
San telah menyiapkan beberapa orang untuk menunggu Tantri dan Ayu di depan gerbang, dia juga memanggil empu gatma, sebagai tabib yang bisa mengobati kondisi Ayu, karena San melihat Kemuning sepertidi bakar oleh sesuatu, padahal malamnya Ayu terlihat baik-baik saja.
Tantri yang menemukanbukit yang di maksud, perjalanan mereka cukup memakan waktu, dia tidak tega melihat Ayu merintih dan bilang kalau tubuhnya kepanasan. Ayu semakin terlihat lemah, wajahnya pucat, penuh keringat, Tantri tidak merasakan apa yang Ayu rasakan, tapi dia tidak akan sanggup melihatnya menderita.
Sesampainya di danauyang dimaksud, Tantri hanya mengikuti arahan dariSan, sesampainya mereka disana, dia harus mencari batu yang bersusunan acak dibalik bukit tepat di belakang danau, dari arah masuk Tantri harus menggendong Ayu di pundaknya, perjalanan menuju bukit hampir 1jam, tidak ada akses untuk mobil atau sarana trasnportasi bisa masuk ke sana.
San juga tengah menunggu dibalik gerbang yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa, (bisanya pake rasengan, becanda). Beberapa pengawal juga telah bersiap dengan kereta kencaan yang di tarik oleh kuda kebanggaan kerajaan Jayanaga.
Tantri penuh perjuangan membawa Ayu, sempat bergantian dengan supir taksi yang di bayarnya untuk menggendong Ayu, diasendiri tidaktahu harus berbuat apa, setidaknya dia percaya Ayu akan sembuh.
Padang ilalang mnjulang tinggi,hanya terdapat jalan setapak, hari inisedikit terik yang membuat Tantri cepat kelelahan, si supir juga bingung sebenarnya Tantri hendak membawa temannya kemana? tidak di bawa kerumnah sakit, malah di bawa ketengah hutan.
"Mbak....mbak enggak berniat buang mbak ini kan?"
tanya pak supir yang mulai kelelahan.
"Bapak jangan ngaco deh, teman saya sakit medis"
sentak Tantri yang kesal, diajuga merogoh kocek yang besar untuk meminta sibapak supir mengantarnya.
Tantri yang berhasil menaiki bukit itu kemudian melihat ke sebuah pepohonan yang rimbun, terdapat beberapa batu,seperti sebuah reruntuhan, tidak lama adaangin yang berhembus di balik sebuah pohonbesar, tepat disebelahnya reruntuhan batu tersebut tersusun seperti jalan di balik pohon besar.
"ketemu"
akhirnya dia menemukan gerbang yng dimaksud San.
Walau ada rasa ragu tapi sekarang bukan waktu yang tepat, dia harus bisa membawa Ayu masuk ke sana, memberikan waktu untuk San mebyembuhkan Ayu.
"Sudah pak sampai disini aja, ini"
Tantri yang memberikan sejumlah uang banyak.
"Makasih ya mbak"
ujar si bapak yang kemudian menghitung uang tersebut.
Tantri yang menggendong Ayu berjalan masuk di antara batu dan pohon, si bapak yang supir yang asik menghitung duit tidak memperhatikan Tantri dan Ayu yang menghilang di balik pohon besar.
"Mbak ini Kebann...yakan"
ujarnya yang menoleh tapi tidak menemukan Tantri.
Perasaan baru sebentar tapi dia sudah tidak terlihat, si bapak pun segera berlari ke mobilnya takutnya, yang di temuinya bukanlah manusia.
Tantri yang menggendong Ayu masuk ke sebuah gerbang yang dilihat hanya batang pohon yang biasa, tapi ternyata gerbang untuk menuju sebuah dunia lain.
__ADS_1
Dia terus berjalan sekitar 10 menit Tantri seperti mendengar suara kuda, tapi dia hanya melihat cahaya terang di balik pepohonan itu, saking terangnya, Tantri terasa silau hingga menaruh tangannya di atas matanya.
Benar saja, Tantri melihat banyak orang berpakaian seperti zaman majapahit, berjejer duduk di atas kuda, San kemudian yang berpakaian bak pangeran menghampiri Tantri dan menggendong Ayu.
Tantri masih saja tidak percaya, dia terus mengikuti San yang menggendong Ayu menuji kereta kuda, seperti kereta kencana tang ada di keraton Yogyakarta.
Tantri masih tampak kaget, dia hanya celingak celinguk, ini benaran dunia yang Ayu datangi? San beneran seorang pangeran? iring-iringan mereka kemudian lanjut menuju istana Jayanaga, Tantri juga tidak berani melihat ke arah San, dia tampak hagah dan tampan dengan jubah hijau tua yang di kenakannya.
"Pantes Ayu enggak bisa move on?"
kata Tantri menggelitik di hatinya.
Ayu tertidur lemas di pelukan San, Tantri terharu akan kisah mereka, bahagia walau dunia ini terpisah.
"Sebenarnya Ayu kenapa?"
tanya Tantri serius.
"Harusnya kamu tanya kan kepada tabib itu?"
"Tabib? maksud kamu dokter"
Tantrilangung teringat akan Alingga, kemarin dia sempat bertanya tentang San yang tidak ada di tempat, tepat hari itu dia juga menggambil sesuatu di bantal Ayu, rambut Ayu yang rontok di masukan ke kantongnya, berbekal foto dan rambut Alingga yang pergi ke suatu tempat lumayan jauh.
Alingga memakai magic untuk membuat Ayu cinta kepada Alingga, namun si dukun kesusahan karena dalam diri Ayu ada Kemuning yang menjaga, agar dia bisa melancarkan aksinya, dia bharus membakar Kemuning agar sirna, yang akan juga berimbas kepada Ayu.
San bisa saja membalas langsung kepada Alingga,tapi sekarang bukan itu, dia harus bisa menolong Ayu dan Kemuning, kalau dia menyampingkan ego untuk tetap membalas dendam, Ayu atau Kemuning bisa saja tidak tertolong.
Sekarang dia menghalalkan segala cara untuk dirinya sendiri, bukan lelaki jantan yang tidak bia menarima kekalahannya.
Tidak lama mereka memasuki sebuah gerbang, gapura seperti pure yang menjulang tinggi, berjejer, Tantritidak percaya sekarang dia berada di istana yang Ayu sering ceritakaan, dia tidak halu seperti yang biasa ornag bilang, Ayu benar isteri San, permaisuri dari seorang pangeran. mMereka pun memasuki sebuah gerbang istana yang besar, halaman yang sangat lua setelah itu Tantri dapat melihat sebuah istana yang megah, bangunan yang semua terbuat dari batu marmer terlihat megah dengan warna putih dan gold.
Kedatangan mereka di sambut oleh beberapa dayang yang berbaris menyambut, tidak ketinggalan paman Wirakha juga berada di sana, San yang turundengan menggendong Ayu segera membawa masuk ke kamar mereka, disusul oleh Tantri dibelakang, hal pertama yang dilihatnya ketika masuk adalah singgasana yang ukirannya berwarna terang keemasan, dia terus melihat arsitektur bangunan yang tidak nampak seperti istana zaman majapahit, ini lebih moderen, istana cukup luas berlantai dua, masuk ke dlaam sana seakan terang menyilaukan,smeua perabot berlapis emas.
Kemuning benar-benar dalam kondisi yang sangat lemah, dengan badan yang masih terbakar, dengan cepat pula empu Gatma masuk ke kamar dan mengobati Kemuning, sementara Tantri hanya menunggu di depan kamar, diajuga berkenalan dengan mbok, ibunda Kemuning yang sangat baik, dari beliau Ayu merasakan kasih sayang seorang ibu yang benar-benar tulus.
"Nak Tantri, ayok saya duduk dulu, kamu tidak boleh sakit, yakin saja Kemuning bisa sembuh"
ujar mbok yang menuntun Tantri duduk di sebuah ruang bersantai diistana besar itu. Tantri hanya memeluk si mbok dan menangis, dia hanya ingin sahabatnya baik-baik saja, tidak akan terluka.
"Wes,,,Ning itu kuat,kamu nda usah sedih"
mbok yang mengelus kepala Tantri, tidak lama ibunda San datang bersama cucunya, Arjuna dan Ben, mereka juga khawatir akan kondisi Ayu.
"bagaimana mbok?"
tanya ibunda San.
__ADS_1
"Masih di obati ndoro..."
"Semoga Ning tidak apa-apa"
kemudian ibunda San melirik Tantri, dia bertanyta-tanya siapa gadis ini.
"Maaf perkenalkan nama saya Tantri, saya temannya Ayu"
ujar Tantri yang memberi salam, mengikuti seperti difilm-film.
"Iya,,,,saya Ratih, ibunda pangeran Sanjaya, bersantai lah, saya mau ke kamar dulu"
"Baik ibunda ratu"
refleks Tantri menyebutkan kata itu.
"Ini Arjuna dan Ben?"
tanya Tantri.
"Iya benar, beri salam Ben kepada bibi Tantri"
"Salam bi, nama saya Ben"
"Ganteng-ganteng banget sih kepnakan bibi"
ucap Tantri.
"Iya sudah mbok, saya bawa anak-anak ke kamar saya"
"Ngeh ndoro"
sahut mbok.
Pantas saja Ayu sangat antusias jika membahas San dan anak-anaknya, apa yang ku pikir selama ini? Ayu bukan cewek aneh, dia bahagia disini, banyakorang yang sayang dan peduli kepadanya. ucap batin Tantri yang merasa terharu.
.
.
.
(Bersambung)
Buat para Author yang mau novelnya mau di buatkan vidio visual untuk promo di FB atau IG bisa cek Instagram teman aku, dia enggak minta bayaran, seikhlas kalian aja kasih hadiah dikarya dia "Persahabatan Dunia Lain" Sebagai tanda terimakasih.
__ADS_1
Udah banyak yang di buatin Vidio visual, ayo gas keun buat kalian.