Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi

Kisah Cinta Pangeran Jayanaga : Reinkarnasi
SR. Misi Tubagus Resma


__ADS_3


Lelaki kekar itu tengah duduk di atas kudanya, dia terus berjalan menyusuri ke gunung bebatuan, menurutnya kali ini terbilang cukup rumit, perintah oleh Sang Raja Jayanegara langsung. Dia harus menemui Phon, seorang ahli pedang yang tengah bersemedi di balik gua bebatuan, sang raja memerintahkan dia untuk menjemput Phon, karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, Phon yang bernama asli Wung, adalah seorang ahli pedang yang sangat termasyhur di zaman itu, dia adalah sahabat dari Raja Jayanaga, untuk beberapa alasan Tubagus resma yang dipilih untuk menjalankan tugas.


Sebelum menjadi sahabat dari Raja Jaya naga, Phon dulu pernah bertarung dengan raja Surapha, mereka dulu tempat merebutkan Ratu Ratih, seorang putri bangsawan yang berasal dari peranakan antara raja Jawa dan seorang gadis berkebangsaan Cina dan yang memenangkan pertandingan tersebut adalah raja Surapha. Beliau pun berhasil meminang Ratu Ratih kalau itu, Raja Surapha meminta bantuan Phon untuk melatih cucunya yang bernama Ben, dan membantunya untuk menghadapi beberapa pemboikot di kerajaan Jayanaga.


Tubagus resma telah sampai di mulut gua yang begitu gelap untuk masuk kedalam sana tuh bagus resma harus berjalan kaki sekitar 15 menit, kemudian dia akan bertemu dengan Phon yang tengah duduk bersemedi, lelaki kurus dengan rambut memutih itu hanya mengenakan selembar kain di badannya, kemudian tuh bagus resma bersimpuh di depan lelaki tua itu.


"Ampun tuan Phon, saya diperintahkan oleh raja Jayanaga yaitu Raja surapha untuk menjemput anda"


ucap Tubagus yang masih bersimpuh.


Perlahan lelaki tua itu pun membuka matanya, wajahnya yang dipenuhi dengan Jabis dan jenggot panjang memutih itu hanya melirik ke arah Tubagus Resma.


"Apa kau tahu kau telah mengganggu semedi ku anak muda"


sahut kakek tua itu.


"Ampun tuan, saya tidak bisa melanggar perintah sang raja"


"Bilang pada rajamu aku akan datang setelah malam purnama ke-3"


Ucap lagi kakek tua itu dan kemudian memejamkan kembali matanya.


Tanpa bertanya Tubagus resma pun Kembali menuju kudanya dan segera kembali ke Jayanaga, entah apa yang dipikirkan si kakek tua itu. Mengapa dia harus datang ketika purnama ketiga, Kenapa dia tidak ikut saja bersama Tubagus Rasmanya.


Seperti telah diatur oleh seseorang sepulangnya Tubagus resma, ada beberapa orang yang menutup wajahnya menggunakan kain dan hanya terlihat matanya saja tengah menghadang dirinya, jumlahnya sekitar 5 orang lengkap membawa pedang yang panjang, Tubagus resma yang masih duduk di atas kudanya hanya mengawasi dan mengamati apa yang akan mereka lakukan.


kemudian salah satu seorang dari mereka berteriak "Serang !!!!" dengan cepat mereka berlima menyebar mengepung Tubagus resma yang masih duduk di atas Kuda, Tubagus resma kemudian melompat tinggi melewati mereka berlima.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian dan aku tidak ingin bertarung dengan kalian"


ujar Tubagus Rasma yang bersiap mengeluarkan pedangnya.


Namun peringatan itu tidak dihiraukan oleh mereka, mereka kemudian terus menyerang Tubagus Resma berlari kencang mengarah tempat di mana Tubagus tengah berdiri dan mereka akhirnya pun menyerang Tubagus resma, menurutnya ilmu mereka tidak sebanding dengan Tubagus resma, namun dia juga membela diri karena dia merasa terpojok diserang terus menerus oleh kelima orang tersebut.


"Hhiiiaaa,,,,"


teriak Tubagus resma.


Zzriinbggg....Zringgg....thinggggg


suara cara dari benturan pedang antara Tubagus resma dan kelima pria tersebut.


Tubagus resma bahkan tidak berniat menggunakan pedangnya untuk melakukan pembalasan, dia hanya menggunakan gagang pedangnya untuk memukul dan membuat kelima orang tersebut cerah untuk, gerakan cepat Tubagus resma membuat mereka sedikit kewalahan, terus dan menerus dilakukan oleh Tubagus resma sampai ketika seorang kakek-kakek tengah melompat dari satu batu ke batu yang lain dan sampai tepat didepan ke-5 pendekar itu.


"Cukup!!!!"


ujar kakek itu yang ternyata adalah guru dari kelima murid tersebut, mereka adalah murid dari Phon pendekar Pedang yang menyayat tanpa meneteskan darah.


"Dia adalah tamu ku... maafkan tingkah murid ku"


ucap kakekPhon tersebut.


Untungnya tubagus resmi tidak terpancing emosinya akan tingkah murid Phon tersebut, kemudian kakek Phon mengizinkan Tubagus resma untuk pulang kembali. Dan murid-muridnya mengikuti dari belakang si Kakek Phon kembali ke gua, selama ini memang kelima muridnya lah yang menjaga ketika kakek Phon tengah bersemedi.


Perjalanan Tubagus Rasma dari gua batu ke Jayanaga memang memerlukan waktu beberapa hari, sementara itu Ayu dan Tantri bersiap untuk berangkat ke Jayanaga kembali, walau portal telah dibakar oleh Alingga, mereka masih memiliki pintu portal lainnya.


Di sana beberapa pasukan telah menunggu kedatangan Ayu dan Tantri, San beserta putranya juga tengah menunggu, kali ini dia mengajak Arjuna untuk ikut menjemput sang ibunda. tinggallah anaknya Ben yang masih terus berlatih, ketika Ayu dan Tantri telah sampai, santri tidak melihat apapun namun Ayu kemudian memejamkan matanya.

__ADS_1


"Katanya dijemput, manayu?"


Tantri yang celingak-celinguk di daerah tersebut namun tidak mendapati seorang pun di sana.


Ayu yang memejamkan matanya kemudian melihat beberapa barisan orang telah berdiri di depannya, menuntun Ayu sampai ke gerbang, diikuti oleh Tantri yang membawa ransel berisi pakaiannya, seperti hendak tamasya ke dunia lain, Tantri begitu heboh membawa barang perlengkapan begitu banyak.


Ayu terus berjalan sampai dia menemukan sebuah pohon, pohon yang berbentuk seperti daun kelapa namun tidak berbuah, seperti pohon sawit lebih tepatnya, balik sana ada gerbang yang menuju pantai yang sama di kerajaan Jayanaga.


Sama seperti sebelumnya mereka melewatinya seperti tempat yang gelap kemudian di ujung jalan ada cahaya yang terang.


"Bunda......"


teriak Arjuna yang berlari menghampiri ibundanya.


"Juna.....bunda kangen"


ujar Ayu yang memeluk kangen putranya.


"Haii Juna.....tante bawaain coklat sama mainan"


antri yang mengeluarkan dari dalam tasnya satu kotak coklat penuh dengan beberapa mainan mobil-mobilan yang dibelinya beberapa waktu lalu.


"Makasih bik Tantri...."


sahut Arjuna.


Mereka pun berjalan menghampiri San yang tengah berdiri di depan kereta kencana, Ayu memeluk sang suami dan mengecup pipi Sanjaya, ini dia tidak merasa malu di depan beberapa pengawal, bersikap dan berperilaku romantis terhadap San, karena dia berpikir tidak ada yang berani mengejek sang pangeran tengah bermesraan dengan istrinya.


" Hei,,,, kondisikan dong ada anak kecil di sini"


Tantri yang malam menutup menutup Arjuna agar tidak melihat ibu dan ayahnya tengah bermesraan.


"Bibi,,,kata Ayah, bunda pulang bawa dedek bayi?"


Mas San hanya tersenyum melirik istrinya, Ayu kaget Baru beberapa hari saja Arjuna sudah pintar berbicara tentang adik bayi, lagian kalau bukan ayahnya yang mengajari, segera mereka pun masuk kereta kencana berjalan menuju kerajaan jayanaga.


Di perjalanan Tantri banyak bertanya tentang Tubagus Rusma kepada Pangeran Sanjaya, Sanjaya hanya menjelaskan inti-intinya saja Tubagus resma adalah anak yatim piatu, ayahnya yang dulu adalah seorang tumanggung di suatu daerah yang mengalami peperangan tidak sengaja ditemukan oleh ayahnya Sanjaya yaitu raja jayanaga, beliau lalu membawa mengajak Tubagus resma untuk tinggal di jayanaga sampai sekarang dia terus berlatih dan menjadi seorang Panglima terkuat termudah di jayanaga.


Sebelumnya Tubagus Rasma tidak pernah berkenalan dengan seorang wanita manapun padahal dayang istana lumayan banyak dan cantik entah kenapa apa dia lebih memilih Tantri, keinginannya untuk menikahi Tantri juga diutarakan sang Panglima kepada Pangeran Sanjaya dan beberapa orang di istana Jaya naga, semua setuju akan pernikahan sang panglima dengan Tantri apalagi Raja jayanaga juga memberikan restu kepada Tubagus resma.


Mendengar hal itu Tantri menjadi mesam-mesem, walau sepertinya hal itu begitu sangat tidak mungkin tapi Tubagus resma membuatnya yakin akan pilihannya saat ini adalah benar dan tepat, untuk sementara pekerjaannya dan kehidupannya di dunia nya sendiri telah diselesaikan Untuk sementara waktu, dia dan Ayu memilih menetap di jayanaga selama beberapa hari sampai pernikahan mereka berlangsung.


Setiap untaian kata indah tentang pernikahan dan selalu menjadi bayang-bayangan Tantri, entah bagaimana melukiskan perasaannya saat ini seperti dia terbang di balik awan yang indah awan yang putih hangat itu membuatnya sangat ingin terus bersandar, Rebahkan sejenak semua kepenatannya akan dunia percintaan yang tidak pernah berpihak kepadanya, yang selama ini dilakukan hanyalah menjadi seorang yang bisa melebihi apapun melebihi kemampuan sang pacar tapi di sini dia belajar satu hal wanita diperlakukan dengan begitu hormat, sopan dan penuh kasih sayang, pantas saja Ayu begitu betah dan sangat mencintai keluarganya di sini.


Terkadang dia berfikir sikap manusia ternyata lebih kejam dari makhluk lain, bahkan kadang mereka tidak memiliki hati nurani sama sekali hanya untuk sesuatu mereka bisa menyakiti satu sama lain. Tantri berkata seperti itu karena dia memang tidak tahu seluk-beluknya Sanjaya juga seperti apa, bisa bersama ayu kembali pun dia juga memerlukan waktu yang sangat lama, sempat diwarnai drama bertengkar dengan Adiknya sendiri, Tapi semua itu memang sudah menjadi takdir mereka berdua, semoga kedepannya mereka akan selalu bahagia dan bersama selamanya.


Sesampainya di istana mereka disambut oleh mbok, Beliau juga sangat bahagia dan antusias akan pernikahan Tantri dan Tubagus resma, baru juga mereka tiba si embo sangat antusias menceritakan tentang pengalaman beliau ketika menikah dengan ayah Kemuning.


Saat acara makan malam pun semua anggota kerajaan berkumpul, mereka juga menanyakan hal yang sama yaitu Memangnya siap menikah dengan seorang Panglima kerajaan? di mana dia akan mengemban tugas dan jarang sekali dia akan pulang. namun Tantri yakin bahwa pilihannya kali ini benar-benar tepat dan walaupun panglima Tubagus resma akan mengemban tugas yang berat sekalipun dia tentunya memiliki jiwa yang Patriot seorang Patriot tidak akan menyakiti ataupun melukai hati seorang wanita.


semua orang senang mendengar jawaban dari Tantri mereka benar-benar merestui hubungan Tantri dan sang panglima, selesai makan malam ibunda San memanggil Ayu.


"Ning..... katanya kamu mau punya anak lagi?"


hanya ibunda yang membuat Ayu kebingungan dia pun melirik suaminya, suaminya hanya menahan senyum dan berlalu menuju ruangan tempat ayahnya dan Ben sedang berkumpul.


"Ehhh iya ibunda....tapi...."


"Udah bunda siapkan ramuannya....tunggu ya"

__ADS_1


ucap Ibunda yang kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengambilkan ramuan agar Ayu hamil kembali.


Tidak lama ibunda Pangeran Sanjaya pun keluar membawakan secangkir ramuan, hijau pekat terbuat dari tanaman herbal yang memang sengaja dibuat oleh ibunda San. Kemudian beliau menyerahkan gelas yang berisi ramuan tersebut kepada Ayu, mau tidak mau Ayu harus segera meminum di depan ibunda Pangeran Sanjaya, dalam hati Ayu mengucapkan basmalah lalu dia meminum ramuan tersebut.


"Kamu yakin Dek?"


tanya Pangeran Sanjaya kepada istrinya.


Dia bertanya yakin atau tidaknya Ayu tapi dia juga yang meminta ibundanya untuk memberikan ramuan tersebut kepada Ayu, Sebenarnya bukan aku tidak mau untuk hamil lagi dia memikirkan bagaimana bila Ayu tidak bisa merawat mereka di sini nantinya.


"Kalau tidak yakin juga tidak apa-apa dek, nanti mas mintakan ramuannya kembali sama Bunda"


"Tidak mas, kalau aku hamil lagi anggap aja itu rezeki untuk kita" ujar si Ayu.


Mendengar hal tersebut membuat San menahan senyum di wajahnya, menurutnya sayang saja bila mereka terus melakukan hubungan itu tanpa membuahkan hasil. berhubungan disaat hamil juga membuat sensasi yang lain mungkin yang dirasakan beberapa orang tentunya.


Tepat tengah malam Tubagus Resma telah sampai setelah dua hari perjalanannya dari gua batu menuju jayanaga, dia mendapati Ben Tengah duduk sendiri di balkon tepat di halaman belakang istana, Ben yang telah mengunjungi usia remaja itu kini juga mengalami hal yang dirasakan oleh manusia yaitu insomnia.


"Pangeran, sedang apa malam-malam begini?"


Tubagus resma yang melihat Ben duduk termenung dibawah Rembulan.


"Paman bagus, Paman baru tiba dari gua batu? tidak ada paman Ben belum bisa tidur"


"Iya pangeran, saya baru tiba, memangnya apa yang Pangeran pikirkan sampai tidak bisa membuat Pangeran tidur?"


Tubagus resma akhirnya menemani sebentar Ben untuk berbincang-bincang.


"Tidak ada paman, Paman Bibi Tantri tadi siang datang sekarang sedang istirahat"


Ben yang memberitahukan kabar bahagia kepada Tubagus resma.


"Benarkah..."


sahut Tubagus Risma yang sangat terlihat bahagia.


Mereka pun berbincang-bincang sebentar sampai Ben merasa mengantuk kembali, tidak terasa mereka berbincang sampai langit yang gelap itu memancarkan cahaya orange pertanda fajar telah tiba, Tubagus resma kemudian kembali ke kediamannya dan beristirahat sebentar kemudian melapor kepada Baginda Raja tentang undangannya terhadap temannya Phon.


Sudah dari tadi pagi sekali Tantri telah menyiapkan beberapa minuman dan sarapan, sambil celingak-celinguk melihat Apakah Tubagus resma telah kembali atau belum, namun tidak juga dia melihat batang hidungnya Tubagus resma.


"Hayoooo....bibik caripaman bagus ya?"


tanya si ben yang kemudian mengagetkan Tantri.


"Ben.... Enggak kok Bibi cuman....."


Tantri yang tidak bisa menjawab pernyataan band tadi


Merekapun sarapan seperti biasanya, karena Tubagus resma telah kembali, sang raja menghadiahkan pesta pernikahan untuk keduanya, yang akan dirayakan besok hari, karena hari ini akan sangat sibuk di istana jayanaga mempersiapkan pernikahan Tantri dan panglima terbaik jayanaga Tubagus Resma.


Tantri tidak tahu bahwa acara pernikahan mereka akan diadakan besok dan sekarang beberapa ada yang tengah sibuk mendekor kamarnya, Tantri bingung harus berbuat apa dia hanya duduk diam sambil melihat beberapa dia yang tengah mendekor kamarnya.


"Yakin nih, aku nggak perlu ngapa-ngapain?"


tanya Tantri kepada Ayu.


"Udah Tan, kamu tenang aja semua sudah diatur jadi kamu harus rileks"


jelas Ayu yang tersenyum dia membayangkan wajah si Tantri ketika duduk di pelaminan nantinya, adalah orang pertama yang mesam-mesem sendiri karena melihat temannya yang kaku itu tengah duduk di pelaminan.

__ADS_1


The end



__ADS_2