
...🌸🌸🌸...
Pagi ini cuaca sedang hujan, mengundang rasa malas yang ada pada Ayu, sejak subuh tadi hujan lebat, Ayu yang bangun hanya rebahan di atas kasurnya. Mematikan semua lampu dan membuka tirai kamarnya, matanya kembali terpejam pagi itu.
Mengusik masuk ke alam mimpi, dia berada di sebuah acara ramai datang bersama dengan seseorang yang memakai baju kebangsaan berwarna gold, tinggi tegap yang paling menonjol adalah dagunya yang terbelah.
Di acara itu Ayu bahkan melihat Arya memakai pakian yang sama dengan pria yang datang bersamanya, namun Arya lebih dominan warna merah, dia bersama seorang wanita yang sangat cantik, wanita itu sangat jelas tersenyum kepada Ayu, bahkan dia terlihat sangat akrab dengan Ayu.
"Ning..."
panggil wanita itu yang seketika membangunkan Ayu.
"Hosshh...hosshh"
Ayu yang bangun penuh keringat di wajahnya.
"****** baru juga merem udah mimpi enggak jelas !!!"
gumamnya.
Karena mimpi yang terus menghantuinya, Ayu bahkan takut memejamkan matanya, entah ini apa gangguan psikis atau apapun itu, mimpi yang membuat Ayu merasakan aneh di hatinya.
Kegiatannya pagi ini seperti biasa, mandi, sarapan terkadang, lalu pergi kerja, Ayu terkadang mengambil.beberapa kerja part time, les privat atau membantu di caffe tatto Adam.
(Di rumah San)
"Pagi sekali pangeran..."
kata si ibu yang melihat San telah rapi dan siap berangkat.
"Iya ibunda...San mau ketemu Ning"
sahutnya.
"Tidak sarapan dulu?"
"San sarapan nanti...pergi dulu ibunda"
sahut San bergegas menuju garasi di mana paman telah siap mengantar San kemana pun.
Sementara San memang harus di bantu oleh paman, San sendiri belum terbiasa dengan hal baru yang ada di dunia ini. San hanya mau Ayu mau kembali seperti dulu bersamanya.
Di perjalanan, paman menjelaskan beberapa fungsi handphone yang di pegang oleh Sanjaya.
"Coba pangeran pencet layarnya !"
arah si paman.
Sambil menekan dengan telunjuk, San mulai mengerti cara pemakaiannya.
"Ini ada kontak Ayu, coba pangeran cari !"
sahut lagi paman Wirakha.
"Ayu ???"
Sanjaya mulai menekan hal di maksud, kemudian dia menemukan wajah Ayu di dalam sebuah kontak.
"Lalu paman?"
"Pencet lagi yang ini"
seru paman yang menunjuk logo kamera agar San bisa menelepon Ayu.
San pun mengikuti apa yang paman bilang, kemudian keluar suara Trrrrdddtttt....tttrrrdddd...
Ayu yang sedang sarapan bubur ayam dekat kantornya di kagetkan dengan nada panggilan ponselnya,
Ayu : "Nomer siapa nih?"
San : "Dek!!!"
San yang sangat sumringah nampak wajah Ayu di papan tipis yang di sebut ponsel pintar.
Ayu : "Kamu!!! ada apa?"
San : "Kamu dimana? aku kesana ya?"
Ayu : "Deket kantor, ya sudah aku tunggu"
sahutnya yang kemudian menutup telepon.
"Lucu banget sih"
celetuk Ayu tersenyum.
Hampir 20 menit akhirnya Sanjaya dan paman sampai di tempat tang di maksud, sebuah warung kaki lima yang menjual menu sarapan.
"Dek..."
sapa San yang baru turun daei mobil.
"Kamu sudah sarapan?"
tanya Ayu yang tumben sekali tidak merasa terganggu akan Sanjaya.
"Belum..."
"Mau bubur atau nasi kuning?"
"Nasi kuning"
"Buk...nasi kuning 1 ya"
"Iya mbak"
__ADS_1
"Sambil makan aku boleh nanya enggak?"
kata Ayu menatap San.
"Boleh dek...."
"Belakangan aku sering mimpi aneh, aku selalu melihat pria yang sama seperti diri mu, yang paling jelas dagu mu terbelah sama seperti dia yang ada di mimpi ku"
jelas Ayu.
"Mimpi adalah kepingan masa lalu yang datang menghantui mu, tenangkan pikiran mu, anggap itu sebagai bunga tidur"
ucap Sanjaya sambil memegang tangan Ayu.
"Tangan kamu dingin banget, kamu enggak apa-apa?"
tanya Ayu heran.
loh
"Tidak apa-apa..."
Sanjaya pun memulai sarapannya, entah apa yang Ayu pikirkan, dia tidak bisa bersikap seperti biasanya, menjaga dirinya agar dia bisa mengingat kepingan mimpinya.
Ayu pun melanjutkan aktivitas kerjanya, Sedangkan San melanjutkan kegiatannya belajar agar cepat mengejar ketinggalannya.
"Yu, kamu dari mana?aku tadi ke kost mu...."
tanya Arya yang melihat Ayu baru tiba.
"Aku???habis mampir di warung bu Ijum..."
sahut Ayu.
"Oh...gimana kamu sudah baikan???
"Lumayan mas...aku lanjut dulu ya!!!"
......🌸🌸🌸......
Sanjaya juga memulai aktivitasnya sebagai mana mestinya di lakukan oleh seorang pewaris tunggal sebuah perusahaan besar, paman wirakha juga memperkenalkan dengan beberapa petinggi perusahaan, mulai pertemuan singkat, makan siang bersama bahkan bermain golf bersama sang ayah, sedangkan sang ibu yang merupakan perancang busana terkenal juga sibuk akan beberapa butik yang di kelolanya, keluarga San yang sangat kaya raya membuat seorang jurnalis tertarik untuk mewawancara keluarga Jaya, bahkan sang jurnalis menuliskan beberapa buku kiat sukses sang penguasa Jaya Surapha.
Sepulang kerja Ayu bergegas bersama Deska menuju studio tatto milik adam, baru juga mau pergi Arya datang menghampiri Ayu, entah mengapa Ayu sedang tidak mood berbicara kepada Arya, mungkin menjaga jarak lebih baik untuknya.
"Ayo cepetan Des..."
seru Ayu bergegas menuruni anak tangga.
"Ada apaan sih?"
tanya Deska bingung akan sikap Ayu.
"Entar gue ceritain...ayo..."
Mereka pun bergegas menuju studio tatto Adam, Deska yang membawa skuternya melaju dengan kecepatan sedang,
tanya Deska yang mengenakan helm BOGO berwarna pink.
"Gak kok!! Enggak enak aja kalau ngerepotin dia terus"
sahut Ayu yang duduk di belakang Deska.
(Kantor San)
Sanjaya yang masih belajar dan memahami beberapa hal mengenai apa itu saham? belajar beberapa bahasa sekaligus, Sanjaya memperhatikan langit sore dari luar jendela, pikirannya hanya ingin bertemu dengan Ayu.
"Apa hari ini cukup paman?"
tanya Sanjaya kepada sang paman.
"Cukup pangeran"
sahut paman Wirakha dengan senyum.
Sanjaya dan paman beranjak ke sebuah parkiran mobil, dengan penuh pertanyaan akhirnya Sanjaya mencoba kekuatan baru yang di peroleh ketika dirinya bertapa.
"Paman apa aku bisa menggunakan kekuatan ku?"
tanya Sanjaya penasaran.
"Cobalah !!!"
sahut paman yang menunjuk kesebuah pintu mobil.
Sanjaya duduk dengan tenang dan berkonsentrasi agar mesin mobil menyala, tidak lama Sanjaya berhasil menyalakan mobil menggunakan kekuatan pikirannya Sanjaya membawa mobilnya menuju kost Ayu.
Paman Wirakha hanya tersenyum, entah mengapa baru saja Sanjaya menyadari tentang kekuatannya, sebuah alat di masa sekarang memang canggih tapi tidak secanggih mereka di masa lampau.
Kekuatan yang di gunakan Sanjaya ternyata berpengaruh kepada kondisi tubuhnya yang menjadi kedinginan, namun tidak dirasanya dia hanya ingin segera bertemu dengan Ayu.
.
.
.
Arya merasa bingung akan sikap Ayu yang tiba-tiba menjauhinya, entah apa yang dirasakannya tapi Arya tidak ingin Ayu menjauhinya, ada perasaan yang tidak ingin mengabaikan Ayu, apa lagi menjauhi Ayu walau dirinya telah memiliki seorang tunangan.
Hampir 2bulan ini Arya tidak berhubungan dengan Bella, Arya cowok yang pengertian, dia tidak ingin Bella merasa terganggu kuliahnya karena hubungan mereka.
Ayu yang baru tiba bersama Deska langsung duduk di sebuah bangku caffe studio, pikirannya masih di hantui oleh mimpi yang terus datang di setiap dirinya tidur.
"Kenapa dia sayang?"
tanya Adam yang segera menyiapkan beberapa minuman dingin.
"Lagi kumat!!!"
__ADS_1
sahut Deska kesal akan sikap Ayu.
Sanjaya yang tiba di kost Ayu, dirinya masih bingung mengunakan ponsel dan kekuatannya belum stabil, jadinya San hanya menunggu di depan kost.
Hampir jam 12malam, Ayu kembali bersama Deska menuju kost mereka, setibanya kost, Ayu melihat mobil San terparkir, namun Ayu merasa ada ada yang aneh.
"Kenapa Yu?"
tanya Deska yang menghampiri mobil San.
Ayu tidak menjawab terus menghampiri dan berusaha menengok ke dalam mobil. Samar namun dia melihat jelas San yang tertidur di dalamnya.
"Mas....mas..."
Au yang memanggil ambil mengetuk kaca pintu mobil.
"Kenapa Yu??"
"Si orang aneh di dalam"
jawab Ayu yang berusaha membuka pintu mobil San.
"Coba lu telepon, siapa tahu bangun"
Sejenak Ayu pun tersadar bahwa pagi tadi San meneleponnya, Ayu pun segera menelepon dan berhasil ponsel San berdering, San pun tersadar melihat Ayu tengah berdiri menatap dirinya.
San pun keluar dari mobil, perasaan nya lega melihat wajah Ayu.
"Enggak ada kerjaan ya, sampe nongkrong di depan kost ku"
seru Ayu nampak kesal akan sikap San.
Seolah tidak mendengar Ayu, San yang menghampiri langsung memeluk gadis yang di cintanya. Ayu hanya tercengang kaget akan sikap San, Deska merasa senang menurutnya San selain baik dia juga sangat memahami Ayu.
"Apaan sih!!"
Seru Ayu berusaha melepaskan pelukan San.
Tidak berkata apa-apa San ambruk dan Ayu tidak kuat menahan badan San yang lumayan berat.
"Hei...Des tolong!!"
teriak Ayu yang kaget.
Ayu dan Deska memapah San ke dalam kamar Ayu, badannya San sangat dingin, bingung harus menghubungi siapa, terpaksa Ayu menelepon Arya.
Trrrdddnnntt....Trrrrdddtttt....
Suara ponsel Arya yang berdering, kebetulan Arya juga blum tidur dan menatap layar ponselnya segera di angkat panggilan telepon dari Ayu, dia menelpin selarut ini hanya untuk meminta tolong kepada Arya untuk menolong San.
Setelah mendengarkan Ayu, Arya bergegas menuju kost Ayu dan membawa perlengkapan obat di rumahnya. Setibanya di kost ayu, Arya langsung memeriksa badan San, walau di hatinya banyak pertanyaan untuk Ayu tentang dirinya yang dekat dengan anak seorang pengusaha terkenal.
Suhu badannya teru turun, San menggigil kedinginan, Arya merasa aneh, untuk seseorang yang tinggal di daerah tropis bagaimana bisa hipotermia hebat.
Namun Arya hanya menyimpan semua pertanyaan.
"Bantu aku lepas pakaiannya, Des rebus kan air taruh d ember atau semacamnya, ambilkan aku beberapa selimut"
perintah Arya.
Ayu mengambil beberapa selimut dari kamar Deska dan di lemarinya, kemudian membantu arya melepaskan baju San dan menutup badan San dengan beberapa lapis selimut. Sementara air rebusan telah siap, San yang masih menggigil kemudia Arya membantu merendam kaki San dalam sebuah wadah berisi air hangat.
Arya juga membuatkan ramuan jamu seperti jahe tumbuk yang kemudian di rebus dan airnya di minum kan kepada San, air rebusan jahe dapat menghangatkan bagian organ dalam tubuh.
Selang beberapa menit, badan san mulai stabil dan Arya memberikan obat agar San dapat beristirahat.
Akhirnya San dapat beristirahat tanpa merasa kedinginan, melihat Ayu yang tertidur di samping Deska, tidak tega untuk membangunkannya, Arya perlahan keluar untuk segera pulang walau sudah pukul 04.15 waktu sekitar.
"Arya...sudah mau pulang?"
tanya Deska yang tidak sengaja terbangun.
"Iya Des, kondisi dia udah stabil, biar Ayu bisa istirahat, kabarin kalau sudah bangun"
jelas Arya kemudian menutup pelan pintu kamar Ayu.
" Makasih ya..."
Tidak mau mengganggu Ayu istirahat Deska pergi kembali ke kamarnya, Sedangkan Ayu tertidur di lantai beralaskan karpet bulu berwarna putih.
Hampir 1 jam akhirnya San tersadar, mendapati dirinya hanya berselimut tebal tanpa bajunya, pandangan San tertuju pada Ayu yang tidur di lantai kamarnya.
San yang udah benar pulih beranjak dari kasur, perlahan menggendong Ayu membawanya ke ranjang. Seperti biasa Ayu yang tertidur bermimpi kembali, dirinya yang berlari-lari di sebuah pantai bersama pria yang tidak asing lagi, pria yang memiliki ciri fisik seperti San.
Ayu mengerutkan keningnya, tangannya menggenggam tangan San yang duduk di sebelah tubuhnya. San hanya memperhatikan wajah Ayu, untuk beberapa saat San menunggu Ayu melepaskan tangannya.
Ayu masih terbuai mimpi terlihat bahagia sampai dirinya merasakan sekarat dan tidak ada yang menolongnya.
Seketika Ayu terbangun karena mimpi itu Ayu merasakan dadanya seperti tertusuk sesuatu.
"Dek....kamu kenapa?"
tanya San kepada Ayu.
"MAS SAN...!!!!"
Ayu yang tidak sadar mendaratkan ciuman di bibir San, dia kaget dengan apa yang di lakukan Ayu, namun rasa rindu pada dirinya tidak dapat di pungkiri, San membalas ciuman Ayu, memakan habis bibir pink Ayu, sesaat Ayu menikmati cumbuan hangat dari San, kedua tangan San memegang wajah Ayu yang nampak memerah, bibirnya masih mencium mesra Ayu.
Sampai Ayu membuka matanya dapat terlihat jelas wajah San yang putih pucat sedang mencium bibirnya, sentak Ayu kaget dan mendorong badan San.
Tidak berucap apa-apa, San hanya terdiam, terlebih Ayu merasa malu, Ayu kemudian merebahkan badannya dan menutup wajahnya dengan selimut, sedangkan San duduk kemudian mengambil pakaiannya, terus duduk sambil menunggu Ayu bangun.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1