
Pagi ini Ayu bangun lebih segar, dirinya tidak bermimpi tentang kisah masa lalunya, hanya saja vertigo nya sering kumat. Ayu juga menelepon Tantri memberi perkembangan tentang dirinya yang telah bisa VI'AR.
Ayu "Pagi mba Tantri..."
Tantri "Pagi Yu, kamu apa kabar?"
Ayu "Baik mba."
Dia mulai menceritakan apa yang terjadi dan kenapa sekarang bayangan masa lalu dia muncul di depan matanya, bukan hal seperti di mimpi. Tantri menjawab dengan tersenyum.
"Ayu...kamu punya kelebihan, itu tandanya memang sudah saatnya kamu tahu, selamat ya aku senang mendengarnya, semoga dengan seperti ini kamu akan segera tahu siapa kamu sebenarnya."
"Yang aku belum temukan adalah nama ku yang dulu"
tambah Ayu.
"Sabar Yu, semua butuh waktu, kamu jangan terlalu memikirkannya, entar yang ada kamu malah sakit"
jelas Tantri.
"Iya mba, terimkasih ya, Ayu pamit kerja dulu."
"Iya Yu,,,,"
.
.
.
"Yan bener Yu? wah hebat dong lu"
seru Deska yang mendengar cerita Ayu.
"Enggak sehebat kelihatannya Des"
Ayu yang membuat kopi di pantry kantornya.
"Mungkin kamu aja belum ketemu jalannya Yu, gue lanjut kerja lagi."
Au juga melanjutkan lagi kerjanya, tapi setelah selesai membuat kopi, Ayu berpapasan dengan seorang pria yang belum pernah di lihatnya, anehnya Ayu bisa melihat flashback kehidupan pria itu mungkin beberapa tahu atau beberapa bulan lalu.
Ayu melihat pria itu yang sedang dalam keadaan kalud karena pacarnya ketahuan selingkuh, namun Ayu tercengang ketika melihat sosok lain yang ada di dalam dirinya, pria dengan tatapan dingin, pria yang berpakaian khas kerajaan itu terus melirik Ayu, membuat nya segera pergi.
"Pria itu siapa? kenapa wajahnya tidak asing?"
seru batinnya.
Pria yang dengan tatapan dingin itu kembali kali ini dia berlalu pergi melewati meja Ayu, rasanya tidak nyaman, Ayu hanya tertunduk, seakan tidak pernah melihat sosok itu.
"Perasaan apa sih ini? kenapa aku resah banget ada dia?"
batinnya terus bertanya akan siapa pria terebut.
"Ayu...kamu kenapa?"
tanya arya yang melihat Au seperti orang gelisah.
"Tidak apa-apa, kok mas."
Arya juga merasakan hal yang sama akan sosok pria yang baru saja keluar dari kantor atasan, arya yakin Ayu pasti melihat sesuatu kembali.
"Mas yakin kamu lihat sesuatu, kamu lihat apa?"
tanya Arya penasaran.
"Eeh.. bukan urusan mas, balik kerja sana"
sahut Ayu ketus.
Arya hanya bisa menahan rasa penasaran nya, dia kembali kerja dan bersiap siaran seperti biasanya. Ayu juga janji hari ini hendak bertemu dengan San dan Arya, mungkin setelah bertemu Arya bisa mengingat kenangan masa lalu.
Dia sangat rajin menatap layar ponselnya, dari kemarin San tidak membalas chat yang dikirim Ayu, sampai Ayu berprasangka kalau San marah kepada dirinya yang pergi bersama dengan Arya.
.
.
.
Kegiatan kerjanya pun selesai dan bergegas pergi menuju rumah San, Ayu khawatir akan San yang tidak mengabari apa-apa, dia juga tidak memberitahukan bahwa dirinya datang bersama dengan Arya.
"Yu..."
panggil Arya di parkiran kantornya.
"Maaf ya mas, lama ya menunggu?"
"Enggak, ayo aku antar."
"Loh kok nganter? mas enggak mau ketemu sama mas San?"
"Aku hanya mengantar, kalau sudah pas waktunya aku juga akan bawa Bella untuk bertemu."
Terdiam mendengar perkataan Arya, Ayu hanya teringat akan memori tentang Arya yang berciuman dengan Bella. Mereka pun melajukan mobilnya, menuju rumah megah San.
...🌸🌸🌸...
San yang tahu kalau Ayu akan datang tidak begitu terkejut, dia harus memberitahu apa yang sebenarnya, siapa dia? siapa San sebenarnya? walau berat sebanarnya takut akan kehilangan kembali, San yakin kalau cinta nya tidak akan mudah pudar hanya saja secara fisik San bukanlah manusia seutuhnya.
Rasa sedih itu hanya akan membuat dirinya sakin terpuruk, dia harus tetap berpikir positif, Ayu lebih baik tahu sendiri dari pada dia tahu dari orang lain.
Ayu yang tertidur selama perjalanan, membuat Arya tersenyum meliriknya, sesampainya di depan rumah San, Arya hendak membangun kan Ayu, namun gambar hologram itu kembali muncul, Arya melihat dulunya sosok Bramasena, merasakan nyaman dengan Ayu, bahkan mereka sempat hendak berciuman, namun Bramasena saat itu tidak bisa berkhianat dari Bella.
"Uuuhhhmmmm...udah sampe ya? maaf ya Ayu ketiduran"
Ayu yang baru bangun.
"Iya sudah, kalian bicara lah, mas pulang dulu ya."
"Makasih ya mas"
Ayu yang turun dari mobil Arya dan segera menuju pos satpam untuk meminta ijin bertemu dengan San.
Ayu berjalan masuk menuju pintu gerbang pagar tinggi rumah San, seperti sudah mengetahui akan kedatangan Ayu, semua orang di rumah tersebut langsung mempersilahkan Ayu masuk dan di antar seorang pelayan menuju kamar San.
Ayu mengikuti langkah pelayan tersebut, baru juga ngeh kalau semua pelayan di rumah San menatapnya dengan senyum selalu menundukan wajahnya.
"Buset dah, nih pelayan cantik-cantik banget"
__ADS_1
celetuk batin Ayu.
Ayu bahkan rada minder karena mereka semua sangat cantik, tubuh yang tinggi dan langsing, kulit mereka putih bersih, lelaki mana yang tidak menyukai kemolekan tubuh pelayan tersebut.
Antara suka dan tidak Ayu merasa iri, karena dirinya tidak bisa selalu hadir, selalu ada di berbagai momen San.
"Silahkan masuk puteri..."
pelayan tersebut membuka kan pintu kamar San.
"Puteri???"
tanya batin Ayu.
Ayu beranjak masuk ke dalam kamar, terlihat sepi, hanya deburan angin yang menyapa gorden tipis di kamar San, Ayu berjalan menuju jendela besar itu, tampak terlihat laut nan biru bagian barat kota A, Ayu lupa kapan terakhir dia jalan ke pantai.
Teringat akan kenangan berama orang tua nya yang menyakitkan, selepas piknik ke pantai, sang ibu pergi kemudian di susul sang ayah yang tidak pernah kembali lagi.
Kriiieeettttt
San yang baru selesai mandi keluar, terpampang jelas perut kotak-kotaknya, berbalut handuk putih, San keluar dengan kondisi rambut masih agak basah.
"Dek... udah lama?"
tanya San melihat Ayu berdiri di balik jendela besar kamarnya.
"Baru kok ma...s"
Ayu yang menoleh langsung menutup wajahnya.
"Duh roti sobek"
batin Ayu yang meleleh melihat San tanpa busana.
"Kenapa dek?"
kata San yang kemudian mengambil kaos dari almarinya.
"Enggak apa-apa, lain kali mandi bawa baju sekalian"
sahutnya ketus.
"Kenapa harus bawa baju langsung, kalo bisa ganti di kamar sendiri"
ujar San menarik handuk yang menutup bagian pinggangnya.
Sentak Ayu berteriak kaget...
"Aaaahhhrrrkkk"
jeritnya membalikan badannya.
"Ya pokoknya ganti nya di dalam kamar mandi"
sahut lagi Ayu.
"Iya dek..."
"Ayu enggak suka aja, badan mas di lihat sama pelayan mas"
ujar Ayu yang kemudian memandang ke luar jendela besar tersebut.
Mendengar perkataan Ayu, San menghampiri dan memeluk ayu dari belakang.Badan San terasa sangat dingin, Ayu terdiam mencium wangi badan San, seperti menyusup ke rongga hidung dan menusuk ke dalam hatinya.
Ayu kembali melihat sepeti gambaran dirinya sering di peluk oleh San seperti ini, Ayu selalu tersenyum membelai lembut tangan San yang memeluk erat perutnya.
"Mas...aku tanya."
"Hmmm"
sahut San yang meletakan wajah nya di pundak Ayu.
"Aku adalah sebuah reinkarnasi wanita yang mas cintai?"
San langsung membuka matanya, terlihat Santai namun San tidak mau Ayu berpikir San mendekatinya karena Ayu adalah reinkarnasi Kemuning.
"Apa yang membuat mu berpikir kamu adalah sebuah reinkarnasi?"
"Mas aku inget ketika kamu yang selalu ada di kala aku menangis di tepi sungai, kamu yang selalu hadir dan selalu membantuku, kamu yang berhasil meluluhkan aku.'
"Kamu sudah ingat semua dek?"
tanya san San.
"Tidak semua, aku belum tahu nama ku siapa, hubungan kita seperti apa?"
"Iya dek, kamu adalah reinkarnasi dia."
"Bukan berarti mas mendekati mu karena kamu adalah dia, tapi karena hati yang memilih mu"
tambah San yang duduk di sofa kamarnya.
"Mas sendiri juga reinkarnasi?"
tanya Ayu penasaran.
"Nanti kamu akan tahu dek"
peluk San sambil duduk, sehingga wajahnya menempel di perut Ayu.
"Semua kenangan itu seperti hologram yang selalu terlintas di wajah ku, mas punya adik atau kakak?"
tanya Ayu yang duduk di sebelahnya.
"Ayo ikut...."
ucap San yang beranjak, tangan nya menggandeng Ayu untuk pergi keluar.
Entah kemana San akan mengajaknya, San membawanya dengan menaiki kuda yang berada si sisi barat rumahnya, ada beberapa kuda kesanyangan keluarganya, termasuk kuda jantan berwarna hitam.
Happ
San mengangkat tubuh Ayu yang hanya berbobot 47kg, dengan tinggi 164cm, duduk di atas kudanya.
"Pegangan dek..."
ucap San yang kemudia juga naik, tepat di belakang Ayu, San⁰ meletakkan tanganya di pinggang Ayu dengan memegang pelana kuda.
Perlahan San membuat Kuda nya jalan santai, dia tidak mau membuat Ayu takut. Di ujung bagian barat rumah San langsung menghadap pantai, San membawanya ke sana, pantai itu yang ada di mimpi Ayu, pantai dengan air berwarna biru dengan hamparan pasir putih.
"Aku pernah ke sini sebelumnya."
__ADS_1
San tidak banyak bicara, setelah sampai San menurunkan Ayu dan mereka berjalan-jalan sebentar di bibir pantai nan sepi itu, di tepian juga terdapat karang dan hutan mangropve. Ayu takjub ternyata tempat itu benar adanya, sangat indah nan cantik.
Sampailah dia di sebuah makan yang berada di balik bukit karang, beberapa makam mungkin adalah makan Kemuning.
"Ini apa mas?"
"Disini makam keluarga, termasuk adik ku"
ujar San menatap dengan tatapan kosong.
"Maaf ya mas, Ayu nanya melulu."
"Ayo kita pulang."
San mengajak Ayu berjalan sampai kerumahnya, tidak sengaja dia melewati sebuah basecamp, banyak sekali pria dengan pakaian karate sedang latihan.
"Aku sepertinya pernah ke tempat ini, tapi kenapa aku tidak ingat kapan memimpikannya?"
ucap batin Ayu.
"Dek..."
panggil San melihat Ayu melamun di depan basecamp.
"Ahh..iya mas"
sahut Ayu yang kemudian berlanjut mengikuti San.
.
.
.
Ayu masih bertanya-tanya kenapa San tidak memberitahukan siapa dirinya dan nama Ayu kala itu. Dia tidak dapat memaksa San, jadi Ayu hanya perlu menunggu,sampai dia ingat akan namanya siapa.
Dia tengah menunggu San di kamarnya, sedangkan sedang melihat beberapa pekerjaan yang ayahnya kirimkan melalui Paman Wirakha.
Bruubbbkkk
Ayu menjatuhkan badannya ke kasur empuk milik San, matanya hanya menatap.langit-langit kamar San, kepalanya sangat penuh dengan pertanyaan, tapi terlalu di pikirkan malah terbebani.
Ayu kemudian teringat siapa pria yang tadi berpapasan dengan dirinya di kantor, Ayu sedikit penasaran dengan pria tersebut, dari pakaiannya dia terlihat seperti mas San, apa karena dia ada hubungannya dengan San, namun itu hanya kemungkinan.
"Apa paman bisa menyusul ayah?"
tanya San yang selesai berdiskusi dengan paman.
"Tenang lah pangeran, semua akan hamba atur."
"Terimakasih paman"
seru San yang kemudian dia bergegas ke kamarnya, takut Ayu menunggu terlalu lama.
"Pangeran..."
kata seorang dayang yang keluar dari kamarnya.
"Ada apa?"
"Saya hanya mengantarkan makan malam, tapi sepertinya puteri tertidur"
jelas dayang istana itu.
"Lain kali kalian tidak boleh masuk kamar tanpa ada aba-aba dari ku."
"Baik pangeran"
seru kedua dayang tersebut.
San yang masuk perlahan takut membangun kan Ayu yang pulas, Memilih merebahkan badannya di samping Ayu, San terus berpikir kenapa dirinya masih saja punya ketakutan yang besar, akan Ayu yang tidak bisa menerima apa adanya dirinya.
San mencoba masuk ke alam bawah sadar Ayu, dia menunjukan wujud aslinya kepada Ayu melalui mimpinya.
Entah kenapa selama ini San enggan hadir di mimpi Ayu padahal dia mahkluk yang bisa dan kapan saja masuk ke alam mimpi seseorang.
Ayu yang bermimpi berjalan-jalan dan lari di hamparan pasir putih nan luas, tertawa riang dan bahagia, namun ketika dirinya berlari dia baru sadar yang dia kejar hanyalah ekor binatang, ekor itu berukuran sangat besar dengan warna hijau kekuningan.
Ayu yang melihat sentak kaget, dirinya melihat mahkluk besar tidak berujung, dia tidak dapat melihat kepala pemilik ekor karena tertutup awan kabut.
San tidak menggunakan kekuatan nya lama-lama, dia merasa Ayu mulai menyadarinya, bergegas beranjak dari mimpi Ayu, dia tidak bisa terang-terangan menunjukan siapa dia sebanarnya.
Ayu yang bangun mendapati San tertidur di sampingnya, Ayu beranggapan itu hanyalah mimpi buruknya, tidak ada firasat bahwa itu adalah San, kekasihnya saat ini.
Ayu menatap kepada San yang memejamkan matanya, dia melirik kemudian, San lebih mirip sang ibu yang memiliki mata monoloid, berbeda dengan sang ayah yang sangat kejawen.
Tiba-tiba San memeluk Ayu, mata nya masih terpejam membuat Ayu kaget.
"Mas enggak tidur?"
"Mas hanya memejamkan mata, rasanya tenang ada kamu di sini dek"
ucap San.
Ayu pun mendekap San, dia ingin sama-sama tertidur, tenang dalam pelukan ke duanya, seakan tidak ada beban di hati Ayu, selama hidupnya mungkin momen inilah yang membuatnya sangat tenang, dengan adanya San Ayu semakin mengerti bahwa perasaan di hatinya ke Arya itu hanya lah persinggahan kala hati nan rapuh ini perlu bahu untuk bersandar.
San yang sedari dulu paling bisa membuat hati Kemuning atau pun Ayu bisa nyaman berada disisinya,tidak mengapa Ayu tidak bahagia dengan orang tuanya, namun sekarang ada San yang membuatnya bahagia.
.
.
.
Klotak klotak, suara yang berasal dari sepatu hak tinggi yang di kenakan seorang wanita dengan rambut panjang terurai, wajah nya cantik dan menawan, semua orang menatap saja bisa jatuh cinta akan kecantikannya.
Dia adalah Bella, bersama orang tua dan mbok Mirah tiba-tiba sampai di sebuah bandara, mendadak mereka kembali pulang ke indonesia, atas permintaan Bella pula mereka pulang tanpa memberitahukan Arya.
Segera Bella dan orang tuanya masuk ke dalam mobil van, yang telah menjemput mereka.
"Mas Arya...aku kembali"
celetuk batin Bella yang mengenakan setelan atasan sabrina pink dengan celana jeans biru lengkap dengan kacamata hitam.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...