
Cerita sebelumnya.
Arya terus memikirkannya, tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan San dan Ayu, sejak saat itu juga Arya memiliki rasa aneh kepada Ayu, entah seperti rasa bersalah atau apa, namun Arya tidak bisa berdiam diri menunggu jawaban akan teka-teki ini.
"Bun...sibuk enggak, boleh kita ketemuan besok?"
Arya yang berbicara kepada seseorang melalui telepon genggamnya.
.
.
.
Ayu terbaring di kasur empuk, matanya perlahan terpejam, dirinya seakan berteleportasi waktu, berpindah tempat, kali ini dirinya kembali menjadi Kemuning, gadis yang tengah sibuk menyendiri di tepian sungai, termenung menunggu seseorang.
Air sungai yang terus mengalir tanpa tahu dimana akan berhenti, mungkin seperti itulah isi hati Kemuning, Ayu merasakan sakit di dadanya, penantian yang tidak berujung, namun semua itu berubah ketika Ayu bertemu dengan San.
San yang tersenyum menatap Ayu, membuat Ayu langsung membuka matanya, tepat di hadapannya San berbaring menatap Ayu. Cukup lama mereka saling memandang, San mulai memberanikan dirinya untuk mengelus rambut panjang Ayu.
"Kenapa bangun?"
tanya San sambil mengelus lembut rambut Ayu.
"Benar...rasa hati ku berdebar kencang, bukan hanya di mimpi tapi saat berada di sampingnya, hati ku merasa sesak, degub kencang nya membuat aku seakan mau menangis, menanti kerinduan kepada mas San"
gumam hati Ayu yang masih menatap San.
"Kamu mimpi buruk lagi?"
tanya San kembali.
"Aku boleh peluk kamu?"
Ayu yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
San terdiam, dengan senyum bahagia San melebarkan tangannya, memberikan tanda agar Ayu segera mendekap ke pelukannya, Ayu menyambut dengan rasa senang, saking senangnya dia meneteskan air mata.
"Kamu sibuk banget ya?tiba-tiba aku merindukan kamu"
ucap Ayu yang merasa tenang di pelukan San.
"Maaf ya dek"
San terus memeluk erat Ayu.
"Mas tidak ingin membuat mu tidak nyaman, mas tahu kamu tidak memiliki perasaan seperti mas kepada mu, mas hanya bagian masa lalu yang tidak pernah kamu tahu"
tambah san.
"Mas...aku benar tidak ingat siapa aku sebelumnya, aku adalah Ayu, anak yang di tinggal oleh kedua orang tua ku, satu-satunya teman yang ku punya adalah Deska, tapi aku ingin mengenal mu lebih, sebagai Ayu, bukan gadis yang dulu mas cintai"
Ayu yang mengucapkan hal tersebut dengan lancar.
Ayu hanya mencoba mengikuti kata hatinya, siapa pun San, bagaimana pun dia, Ayu telah memilihnya, Ayu yang membuka jarak itu semakin dekat, benar saja, hati nya jauh lebih tenang setelah mengucapkan hal tersebut.
Ayu kembali tertidur dalam pelukan San, begitu pun dengan San, walau sebenarnya san tertidur hanya sebentar, terus berada di samping dan memeluk Ayu membuatnya sangat nyaman.
.
.
.
Matahari pun mulai muncul, sedikit demi sedikit cahaya terangnya mulai menyinari bumi, sedikit sinar menyelinap masuk ke dalam kamar San, Ayu yang masih tertidur pulas seorang diri tanpa di temani san.
Seperti biasanya San selalu sibuk di kala pagi, beberapa berkas dan pekerjaan yang ayahnya titipkan kepada dirinya, dia hanya bertemu sang Ayah ketika sarapan.
"Bagaimana, kamu sudah pikirkan untuk menikah?"
tanya sang ibunda kepada San.
"Belum ibunda, setelah waktunya tepat aku akan menikah"
jawab San sambil menikmati sarapan.
"Sampaikan salam ayah kepada gadis itu"
ucap ayah San yang telah selesai sarapan dan bergegas pergi bersama sang ibunda.
"Bunda dan ayah pergi dulu."
"Iya ibunda, hati-hati"
ucap San berpamitan kepada orangtua nya.
Selepas orang tuanya berangkat, San mengambilkan beberapa makanan dan segelas susu hangat untuk Ayu.
Perlahan masuk ke dalam kamar, San meletakan sarapan di meja yang berada di samping ranjangnya, mengelus lembut rambut Ayu seraya mengecup kening gadis berzodiak pisces tersebut.
"Pagi dek...mas bawain sarapan buat kamu"
__ADS_1
bisik San membuat Ayu sedikit tersadar dan membuka kan matanya.
"Ternyata itu adalah San, pria yang selalu aku nantikan"
ucap batin Ayu, mata yang masih menatap kepada San.
Seakan baru bertemu, Ayu merasa sangat senang bisa melihat San pagi ini, bahkan ada rasa di hatinya untuk terus berada di samping pria yang berhasil membuat jantungnya berdegub kencang.
"Mas bawain kamu sarapan"
ucap San duduk di samping Ayu.
"Makasih ya mas"
seru Ayu yang hendak mengikat rambutnya yang terurai.
Ayu duduk sambil menikmati sarapan paginya, San hanya menatap sang gadis makan dengan lahapnya. Ayu yang sebelumnya tidak pernah begitu merasa salah tingkah, seperti bukan dirinya, bahkan merasa malu ketika sedang makan malah di perhatikan pria yang kita suka.
...πΈπΈπΈ...
Di lain tempat Arya janji bertemu dengan seorang teman, bisa di bilang teman ketika waktu dia kuliah, Buna, cowok berparas brewok dengan mengenakan pakaian serba hitam, telah memiliki seorang isteri yang se frekuensi dengan Buna.
Arya menceritakan sebab awal mula dirinya bisa melihat sosok Ayu di waktu yang bersamaan, dunia sekarang dan pada masa lalu, di diamkan tapi selalu terlintas, mau bertanya kepada Ayu takut di sangka aneh, mungkin dengan cerita ke Buna dan isterinya bisa membantu meringankan, apa yang ada di kepalanya.
"Ayu adalah gadis dari masa lalu mu, dekat sekali"
ucap isteri Buna bernama Maria.
"Dekat??? bukan pacaran kan maksudnya?"
tanya Arya penasaran.
"Bisa saja, aku melihat sebuah ketulusan namun berkahir dengan air mata"
tambah Maria.
"Kalau pun pacaran itu kan masa lalu Ya, hati mu bagaimana?"
tanya Buna.
"Hati ku...."
ucap Arya kemudian terdiam.
"Benar, aku merasa nyaman sewaktu-waktu kepada Ayu, tapi berusaha apapun aku tidak berani mencoba mendekati Ayu, takut nanti nya akan membuat luka untuk Ayu, rasa bersalah yang kurasa selama ini, apa ini jawabannya?"
batin Arya berbicara, entah bagaimana menjelaskan, Bella yang selalu ada di hati Arya, walau hubungan Arya dan Ayu dekat, tetap saja Ayu hanya lah teman di matanya.
"Kuncinya, bila kamu dapat melihat masa lalu orang tersebut berarti kamu ada di kehidupan lampau orang tersebut, kalian terikat tapi tidak menyadari, bahkan di masa sekarang kalian berteman akrab"
"Apa aku juga harus menanyakan ini kepada Ayu?"
tanya Arya yang masih bingung, tidak dapat di terima dengan nalarnya.
"Sekalian saja ajak kemari Ya"
celetuk Buna.
"Baiklah, nanti aku akan cari waktu yang tepat."
"Bella sendiri bagaimana? kapan kalian akan menikah?"
Buna yang bertanya kepada Arya.
"Bulan depan Bella akan pulang, dia masih ingin mengejar karir nya"
jawab Arya.
Percakapan meraka terus berlangsung, samai tidak menyadari waktu telah menunjukan pukul 06.00 sore. Bermaksud untuk bertemu dengan Ayu, tapi Arya memilih untuk kembali kerumahnya.
.
.
.
Selama perjalanan pulang, Ayu hanya terdiam, dia juga bingung hendak bicara seperti apa kepada San, terakhir dirinya menjalin cinta sewaktu dirinya tengah duduk di bangku SMA itu hanya berlangsung 1 tahun, karena latar belakang Ayu, orang tua kekasihnya meminta Ayu agar berhenti pacaran dengan anaknya.
Walau Ayu sendiri tidak tahu di mana letak salahnya, anak yang besar tanpa orang tua di anggap hina dan hanya akan berakhir di jalanan. Saat itu masih sangat muda untuk dirinya memperjuangkan kisah cintanya, untuk kesekian kali dirinya merasakan sesuatu setelah bertemu dengan Arya, diam-diam menyukai pria yang ternyata telah berpacaran lama dengan Bella.
Ayu harus menerima kenyataan, dirinya hanya teman dan tidak akan berubah menjadi hal indah, Ayu terus menutup dirinya dan hatinya, sudah cukup untuk dirinya terluka akan semua hal, dia bahkan membayangkan ketika dirinya bertemu dengan San di alam nyata.
Walau awalnya dirinya tidak berharap itu nyata, setidaknya di mimpinya pria itu tulus benar-benar mencintainya, tidak peduli siapa dan bagaimana dirinya, si pria yang bernama San datang dan perlahan masuk melalui celah di hatinya.
"Mas boleh tanya sesuatu???"
"Silahkan mas.."
sahut Ayu.
"Kamu yakin mau menjalani ini semua sama mas?"
"Iya mas, kenapa? mas ragu karena awalnya aku menolak mas?"
__ADS_1
Ayu balik bertanya.
"Mas hanya ingin kamu tahu, siapapun kamu mas sayang kamu dek, mas hanya takut nantinya kamu akan menjauh ketika tahu siapa mas sebenarnya."
jelas San yang menggenggam tangan Ayu.
Sedangkan paman melirik dari kaca spion dalam mobil, tidak bermaksud menguping tapi keadaan membuatnya mendengar percakapan San dan Ayu.
"Kalau begitu beritahu aku segalanya..."
sahut kembali Ayu.
"Secepatnya...kamu akan tahu dek."
Ayu hanya bisa memendam rasa penasarannya, kenapa San tidak berterus terang saja walau Ayu sudah menjelaskan perasaannya yang sebenarnya. Sesampainya di kot Ayu bergegas masuk dan San kembali ke istana nya, Deska yang telah menunggu dirinya di kamar kost Ayu, terlihat kesal, sahabatnya kini berubah, seakan ada hal yang tidak bisa di ceritakan kepada dirinya.
"Udah lama Des...?"
tanya ayu yang baru masuk ke dalam kamar kostnya.
"Menurut lu? lu ada apa sih Yu? lu tiba-tiba menghilang, HP lu mati, lu tahub gue khawatir sama lu"
sentak Deska kesal.
"Maaf ya Des, gue mau cerita dari mana? gue sendiri aja bingung?"
jelas Ayu.
"Lu cerita aja, gue bisa paham kok Yu, dari pada kek gini, gue kayak orang gila nyariin lu."
Ayu pun memulai ceritanya, dirinya juga bingung bagaimana ini bisa dialaminya. Dejavu atau lebih tepatnya Ayu adalah gadis yang terlahir kembali ke dunia ini. Beberapa fakta yang di baca Ayu di internet bahwa dirinya adalah sebuah Reinkarnasi.
Reinkarnasi sendiri adalah titisan sebuah kepercayaan yang mengatakan bahwa kita yang meninggal akan terlahir kembali di kehidupan mendatang, tidak semua orang ingat akan masa lalu sebelum terlahir, Ayu sendiri mulai mengingat ketika dirinya bertemu dengan Arya, setelah itu dirinya mengingat Arya yang selalu tersenyum kepadanya, tapi ada orang lain yang selalu menggenggam tangannya, tangan yang hangat, aroma tubuhnya yang paling melekat ketika Ayu memeluknya.
Setelah mendengar perkataan Ayu, Deska mulai mengerti apa yang Tantri katakan tentang Ayu, dia bukan gadis biasa, "sebuah kelebihan yang tidak di sadarinya akan merubah hidupnya."
"Perasaan lu sendiri bagaimana ke San?"
tanya Deska.
"Awalnya agak aneh kan, pertama ketemu langsung di ajak merried, tapi belakangan gue ngerasa nyaman sama dia, gue bahkan bilang ke dia, gue sayang dia sebagai diri gue Ayu"
jawab Ayu.
"Serius lu? terus dia nge jawab apa Yu?"Deska yang masih penasaran terus bertanya.
"Dia jawab apa gue yakin mau ngejalani ini sama dia? dia takut gue akan pergi meninggalkannya ketika gue tahu siapa dia sebenarnya"
ucap Ayu sedikit sedih.
"Gue minta dia berterus terang tapi dia cuman jawab nanti gue bakal tahu secepatnya, gue merasa kayaknya enggak ada yang berjalan lancar di hidup gue Des."
"Enggak Yu, dia pasti bakal kasih tahu lu yang sebenarnya, lu sabar ya"
peluk Deska menenangkan Ayu.
...πΈπΈπΈ...
Malam itu San tidak bisa tertidur, ya walau sebenarnya mereka mahkluk yang tidak begitu membutuhkan tidur bahkan mereka juga perlu bolak balik ke toilet seperti manusia pada umunya. Semua yang keluar berupa energi fisik, kekuatan yang besar akan memakan semua energi yang mereka miliki, ketiak San mulai menggunakan kekuatannya, semua energinya terkuras, semakin lemah dirinya maka bagian tubuh tertentu akan berubah.
Mungkin karena sudah takdir dirinya menjalankan keabadian, maka inilah resiko yang di tempuh oleh San bahkan seluruh orang di kerajaan termasuk orang tuanya.
San sendiri juga bisa hadir ke kamar Ayu hanya dengan berteleportasi, mungkin hanya sesekali karena bila terlalu sering dia menggunakannya maka resiko dirinya akan berubah.
Sedangkan Ayu terlelap tidur, kembali masuk ke alam mimpinya, kali ini dia mengingat kalau dirinya tengah mengenakan pakaian kemben dan beberapa penari tengah asyik menari di depan dirinya.
Dia yang duduk berdampingan dengan San, merasa heran sedang apa kiranya, acara itu begitu ramai, Ayu bahkan melihat Orang tua San tersenyum bahagia melihat anaknya dengan gagak duduk di sebuah bangku panjang.
Seperti raja dan ratu, Ayu menyadari bahwa ini acara pernikahan dirinya dengan San, Ayu bahkan menatap wajah San yang tersenyum, tangannya dengan lembut menggenggam tangan Ayu.
Selepas acara San menggendong tubuh Ayu masuk ke dalam kamar San, kamar yang sangat luas dengan ranjang besar.
Di mimpi tersebut San tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum kepada Ayu, seraya melepaskan pakaian Ayu, perlahan San mengecup pundak Ayu dari depan, kecupan San berjalan sampai ke leher, Ayu hanya bisa terdiam menahan sesuatu, detak jantungnya tidak beraturan, dia terus menelan air liurnya sendiri, merasa gugup, San dengan santai terus melancarkan aksinya, bibir lembutnya kini telah berada di bibir Ayu, tangan San perlahan melepaskan pakaian yang Ayu kenakan.
Sampai akhirnya tubuh Ayu di rebahkan oleh San, Ayu yang kaget pun terbangun dari mimpinya, wajah nya memerah dengan penuh keringat, Ayu terduduk diam, jantungnya masih berdegub kencang, matanya menatap kepada AC yang memang mati, perlahan dia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukanya.
"Kenapa sih aku terus mimpin dia? dia bahkan saja ragu?"
ucap batin Ayu sedikit kesal.
Ayu terdiam menatap dirinya di cermin kamar mandinya, tangannya perlahan memegang bibir nya, masih terasa bibir San yang dengan lembut menyentuh bibirnya.
"Mimpi kok kayak nyata ya? duh gila nih lama-lama gue"
celetuk batin Ayu yang kembali melanjutkan tidurnya.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih yang sudah baca, maaf aku baru bisa nulis kembali, karena kondisi dan juga aku sibuk, maaf ya !!!
Mohon maaf lahir batin ya π
(masih suasana lebaran π)
__ADS_1