
Hari itu Ayu begitu sibuk, Alingga memesan kue untuk ulang tahun sang ibu, dia juga meminta Ayu yang mengantar langsung, di bantu Tantri Ayu menyelesaikan kue yang bertema Opera cake sering dijuluki sebagai kue lapis yang berasal dari Perancis. Kue ini sudah ada sejak abad ke-16 saat kopi mulai diperkenalkan di benua Eropa. Kue ini sebenarnya adalah sponge cake biasa yang diberi lapisan ganacheberlayer yang terbuat dari campuran kopi dan cokelat. Pada bagian atas opera cake disiram dengan cokelat leleh sehingga tampilannya jadi sangat rapi.
Ibu Alingga sangat suka aroma kopi dan coklat yang di campur menjadi satu, di hiasai dengan buah cerry dan bertuliskan selamat ulang tahun ibu, membuat kue ini begitu istimewa, apalagi Alingga pernah bercerita kalau dia menyukai seorang wanita, teman kuliah beda jurusan, sekarang buka bisnis kue.
Setelah selesai Ayu mengemas dan bersiap mengantarkan pesanan Alingga, menggunakan taksi dia pergi menuju rumah Alingga, perjalanan lumayan karena kondisi jalanan yang macet. Di rumah Alingga sendiri tengah berkumpul teman-teman arisan ibunya Alingga.
"Jeng...gimana kalau Linggar di jodohkan sama puteri, anaknya bu Sari"
ucap salah satu teman ibu Alingga.
"Saya sih terserah anaknya, dia lagi deketin teman kuliah dia dulu"
bisik ibu Alingga.
"Sis Mitha, emang udah di kenalin?"
tanya lagi seorang teman.
"Belum sih jeng, dia owner toko kue, ada kan yang kuenya cantik-cantik di medsos itu loh"
sahut ibu Alingga.
Sementara itu Alingga tengah menunggu di depan rumahnya, mungkin hampir 20 menit lebih, sejak Ayu bilang dia terjebak macet. Tidak lama sebuah taksi setop di depan rumahnya, ternyata Ayu telah sampai, membantu Ayu membawakan kue yang berukuran lumayan.
"Kamu udah lama nunggu?"
tanya Ayu.
"Enggak juga, tadi cari angin dulu, ayo masuk"
sahut Alingga.
Mereka pun masuk kerumah yang lumayan besar itu, ayah Alingga telah meninggal dunia 2 tahun lalu, jadi mereka hanya tinggal berdua di rumah tersebut.
Ayu sedikit gugup takut kue yang di buatnya gagal, mengecewakan Alingga.
"Bu..."
Alingga yang menaruh kue di meja pantry.
Sang ibu pun berjalan menghampiri Alingga dan seorang gadis yang mengenakan pakaian dengan warna soft, rambut pendek dengan wajah sayu itu membuat sang ibu tersenyum ramah.
__ADS_1
Pertama kalinya Alingga membawa seorang wanita ke rumah mereka.
"Siapa ini?"
tanya ibu Alingga.
"Ayu, tante"
Ayu bersalaman dan mencium tangan ibu Alingga.
"Panggil aja, ibu Mitha, kamu teman kuliah Linggar?"
"Iya bu, ah ini semoga ibu Mitha suka kue yang saya buat"
ujar Ayu membuka box berisi kue ultah.
Ayu membuka box tersebut, langsung keluar aroma kopi dan coklat menjadi khas kue tersebut, ibu Alingga tersenyum, dia paling suka aroma kopi dan coklat, mengingatkan dia akan almarhum suaminya.
Sambil merayakan mereka pun berbincang-bincang, memperkenalkan Ayu kepada teman-teman arisan ibu Mitha, walau sedikit tidak nyaman, Ayu orang nya yang tidak enakan untuk menolak, hanya bisa menunggu sampai acara arisan itu selesai.
Terkadang, ibu Alingga sangat baik kepada dirinya mengingatkan dirinya akan ibunda San, sangat baik dan ramah, Ayu mengingat mereka sesekali, rindu dan rindu selalu ada dalam sanubarinya, tapi tidak banyak yang dia bisa lakukan, kenapa dia di pertemukan di dunia yang berbeda? kenapa semua berakhir dan membekas di hati yang rapuh ini.
"Sorry ya, lu jadi enggak bisa pulang"
Alingga yang menghampiri Ayu duduk di pinggir kolam.
"Aku kenalin ke ibu kalau kamu orang yang aku suka"
ujar Alingga.
Ayu terdiam, dia saja belum bisa menentukan hatinya, tapi Alingga dengan mantap bilang kepada ibunya kalau dia menyukai Ayu, bingung dia tidak tahu harus bicara apa, Alingga memegang tangannya, lelaki berpostur tinggi tersebut menatap wajah Ayu, seakan dia tidak menerima penolakan dari Ayu.
"Ling, aku ke toilet dulu ya"
ujar Ayu melepaskan genggaman tangan Linggar.
Dia berjalan ke kamar mandi, perasaannya sedikit kacau, di satu sisi dia yang merindukan keluarga kecilnya, di satu sisi Alingga yang sangat baik, terus berada di sisinya, menunggu dan menunggu.
Ayu mencuci wajahnya, dia sendiri tidak tahu apa yang dipikirkannya, Alingga yang nyata benar adanya tidak pernah singgah di hatinya, apa bisa dia mencoba tapi selalu saja rasa takut menghantuinya.
Alingga mesti harus bersabar, dia tahu apa yang Ayu alami tidak akan mudah untuknya membuka hati untuk orang baru, selesainya acara arisan Ayu membantu ibu Mitha membereskan beberapa piring kotor, walau tidak di minta tapi Ayu tidak enak bila tidak ikut membantu.
"Enggaak usah nak Ayu, tolong kasih kan ini ke Linggar ya"
__ADS_1
ibu Mitha yang memberikan secangkir kopi susu yang dibuatnya untuk Alingga.
"Ling,,,,"
"Lantai dua belok kanan,paling pijok kamar Linggar"
sahut bu Mitha tersenyum.
terasa sungkan tapi Ayu terus mengikuti petunjuk dari ibu Alingga, entah kenapa ibunya ingin Ayu yang mengantar secangkir kopi ini ke kamar sang anak, tidak ada rasa takut, bila Linggar berbuat macam-macam.
Tok...tok...
Ayu mengetuk pintu kamar Alingga, sedikit pintunya tidak di kunci.
"Ling..."
ujarnya membuka ppintu kamar Alingga.
Di dapatinya Alingga tertidur sejenak, posisi dia yang tidur mengingatkannya akan mas San yang tidur dengan menaruh satu tangannya di atas kepala dengan kaki yang menyilang.
Ayu pun masuk dan meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja Alingga, Ayu melirik wajah Alingga, dia berharap nantinya Alingga bisa mendapatkan gadis yang lebih dari segalanya dari Ayu, tidak ada yang bis di harapklan dari Ayu.
"Aaarrkkk !!!!"
Ketika Ayu hendak beranjak tangan Alingga menarik Ayu hingga dia terjatuh diatas Alingga, Alingga dapat melihat jelas wajah cantik Ayu, kini kedua tangannya merangkul erat tubuh ramping Ayu.
Deru nafas Ayu yang gugup jelas terdengar oleh Alingga, tidak dapat menahan rasa yang ada di hatinya, Alingga hanya memeluk Ayu, seraya berkata.
"10 menit saja, biarkan begini"
ujarnya kemudianmengangkat tubuh Ayu merebahkan nya di sampingnya, masih memluk Ayu, Alingga memejamkan matanya sejenak.
Berharap Ayu akan membalas rasa Alingga, dia tidak bisa melupakan atau membuat hatinya tenang bila tentang Ayu, Alingga tidak mengatakan bahwa dia memikirkan Ayu terus-menerus. Tetapi, Alingga tidak dapat menyangkal fakta bahwa setiap kali pikirannya mengembara, selalu menemukan jalan kembali kepada Ayu dan Ayu.
Hanya dengan melihat Ayu tersenyum Alingga sudah sangat bahagia, membuat tenang hatinya, walau Ayu belum bisa menerima dirinya,tapi dia yakin dengan ketulusan yang di milikinya Ayu akan luluh,walau tidak sekarang.
Tidak terasa Ayu maah tertidur dalampelukan Alingga, lelah dan capek, sebuah pelukan yang di rindukannya, membuatnya tenang dan nyamaan, sejenak melupakan rasa rindunya akan ma San.
.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)