
Ayu mungkin hanya menghayal, mana mungkin di pasir dapat terdengar suara sepatu kuda, sama halnya San, dia melihat Ayu di pantai yang sama dengan dirinya, tapi Ayu tidak bisa melihatnya, bahkan tidak mendengar kalau pun dia memanggil Ayu.
San mungkin tahu Ayu memang sudah layaknya bahagia dengan dunia dia, kisah cinta mereka hanya lah sebuah kebetulan yang Tuhan tidak sengaja pertemukan.
Melihat di depannya Ayu yang lama sekali dia tidak jumpai, rasa rindu di keduanya memang menusuk masuk ke dalam hati, tapi apa boleh buat dinding kaca pemisah di antara keduanya tidak dapat di runtuhkan.
"Ayu..."
Alingga yang menghampiri mengulurkan tanganya, dia mau mengajak Ayu berjalan bergandengan.
Ayu tanpa ragu menyambut dan tersenyum bersama Alingga. San terus melihat keduanya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia terus diam bagai patung, mebgikuti mereka yang melangkah bersama.
"Aku boleh menunggu kamu siap?"
tanya Lingga.
"Menunggu untuk apa?"
"Untuk kamu siap menerima aku!"
"Aku tidak bisa janji kapan...?"
"Aku yakin pasti...pasti kamu akan menerima lamaran ku"
ujar nya.
San terus mendengar perkataan mereka, tanpa bisa dia bicara dengan Ayu, dia memutuskan untuk kembali ke istana sebentar, memberikan waktu untuk Ayu dan pria di sebelahnya, menerima kenyataan bahwa semua sudah di atur yang di Atas.
San kembali bersama sang kudanya, seperti biasa, ada Ben yang menyambut sang ayah, juna dan Kemuning, mereka tampak seperti keluarga lainnya, San turun dengan gagah, dia merangkul Juna yang telah bisa berlari.
"Ayah...Arjuna juga mau naik kuda"
ujarnya.
"Iya nanti ayah ajak ya"
sahut San.
"Ayah kan capek, Juna turun dulu ya, main sama kakak Ben ya"
ujar Kemuning menyambut badan Juna.
"Iya bunda"
Juna pun berlari menghampiri si kakak yang mengantar si kuda ke kandangnya.
__ADS_1
"Ada apa mas?"
tanya Kemuning membawakan jubah yang di pakai San.
"Tidak....."
sahut nya tersenyum, dia berdiam diri di lantai atas istana.
Terkadang sebagain besar harinya di habiskan disana, entah apa yang di pikirkan, bukan dia tidak bahagia, dia senang berkumpul bersama dengan Kemuning, hanya saja ada rasa rindu di hatinya kepada si Ayu.
"Mas...."
Kemuning yang tiba-tiba menghampiri.
"Iya dek..."
"Mas merindukannya?"
tanya Kemuning.
San diam tidak menjawab.
"Temuilah mas, Ning tidak marah, mungkin Ning egois, tapi sekarang Ning mengerti"
ujar nya.
ujar San yang merangkul Kemuning.
Dia juga menyadari suaminya juga mencintai Ayu, dia tidak ingin karena dirinya San terluka, Kemuning mengijinkan San bertemu Ayu, dia juga mengijinkan bila suatu saat Ayu ingin bertemu dengan anak-anak.
Cinta memang egois, dia tidak peduli bagaimana perasaan orang sekitarnya, dia tidak peduli bagaimana orang lain bisa terluka karena nya, mungkin Kemuning juga merasakan apa yang di perbuat kepada Ayu salah, dia membuat Ayu seperti orang gila karena menghukumnya dengan pandagan yang di lihat Ayu tentang mereka.
.
.
.
Ayu dan Alingga akhirnya sampai di rumahnya, Alingga mengantar Ayu sampai ke depan pintu.
"Makasih buat hari ini, makasih buat apa yang kamu lakukan untuk ku"
ujar Ayu.
Tanpa aba-aba, Alingga mengecup kening Ayu, kaget Ayu hanya terdiam, sedikit pun dia tidak ada perasaan apa-apa kepada Alingga.
"Night...aku balik dulu ya"
__ADS_1
ujar Alingga kemudian masuk ke mobilnya dan berlalu.
Ayu benar-benae bingung, disaat dia masih menyimpan rapi nama San di hatinya, Alingga datang memberinya harapan yang sangat di nanti seorang wanita.
Mungkin dicintai akan membuat kita menjadi wanita yang tepat untuk pria tersebut, dari pada mencintai yang pasti akan terluka, tapi itu memang sebagai resiko hati yang tidak dapat di rubah.
Bila tidak ingin sakit, tidak ingin terluka, tidak usah mencintai, karena tidak ada cinta yang indah, cinta semua butuh pengorbanan, waktu, pikiran dan hati.
Ayu menceritakan semua nya kepada Tantri, dia bingung harus bagaimana, tidak mungkin dia bisa mengkhianati hatinya yang telah terikat untuk San, dia juga tidak mau Alingga menganggap Ayu jahat.
Tantri hanya ingin kebaikan untuk Ayu, dia meyakinkan Ayu saat ini yang Ayu butuhkan adalah Alingga, bukan pria yang d tunggu Ayu. Alingga yang masa depan terjamin, latar belakang yang sangat baik, kurang apa?.
Ayu mungkin akan memikirkan apa yang Tantri katakan, sampai dia benar-benar siap memilih, malam itu Ayu beristirahat dengan tenang di kamarnya, tidak sengaja Ayu bermimpi aneh, dia berada di ruangan yang gelap, tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar apapun, tapi tiba-tiba seorang kakek-kakek yang berpakaian putih datang menghampiri.
Seperti membuka pintu kaca, beliau masuk menghampiri Ayu, dia tidak asing bagi Ayu, kakek yang menolongnya memberi batas untuk dia dan San. Dia juga yang menjelaskan bahwa dunia mereka berbeda, walau nantinya San bisa hadir menemui Ayu.
"Nduk...aku harus membuka ini, semua sudah cukup, kamu juga harus hidup di dunia mu, berbahagialah nduk"
ujar si kakek.
Ayu tidak berkata dia hanya mengangguk, bertanda iya, dia akan bahagia, meniti hidup yang baru untuk masa depannya. Tanpa berkata sang kakek hilang di hadapan nya, tiba-tiba ketika dia yang tadinya menunduk, mengangkat wajahnya dia kembali ke pantai, tempat yang baru di kunjunginya.
Dia melihat dirinya dan Alingga yang berjalan bergandengan, dia juga melihat San yang berjalan perlahan sambil menaiki kudanya di belakang Ayu. Kaget, ternyata San tepat berada di belakangnya, tapi Ayu tidak sadar bahkan tidak melihatnya.
Tapi mengapa? apa ini yang kakek tadi maksud? ujarnya dalam hati.
Ssrrrruuukkkk !!!
Sukamanya seperti tertarik dan kembali ke raganya.
Dia terbangun dan bingung apa yang terjadi, kenapa dia tidak bisa melihat San saat itu.
Tapi dia tidak ingin itu semua di jadikan beban, Ayu kembali tidur dan besok memulai sebuah aktivitas baru, dia mencoba membuat sebuah kue, memulai usaha jasa pembuatan kue ulang tahun dan wedding.
Hanya mempromosikan melalui medsos baru yang di buatkan Tantri, dia mencoba membuat beberapa kue dan memotret nya memberi label AyCake. Setidaknya ini sebuah awal Ayu memulai harapan untuknya melanjutkan hidup, cita-cita nya masih sama, dia ingin bekerja di bidang penyiaran.
Entah kapan dia akan bisa bekerja sebagai newsanchor atau pembaca berita televisi, Ayu tetap semangat memulai hari-harinya sampai waktu itu akan tiba, Alingga juga membantu promosikan kue yang di buat Ayu, beberapa perawat, dokter lainnya,bahkan ibunya sendiri.
Alingga hanya tinggal bersama dengan sang ibu, dia sering mengajak ibunya pergi ke kios kue Ayu, sang ibu juga sangat menyukai Ayu, anaknya cantik, baik dan sopan, sang ibu sangat mendukung jikalau, Alingga bisa menikah dengan Ayu.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1