
Seperti takdir yang menyatukan, kata yang tepat untuk Ayu, memimpikan pastinya pernah, dia selalu yang paling suka mendengarkan lagu-lagu jepang ini, berharap Tuhan akan memberinya sedikit kebahagian, agar hidupnya tidak sia-sia.
Gagal dalam meraih mimpi untuk kuliah di Singapura tidak mengapa, Ayu bisa menjali hidupnya yang biasa saja, hidup yang memang sudah berat untuk apa di ambil pusing, dia berpikir mungkin disini bukan jalannya, disini bukan mencapai cita-citanya yang akan membuatnya bahagia.
Mungkin dengam bertemu seseorang dia bisa juga merasakan bahagia, banyak hal indah bukan hanya dari orang tua, cita-cita bahkan cinta, mengikuti air yang mengalir, yang akan berakhir ke laut yang luas, seperti itu hidup yang Ayu jalani terus melangkah, sampai dia menuju lautan kebahagian yang tidak pernah habis.
"Hati-hati Yu...."
Alingga yang mengulurkan ke Ayu, namun Ayu tidak mau meraihnya.
Tantri tidak tahu apa yang terjadi di antara keduanya, dia kemudian memapah Ayu untuk masuk ke dalam rumah, Alingga tampak mencari sesuatu, San tidak berada di rumah, kemana perginya membuat Alingga penasaran.
"San kemana Yu?"
tanya Tantri yang memapah Ayu ke kamarnya.
"Mas San pulang sebentar katanya"
jawab Ayu yang masih pucat.
"Ini"
Alingga yang memberikan secangkir air kepada Ayu.
"Makasih Ling"
Ayu kemudian meminumnya, setidaknya Ayu tidak lagi ketus kepadanya, Alingga tersenyum melihat Ayu.
"Maaf....kalian bisa keluar, aku mau istirahat sebentar"
ujar Ayu yang kemudian merebahkan badannya di kasur.
"Iya Yu....kamu istirahat ya"
Alingga yang hendak mengelus kepala Ayu, tapi Ayu mengelaknya menutup kepalanya dengan selimut.
Melihat Ayu yang bertingkah aneh, dia pun mengajak Alingga untuk bicara di luar, sebenarnya apa yang terjadi sehingga Ayu bersikap begitu, namun Alingga sendiri tidak tahu, apa karena Viona mantan pacar Alingga, bisa saja karena Viona lah beasiswa Ayu di cabut.
Memikirkan jauh kesana membuat Tantri sedikit muak, Tantri paham betul perasaan sahabatnya, dia paling kesal dengan Viona, karena dia masa depan yang di rencanakan Ayu gagal, terbelanggu dalam masalah orang tua, sampai dia koma dan sadar pun harus mendapat perawatan di panti.
Semua bagaikan borok yang sangat pedih untuk di lihat Tantri, kalau sekarang dia bahagia bersama San, tidak mengapa, Tantri tidak peduli siapa San? bagaimana dan kapan, yang penting Ayu bahagia, dia tidak akan sanggup bila Ayu bersedih, sedangkan Tantri hanya berdiam diri.
Tidak lama Ayu tertidur, dia kemudian membuka mata dan dia berada di kamar San, kenapa dia bisa berada disini? apakah San memindahkannya? ucap batin Ayu.
"N...da..."
suara anak kecil yang masih tertatih berjalan, suara Juna yang hanya bisa mengucapkan kata "Nda" Ayu kemudian bangun dan memeluk Arjuna puteranya.
"Anak bunda....udah pinter panggil Nda"
Ayu yang menggendong terus menncium kedua pipi gemoy Arjuna.
"Dek....kapan kamu datang?"
tanya San yang menghampiri Arjuna.
"Barusan, tapi aku kok bisa ya kesini? tadi aku di rumah tiduran"
Ayu masih penasaran akan dirinya yang bisa up ke istana.
"Iya sudah....Juna ikut ayah ya, makan dulu"
San yang menggambil Arjuna dari gendongan Ayu.
"Sini mas....aku bisa kok"
sahut Ayu yang kemudian berjalan di belakang mas San.
Mereka pun memberi makan Arjuna, menyuapi sang anak, di temani juga Ben si anak sulung, tapi Ayu tidak bisa lama, hanya beberapa menit, kemudian dia kembali ke dunianya, dia terbangun dari tidurnya, Ben terkadang heran kemana perginya bunda tiba-tiba saja menghilang.
__ADS_1
San yang tahu hanya tersenyum dia memberi penjelasan, dimana dunia mereka yang berbeda, walau sukar untuk di mengerti, tapi Ben tidak khawatir karena sang bunda akan terus bisa menemani mereka.
Ayu terbangun di di senja nya hari, dia pun memutuskan untuk mandi, kemudian masak untuk makan malam mereka, Tantri yang baru keluar kamar, menghampiri Ayu. Wajahnya penuh pertanyaan, ada apa? kenapa? dia begitu khawatir akan semua hal yang akan membuat Ayu sedih kembali.
"Yu....kamu masih marah sama Viona? "
tanya Tantri yang menghampiri Ayu di dapur.
"Marah sih enggak tapi aku kaget pas ketemu dia, eh terus pingsan"
jawab santai Ayu.
"Seriusan Yu...."
"Iya Tantri aku serius, aneh enggak sih, kalau dia ada di dunia buatan aku kemarin?"
sedikit mengulik kenapa Viona ada dalam dunianya bahkan dia gedis bernama Karla.
"Emang ada? "
"Kayak ada sesuatu gitu? tapi apa ya, aku belum nemukan sih"
"Iya sudah, semoga aja itu enggak bener, San jam berapa ke sini?"
tanya laginTantri.
"Malam mungkin, nunggu Juna tidur"
"Juna???"
"Arjuna Sanjaya, anak aku sama mas San"
jawab Ayuntersenyum.
"Gue bisa lihat dia dong?"
"Bisa kalau kamu ikut ke istana"
"janji kapan-kapan ajak aku ke istana"
sahut Tantri dengan senyum bahagia.
Walau kisah cintanya tidak seindah Ayu, tapi Tantri yakin dia bisa bahagia juga disaat waktu yang tepat, Alingga yang berada dirumah semalaman terus memikirkan bagaimana dia bisa dekat kembali dengan Ayu, apapun dia akan lakukan, dia bahkan tidak peduli dengan Viona.
Wanita yang cantik dan berpenghasilan akan susah di atur jika berumah tangga, berbeda dengan wanita yang memiliki sifat yang santai, dia akan menempatkan diri kemana suaminya kelak berada, sikaphanya bisa menerima dan tulus mencintai suami, Alingga bisa merasakan itu dari Ayu.
Dia tidak bisa menghapus bayang-bayang Ayu, entah kenapa dia begitu menginginkan Ayu, dia tahu Ayu telah menolaknya, tapi ada rasa tidak terima,sejak awal Alingga menyukainya, gadis pendiamitu benar-benar mencuri perhatiannya, belum lagi di kala Ayu dirawat di panti, semuawaktu dia curahkan tapi malah penolakan yang di terima Alingga.
Dia mmikirkan suatu alasan kenapa dia tidak bisa melupakan Ayu, segera dia mengambil jaket, pergi kesuatu tempat untuk memastikan, tentang rasa di hatinya, dia tidak ingin, dirinya sendiri yang merasakan ini, dengan cepat Alingga melajukan mobilnya,tempat itu cukup jauh darikota, entah kenapa Alingga begitu nekat, kekeh kalau Ayu tidak bisa menerimanya.
.
.
.
Malam berlalu seperti biasa, sekitar jam 10 San datang, menemani Ayu yang tengah sibuk menmposting kue yang kemarin dibuatnya, mengecek DM apakah ada pemesan dalam waktu dekat ini, penghasilan lumayan dia dapat dari wedding cake yang dibuatnya, bahkan dia juga menambahkan akun khusus toko kuenya di sebuah aplikasi belanja online.
"Belum tidur dek?"
tanya San yang telah berada duduk di samping Ayu.
"Belum..."
Ayu langsung mmeluk suaminya.
"Hmmm, wangi banget? habis ngapain?"
tanya Ayu penasaran.
"Habisberendam...."
__ADS_1
"Siapa yang siapin bunganya? dayang?"
"Siapa lagi? emang mas punya selir gitu?"
"Pake baju kan di depan dayang?"
"Hmmm,,,namanya mauberendam ya enggak pake dek"
Seketika wajah Ayu berubah, sinis, kesal karena kebiasaan suaminya tidak bisa hilang. Walau San tidak akan berbuat aneh-aneh, tapi tetap saja Ayu tidak ingin tubuh suaminya dilihat wanita lain,walau pun itu dayang istananya.
Mereka pun segera tidur, dalam pelukan San, Ayu tidur begitu pulas, namun San selalu pulang dikala pagi menjelang, takut kalau ibundanya kewalahan mengurus Arjuna, meninggalkan Ayu yang masih terlelap tidur, setelah San pergi, tidak lama tiba-tiba ada hal yang aneh, seberkas cahaya masuk ke dalam kamar Ayu dan masuk ke dalam tubuhnya.
Ayu langsung terbangun dan merasakan hal aneh di tubuhnya, seakan panas, seperti terbakar akan sesuatu, Ayu segera berlari ke dapur dan meminum air yang banyak, Tantri yang juga berada didapur merasa heran dengan sikap Ayu.
"kenapa yu?"
tanya Tantri yang membuat kopi.
"Enggak tahu ini panas banget Tan,,,,"
bahkan air yang di minumnya tidak menghilangkan rasa panas.
Dia berlari kekamar mandi dan menyalakan air shower, dia terus merasa panas akan badannya.
"Kamu kenapa sih? coba panggil San dulu"
sahut Tantri yang ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Ayu kemudian memanggil San dalam hatinya, Ayu tidak kuat menahan panas didalam tubuhnya, Ayu tidak sadarkan diri, Tantri mengganti dan membawanya kekamarnya, mengompres badan Ayu, yang dirasa panas dengan kantung es.
Tidak lama San datang, dia melihat Tantri tengah mengompres leher Ayu, San melihat Kemuning yang ada di dalam diri Ayu kesakitan dan kepanasan. San ingat dia meninggalkan pagi tadi baik-baik saja, tapi kenapa sekarang seperti Ayu dan kemuning di bakar sesuatu.
"Tantri...."
panggil San yang telah berada di belakang Tantri.
"Eh San, ini Ayu kenapa? "
tanya Tantri.
"Tan, kamu mau bantu aku? bawa Ayu ke sebuah bukit di sana ada danau lumayan luas"
ujar San, Ayu tidak bisa di obati disini, dia harus di bawa ke istana.
"Bukannya kamu bisa membawanya langsung?"
"Tidak akan bisa, yang aku bawa hanya sukmanya, kalau aku bawa dia bisa meninggal"
jawab San.
Tantri pun mencari lokasi bukit yang dimaksud oleh San, bergegas Tantri memesan sebuah taksi online dan San menggendong membawa tubuh Ayu ke dalam mobil, sementara San kembali ke istana, menunggu dan menjemput di bukit, karena disana gerbang pintu masuk dunia San dan dunia Ayu.
Sebenarnya kenapa si ini? kasihan banget sih yu kamu, enggak bisa bahagaia sebentar ada aja musibah, ujar batin Tantri yang geram.
.
.
.
(Bersambung)
Nantikan terus kelanjutannya ya !!
Mampir juga ke karya baru aku, "Culik aku om Xavier"
mencerritakan gadis yang dinodai tapi salah sasaran, hingga membuat Xavier merasa bersalah, dia mengajukan pernikahan Kontrak sebagai menebus rasa bersalahnya.
Yuk yang penasaran 😘
__ADS_1