
Malam itu Ayu bermimpi, dia seperti kembali ke masa lalu, entah apa yang terjadi tapi dia melihat darah segar mengalir diantara kedua kakinya, Ayu yang melihat teriak histeris, dengan penuh tangis Ayu seakan merasa ke hilangan di sertai dengan rasa sakit.
Tangisannya terbawa sampai San mendengar.
"Dek...dek.."
San yang membangunkan Ayu.
Ayu terbangun menatap San lalu memluknya, an juga tidak bertanya ayu kenapa, dia hanya memeluk erat Ayu hingga sang isteri merasa nyaman.
Sampai pagi ini Ayu banyak melamun, entah rasa itu datang dari mana, dia hanya merasa sedih dan kecwa secara bersamaan, bahkan di ajak bicara Ben saja Ayu hanya terus diam dan melamun.
"Bunda,,,bunda..."
panggil Ben saat di meja makan.
"Dek..."
ujar San membuyarkan lamunan Ayu.
"Iya mas,,,nanti sore habis makan kita ajak Ben ke danau ya?"
ucap San memandang aneh wajah Ayu.
"Iya mas"
"Bunda sakit ya? Ben ajak ngomong enggak dengar?"
celetuk bocah tampan itu.
"Enggak kok sayang, bunda cuma lagi mikir"
sahut Ayu tersenum kepda anaknya.
.
.
.
Mereka bersiap untuk piknik ke danau yang menjadi tempat favorit ke duanya dulu, San sangat suka tematnya yang sunyi dan damai, tempatnya untuk menyendiri dikala jenuh, di kala semua terasa berat baginya, dia akan berdiam diri dan menatap jauh kearah danau.
Ben juga sangat antusias, selama perjalanan, Ayu tampak diam, San tidak bisa melihat isi pikiran isterinya, apa yang membuatnya berpikir telalu keras.
"kamu sakit dek?"
tanya San, menggenggam tangan Ayu.
__ADS_1
"Tidak mas, aku hanya lelah"
sahut ayu tidak ingin San khawatir.
Susasana yang hangat dengan hamparan padang ilalang yang tinggi, Ayu ingat pernah kesini bersama San beberapa bulan lalu, namun pemandangan malam hari dengan sinar bulan yang temaram membuat danau sangat cantik.
Tiupan angin yang sejuk, kicauan burung, terasa sangat damai berada disana, Ayu yang datang segera melambari padang rumput hijau itu dengan karpet kcil untuk mereka piknik.
Ayu juga membawa beberapa makanan dan cmilan untuk suami, anak dan Kum yang ikut berpiknik, Ben yang sangat senang, ini peratama kalinya dia berpiknik, sambil berlari riang kesana kemari, dia mengambil bola bermain dengan San dan Kum, Ayu hanya duduk melihat mereka bermain.
Tiba-tiba Ayu terbawa akan kenangan lalu, dia kembali di masa lalu, ke danau yang sama seperti apa yang di kunjunginya sekarang, dia tahu dia pernah kesini, tapi ada perasaan lain, dia berjalan mengikuti memori yang mengingatkannya akan sesuatu.
Semacam dia sedang VI'AR, Ayu terus berjalan jauh meninggalkan tempat pikniknya, San yang melihat Ayu berjalan jauh, menarik perhatiannya, dia berjalan mengikuti Ayu.
Ayu berhenti di sebuah pohon betula, pohon dengan batangnya berwarna putih dengan daun yang cukup lebat, sekelilingnya penuh dengan ilalang berwarna kuning.
entah perasaan apa ini, Ayu berlari menuju tempat nya piknik, dengan wajah takut, sedih, kecewa, Ayu terus berlari sambil menangis, seakan terbawa dikala dia tengah berlari di kejar oleh sesorang.
Sampai San menemukannya, San yang berjalan berlawan arah dengan Ayu, mendekap Ayu tiba-tiba, kaget dan takut, Ayu berteriak.
"Lepas...lepas...tolong, lepakan aku pangeran Rendra..."
teriak Ayu diiringi isak tangis dirinya.
San yang mendengar terkejut, dia terus berusaha menenangkan sang isteri meyakinkan bahwa dirinya telah aman, Ayu terus berontak tidak akruan, seperti dirinya lepas kontrol terlalu larut dalam kenangan pahit Kemuning.
"Kum...."
Kum berlari menghampiri, dia terlihat bingung apa yang sebenarnya terjadi kepada Ayu, terutama Ben yang terlihat takut dan bbersembunyi di balik badan Kum.
"Iya pangeran..."
"Aku pulang duluan, kamu bawa Ben kerumah raja Surapha, tolong jemput mbok ikut"
perintah San.
"Baik pangeran"
uajr Kum bergegas menggendong Ben masuk ke mobil, barang-barang piknik tidak sempat di bereskannya.
"Dek kita pulang ya!!!"
San ang terus memeluk snag isteri yang masih histeris.
Dia menggunakan kekuatannya berteleportasi ke istana, semua pelayan hingga ibunda San mendengar suara tangisan Ayu yang begitu ketakutan, San bingng harus berbuat apa, bagaiamana dia meyakinkan Ayu bila Ayu tidak mau mendengarkannya, dengan terpaksa, Ayu membuatnya tertidur ilmu ang dimilikinya.
San pun memgendong Ayu ke kamarnya, sang ibunda segera menghampiri dan bertanya, ada apa? San menjelaskan entah apa yang terjadi, Ayu berjalan ke danau yang luas tiba-0tiba dia berlari seperti orang ketakutan, dia juga menceritakan bahwa Ayu berteriak menyebutklan nama Pangeran Rendra.
Ibundanya terkejut, tidak menyangka bahwa Ayu akan mengalami trauma yang di alami oleh Kemuning, ibunda berkata agar si mbok di ajak kemari, siapa tahu akan mengurangi rasa ketakutan Ayu.
__ADS_1
San telah mengutus Kum yang membawa Ben bersamanya untuk menjemput mbok.
.
.
.
Sesampainya di rumah ayah Bella, Kum turun sendirian, Ben tertidu pulas, dengan wajah cemas akhirnya Kum berhasil bertemu dengan mbok, dia juga menceritakan tentang Ayu yang aneh, segera mbok bersiap ntuk ikut bersama dengan Kum.
Mendengar hal terebut Arya merasa iba, dia tidak menyangka Ayu ataupun Kemuning menyimpan rasa pahit dalam dirinya, walau itu sudah beratus tahun lamanya.
Sambil menunggu mbok datang, San dengan setia menemani sang isteri, dia terus mngelus tangan sambil merangkul badan sang isteri dalam pelukannya, ada perasaan bingung, sedih dia juga menyalahkan dirinya dnegan apa yang terjadi dulu terhadap Kemuning.
Ayu kembali masuk ke dalam sebuah mimpi yang aneh, dia melihat dirinya yang memakai pakaian khas kerajaan, duduk menangis, badannya gemetaran, perasaan yang bercampur aduk.
"Kemuning???"
panggil ayu.
Benar saja itu adalah diri Kemuning yang terperangkap dalam rasa takut, benci dan marah. Kemuning tidak menghiraukan au yang memanggilnya.
"Ning, kamu bisa lewati semua ini, aku yakin itu, kamu tidak kasihan dengan mas San, wajahnya bingung, Ning"
ujar ayu menyemangati Kemuning aga keluar dari memori yang kelam di dirinya.
"Kamu ingat sekarang kita telah satu, kalian bersatu dengan bahagia, kalian punya Ben... anak kalian"
ujar Ayu yang mengingatkan Kemuning akan kenangan indahnya bersama dengan San.
Kemuning yang duduk kemudian bangun, berbalik badan menghadap Ayu, wajahnya pucat dengan rambut panjang terurai basah, ada darahs egar mengalir di kakinya, dari dada sampai ke perut. Kenangan pahit yang ada di diri Kemuning berkumpul, rsa sakit semuanya menjadi emosi yang tidak dapat di bendungnya, hingga akhirnya dia memilih mengakhiri hidupnya.
"Tiiiiidddddaaakkkkk !!!!1"
teriak Ayu ang terbangun akan mimpi buruknya.
Kembali badannya gemetara, ketakutan, dia berlari kesebuah pojokan kamar dan bersembunyi, San yang melihat mencoba mendekat namun Ayu terus berteriak, hingga dia memilih untuk mundur sampai Ayu tenang.
Sedih pasti San sedih melihat Ayu seperti itu, dia duduk sedikit berjarak dari Ayu, terus memperhatikan sang isteri agar tidak melakukan hal yang aneh.
.
.
.
(Bersambung)
Mampir yuk di cerpen aku, si Bujang
__ADS_1