Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
Pertempuran_01


__ADS_3


Pagi pun tiba, sinar pagi yang masih samar-samar naik menandakan prajurit Sangkapura bersiap berangkat ke Jayanaga.


Treeettt....treeettt...treeettt...


Suara terompet yang menandakan para prajurit bersiap berangkat ke Jayanaga.



Bagi rakyat dan kerajaan Jayanaga tidak ada firasat akan adanya peperangan. Pagi mereka lalui seperti biasa, aktivitas pada umumnya di lakukan orang-orang berkebun dan berdagang. Bahkan raja Surapha tidak menyangka bahwa kerajaan Sangkapura akan melakukan penyerangan.


Pasukan dengan membawa tombak dan perisai berbaris paling depan di ikuti beberapa pati dengan menunggangi kuda di ikuti sang raja yang berbaris di tengah.


Mungkin jumlah pasukannya lebih dari 200 prajurit, beberapa juga mempersiapkan anak panah, untuk bisa menembus wilayah Jayanaga mereka menyerang dari sisi barat yang berjarak 60km dari Sangkapura.


Sisi paling lemah dari kerajaan Jayanaga, semua berjalan tidak ada kata berhenti untuk sang prajurit, mereka terus melajukan langkahnya agar tidak kemalaman sampai di Jayanaga. Target utama adalah puteri Kirana yang akan di culik terlebih dahulu.


......💞💞💞......


(pagi di kerajaan Jayanaga)


Kemuning yang akan bersiap ikut sarapan bersama sudah membaik, dirinya tidak merasa pusing lagi kalau benar dirinya hamil kembali, kenapa dia tidak seperti puteri Kirana yang mual-mual, Kemuning sendiri tidak tidak berharap banyak, takut akan keguguran itu selalu ada di pikirannya.


"Ning...kamu sudah baikan?"


tanya ibunda ratu


"Sudah ibunda..."


"Kamu tidak merasa mual?"


tanya Kirana penasaran.


"Tidak puteri, aku sendiri juga heran"


"Tidak apa-apa, setiap wanita hamil berbeda-beda Ning"


sahut sang ibunda.


"Iya ibunda..."


Pagi ini Rendra tidak ikut sarapan bersama, mereka pun sarapan dengan hikmat, pagi ini hanya mereka bertiga dan Bima yang ikut Sarapan. Sedangkan sang raja sangat sibuk mengurus beberapa hal di kerajaannya.


Pangeran Rendra yang terus sibuk berlatih akhirnya selesai dan bersiap mandi karena badannya penuh dengan keringat, Kirana yang kesibukannya tidak hanya menjaga Bima dia juga tengah menyulam, hobi yang sangat dia gemari.


Pangeran Renda yang masuk melihat Kirana yang sedang menyulam, di tambah perut dia yang kian membesar menambah aura kecantikannya, Rendra terdiam menatap sang isteri namun perasaan itu kembali di tepis ketika dirinya mengetahui Kirana tidak pernah mencintai dirinya.


"Kakanda..."


"Aku hanya mengambil beberapa pakaian"


ucap Rendra.


"Bramasena ...nama lelaki yang ingin kau ketahui, yang berada di hati ku"


jelas Kirana.


"Tapi sekarang aku menjalani kehidupan ku bersama dengan mu, aku bahkan mengandung..."


"Tapi aku melakukannya dengan memaksa dirimu, bukan karena kau mencintai ku"


ucap Rendra yang semakin kesal.


Rendra tidak memahami apa yang Kirana rasakan untuk dirinya, mendengar hal itu, Kirana hanya bisa terdiam dan membiarkan rasa Rendra seperti itu, Kirana kembali ke pikirannya untuk kembali ke Amartha, membesarkan anak-anaknya.


"Bersabarlah nak...kita akan bahagia nanti"

__ADS_1


kata Kirana mengelus perut nya yang telah masuk bulan ke-6.


Kemuning hanya berdiam diri di kamarnya, dia tidak ingin bertemu dengan pangeran Rendra, bahkan dia malas sekali untuk menyulam, dirinya hanya merebahkan badannya yang tampak capek, terkadang perut bawah sebelah kiri terasa keram dan sakit.


Tidak nafsu makan, sarapan saja hanya beberapa suapan sudah membuat Kemuning kenyang. Dia teramat sangat merindukan Sanjaya.


Apakah setelah pulang, mas sudah tidak marah lagi?


gumam batin Kemuning.


......💞💞💞......


Tidak sampai sore prajurit dari Sangkapura telah tiba, mereka merencanakan penyerangan dengam segera, penjagaan bagian barat tidak begitu ketat. Sangat mudah untuk Daryadana menerobos masuk.


Salah seorang pati yang berada di atas kuda membidik seorang pengawal penjaga gerbang.


Slassh !!!


anak panah itu menembus leher seorang pengawal, pengawal yang lain kaget dan membunyikan alaram tentang ada penyusup menyerang berupa suara ketokan dari bambu.


tok...tok...tok...tok...tok..!!!


namun baru juga beberapa kali membunyikan pengawal tersebut juga meregang nyawa, tepat di jantung nya anak panah menembus.


Pengawal yang lain pun meminta bantuan ke prajurit yang lain dan bersiap memanah para tentara Sangkapura. Mendengar peringatan tersebut raja Surapha keluar dari kediamannya dan bergegas memanggil prajurit.


"Ada apa?"


tanya raja Surapha.


"Kita di serang kerajaan Sangkapura paduka"


"Kirim 1 orang untuk memanggil Sanjaya dan senopati pulang, amankan ratu dan yang lainnya"


jelas paduka raja.


Suara itu juga terdengar oleh semua penghuni istana, termasuk puteri Kemuning.


sahut Rendra yang baru juga selesai berganti pakaian.


"Kumpulkan semua pasukan, kau ikut ayah menahan Sangkapura masuk"


ucap sang raja.


Beberapa dayang mulai menjaga puteri Kemuning, Kirana bahkan sang ratu.


"Ada apa?"


tanya Kemuning yang membuka pintu kamarnya.


"Ada yang menerobos masuk puteri, sebaiknya puteri jangan keluar kami akan berjaga disini"


ucap sang dayang.


Begitu pula dengan puteri Kirana, dayang yang lain juga menjaganya beserta Bima. Kemuning dan Kirana berharap tidak akan terjadi apa-apa.


Para prajurit Sangkapura mulai kembali menyerang kali ini mereka menyiapkan senjata untuk menerobos gerbang barat kerajaan Jayanaga. Semua prajurit Jayanaga berusaha menahan, hanya jumlah mereka yang terlalu banyak membuat prajurit Jayanaga terpaksa mundur ke gerbang dua.


Kali ini gerbang pertama telah di terobos masuk, sang raja Surapha dan pangeran Rendra datang mereka bahkan telah siap mengenakan pakaian jirah dan senjata andalan mereka.


"Mau apa kau Daryadana?"


teriak sang raja yang murka.


"Hari ini, kau akan membayar rasa malu ku karena kau usir"


balas Daryadana.

__ADS_1


"Serang...."


teriak Daryadana


Sentak semua prajurit teriak "Maju......."


Yang di depan mengusungkan tombak, prajurit Jayanaga cukup kewalahan, di ikuti sang raja juga turun tangan untuk menumpas para prajurit Sangkapura bersama Rendra.



( Raja Surapha)



(Pangeran Rendra)


Zark...zark...


Tring...trang...


Suara gesekan benda tajam yang dihumus kan sang raja dan Rendra.


Daryadana hanya melihat dari atas kudanya, dia kemudian menatap kepada patih untuk memberi isyarat menyelinap masuk ke dalam istana untuk menculik puteri Kirana.


Patih itu memang ahli dalam menyelinap, dengan sigap dia langsung berlari kearah timur dan mulai menyelinap masuk dari atas.


Raja Surapha dan Rendra tidak mengetahui, mereka terlalu fokus pada pertempuran yang di lakukan Daryadana, sampai raja surapha berhasil melewati semua prajurit dan hendak menyerang Daryadana.


Daryadana dengan sigap melompat dari atas kudanya, tendangan dengan tenaga dalamnya mendorong kuat dada raja Surapha hingga mulut beliau mengeluarkan darah.


"Ayah...."


teriak pangeran Rendra


Melihat itu Rendra mengayunkan pedangnya, dengan santai Daryadana bisa menghindar, bahkan ilmu Rendra tidak sebanding dengan kekuatan Daryadana. Menggunakan tangan kosong, Daryadana mendapuk mundur Rendra dengan memberikan pukulan tenaga dalam di area perut Rendra bernasib sama dengan sang ayah.


"Huk...hukkk"


Rendra yang batuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya.


Namun para prajurit tidak tinggal diam, mereka menyerang Daryadana dengan serempak namun baru juga bergerak selangkah para prajurit tersebut jatuh tidak berdaya.


"Cepat sekali perkembangan ilmunya?"


gumam sang raja.


Beralih ke pati yang berhasil menyusup masuk ke dalam istana untuk menculik puteri Kirana, sialnya sang pati tidak ingat bagaimana wajah puteri Kirana.


Sang pati mengendap-mengendap masuk ke dalam istana hendak masuk ke dalam sebuah kamar, dengan senjata kecil yang tajam dia hanya melentikkan jari, pengawal dan dayang yang berjaga seketika tewas.


"Aarrkkk"


suara dayang yang berjaga di depan pintu Kemuning.


Mendengar hal itu Kemuning kaget, dirinya bersembunyi dimana juga tidak tahu, dia tidak pernah mengalami hak seperti ini sebelumnya.


Gubbraaakk !!!


Pati itu mendobrak pintu kamar Kemuning.


"Siapa kau...mau apa?"


teriak Kemuning yang mengusungkan beberapa benda yang akan di lemparnya.


Prakkk...!!!


Kemuning melempar vas bunga yang berada di meja, namun sang pati dengan mudah menghindar dan memberikan pukulan di pundak Kemuning dan membuat Kemuning pingsan.

__ADS_1


......💞💞💞......



__ADS_2