
Alingga melakukan beberapa cara terapi pendekatan agar Ayu mau berbicara kepadanya, banyak terapi psikologis yang tersedia untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental. Sayangnya, stigma ‘orang gila’ membuat banyak dari mereka yang membutuhkan bantuan enggan menjalani terapi.
Padahal, terapi psikologis bukan hanya dilakukan oleh orang dengan gangguan mental saja. Terapi ini dapat bermanfaat bagi mereka yang merasa memiliki masalah psikologis dan ingin mencegah risiko gangguan yang lebih serius.
Sama hal yang Ayu alami, bagi yang merasa sedih berkepanjangan, cemas berlebihan, menunjukkan perubahan perilaku tidak biasa, diperkenankan untuk melakukan terapis psikologis. Selain itu, jika mulai berhalusinasi atau pernah berpikir untuk bunuh diri, terapi psikologis juga bisa menjadi jawabannya.
Namun, memang tidak semua kondisi cukup diatasi dengan terapi. Terkadang, dibutuhkan kombinasi dengan obat-obatan ketika terapi psikologis tidak memberikan hasil yang maksimal bagi pasien. Salah satu terapi psikologis yang sering digunakan untuk mengubah pemikiran, perilaku, atau emosi terhadap sesuatu. Terapi ini juga bertujuan agar Ayu dapat menyelesaikan masalah dan meningkatkan rasa bahagia.
Ayu akan selalu diingatkan bahwa pikiran dan persepsi yang “sehat” adalah kuncinya untuk sembuh, metode ini dapat digunakan untuk berbagai kondisi mental, seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma, fobia, atau insomnia.
Untuk mengubah pikiran dan perilaku yang berpengaruh terhadap hubungan dengan seseorang. Terapi ini banyak digunakan untuk mengatasi orang yang mengidap bipolar.
Selain itu, terapi ini juga dapat digunakan ketika seseorang mengalami masa-masa sulit kehidupan seperti perceraian atau kematian anggota keluarga.
"Ayu...kenalkan saya Alingga"
kata Alingga yang duduk tepat di depan Ayu.
Matanya hanya melirik lelaki berkulit putih ini, Lingga hanya tersenyum, mungkin Ayu akan mengingat nya bila dia memberitahu namanya. Ayu hanya terus diam, memandang keluar jendela kaca yang besar dari ruangan dokter Lingga.
Pepohonan, angin yang meniup ranting-ranting kayu, membuat dedaunan yang mulai menguning beterbangan, mengikuti arah angin yang membawa mereka. Ayu tiba-tiba seperti ingat dan pernah melihat hal tersebut.
"Pantai...."
ucapnya pelan.
Alingga menoleh ke arah yang Ayu lihat, ya sebelum menuju pantai yang di kunjunginya dengan San, dia melewati beberapa pepohonan lebat nan tinggi, angin laut yang masuk meniup dedaunan yang kering, jatuh secara bersamaan, dia ingat ketika kakinya menampakan di pasir putih dengan air laut yang biru.
"Kamu mau ke pantai?"
tanya Lingga menatap Ayu.
San tahu Ayu ingat akan dirinya yang berada di pantai dengan dirinya, San tidak banyak yang di lakukannya, dia hanya mengawasi dan mengawasi Ayu.
__ADS_1
"Ayu...kamu mau ngomong sama aku?anggap aja aku teman kamu?"
ujar Alingga yang masih belum menyerah.
Dia hanya diam tidak menjawab, Alingga hanya menahan senyum kecutnya, dia pernah menemui pasien yang leboh dari Ayu, mungkin perlahan-lahan nanti Ayu mulai terbuka.
Karena tidak kunjung di respon, Alingga menarik kursi roda yang di duduki oleh Ayu, dia membawanya keluar ruangan, Alingga akan membawanya ke taman di belakang rumah sakit, mungkin dengan begitu Ayu bisa merasa nyaman untuk bisa bicara dengan Alingga.
Lelaki yang memiliki tinggi 185cm itu, tidak bicara dia hanya membantu mendorong kursi roda ke area yang banyak pepohonan di halaman belakang rumah sakit.
Di hamparan rumput nan hijau, berjejer banyak pohon, Ayu teringat akan dirinya yang berlari, di lorong yang banyak di tumbuhi pohon, Ayu berlari dan terus berlari.
"Sebentar ya, aku ambilin kamu minuk dulu"
ujar Alingga yang beranjak ke mesin penjual minuman, berada di samping pintu keluar.
Mungkin ingatanya yang membuat refleks di kakinya, dia pun segera bangkit dan berlari, tapi dia lupa, kondisinya masih belum stabil.
Bbruuuukkkk !!!
Hatinya seperti tertusuk, siapa mereka? kenapa aku sakit sekali melihatnya? ujar batin Ayu.
Posisi dia yang tengkurab, hanya meneteskan air mata, walau dia tidak ingat, siapa mereka, tapi Ayu menangis keras, ada seauatu di hatinya yang membuatnya, marah, kesal dan sakit hati yang teramat dalam.
Alingga yang melihat Ayu terjatuh, dia segera berlari dan membantu Ayu mengangkat badannya, dia tidak tahu apa yang Ayu lihat, Ayu terus menangis tanpa berkata apa-apa.
"Kamu kenapa Yu?"
ujar Alingga yang memegang wajah Ayu.
"Sakit....sakit banget rasanya"
isak Ayu yang memeluk Alingga.
Alingga tidak berkata apa-apa, dia hanya menenangkan Ayu, menepuk pundak Ayu yang mencengkram erat pelukannya ke Alingga. San melihat semuanya, dia tidak dapat berkata apa-apa, dia sendiri bingung, apa yang haris di perbuatnya.
__ADS_1
Untuk sementara dia mungkin akan kembali ke istana, masih mencari cara agar Ayu bisa melihat dan bicara dengannya kembali, San pulang dengan perasaan letih, di depan Kemuning dan anak-anak dia terlihat biasa dan baik-baik saja.
Mereka berkumpul layaknya keluarga, San dan Kemuning layak nya suami isteri, semua orang tidak ada yang tahu akan Ayu, tidak ada yang akan ingat siapa Ayu?.
Kembali ke Ayu, dirinya mulai tenang, Alingga mengantarnya ke kamarnya, Ayu hanya diam seperti awal dia bertemu Alingga, penasaran dengan apa yang terjadi.
Alingga berencana menggantikan Tantri untuk menjaga Ayu malam ini, sekalian Tantri bisa bebenah rumah nantinya, persiapan untuk Ayu pulang.
Terlelap dalam tidur Ayu habis di berikan obatnya, entah apa yang membuatnya tertarik dengan Ayu, masalah apa yang membuatnya begitu mengalami traumatik.
Alingga sengaja tidak tidur, dia menghabiskan membaca buku piskilogi, dia ingin tahu apa yang Ayu alami selama dia koma, Alingga duduk diam dengan santai, segelas kopi latte menemaninya begadang, tepat di jam Ayu akan mulai nangis San datang, dia hanya berdiri di samping Ayu dan melihat kondisi Ayu.
Seperti biasanya, Ayu membuka matanya, dia melirik ke arah kiri, dimana San berdiri di sampingnya, entah Ayu melihat atau tidak, Ayu hanya melirik dinding kosong, kemudian dia bangun, dia tidak dapat mengendalikan dirinya, sambil memeluk guling Ayu menangis sambil membungkam mulutnya.
Rasa apa yang Ayu tanggung sampai dia seperti ini, Alingga hanya melihat di belakang Ayu, dia bahkan memasang sebuah camera untuk merekam aktivitas Ayu.
Ayu menangis sejadinya, terus menangis kencang, seperti dirinya telah kehilangan sesuatu yang berharga, siapa yang di tanggisinya? siapa yang tega melakukan ini terhadap Ayu? ujar Alingga yang tidak tahan.
Dia berjalan ke arah Ayu dan memeluk langsung wanita berusia 26 tahun itu. San yang melihat hanya melotot terdiam, dia tidak menyentuh apalagi melepaskan pelukan Alingga dari tubuh Ayu.
Ayu memeluk Alingga, bahkan Ayu menggigit baju Alingga, saking sakit yang dirasanya tidak hilang.
......Penyakit yang tidak dapat hilang, adalah sakit hati yang teramat dalam.......
...Walau hati berkata memaafkan tapi melupakan butuh seumur hidup....
...~NinLugas~...
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1