
...🌸🌸🌸...
Apa yang kalian tahu tentang makhluk bernama "SILUMAN" apa yang ada dibenak kalian jika bertemu dengan makhluk tersebut.
Banyak yang mengatakan bangsa siluman berasal dari manusia biasa yang meninggalkan alam kasar, entah setelah dia meninggal dalam artian dia bersekutu dengan Jin atau sejenisnya, bisa juga bersemedi untuk mencapai moksa.
Sama halnya kita, mereka juga mempunyai kehidupan yang sama dengan manusia biasa, bahkan ada yang berbaur dengan manusia, bahkan ada manusia yang memang memilih menjadi siluman dengan niat dan tujuan tertentu.
Apa yang terjadi kepada San adalah sebagai gambaran di atas, San memilih hidup dalam keabadian melalui semedi, beratus-ratus tahun lamanya, memiliki kekuatan yang sewaktu-waktu dapat membuatnya berubah seutuhnya menjadi seorang siluman.
Cintanya terlalu besar untuk Kemuning, dirinya hanyalah manusia biasa yang belum rela sang pujaan hati pergi, walau yang di dapat tidak sebanding dengan konsekuensi nya, San tetap memilih jalan tersebut, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman kakek buyutnya. Abadi bukan berarti tidak bisa meninggal, dalam artian mereka bisa bertahan hidup tanpa saling membunuh sesama bangsa mereka.
Yang tersisa hanyalah orang tua San, walau meninggal para tetua kerajaan terebut berhasil mempertahankan kerajaan Jayanaga, bahkan bisa bertahan di abad dengan mengikuti peradaban manusia sekarang.
San yang sewaktu-waktu dapat berubah, sosok berupa ular besar raksasa. Memang konsekuensi yang harus di jalaninya, setiap makhluk yang melakukan keabadian akan mengalami hal yang sama, hanya saja berbeda bentuk atau jenisnya.
.
.
.
Untungnya Ayu bisa segera dibawa kerumah San, peralatan dokter tidak kalah lengkap, dia hanya mengalami cidera tulang punggung namun bukan retak atau patah. Ayu yang masih tertidur tenang di kamar San, selalu di temani sang kekasih.
Deska yang mendapat kabar juga segera berangkat kerumah San bersama dengan Arya, lalu Rico paman tidak membawa nya ke polisi melainkan penjara khusus untuk manusia seperti Rico.
Dia akan di gantung dan di cambuk sampai dia mengaku siapa yang meminta nya menculik Ayu. Rata-rata yang pernah masuk ke sana adalah penghianat kerajaan, walau beda kasus, dia telah mengetahui siapa San sebenarnya, mudah saja untuk menghilangkan ingatnya, hanya saja dia pasi akan melakukan hal itu kembali.
Di sebuah goa gelap, dan dingin, entah diaman letaknya, tangan Rico keduanya terikat di dinding goa, beberapa obor di nyalakan, di bawah kaki Rico terdapat berbagai hewan kecil yang mematikan, seperti kalajengking, lipan kaki merah berukuran besar, tersadar dirinya berada tempat yang asing, dia teriak meminta tolong, tapi tidak ada yang mendengar.
Sekuat apapun Rico berteriak, tidak ada satu pun yang keluar untuk menyelamatkan atau menghampirinya. Bisa saja San membunuhnya langsung atau pun paman bahkan pengawal lainnya bisa melakukan juga, tapi dalam ilmu keabadian yang mereka anut membunuh manusia akan membuat mereka berubah seutuhnya menjadi siluman, tidak dapat lagi berbaur dengan manusia karena memiliki ciri tertentu yang tidak bisa di tutupinya.
Walau hari sudah gelap, Deska tetap menuju rumah San, dia harus melihat sendiri keadaan Ayu. Di temani Arya, Deska masih terlihat khawatir, dia tidak menyangka apa yang terjadi dengan Ayu.
"Tenang lah Des, Ayu udah aman kok"
kata Arya agar Deska merasa tenang.
"Kamu tahu enggak, kalau Ayu di buang orang tuanya, dia sekarang cuma punya aku"
ucap Deska yang mengenang beberapa momen sejak sekolah sampai mereka bekerja selalu bersama, senasib dengan Deska, tapi kakak Deska masih memberikan ongkos sampai Deska bisa mandiri, dia juga sering membantu Ayu bila dalam kesulitan.
"Iya aku tahu, jadi simpan air mata kamu, mau Ayu kepikiran macam-macam"
sahut Arya kembali.
Akhirnya mereka pun sampai rumah megah nan mewah rumah San yang bak istana, Deska cukup tercengang, dia baru pertama kali masuk ke rumah mewah dan megah seperti istana ini.
Kedatangan Arya langsung di sambut oleh paman Wirakha, mereka di antar ke kamar San, dimana Ayu tengah di rawat, sedangkan San belum bisa bertemu dengan siapa pun. Lebih baik dirinya memulihkan dirinya, tidak ingin membuat teman Ayu berpikir yang tidak-tidak.
Deska tidak henti menangis melihat kondisi sahabatnya itu, beruntunglah Ayu memiliki San di sisinya, yang menyayangi dan mencintainya tulus, Deska memegang pelan tangan sahabatnya, di usapnya sambil melirik ke wajah Ayu, beberapa luka di dapati tapi tidak sampai lebam.
"San kemana pak wirakha?"
tanya Arya.
Akhirnya Arya lah yang pertama di beritahu akan kondisi sebenarnya, San berada di ruang baca yang berada di lorong kanan, duduk santai sambil membaca buku, mencari cara agar dirinya bisa cepat pulih.
Tok..tok...
Paman Wirakha mengetuk pintu tersebut, San kemudia menutup bukunya dan berkata.
"Masuk lah...."
Arya pun masuk keruangan tersebut seorang diri, ruangan yang hanya mengandalkan lampu baca sebagai penerangan terasa amat dingin, tidak ada rasa curiga, Arya pun melihat San berdiri membelakangi cahaya lampu.
"Bagaimana keadaan mu?"
tanya Arya.
"Aku hanya butuh istirahat"
ungkap San.
San pun menunjukan wajahnya, kulit yang mengelupas dengan bagian dalam bersisik, Arya tampak tidak terkejut, bukan pertama kali dia melihat makhluk seperti San.
"Kau sudah pernah melihatnya?"
"Aku menemukan kasus seperti itu, ketika aku masih menjadi dokter"
jawab Arya .
Mereka tampak santai berbincang, Arya juga melihat-lihat beberapa buku yang berisi tanaman obat, mungkin saja Arya bisa menambah wawasan melalui buku yang di lihatnya.
Obrolan mereka menuju kepada siapa Bella sebenarnya, kenapa dia memilih menyembunyikan identitas aslinya, siapa yang dia hindari, dia juag pernah melihat tangan Bella berubah mengeriput mendadak di tangannya, tapi kemudian mengeluarkan sisik tapi bukan sisik seperti San, agak lebih besar dan perlahan sisik tersebut menghilang.
San tidak dapat menjawab, itu ranah pribadi Bella dengan Arya, San hanya perlu meyakinkan Arya, bahwa kalau Bella benar mencintainya, Arya akan tahu kebenaran dari Bella itu sendiri.
Tidak perlu meragukan, cinta tidak akan pernah menghampiri orang yang salah.
__ADS_1
Akhir dari pembicaraan tersebut, mereka berdua berpamitan pulang, San yang masih terjaga dengan setia menemani Ayu, merebahkan badannya di samping Ayu, mengelus lembut rambut panjang Ayu.
.
.
.
Pagi menjelang, San yang masih berada di posisi semula, matanya yang terpejam, kupingnya dengan jelas mendengar suara nafas Ayu, biasanya hening, kali ini sedikit berisik karena dengkuran dari Ayu yang keras.
Di mimpinya Ayu nampak jelas dengan kejadian kemarin, tidurnya terasa terganggu dengan mimpi yang tiba-tiba membawanya masuk ke dalam ingatan yang ingin dia lupakan.
Terbangun Ayu, karena tidak ingin melihat hal kemarin, matanya menatap langit-langit kamar San, tangannya yang tertancap selang infus terasa sakit, beberapa lebam di temukan di tangannya.
Ayu melirik San yang masih memejamkan matanya, betapa senangnya San selalu berada di sisinya, perlahan Ayu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah San, melihat jelas kulit San yang berwarna hijau ke emasan.
Tapi San ke buru membuka matanya, seketika wajah Ayu memerah, mata keduanya saling menatap, tidak ingin suasana menjadi canggung Ayu berusaha menghindar, namun tangan San kemudia menarik tangan Ayu, sehingga bibir San mendarat pas di bibir Ayu.
Mata Ayu menatap wajah San dengan jelas matanya mulai mengikuti alur bibir San, perlahan matanya terpejam, dia sedikit terkejut ketika lidah San mulai menyentuh bibirnya.
Kali ini San tidak dapat menahan dirinya, dia merebahkan badan Ayu, bibir mereka masih saling mencium, bibir San kini mulai menjelajah ke leher Ayu, tapi Ayu malah teringat akan kejadian dirinya yang hendak di perkosa, kedua tangannya mendorong pundak San, agar tidak melakukan hal tersebut.
"Maaf ya Dek...."
ucap San yang kemudian terduduk diam di samping Ayu.
Ayu tidak membalasnya, dia juga terdiam teringat kejadian itu, belum juga sembuh rasa trauma akibat perceraian orang tuanya, sekarang di tambah rasa trauma baru, merasa bersalah kepada San, Ayu merasa dirinya tidak pantas untuk San.
"Ayu yang harus minta maaf"
Ayu yang memegang tangan San.
"Mas akan tunggu kamu kapan pun"
ucap San yang mengelus pipi Ayu.
Rasa trauma yang mendalam hanya akan menjadi bumerang untuk diri kita, tidak ada niatan sembuh sampai kapan pun kita akan terkungkung dalam ingatan yang menyedihkan.
.
.
.
Arya menceritakan kejadian yang menimpa Ayu kepada Bella, dia juga menceritakan apa yang terjadi kepada San, seolah tidak ingin Arya tahu, Bella mengalihkan pembicaraan, di rasa cukup dirinya saja yang menanggung hal tersebut.
kata Bella yang tersenyum, dirinya tidak ingin Arya tahu tentang efek samping yang terjadi kepada San akan terjadi kepadanya.
"Kamu mengalihkan pembicaraan dek?"
sahut Arya yang menatap tajam kepada Bella.
"Tidak mas, aku tidak ingin membahas itu sekarang"
ucap Bella.
Arya pun hanya terdiam, dia menghargai privasi Bella yang tidak ingin di usik, begitu memahami Bella, walau akhirnya berakhir sama dengan San, Arya akan tetap mencintai Bella apa adanya.
Restu sang ibu juga sudah di kantongi oleh Arya, bahkan ayah Bella juga menunggu Arya siap untuk menikah dengan puterinya.
Masih ada beberapa hal yang akan di lakukan Arya, sampai masanya tiba dia berniat akan menikahi Bella, dengan apa pun dirinya.
Arya masih ada satu keinginan, dia berharap bisa membuka klinik pengobatan gratis dengan tabungannya sendiri, mungkin sejenis pengobatan alternatif, jauh di hatinya dia menginginkan hal itu sejak lama, pendidikan dokter yang di tempuh juga sudah cukup untuknya, hanya belum mengerti tentang tanaman pengganti obat untuk di buat jamu.
Arya juga berhasil meminjam beberapa buku dari ruang baca San, mungkin butuh beberapa bulan uuntuk bisa segera mempelajari dan mengetahui fungsi dari tumbuhan tersebut.
.
.
.
Sudah 2 hari ini Rico terikat dengan posisi tangan menggantung, dia hanya di berikan minum dan makan oleh pengawal yang berjaga, Rico masih belum mengaku siapa yang memerintah nya untuk menculik Ayu.
Sedangkan Karla heboh karena tidak mengetahui kabar Rico, dia juga tidak tahu dimana Rico menyekap Ayu, San yang tidak masuk ke kantor juga membuat Karla curiga kalau San tengah mencari Ayu dan Rico membawa kabur.
Trrrrdddtttt....Trrrrdddtttt...
Ponsel Rico yang di sita paman Wirakha berdering, tertulis dengan nama kontak "Babe" segera paman memberitahukan bahwa ada yang menghubungi pria tersebut.
San yang merasa curiga langsung mengangkat telepon tersebut tanpa bersuara, tampak jelas suara cempreng tersebut milik Karla puteri dari pak Wicaksono.
Karla : "Co..kamu dimana? cewek sialan itu masih sama kamu kan?"
San : "Karla !!!"
Terkejut yang mengangkat adalah San, Karla langsung menutup telepon, Wajahnya tampak sangat cemas, dia tidak menyangka San dengan mudah menemukan Rico.
"Sialan..."
__ADS_1
ucapnya kesal.
Sebelum dia benar-benar lari, paman Wirakha telah lebih dulu menghubungi pengawal yang berjaga di kantor JBO, San masih tidak mengerti kenapa Karla bisa tega melakukan hal tersebut, padahal dia juga seorang wanita.
"Saya telah meminta mereka untuk menahan nona Karla dan membawanya ke kawah ijo"
kata paman Wirakha, yang baru selesai menelepon salah satu pengawal di JBO.
Ayu yang sedang berjalan-jalan tidak sengaja mendengar, dia penasaran kemana perginya San, apa dirinya begitu sibuk sehingga mengabaikan chattingan nya.
Ayu bingung harus bersikap seperti apa, di satu sisi dia tidak ingin mas San membalas dendam atas dirinya, satu sisi mereka jahat yang menggunakan dirinya untuk menjatuhkan San.
"Puteri..."
ucap paman yang terkejut melihat Ayu telah berada di balik pintu.
Ayu hanya tersenyum seolah dirinya tidak mendengar apa-apa.
"Mas San, ada di dalam?"
tanya Ayu kepada paman Wirakha, mendengar suara Ayu, San bergegas keluar ruangan baca.
"Ada apa dek...?"
San yang menghampiri Ayu di depan pintu.
"Mas...Ayu sudah baikan, boleh Ayu pulang?"
"Pulang? tidak !!!"
jawab San dengan masam.
"Ayu mau ambil pakaian..."
"T i d a k u s a h, paman bisa menyiapkannya"
dikte San kepada Ayu.
"Mas udah bicara sama ayah, bulan depan setelah selesai urusan ayah di luar kota, kita akan menikah"
sambung San yang membuat Ayu terkejut.
"M E N I K A H???"
sahutnya tercengang.
"Tapi mas...Ayu belum siap."
"Siap tidak siap, mas tidak mau kamu sendirian lagi"
ucap San yang kemudian menarik tangan Ayu untuk masuk ke dalam ruangan baca.
"Dia begitu khawatir dengan ku, tapi kenapa banyak rasa ragu di hati ku"
ucap Ayu dalam hatinya.
"Ada apa dek?"
tanya San melihat Ayu terdiam.
"Apa yang membuat mu ragu?"
"Ayu hanya belum siap mas, aku takut, aku tidak akan bisa menjadi isteri dan ibu yang baik"
Ayu akhirnya mengungkapkan rasa di hatinya.
Mendengar itu San terlihat murung, dia tahu mungkin dia begitu terburu-buru, dia hanya ingin bersama dengan Ayu, setidaknya sampai Ayu menua, San terus bersama nya.
"Maaf ya dek, mas tidak tanyakan pendapat mu."
Ruangan yang sangat dingin itu memang di peruntukan ruang istirahat San, dalam masa pemulihan efek sampingnya. Ayu melihat-lihat isi ruangan agar tidak terlihat canggung antara dia dan San.
"Tidak mas, Ayu yang harusnya minta maaf, karena Ayu masih takut"
kata Ayu yang melirik sebuah buku berjudul "Keabadian yang fana"
"Mas...boleh Ayu berpikir dulu, sampai siap Ayu akan beritahu mas"
tambah Ayu menatap ke arah San.
.
.
.
(Bersambung)
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1