Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Berusaha mengingat


__ADS_3


Setiap agama selalu mengajarkan kebaikan, patuh kepada Tuhan dan orang tua, namun Ayu sendiri merasa murka akan sikap ibunya, bapak Yulius sendiri juga sangat baik mau menerima Ayu sebagai anak dari isterinya, tidak ada artinya sekarang, Ayu terlampau sakit hati kepada ibu dan bapaknya.


Ayu beberapa kali berusaha menjual rumah peninggalan sang nenek, namun di pikir kembali biarlah, rumah ini akan selalu menjadi kenangan untuk dirinya.


Hari ini Ayu ada siaran jam 10 pagi, siaran bersama dengan Arya sementara menjadi co-host karena Ayu sendiri belum mempunyai program sendiri.


"Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh, selamat pagi pendengar B Radio, apa kabar pendengar pagi ini? Semoga baik-baik ya…hari ini aku di temenin, sama teman aku yang cantik, Ayu Laras"


Arya yang melakukan opening siarannya.


"Pagi mas Arya, pagi juga buat kalian yang masih mager, selamat beraktivitas, senang sekali saya Ayu Laras dapat menemani Anda dalam acara TANYA SEHAT Selama satu jam ke depan, dengan selingan lagu-lagu Pop Indonesia terbaru"


Siaran pun berjalan lancar seperti biasa, selesai Ayu kembali membuat konsep buat siaran selanjutnya, Ayu merasa tidak sabar, apa yang akan San katakan kepadanya.


"Yu...kamu enggak makan siang?"


tanya Arya yang menghampiri Ayu di meja kerjanya.


"Mas makan aja duluan, aku masih bikin konsep."


"Mau aku bungkusin enggak?"


tanya lagi arya.


"Makasih mas."


sahut Ayu.


Arya pun berlalu meninggalkan Ayu, bergegas menuju kedai warteg langganan Arya, memesan makanan dengan menu sederhana, dia bahkan hafal menu yang selalu Ayu pesan.


Nasi sedikit, tumis tempe kacang panjang, bakwan jagung, sambel teri petai dan kerupuk, Arya juga memesan menu yang sama di tambah dengan teh es, Arya membungkus dan berniat untuk makan bersama ayu di kantor mereka.


Ayu masih sibuk akan konsep yang di buatnya untuk DJ lain, kalau di kata Ayu tim kreatif nya, jadi dia lebih banyak bekerja di balik radio. Ayu agak kesulitan tidak seperti biasanya, dirinya masih saja terpikir akan mimpi yang sama dengan apa yang akan San bicarakan.


Tidak sabar menunggu sore, Ayu bergegas mematikan layar laptop dan pergi, entah kemana dirinya tapi di hatinya terus bertanya dan bertanya, tidak akan tenang bila semua belum terjawab.


Ayu berjalan menuju jalan raya untuk memanggil taksi, Arya yang melihat hendak menghampiri namun Ayu keburu masuk kesebuah taksi.


"Jalan pak."


ucap Ayu yang juga tidak tahu hendak kemana sebenarnya.


.


.


.


Ayu yang tidak tahu harus kemana, dia hanya akan menunggu San di rumahnya, paling tidak di rumah iru pasti ada yang tahu siapa San itu sebenarnya siapa. Sedangkan Arya kembali ke kantor dan menikmati makan siangnya.


San masih sibuk akan urusan dengan ayahnya, San yang masih belum paham akan bisnis tidak begitu tertarik, namun masalah olahraga atau berburu San masih mau ikut sang ayah.


Bedanya di zaman sekarang berburu tidak menggunakan anak panah melainkan SENAPAN angin, yang menjadi sasaran adalah tupai atau burung. Walau sedikit berbeda San dengan mudah mempelajari cara kerja dari senapan tersebut.


Sama seperti dahulu dirinya yang sangat suka berkuda menjadikan itu hobi di masa sekarang. Banyak sosok yang kagum akan San yang sangat pandai, banyak pula yang ingin menjodohkan anak gadis mereka dengan San.


"Direktur San..."


sapa seorang pria paruh baya.


"Dia pak wicaksono, kepala bagian import-ekspor"


bisik paman Wirakha yang berdiri tepat di samping San.


"Ada apa pak? ada yang bisa saya bantu?"


tanya San yang terlihat ramah.


"Saya mau mengundang direktur di acara makan malam keluarga saya"


jelasnya sambil memberikan selembar kartu nama.


San yang menerima itu belum begitu paham akan maksud pak wicaksono, dia hanya menerima tanpa berkata "mengiyakan" atau "tidak" San hanya berlalu melewatinya.


Wicaksono hanya terdiam memandang sinis San yang berlalu melewatinya, paman Wirakha tahu sebenarnya maksud pak Wicaksono, belia mempunyai seorang anak gadis yang baru saja bekerja di anak perusahaan yang akan di pengan San.


Mungkin sebelumnya pak Wicaksono sudah lebih dulu berbincang kepada ayah San, namun tidak di respon, tapi masih saja nekat mendekati petinggi Jaya corp.


Ayu yang telah tiba di rumah megah San, ingat betul ketika dirinya begitu kagum akan rumah besar itu, saat ini juga masih sama perasaannya, Kagum.


Entah bagaimana Ayu bisa masuk ke rumah tersebut, Ayu bahkan tidak dapat melihat ke dalam karena pagar pagar nya begitu tinggi dan rapet.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?"


tanya seorang satpam yang menghampiri Ayu.


"Ehh...aku cuman mau tanya om."


"Tanya alamat??"


ucap lagi si satpam.


"Puteri Kemuning !!!"


kata seorang wanita yang berpakaian rapi keluar dari sebuah mobil pick up, yang membawa beberapa bahan makanan.


"Maaf...mbak panggil saya?"


tanya Ayu bingung.


"I..iya maksud saya mbak, mau ketemu tuan muda ya?"


mbak yang terlihat seperti kepala pelayan rumah San.


"Ehemmm....."


"Ayo mbak masuk dulu...."


kata wanita itu tiba-tiba menggandeng tangan Ayu masuk ke dalam rumah besar tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Ayu di ajak masuk dan di berikan minuman yang tidak biasa bagi Ayu, teh bunga teratai.


"Saya Asih, mbak tidak ingat saya?"


tanya wanita yang masih terlihat segar itu.


"Asih?????"


"Justru saya ke sini mau tanya kepada San, sebenarnya apa yang terjadi kepada saya?"


ucap Ayu wajahnya penuh akan tanda tanya.


"Hiduplah seperti air mengalir, sampai kau yang tahu sendiri kemana ujungnya"


ucap mbak Asih tersenyum.


"Maksudnya saya enggak boleh cari tahu tentang siapa San?"


kata Ayu semakin bingung.


"Bukan tidak boleh, suatu saat ingatan puteri akan kembali dan akan mengingat semuanya."


"Mbak tadi manggil saya apa? puteri apa?"


"Puteri Ayu....untuk cah Ayu seperti anda"


ucap mbak Asih yang tersenyum.


Ayu semakin tidak paham, membuatnya sakit kepala dan dadanya sesak, Ayu hanya ingin mendapatkan jawaban, tapi sama halnya San semua orang bungkam tidak ada yang mau berbicara.


Tidak mendapatkan jawaban Ayu berpamitan untuk pulang dan tidak ingin menunggu San, dirinya masih bingung, Ayu yang merasa terlahir sangat sial tiba-tiba saja seorang pemuda kaya raya memintanya menikah, bukannya senang Ayu merasa ada yang aneh terlebih dengan mimpinya.


.


.


.


San yang telah selesai urusannya dan bergegas untuk pulang, selagi dalam perjalanan, San bertanya tentang kekuatannya.


"Apa efek samping nya paman?"


tanya San yang duduk santai di dalan mobil.


"Berbeda-beda pangeran, misal nya saya, paling lemah akan ketika bulan purnama sempurna."


"Aku berusaha menjalankan benda mesin ini, ternyata butuh banyak tenaga, rasanya sampai lemas."


"Lama-lama akan terbiasa pangeran."


"Efek samping selain itu apa paman?"


tanya San penasaran.


"Di kala malam bulan purnama penuh, kita semua yang abadi akan berdiam diri sampai pagi menjelang, karena cahaya bulan purnama akan menunjukan siapa kita sebenarnya"


jelas paman Wirakha.


tanya San kembali.


"Itu hanya berlaku malam ketika kita keluar pada malam bulan purnama penuh, kalau kita bisa lewati satu malam, besok pagi akan normal kembali."


Perubahan yang di maksud paman sendiri San belum begitu paham, dirinya juga belum pernah mengalami hal tersebut.


"Paman kita jemput Ayu, kemudian antarkan kami ke danau"


pinta San kepada paman Wirakha.


"Baik pangeran...."


Merekapun melajukan mobilnya menuju kediaman Ayu.


Sedangkan Ayu kembali pulang dengan segudang pertanyaan, menceritakan kepada Deska pun belum tentu juga mengerti.


"Habis dari mana lu?"


tanya Deska yang tengah mentato seorang kenalannya.


"Des...menurut lu, gue gila enggak sih pernah mimpi tentang San?"


"San anak orang kaya itu?"


"Iya siapa lagi emang?"


"Mimpi apa emangnya lu?"


"Gue mimpi dia, namun dengan tampilan beda, kayak zaman kerajaan gitu,terus ya, di mimpi itu dia juga panggil aku dengan sebutan "ADE" masuk akal enggak sih, kalau San itu orang yang sama di mimpi gue?"


jelas Ayu kepada temannya itu.


"Bisa jadi mbak...."


sahut seorang kenalan deska bernama Tantri.


"Maksudnya...?"


"Itu adalah bagian dari masa lalu kamu, kamu juga yang harus mencari tahunya sendiri"


jelas gadis tomboi yang suka mentato badannya ini.


"Nah...Tantri kan jago main tarot, coba deh ramalin temen gue ini"


ucap Deska menyodorkan Ayu.


"Apaan sih lu Des...."


"Nanti sewaktu-waktu kamu mau bertanya, aku siap membantu kamu"


ucap Tantri yang hobi memakai pakaian serba hitam.


"Iya mbak, gue balik dulu ya."

__ADS_1


"Tumben...ya sudah hati-hati."


Ayu berlalu kembali ke kost, di sana San dan paman Wirakha telah menunggu sekitar 5 menit, Kost Ayu yang berada di komplek perumahan yang sangat nyaman, akses mobil bisa masuk, lingkungan yang juga bersih.


"Dek...."


"Udah lama menunggu ya?"


tanya Ayu menghampiri San yang berdiri di depan kost Ayu.


"Tidak juga...ayo masuk"


San yang membuka kan pintu mobil untuk Ayu masuk.


"Makasih...."


"Sore mbak Ayu..."


sapa paman Wirakha yang duduk di bangku supir.


"Sore juga om..."


"Paman antar kami ke danau..."


pinta San yang duduk di samping Ayu.


Selama perjalanan, Ayu hanya terdiam melihat ke luar jendela, mengingat kemana sebenarnya mereka akan pergi. Danau yang di maksud apakah sama dengan mimpinya. beberapa kali mereka melewati pos untuk masuk ke tempat tersebut, tempat yang yang sekarang menjadi cagar alam.


Anehnya hanya San yang di perbolehkan masuk ketika jam berkunjung tutup, Ayu heran, kenapa hana mereka yang boleh mauk ke dalam, begitu besar pengaruh keluarganya San sampai sangat di utamakan.


akses masuk sudah sangat bagus namun suasana menjadi sedikit agak gelap, mereka sampai ke sana ketika matahari mulai tenggelam, Ayu menyimpan rasa curiga, namun tidak mungkin dirinya muda tertipu, San juga bukan tipikal orang yang menipu.


"Kita sudah sampai..."


paman yang menyetop mobilnya di tengah perjalanan mereka.


"Ayo dek, kita harus jalan ke sana..."


ucap San yang turun dari mobil.


Tanpa berkata Au pun turun mengikuti San, menyisir sebuah padang rumput ilalang nan tinggi, gelap hening dan di temani suara jangkrik. San yang berjalan di depan Ayu, menggenggam tangan Ayu wajahnya terlihat sumringah.


"Kita enggak apa-apa ke sini? aku takut..."


kata Ayu hanya melihat di sekelilingnya.


"Tidak usah takut ada aku."


Mendengar perkataan San, Ayu sedikit lebih tenang, hampir 5 menit berjalan kaki, mereka sampai di tepi danau, Ayu sempat berpikir kalau danau itu akan gelap malam hari, ternyata banyak kuang-kunang berada di tepi danau.


"Danau ini...."


"Kamu inget sesuatu dek?"


tanya San.


"Kamu sebenarnya siapa? kamu tahu danau ini dari mana?"


tanya Ayu penasaran.


"Karena aku yang menunjukan danau ini pertama kali ke kamu dek"


San yang masih belum bisa menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.


Tiba-tiba kepala Ayu terasa berat, gangguan vertigo kembali hadir, Sesaat Ayu jatuh pingsan. Seperti memasuki lorong waktu Ayu mengingat dirinya yang di asuh oleh seorang ibu tunggal bernama Mirah.


Ayahnya seorang prajurit sebuah kerajaan, namun meninggal di medan peperangan, dirinya yang tumbuh menjadi gadis desa biasa, sering menyendiri di bebatuan sungai ketika pekerjaan di ladang telah selesai.


Tidak jauh dari sana terdapat jembatan kecil untuk menuju ke sebuah tempat, di sanalah dirinya bertemu dengan seorang pangeran berwajah sangat mirip dengan San.


Namun Ayu yang berada di zaman itu tidak begitu mudah membuka hatinya untuk seorang lelaki, apalagi yang baru bertemu dengannya. Ayu bahkan terus melihat San selalu berusaha mendekatinya sampai akhirnya mereka menikah.


Sebuah pesta pernikahan yang megah, Ayu juga melihat sang ayah mertua dan ibu mertuanya sangat mirip akan orang tua San di zaman sekarang. Ayu sangat bahagia, mereka berdua sangat bahagia kala itu.


namun satu ingatan Au yang membuat nya tersadar dari pingsannya, yaitu tentang ingatannya ketika dirinya terluka di bagian dada, sebuah benda tertancap di sana.


Seketika ayu terbangun, dirinya telah berada di sebuah kamar, Perasaan Ayu baru sebentar dirinya memejamkan mata, ternyata hampir semalaman Ayu tertidur.


Sepintas Ayu juga melihat wajah Arya di sana, berbeda dengan San, pakaian yang di kenakan Arya lebih seperti jubah, namun Ayu hanya menepisnya, mungkin dirinya hanya bermimpi aneh seperti biasanya.


"kamu sudah bangun dek?"


San yang masuk dengan membawa segelas susu hangat.


"Kamu dan aku...kita...aku tidak mengerti"


kata Ayu yang sangat sulit memahami apa yang terjadi di antara mereka.


"Jangan kamu paksa, saat ini aku selalu ada di sisi mu"


peluk san kepada Ayu.


"Aku baru mengenal mu, tapi seperti hati ku telah lama tahu akan diri mu, aku sangat nyaman berada di peluk mu."


"Kamu mau kan menikah dengan ku?"


tanya kembali San pada Ayu.


"Bolehkan kita menjalani sebagai manusia yang normal pada umumnya, menjadi sepasang kekasih, mengenal satu sama lainnya"


kata Ayu yang merubah intonasi bicaranya kepada San.


"Baiklah aku akan menunggu mu sampai kau siap."


.


.


.


(Bersambung)

__ADS_1



__ADS_2