
Suasana yang tenang di istana membuat Ayu terlelap cukup lama, Pangeran Sanjaya juga masih setia berada di pelukan Ayu.
Suara gemuruh hujan terdengar sayup-sayup di kuping Ayu, angin berhembus masuk menyelinap di sela-sela gorden besar di kamar San..
Ayu terbangun karena merasa dingin, dilihatnya San yang terlelap tidur di sebelahnya, dia pun beranjak menutup jendela besar di kamar Sanarendra. Dan menarik gorden agar angin tidak dapat masuk kedalam kamar.
Ayu bingung harus berbuat apa, dirinya hanya duduk memandangi suaminya yang tertidur, kamar nya sangat luas, mau berlari-lari pun juga tidak ada yang peduli, Ayu hanya kembali merebahkan badannya di samping Sanarendra.
Pagi ini mereka di kejutkan oleh pertumbuhan Ben yang sangat cepat, perlahan-lahan tingginya sudah melebihi tinggi sang bunda, menjadi sosok remaja yang begitu cepat, menjaga dan menyayangi adiknya, Tantri cukup terkejut, Ben yang mungkin telah berusia 16 tahun, tumbuh menjadi pria yang tampan.
"Pagi kakak Tantri"
sapa Ben yang keluar dari kamarnya menyapa anggota keluarga di ruang makan.
"Kakak Tantri? ini siapa Yu?"
tanya Tantri yang mesam-mesem.
"Kamu gimana sih, itu kan Ben"
ujar Ayu menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Oh...Ben...apa Bennnn"
teriak Tantri yang terkejut.
Ayu pun menjelaskan bahwa memang dia tidak perlu kaget, karena 1 malamnya dia akan bertambah umur dengan postur pas, sehingga tidak heran Ben ataupun Arjuna bisa tumbuh dengan cepat.
"Ning.....enggak mau punya anak lagi apa?"
tanya sang ibunda.
Mendengar perkataan sang bunda, Ayu kembali teringat akan dirinya yang terusir oleh Kemuning, kala itu, sekarang mereka telah menyatu, Ayu harus bisa mengendalikan sikap negatif Kemuning, bahwa mereka adalah satu, bukan musuh yang berebut mas San.
__ADS_1
"Ayu masih belum kepikiran ibunda"
"Ibunda, Arjuna juga masih kecil,tunggu umurnya pas ibunda"
sahut San yang melirik Ayu, dia tahu kejadian yang menimpa Ayu, mungkin akan membuat dia trauma, merasa kejadian itu membuat mereka terpisah untuk beberapa waktu.
"Eh...Boleh tidak aku jalan-jalan lagi"
sahut Tantri merubah topik pembicaraan.
"Boleh, nanti sekalian ajak Ben juga"
sahut San trsenyum.
Setelah selesai mereka sarapan, Ayu dan Pangeran Sanjaya, Tantri dan anak-anak, mereka pun berjalan-jalan di luar istana, pertama kalinya Pangeran dan Ayu berjalan-jalan ke sebuah pasar, di temani beberapa pengawal dan Senopati.
Aktivitas warganya seperti di alam manusia seperti biasanya, Ayu melihat orang-orang yang melakukan transaksijual beli, ada yang menjual kain, perabot hingga makanan. Semua orang yang melihat Pangeran dan permaisurinya berjalan-jalan, memberikan hormat dengan menundukan kepalanya, Ayu tidak terbiasa seperti itu, dia berusaha santai dan tidak membuat Pangeran Sanjaya tidak merasa malu karena memiliki isteri yang hanya manusia biasa.
“Lucu sekali”
Mereka semua memperhatikan rombongan pangeran Sanjaya, sementara senopati menyebarkan undagan ketika berada di pasar, memberitahu bahwa nantimalam akan ada perayaan pengangkatan putera mahkota Jayanaga.
"Ben jadi putera mahkota?"
tanya Ayu kepada mas San.
"Iya karen dirasa umurnya pas, dia harus banyak belajar"
sahut mas San.
Ada perasaan bangga kepada Ben, puteranya yang kini beranjak dewasa, Ayu tidak menyangkabahwa dia akan bisa melihat puterany tumbuh besar dan dewasa. Namun itu semua dibarengi rasa sedih, dia banyak melewati masa-masa indah anak-anaknya, seandainya dia tidak meminta kakek Gatma menutup fortal, mungkin dia bisa merasakan anak-anaknya tumbuh melalui Kemuning.
Diistana, semua perayaan di lakukan senopati, panglima dan pengawal lainnya, Ayu dan Tantri hanya bisa bersantai bersama mbok dan ibunda ratu Jayanaga. Sembari menikmati teh teratai yang dibuat oleh dayang istana menjadi favorit sang ibunda Ratu, mereka juga melihat Ben tengah bermain bersama Arjuna di halaman yang luas itu.
"Tidak menyangka ya Ben sudah besar"
__ADS_1
ucap sang ibunda Ratu.
"Iya ibunda ayu juga tidak menyangka, Ben akan tumbuh menjadi pria yang dewasa tampan dan gagah, semoga kelak bisa memimpin dengan baik ya ibunda Ratu"
balas Ayo yang memperhatikan anak-anaknya.
Ayo masih berusaha menutupi rasa sedih, Iya tahu semua memang telah diatur oleh tuhan tapi, sebagai seorang perempuan apalagi seorang ibu tidak dapat menyaksikan anaknya tumbuh besar sedari kecil. Memang akan membuat luka yang mendalam di hati seorang ibu walaupun itu bukan anak kandung sendiri. namun menangis juga tidak ada gunanya, yang harus saya hadapi sekarang adalah menjadi Ibu istri yang baik untuk untuk anak-anak dan suaminya, menjadi menantu yang bisa dibanggakan oleh mertuanya, menjadi putri yang bisa membahagiakan ibunya.
Tantri mengerti apa yang aku pikirkan, dia paham betul ayu tante juga merasakan bahwa ada rasa penyesalan di Hati Ayu begitu dalam, mau anak-anaknya ataupun San dapat memahami apa yang layu rasakan mereka tetap sayang terhadap Ayu dan mencintai Ayu apa adanya. Walau dunia ini begitu kejam memisahkan mereka.
.
.
.
sementara itu Linggar masih berusaha mencari keberadaan Ayu dan Tantri tapi tidak ada yang tahu kemana mereka pergi, bahkan ketika Viona datang untuk menghampirinya dia juga tidak peduli pada Viona, sejenak memang gadis itu sangat cantik tapi karena sikapnya membuat Alingga sangat muak terhadap dirinya yang tidak bisa mengabaikan Viona.
Dia juga heran kenapa Pak Dukun tiba-tiba menghilang sementara, dia belum tahu bagaimana reaksi terhadap Ayu, membuat Alingga bingung. Selama ini mungkin baru kali ini dia berbuat seperti itu karena itu terpaksa dia sangat menginginkan Ayu, karena dia sangat mencintai Ayu. Namun semua hal yang dipaksakan dan dilakukan untuk meraih sesuatu tanpa berusaha, melakukannya secara instan hasilnya pun tidak akan pernah baik.
Namun ambisi Alingga tidak pernah surut untuk mendapatkan Ayu, gadis yang sangat dia inginkan, bahkan sikapnya yang itu pernah ditunjukan kepada Viona, sekali dia mengganggu Ayu,Viona akan berhadapan dengannya, memang saat itu kondisi Alingga yang kuliah, belum lagi kolega ayah Viona yang bisa memasuk kannya bekerja dirumah sakit bergengsi.
Viona tahu tapi dia juga telah terlanjur jatuh cinta kepada Alingga, hanya memang dia ingin mencapai cita-citanya sebagai model, tapi menurut Alingga menjadi calon isterinya harus betah dirumah, tidak boleh meniti karir, Viona sadar akan hal itu, dia sendiri yang memilih masa depannya untuk bisa menjadi wanita karir yang bisa membina rumah tangga yang bahagia.
Meski berharap lebih dari Alingga, Viona tahu bahwa itu semua hanya sia-sia, menjadikan Ayu sebagai acuan Alingga, polos, baik dan bisa dengan mudah menurut, karena wanita yang tidak memilih karir akan fokus ke kekeluarga dan suaminya.
.
.
.
(bersambung)
__ADS_1