
...🌸🌸🌸...
Setelah 500tahun, pertapaan Sanjaya selesai, Keluarga kerajaan mengikuti peradaban, tidak ada istilah kerajaan, dalam suatu wilayah negara, Sebelum Sanjaya, anggota kerajaan bahkan senopati penganut keabadian, mereka berkembang menjadi lebih moderen. Mengikuti perkembangan zaman, mengenal teknologi, hampir semua berganti dengan mesin.
"Malam ini adakan pesta untuk putera ku"
kata Ayah Sanjaya yang sekarang hanya bersantai di rumah besarnya.
Ayah Sanjaya adalah pemegang sahan sebuah perusahaan besar, tidak ada yang perlu di khawatirkan untuk finansial, bahkan sampai 7 turunan pun tidak akan habis.
Raja Surapha yang kini berumur ribuan tahun ini masih terlihat gagah, tampak jelas sangat bijaksana dan berwibawa.
"Baik tuan.."
sahut senopati yang masih setia mendampingi keluarga kerajaan, bahkan sekarang beliau menikah dengan seorang wanita biasa dan memiliki seorang anak berusia remaja.
Senopati Wirakha telah mengabdikan hidupnya untuk sang Raja, selain menjadi senopati atau orang kepercayaan Raja, senopati Wirakha juga merupakan guru pangeran Sanjaya.
Malam ini pangeran Sanjaya akan kembali pulang setelah melakukan pertapaan yang panjang.
Acara yang begitu ramai penuh dengan berbagai macam makanan, ada beberapa penari juga yang berlenggak lenggok mengikuti iringan musik gamelan jawa.
Semua orang bersorak ria, menyambut pangeran yang merupakan calon penerus ayahnya kelak. Undangan pesta juga di berikan kepada seluruh instasi terkait, termasuk tempat Ayu bekerja, Ayu mendapatkan tugas untuk meliput sebagai berita hangat bahwa pewaris perusahaan JBO yang terkenal itu telah kembali ke tanah air.
(1 Jam sebelum acara pesta)
Ayu yang baru tiba di gerai tatto Deska, duduk lemas tidak bersemangat.
"Kenapa lu?"
tanya Deska yang sedang bekerja.
"Temenin dong..."
Ayu yang memberikan undagan pesta.
"Gila...lu dapet undagan ini dari mana?"
tanya Deska penasaran.
"Dari produser radio, tiba-tiba gue jadi jurnalis"
"Kenapa enggak sama Arya lu berangkatnya?"
"Arya malam minggu ngapel tunangannya lah"
sahut Ayu.
"Apel Vidio Call aja loh"
balas Deska menyeringai.
"Udah enggak usah bingung, gue bantu siapin baju buat lu"
"Makasih ya Des..."
peluk Ayu kepada Deska, dirinya tertolong akan bantuan Deska, secara Ayu cewek biasa yang tidak pernah memiliki gaun.
.......🌸🌸🌸.......
Ayu pun memakai dress yang memang sederhana dengan bentukan sabrina, entah pantas atau tidak tapi ini juga dress satu-satunya yang dimiliki Deska.
"Lu yakin nih, gue pakai dress ini?"
tanya Ayu kepada Deska, dress ini merupakan hadiah pertama dari Adam setelah mereka bekerja, belum pernah di pakai karena Deska sendiri tidak terbiasa memakainya.
"Enggak apa-apa, aku udah ngomong kok sama Adam"
"Terus..."
"Kata dia enggak masalah"
"Makasih ya, kalian baik banget"
"Sama-sama"
Ayu pun berangkat sendiri, menggunakan taksi menuju tempat pesta berlangsung, walau gugup ini tugas luar pertamanya, dia harus total dalam bekerja.
Sedangkan Sanjaya telah di jemput oleh paman Wirakha, membawa dirinya ke sebuah tempat untuk bebersih dan merapikan rambutnya, mengganti pakaian sang pangeran menjadi lebih moderen.
"Aku mau warna hijau"
ucap San yang memilih sebuah stelan jas berwarna hijau berpadu hitam. Sesuai dengan warna kesukaannya.
Setelah siap, mereka pun langsung menuju rumah raja Surapha, yang mengadakan pesta meriah untuk dirinya.
......🌸🌸🌸......
Suasana pesta sangatlah ramai, Ayu yang baru tiba, merasa canggung karena gaunnya tidak seformal yang lain, tapi itu bukan tujuan utama dia datang ke pesta itu.
Ayu merasa heran kenapa pesta meriah bergaya eropa ini lebih suka dengan tarian khas jawa dan musik gamelan, tidak seperti pesta kebanyakan yang memakai musik klasik.
Rumah pribadi Pimpinan Jaya Surapha sangat lah megah, mungkin lebih dari 1 hektar lahan rumahnya, lengkap dengan lapangan golf dan kolam renang, ketika masuk langsung di suguhkan dengan tangga besar menuju lantai 3 rumah tersebut
Penuh pernak pernik cristal, sangat mewah, bahkan pesta juga di adakan di halaman besar rumah tersebut, lengkap dengan beberapa lampu yang menghiasi pesta malam itu.
__ADS_1
Karena belum mulai Ayu langsung menghampiri bot makanan, berbagai makanan enak dan olahan daging telah di siapkan koki terbaik mereka, bahkan ada dessert beku yang sangat Ayu suka.
"Mbak..."
bisik Ayu kepada pelayan yang menjaga bot makanan.
"Iya..."
"Ini bisa di bungkus enggak sih?"
tanya Ayu.
"Tentu boleh...."
sahut seorang pria dengan suara serak.
Ayu kaget ternyata yang menjawab adalah Pimpinan JBO tuan Jaya Surapha.
"Maaf tuan...saya...sa.."
"Sudah tidak apa-apa, nona....?"
"Ayu....."
"Ayu....nanti kamu bungkus kan juga yang lain"
perintah raja Surapha.
"Baik tuan..."
sahut sang pelayan.
Ayu merasa malu, tidak enak malah menjadi merepotkan.
"Terimakasih tuan..."
ucap Ayu semakin gugup.
"Panggil saja pak Jaya..."
sahut raja surapha.
"Iya...pak"
"Saya ke depan dulu..."
raja jaya pun berlalu,menghampiri tamu undangan yang lainnya.
Sedikit canggung namun pimpinan Jaya ternyata orang yang sangat baik, pantas kolega mereka banyak dan dari berbagai kalangan.
Sosok nya yang tampan membuat semua orang menyukai nya, Pimpinan Jaya pun memberikan sambutan kepada tamu undagan sebagai pembuka acara pesta.
"Selamat malam semua, malam ini malam membahagiakan untuk kami, setelah lama akhirnya putera kami kembali"
ucap raja Surapha atau di kenal dengan pimpinan Jaya.
"Terimakasih ayah..."
sahut San berada di sebelah ayah dan ibunya.
Seperti tidak asing di kuping Ayu, suara Sanjaya terngiang-ngiang, penasaran Ayu berusaha maju dan melihat lebih dekat dengan Sanjaya. Namun Ayu menepihnya banyaknya tamu tidak mungkin dirinya bisa maju ke depan dan melihat seorang dengan suara yang tidak asing di kupingnya.
"Suara seperti itu bukan hanya dia yang punya kan"
gumam Ayu.
Dia pun melanjutkan pekerjaan nya, memotret dengan kamera ponselnya, area pesta dan makanan yang di sajikan untuk tamu tidak luput dari Ayu.
Ayu kemudian duduk di bangku yang telah disediakan sesuai undagan, Ayu merekam tarian bedaya ketwang yang di suguhkan untuk para tamu.
Sedangkan San menyapa beberapa tamu kolega sang ayah, sampai dia melihat sosok Kemuning pada diri Ayu.
"Paman..."
bisik pangeran.
"Iya pangeran..."
Sanjaya pun membisikan sesuatu kepada paman, terkait wanita yang dilihatnya mirip Kemuning, paman wirakha hanya mengangguk mendengarkan perkataan Sanjaya.
Setelah itu paman Wirakha menghampiri Ayu, memang tampak seperti puteri Kemuning, wanita dengan tinggi hanya 160cm, sangat cantik dengan rambut panjang terurai.
"Maaf....Apakah kita bisa bicara sebentar?"
tanya paman Wirakha.
"Saya....?"
Paman wirakha hanya mengangguk, kemudian berjalan masuk kesebuah ruangan kerja yang tidak jauh dari halaman. Ayu pun mengikuti tanpa rasa curiga, entah apa yang akan dibicarakan sehingga harus menjauh dari pesta.
"Nona tunggu lah sebentar"
ucap paman yang membuka kan pintu ruangan.
"Memangnya siapa yang mau bicara?"
__ADS_1
tanya Ayu penasaran.
"Sebentar lagi dia akan datang?"
"Dia????"
gumam Ayu melongo.
Ruangan kerja yang sangat luas, beberapa sofa juga di tempatkan di ruangan itu. Menurut Ayu ini kesempatan, dia pun melanjutkan memotret ruangan tersebut sambil menunggu orang yang hendak bicara kepadanya.
Tak tak tak
suara langkah sepatu yang terdengar dari dalam ruangan, Ayu pun bersiap duduk di sofa, takut di kira tidak sopan nantinya.
Sanjaya masuk tanpa mengetuk pintu ruangan tersebut. Ayu yang melihat Sanjaya tercengang, sepertinya tidak asing, tapi Ayu juga tidak yakin, pernah bertemu dengan pria ini dimana.
"Maaf menunggu lama, San"
Sanjaya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Suara dan wajah yang tidak asing, membuat Ayu terus memikirkan bertemu dimana, dada tiba-tiba sesak, jantungnya terus berdegub kencang, kepalanya tiba-tiba pusing, pandangan nya memudar.
"Kenapa begini? dia siapa? kenapa aku seperti ini?"
gumam dalam hati.
"Hai....kamu kenapa?"
suara pria itu benar-benar membuat jantung Ayu semakin sesak.
Brruuukkkk !!!!
Ayu jantung pingsan, seperi gejala vertigo Ayu sering kali merasakan hal itu, bila teringat akan hal yang dia sendiri tidak ketahui.
"Dek...dek..."
panggil Sanjaya.
Sanjaya pun menggendong Ayu menuju sebuah kamar yang di pandu oleh paman Wirakha, mereka juga memanggil dokter agar memeriksa kondisi Ayu.
"Ada apa, anak ku?"
tanya sang ibunda yang datang menghampiri Sanjaya.
"Aku tidak tahu ibunda, dia pingsan setelah melihat ku"
ucap Sanjaya duduk di samping Ayu yang terbaring lemas.
"Apa Wirakha sudah memanggil dokter?"
kata sang ibunda.
"Dokter???"
"Itu sebutan tabib di zaman sekarang"
jelas ibunda.
"Silahkan dokter..."
paman yang mempersilahkan seorang dokter masuk.
Masih setia mendampingi, Sanjaya menunggu Reinkarnasi Kemuning di periksa, sang dokter pun mengambil stetoskop fsn menempelkan di bagian dada Ayu, namun Sanjaya tiba-tiba memegangi tangan sang dokter dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan?"
tanya Sanjaya dengan wajah marah.
"Aaa...saya hanya akan memeriksanya"
jawab sang dokter.
"Putera ku, dokter ini sedang memeriksa biarkan saja dulu"
ibunda yang menenagkan Sanjaya.
Dokter itu pun melanjutkan tugasnya, di lanjut menuliskan beberapa resep obat.
"Ini pak Wirakha...nona ini hanya kelelahan, dia hanya butuh istirahat"
ujar sang dokter.
"Terimakasih dokter...Wirakha antarkan dokter dan sekalian beli obat tersebut ya"
perintah ratu Ratna.
"Baik nyonya..."
"Pangeran....Ning baik-baik saja, temani lah dia, ibu akan menyusul ayah mu"
"Terimakasih ya ibunda..."
sahut Sanjaya yang kini menggenggam tangan Ayu.
Merebahkan badannya di samping Ayu, San masih menggengam tangan gadis itu, melakukan hal itu teringat akan kebersamaan nya bersama Kemuning.
Dia tidak menyangka kekuasaan sang ayah dalam memajukan industri kota A, sangat berpengaruh dalam dirinya menemukan Kemuning. Syukurlah dia bisa bertemu kembali, ternyata benar walau pun harus menunggu lama Kemuning akhirnya bereinkarnasi.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...