
...🌸🌸🌸...
Pak Wicaksono melajukan mobil yang disewanya, dia pergi ke selatan, dimana dia mendapatkan info tentang anaknya, 5 jam perjalanan, masuk keluar dusun yang di lalui nya sampailah dia di sebuah penampungan atau panti, Karla di temukan di tempat tidak jauh dari panti, dengan kondisi Karla mengalami gangguan jiwa.
Bahkan untuk mengenali sang ayah saja Karla tidak ingat, sedangkan Rico belum di temukan, sang ayah pun segera membawa sang puteri pulang, dia yang melihat kondisi sang puteri sangat tragis, merasa marah dan berniat akan membalas dendam atas yang terjadi kepada Karla puterinya.
di lain tempat yang jaraknya mungkin puluhan kilo meter, Rico yang tubuhnya di penuhi penyakit kulit ini berjalan seperti orang gila, dia baru tersadar dia rebahan di pinggir jalan raya, pengawal San memang membuangnya jauh, sebagian ingatan dia hilang.
Terus berjalan entah kemana tujuannya, dia terus berjalan, rasa haus dan lapar terus dirasakan Rico, sampai dia di usir beberapa orang ketika dia melewati beberapa tenda warung makan.
"Pergi sana,,,menjijikan"
ucap salah satu ibu pemilik tenda warung.
Rico pun terus berjalan, hari semakin terik dia sungguh tidak sanggup lagi berjalan, dia tidak terima dengan apa yang terjadi kepadanya, dia terus berusaha mengingat wajah San dan wajah-wajah orang yang telah membuangnya seperti ini.
Hingga Rico bertemu dengan pria tua berjanggut, dia memperhatikan Rico, perlahan mengikuti Rico, matanya masih menatap tajam kepada Rico, dia yang tengah mengais makanan di sebuah bak sampah, membuat bapak itu merasa kasihan.
"Jangan di makan nak, mari ikut bapak?"
ucap orang tua tersebut.
Rico yang tidak berdaya kemudian mengikuti bapak tua tersebut, rumahnya lumayan jauh dari jalan raya, mereka harus melewati hutan jati, awalnya Rico ragu tapi mungkin dia memiliki makanan.
Pria tua terebut mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup kepala yang biasa di sebut kupluk, berperawakan kurus, dengan janggut panjang berwarna putih.
Terlihat sebuah rumah yang sederhana, beliau tinggal seorang diri, Rico hanya menunggu di depan halaman tidak berani masuk ke dalam rumah yang sangat sepi itu.
Bapak tua tersebut membawakan sepiring makanan dengan segelas air, menu yang di santap sangat istimewa, nasi lengkap dengan saur dan lauk ayam goreng, dan minuman berupa susu sapi segar.
"Makan lah nak"
kata pria tua tersebut.
Tanpa ragu Rico langsung menyantap lahap makanan tersebut dan si bapak tersebut tersenyum menyeringai.
"Kenapa bapak mau membantu saya?"
tanya Rico.
"Habiskan lah dulu baru kau tahu"
ucap sang bapak yang mengelus janggut kesayangannya.
Tidak lama setelah Rico menghabiskan makan dan minumnya, badannya yang semula penuh dengan penyakit kulit kini sembuh total, dia juga merasa kini badannya sudah tidak lemas dan merasa kenyang.
"Siapa sebanarnya bapak ini?"
tanya Rico dengam mata yang takjub karena dia berhasil mengobati Rico.
"Ha ha ha...dan lihat lah yang kau makan barusan"
sahut sang bapak.
Betapa kagetnya Rico setelah tahu yang di makannya merupakan sebuah bangkai ayam yang telah mati, dan minuman yang di minum merupakan darah sang ayam.
"Siapa bapak sebanarnya"
tanya Rico kaget.
"Panggil aku mbah Ndimun, kamu itu habis ngapain? kok bisa kamu kondisinya seperti itu?"
tanya mbah Ndimun yang ternyata seorang dukun hitam.
Rico pun menceritakan segalanya kepada mbah Ndimun, beliau yang mendengar hanya tersenyum, matanya hanya melirik kepada Rico yang berbicara. Aneh menurut Rico sampai dia lupa bagaimana wajah mereka, tai tahu apa yang mereka perbuat sewaktu menyiksa rico berhari-hari.
__ADS_1
"Kau itu berurusan dengan seorang pangeran..."
ucap mbah Ndimun.
"Benar aku ingat betul mereka memanggil pria itu dengan sebutan pangeran"
sahut Rico yang membenarkan perkataan si mbah.
"Mereka adalah siluman, kau yang g o b l o k berurusan dengan mereka"
sahut si mbah.
"Apa aku masih bisa membalas dendam kepada mereka?"
"Tidak usah macam-macam, kau saja hanya manusia biasa."
"Tolong mbah, jadikan aku murid mu..."
pinta Rico memohon.
Si mbah hanya menyeringai dengan tersenyum.
"Boleh-boleh saja, apa kau sanggup menjalani syarat yang ku berikan?"
tanya si mbah.
"Apapun akan ku lakukan mbah"
"Baiklah, sebagai awal aku meminta kau kumpul kan 7 ikat kepala pocong dari jasad bayi"
Terkejut karena syarat itu begitu berat untuk Rico, tapi dia ngin sekali membalas dendamnya kepada orang yang membuatnya seperti sampah.
.
.
.
Berhubung sang ayah belum kembali, San dan Ayu menghadiri mewakili mereka, sekalian san akan memberitahukan perihal pernikahannya.
"Kamu cantik dek..."
bisik San yang membuka kan pintu mobil kepada Ayu.
Ayu hanya tersenyum melirik ke arah San yang juga sangat memukau dengan penampilannya, walau sebenarnya San lebih suka berpakaian santai.
Paman kemudian melajukan mobil dan membawa mereka, disana hadir pula ayah dan ibunda Bella sebagai tamu undagan, tentunya Bella juga ikut serta karena Bella yang mengurus segala saham dan kerja sama dengan JBO.
Ayu masih sedikit minder, dia masih tidak PD akan latar belakang keluarganya, dia hanya lah orang biasa, tidak kaya dan tidak memiliki titel.
Namun San tidak akan pernah melepaskan tangan Ayu sampai kapan pun, dia akan terus berada di samping Ayu, menemani sampai menua bersama.
"Kamu gugup dek?"
tanya San kepada Ayu.
"Tentu lah mas, ini baru pertama kalinya buat aku"
sahut ayu yang masih terlihat sangat gugup.
"Percaya sama mas ya...."
San yang keluar dari mobil mengulurkan tangannya kepada Ayu.
Au pun menggenggam tangan San dan bersiap turun, dia akan percaya kepada San, dia harus bisa menyeimbangkan dirinya dengan San yang merupakan orang penting.
Suasana pesta pada umumnya, ramai beberapa musik tradisional masih sangat mereka pergunakan sebagai penghormatan kepada budaya yang telah ada ratusan tahun lalu. Ayu sedikit canggung, para tamu memperhatikan Ayu dan San yang datang berbarengan.
__ADS_1
Mungkin mereka semua beranggapan bahwa itu adalah calon isteri pimpinan muda San. Semua bahkan tersenyum melihat San berlalu dengan menggandeng tangan Ayu, sampai dia akhirnya di sapa oleh seorang yang sangat cantik, yaitu Bella.
"Ayu,,,,,"
sapa Bella menghampiri Ayu.
"Bella, kamu sendirian, enggak sama mas Arya?"
"Sama ayah bunda, Ayunya aku pinjam dulu ya"
ucap Bella yang kemudian menggandeng Ayu mengantarkannya kepada orang tua Bella.
"Ayah, bunda...kenalin ini Ayu"
kata Bella yang membawa Ayu ke hadapan oang tua Bella.
"Kemuning???"
ucap ibunda Bella
"Kemuning? sekarang nama saya Ayu, ndoro ratu"
sahut Ayu yang tidak sadar memanggil ibunda Bella dengan sebutan ndoro rat.
Ayah dan ibunda Bella hanya terdiam, dia hampir saja membongkar identitas asli mereka di hadapan semua orang.
"Nak Ayu, kapan rencana pernikahan kalian?"
tanya sang ayah Bella mencairkan suasana.
"Bulan depan kalau tidak salah"
ucap Ayu yang juga sebenarnya tidak mengetahui tanggal berapa dirinya akan menikah.
Ayu kemudian berjalan-jalan bersama dengan Bella, suasana sangat ramai, mereka tidak begitu suka dengan kebisingan sebenarnya.
"Ingatan kamu telah kembali?"
tanya Bella.
"Sudah puteri Kirana"
jawab Ayu, seketika Bella langsung memeluk Ayu, dia merasa senang Ayu sudah ingat kepada dirinya.
"Panggil aku Bella sekarang, kita adalah teman, selalu menjadi teman"
ucap Bella yang sangat senang Ayu sudah ingat kembali akan dirinya.
"Baiklah Bella,,"
Tiba-tiba Bella merasakan aneh, dirinya merasa mual di perutnya,
"Hoeekkk....hoeekkkk"
suara Bella yang mencuri perhatian para tamu undagan yang berada di luar gedung.
"Bella, kamu kenapa?"
tanya Ayu, Bella kemudian berlari menuju kamar mandi, melihat Bella yang berlari di ikuti Ayu, sang ibunda juga menyusul Bella ke kamar mandi.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...