
Setelah beberapa hari Ayu dan San memutuskan mengakhiri liburannya, walau hanya pindah tempat tidur doang, Ayu merasa bosen dan ingin segera bisa beraktivitas kembali.
Dia tidak sabar bertemu dengan sahabatnya Deska, dia membeli beberapa oleh-oleh yang akan di berikan kpada Deska dan temannya yang lain, walau hanya beberapa cemilan khas dari puncak. Ayu yang kemudian bertemu dengan Deska yang saat itu tengah sibuk, dia belanja dalam jumlah yang lumayan banyak. Sedikit heran dengan sikap sahabatnya, tidak biasanya Deska begitu.
Tantri pernah cerita sering melihat sosok anak kecil yang sering bermain di sekitaran Caffe Deska, dia bahkan melihat sosok ibu dan anak, entah kenapa baru sekarang Tantri mau berbicara. Sekian lama Tantri sering berlangganan tatto dan makan di caffe Deska, Tantri sendiri masa bodo sebenarnya, asal dia tidak mengganggu ya sudah. Dalam artian itu anak yang sebenarnya bisa di lihat atau nampak sosoknya, malah tidak terlihat karena si tante kun yang bersamanya menjaga dan merawatnya.
Seperti biasa sore ini menyapa, Ayu yang membantu Deska di Caffe, meminta ijin sebentar untuk ke toilet. Entah perasaan apa, Ayu selepas selesai dari toilet, Ayu melihat anak kecil berusia 3-4 tahun berdiri di depannya, badannya kecil, kulit putih yang pucat, Ayu yang menyadari anak itu bukanlah manusia, awalnya karena ayu tidak tahu bahwa dia di jaga atau di asuh oleh sosok tante kun.
Wajah nya sangat lucu, menggemaskan kebetulan Ayu sangat suka dengan anak kecil, Ayu tersenyum melihatnya, Ayu berpikir anak itu tidak bisa berbicara, anak itu lari ketika San datang dan masuk melihat Ayu sudah selesai apa belum, karena sedari tadi sang isteri belum juga keluar dari toilet.
"Dek..."
panggil San.
"Iya mas ..."
"Aku kira belum selesai"
sahut San.
"Udah...mas tadi lihat anak kecil?"
tanya Ayu penasaran.
"Lihat"
"Mas tahu dia dimana?"
tanya Ayu penasaran.
"di belakang caffe Deska"
sahut San.
"Memangnya ada apa dek?"
"Lucu mas anaknya"
jawab Ayu, kemudian Ayu beranjak menghampiri Deska membantu melayani pelanggan.
Ayu masih penasaran dengan anak itu, kali ini dia bahkan melihat yang terlintas di kepalanya, anak itu bersama seorang wanita berpakaian putih, dia tante kun di belakang Caffe Deska, tapi kenapa anak itu bersamanya? apa itu adalah anaknya? namun anak itu berpakaian layaknya manusia biasa, baju kaos dengan celana pendek.
__ADS_1
"Des...pasti lu udah tahu tentang anak yang aku lihat?"
tanya Ayu terus penasaran.
"Anak siapa?"
tanya Deska yang malah balik bertanya.
"Tadi habis dari toilet ada anak kecil berdiri depan aku"
sahut Ayu.
"Aku belum lihat Yu"
sahut Deska yang belum mau cerita keberadaan anak itu, takut Ayu akan takut.
"Yang ku ceritakan itu, kayak ada anak kecil main, lari-lari di dapur"
ujar Adam yang ingat pernah mengatakan hal itu kepada Tantri.
"Sebenarnya...."
Deska yang akhirnya mulai mau bercerita.
(Beberapa tahun lalu)
Dalam artian bayi yang di gugurkan sebenarnya roh nya masih ada, makanya sejak dulu kalau ada bayi atau anak kecil yang meninggal suka di adakan acara ruwatan. Namun itu untuk orang yang mengetahui kisahnya. Maksudnya buka yang aborsi.
Karena Ben terlahir dari praktek aborsi, dia terus mengikuti kemanapun dia pergi, tapi karena jasadnya di buang di belakang caffe Deska, dia selalu kembali seperti di sana lah rumahnya. Kebetulan penunggu Caffe Deska yang tepat berada di pohon belakang caffe adalah seorang tante kun, dia yang selama ini merawat dan membesarkan Ben.
.
.
.
Deska sendiri juga baru mnegetahui dari Tantri, yang sering bolak balik membuat tatto dengan Deska, pantas saja Deska membeli banyak belanja susu, snack dan mainan.
Dia merasa kasihan dengan Ben, Tantri sengaja memberi nama nya Ben, dia anak lelaki yang lucu dan baik, Deska sungguh terharu mendengar kisah Ben, Deska bingung bagaimana dia cerita kepada Adam dan lainnya.
Yang di lihat di mata Deska adalah sosok anak kecil yang berupa hologram, bisa berlari kesana kemari tanpa takut jatuh atau bisa menembus dinding. Deska ingin sekali mengajaknya tinggal bersama di kostnya.
"Mas ada cara agar dia bisa tampil seperti kita manusia biasa?"
__ADS_1
tanya Ayu, mendegar cerita Deska Ayu turut prihatin dengan keadaan Ben.
"Mungkin bunda tahu"
ujar San.
Deska dan Ayu saling bertatapan, seperti ada harapan baru untuk mereka yang ingin menolong Ben, tapi ya Si Ben harus ikut dengan Ayu dan San, karena dia sendirian di Caffe hanya di temani si tante kun.
"Ben ikut ya nak"
ujar Ayu membujuk.
"Tapi...Ben pamit dulu sama tante"
Dia berlari ke belakang bangunan Caffe dan tidak lama Ben bersama dengan seorang wanita rambut panjang dan baju putih.
Dia melihatkan wujudnya kepada Ayu, Deska pun tidak bisa melihatnya.
"Tante...Ben ikut kakak itu, kakak itu baik"
ujar Ben menunjuk Ayu.
"Jangan nakal ya...."
(Disini aku nulisnya sedih, dia tante kun yang bukan orang tua kandungnya bisa sayang dan merawat Ben, dari dia aku juga belajar bahwa menyayangi bukan harus tang keluar dari rahim sendiri).
Ayu sedikit tersentuh, bagaikan ibu yang baik tante kun, yang perawakannya begitu seram tapi dia memiliki hati yang baik dan lembut.
Akhirnya Ben di ijinkan ikut Ayu dan San, Deska hanyanterus menangis, sedih karena ada kisah pilu seperti Ben, dia juga tidak menyangka setelah mendengar kisah Ben, ada seorang tante kun yang merawatnya selama ini.
(Yang penasaran kisahnya Ben, adalah kisah nyata yang benar terjadi, kalian bisa baca di novel teman aku, "PERSAHABATAN DUNIA LAIN" eps. Kisah Ben)
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa mampir ya ke cerita ku lainnya.
__ADS_1