ujar empu Gatma.
Dia mengeluarkan tenaga dalam dirinya, cahaya melingkar berwarna kuning, terang benderang seperti cahaya matahari yang menyinari bumi, cahaya itu kemudian masuk ke dalam tubuh San.
"Aarrrrhhhkkkk !!!"
erang San menahan rasa sakit.
"Ini berfungsi agar wujud mu nyata di alam mereka"
jelas empu Gatma.
"Aku hanya memindahkan gerbang fortalnya, pangeran temukanlah diantara dua bukit di dekat danau, tapi ajian ku hanya bertahan selama 3 hari, setelah itu pangeran akan kembali seperti sedia kala"
ujar empu Gatma.
"Bagaimana aku bisa membawa Ayu dalam 3 hari?"
"Itulah tugas mu pangeran, yakinkan lah dia"
Selepas dari rumah empu Gatma, San bergegas pergi diantara dua bukit, di balik sebuah pohon ada gerbang fortal penghubung antara dunia dia dan Ayu.
Hari hampir pagi, tidak lama San menemukan gerbang yang di maksud, dia kemudian berlalu masuk ke dalam gerbang yang tampak seperti lorong biasa yang berjejernya pohon-pohon.
__ADS_1
Dia pun masuk tanpa menggunakan kudanya, dia masuk dan memfokuskan dirinya pada Ayu, hingga ujung lorong itu terlihat terang, silau hingga San harus meraba dengan tangannya pada matanya agar terhindar dari cahaya terang tersebut.
Dia terus berjalan hingga dia sampai di sebuah ruangan, kamar Alingga, dia melihat Ayu terbaring dengan kain kompres di keningnya. Sedangkan Alingga tertidur menunggu Ayu yang sakit.
Tidak banyak bicara San langsung menggendong Ayu, membewanya keluar dari rumah Alingga, dia dengan santainya mengangkat tubuh Ayu, membawa keluar rumah, tidak ada yang tahu kemana perginya San.
Dia membawa Ayu melewati gerbang yang sama, dia membawa Ayu ke istana, entah apa maksud daei semua ini, tapi waktu 3 hari itu akan sulit di terima San untuk bisa beetemu dengan Ayu.
Dia kahirnya memutuskan agar Ayu di bawa ke istana, seridaknya sampai dia mengerti kondisi saat ini, dia akan menjelaskan bahwa dia bukanlah manusia biasa, dia dan Ayu berbeda Alam, tapi dia mencintai Ayu, dia ingin terus bersama sampai maut memisahkan mereka.
.
.
.
Pagi hari yang cerah, Alingga yang terbangun di pagi hari kebingungan mendapati Ayu tidak ada di tempat, dia bahkan mencari Ayu, tapi dia tidak menemukannya, sang ibu pun tidak mengetahui bila Ayu pergi. Anehnya tas nya masih rapi berada di kamar Alingga.
Segera menelepon Tantri, tapi Ayu juga belum sampai di rumah, Tantri masih berpikir positif mungkin Ayu masih di jalan, cepat-cepat hingga lupa bawa tasnya, Alingga sedikit lega mendengar Tantri berkata begitu.
Sementara Ayu yang tertidur di kamar San, mendengar suara yang selalu ada di mimpinya, selalu di rindukannya, dia ingin terus mendengar suara itu, tidak ingin dia tersadar dari mimpi indah ini.
"Bunda...bunda bangun...bunda"
seorang anak kecil berumur 10 tahun membangunkan Ayu.
Dia adalah Ben, putera yang selalu di rindukannya, perlahan Ayu membuka matanya, dia kaget ada anak kecil yang tampan duduk di samping dirinya. Ayu terbangun kaget, dia duduk dan melihat sekelilingnya, dia masih ingat kamar itu, kamar milik San.
ujar Ayu memanggil nama anaknya.
"Bunda...."
peluk Ben.
"Bunda, Ben kangen"
sahut Ben.
Ayu meneteskan air matanya, dia tidak percaya dia bisa kembali bersama anaknya, dia bisa memeluk Ben yang di rindukannya, tapi apa yang terjadi, apa ini mimpi? kenapa semua terasa nyata? dia takut berharap, takut nanti akan membuat luka di hatinya.
Tidak lama San masuk sambil menggendong seorang anak lelaki berumur 1 tahun, adik Ben, Arjuna, dia masih ingat akan hal itu. Ayu bangkit dan berlari menuju San, dia menggendong putera kecilnya, mencium dan memeluk, semua ia curahkan, rasa rindunya kepada sang buah hati, Ayu sangat merindukan mereka.
Sudah mulai tenang San menjelaskan apa yang terjadi, Kemuning kembali ke diri Ayu, dia tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang Ayu lah yang bisa membantunya, mereka harus berdamai satu sama lain agar mereka bisa menyatu, bersama membesarkan anak-anak mereka.
Ayu masih tidak mengerti, kalau dia dan Kemuning satu, tapi kenapa dia lakukan hal tersebut kepadanya, San juga tidak tahu, tapi dia tidak peduli lagi, dia hanya ingin bahagia, berkumpul bersama dengan Ayu.
"Tapi dunia kita berbeda mas?"
Ayu yang mengajak San berbicara di tempat San biasanya menyendiri.
"Aku tahu itu dek, aku sayang kamu"
__ADS_1
peluk San yang juga memendam rindu untuk Ayu.
"Aku juga sayang, tapi..."
"Tapi?"
"Aku ingin pulang, ini bukan tempat ku"
Mendengar hal tersebut San sedikit kecewa, Ayu bukan seperti yang dia inginkan, dia bukan Ayu yang dulu selalu menurur apa yang San katakan, Ayu hanya bingung bagaimana perasaannya, dia ingin bersatu, tapi bukan ini yang dia mau, dia takut orang sekitarnya khawatir akan dirinya.
"Kamu mau kembali ke alam mu?"
tanya San masih memeluk Ayu dari belakang.
"Aku ingin, bersama mu, dalam dunia ku"
jawab Ayu.
"Aku tidak akan nyata dalam dunia mu, apa kamu akan bisa terima itu?"
tanya lagi San.
"Asalkan mas bersama ku, pasti ada cara aku bisa melihat mu"
ujar Ayu.
"Mas pasti tahu caranya membawa aku bertemu anak-anak"
"Iya mas tahu tapi yang mas bawa pasti bukan kamu tapi Kemuning"
ujar San.
"Karena dia ada di diri ku?"
"Karena dia adalah Sukma inti mu"
"Tapi tentunya aku bisa melihat apa yang di lakukan Kemuning bukan?"
"Jangan hanya melihat, tugas mu adalah menjadi satu dengan dirinya dek, agar kamu ingat apa yang kita lakukan bersama"
jelas lagi San.
Ayu mulai mengerti apa yang San maksud, dia akan mencoba menjadi satu dengan Kemuning, dia akan berusaha agar mereka bisa bersama walau dunia ini memisahkan mereka. Tapi tidak akan mudah karena fisik Ayu berada di alam yang sebenarnya, dia merelakan bila Kemuninglah yang ada disisi mereka, Tapi San tidak mau kehilangan Ayu maupun Kemuning.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1