
...🌸🌸🌸...
Ayu terus berdiam diri, hati nya terus memberontak, bertanya apa dirinya melakukan kesalahan sampai San melarangnya, Ayu bahkan merasakan sakit di dadanya, rasa ini tidak asing, Ayu sering mengalaminya dan berakhir dengan tangisan yang tiada henti, sakit, sesak ada sesuatu yang Ayu tidak tahu kenapa seperti ini.
Dan benar saja malam itu Ayu tidak dapat tidur dirinya terus menangis merintih sakit di hatinya, Ayu tidak dapat bercerita kepada siapa pun, terlintas di pikirannya adalah Tantri, cewek gipsy itu mungkin akan bisa membantunya.
Subuh dini hari Ayu memesan taksi online dan bergegas menuju rumah Tantri, terakhir mereka bertemu di kala Ayu dan Tantri di ajak ke rumah San.
Sejak hari itu Tantri sukar di hubungi, apa yang mereka bicarakan membuat Ayu penasaran. Apa yang membuat Tantri tiba-tiba menjauh dari dirinya, seakan tidak mau berurusan dengan San dan Ayu.
Tepat setelah matahari beranjak naik Ayu sampai di rumah Tantri, sedikit ragu apakah Tantri ada di rumahnya, namun Ayu terus melangkah masuk ke halaman rumah Tantri yang luas tersebut.
Tok...tok..tok...
"Mbak Tantri !!!"
ketukan pintu yang cukup keras terdengar sampai kamar Tantri.
"Iya...sebentar"
shut Tantri yang kemudian keluar dari kamarnya.
Cukup terkejut dengan kedatangan Ayu seorang diri, Tantri pun membuka kan pintu, tidak tega melihat wajah Ayu yang pucat, Tantri segera mempersilahkan Ayu masuk ke rumahnya.
"Ada apa Yu?kamu sakit?"
tanya Tantri yang memapah Ayu untuk duduk di sofa panjang miliknya.
"Dada aku sakit, sesak mbak, kayak ada sesuatu yang ingin aku buang, tapi aku sendiri tidak tahu apa itu"
jelas Ayu yang terus menahan sakitnya.
Seketika wajah Tantri berubah, dirinya tidak ingin Ayu mengetahui kebenaran dirinya, dia juga bingung bagaimana menjelaskan kalau sakit di dadanya terkait akan kebenaran dirinya yang terbunuh dengan car tragis.
"Mbak....aku mohon kasih tahu kebenarannya"
pinta Ayu kepada Tantri.
Tantri hanya mengangguk mengiyakan, kemudian dia berjalan masuk kesebuah ruangan gelap dengan wewangian yang yang sangat khas, wangi kayu gaharu menjadi favorit Tantri, dia juga menyalakan beberapa dupa.
Ayu bersiap untuk melakukan ritual, kali ini agak berbeda dengan biasanya, Ayu hanya cukup duduk tenang seperti orang meditasi, Tantri cukup memberikan arahan kepada Au harus bagaimana dan berbuat apa.
"Kamu siap Yu?"
Ayu mengangguk mengiyakan perkataan Tantri, mereka mulai memejamkan matanya, berkonsentrasi pada rasa sakit yang di rasa Ayu, seperti melayang badannya kepalnya terasa vertigo yang sangat berat.
Kini Ayu kembali seperti ke masa jaman kerajaan, dirinya berada di sebuah istana, dirinya menangis menghabiskan waktunya sendirian, sampai akhirnya Ayu melihat dirinya tergeletak bersimbah darah dengan tusuk konde tertancap di dadanya.
VI'AR yang mereka lakukan tidak lebih dari 5menit, batas normalnya mungkin bisa sampai 10 menit, keterbatasan manusia biasa dalam hal ini memang berfungsi agar manusia tidak terlena akan kehidupan lampau.
Ayu tersadar namun dirinya jatuh pingsan seperti sebelumnya, kali ini dirinya tidak berpikir yang aneh-aneh akan sakit di dadanya, luka di masa lalu yang masih terasa sampai sekarang.
Tantri sedikit menyesal melakukan VI'AR tadi, dirinya tidak menyangka bahwa rasa sakitnya di peroleh karena luka tusukan yang menyebabkan kematiannya.
Walau begitu Tantri tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin sedikit membantu agar rasa sakitnya berkurang. Seperti biasa pula San dapat melihat apa yang di lakukan Ayu dan Tantri.
Bergegas San menuju rumah Tantri, dirinya khawatir Tantri akan mengungkapkan siapa dirinya kepada Ayu, perjanjian yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.
(Ketika Tantri bicara dengan San)
"Aku tahu kamu siapa?"
ucap Tantri yang duduk dengan Santai.
"Aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin terus bersamanya."
"Tanpa kamu menjelaskan siapa dirimu sebanarnya?"
"Aku akan beri tahu sampai wakt yang tepat"
San yang terlihat begitu khawatir dengan status dirinya yang bisa di anggap manusia atau makhluk lainnya.
"Sampai kapan?"
"Lama-lama dia juga akan tahu walau bukan dari aku"
kata Tantri yang sedikit tidak setuju akan cara San yang tidak mau berterus terang.
"Ada alasannya"
San yang kemudian menunjukan luka di bagian perutnya berubah menjadi sisik berwarna hijau ke emasan.
Terkejut melihat nya Tantri paham betul semua yang San lakukan ada sebab akibat, kenapa dirinya bisa menjadi seperti itu.
"Ayu harus mengetahui sendiri kalau dirinya adalah Kemuning, karena kematiannya berhubungan dengan ku"
jelas San kepada Tantri.
Untuk satu hal Tantri bisa memahami alasan San tidak ingin mengungkapkannya, Tantri juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya mengharapkan bahwa mereka berdua bisa bahagia.
.
.
.
Semetara San menyusul, Bella dan Arya tengah mempersiapkan makan siang bersama dengan keluarga Bella, diam-diam Bella rupanya pandai memasak, apalagi masakan favorit Arya, Ayam goreng dan sop ayam, berbagai masakan khusus juga di masaknya sendiri untuk kedua orang tuanya.
"Bagaimana pekerjaan mu nak Arya?"
tanya Ayah Bella.
"Semua baik dan lancar om."
"Kamu benar-benar tidak berminat kembali menjadi dokter?"
"Saat ini belum kepikiran om."
"Terus kalau jadi DJ radio bakal cukup memenuhi kebutuhan Bella?"
celetuk ibunda Bella kepada Arya.
__ADS_1
Perasaan sang ibu di kira wajar oleh Arya, sebagai orang tua pasti ingin yang terbaik untuk puteri mereka, menikah pun semua butuh pertimbangan yang sangat tepat, gegabah sedikit akan menyesal seumur hidup.
"Bu ne...."
sahut sang Ayah tidak ingin Arya berprasangka jelek terhadap sang isteri, ayah Bella memutus pembicaraan sang isteri.
"Enggak apa-apa om, Arya paham dan mengerti maksud tante"
sahut Arya.
"Saya tidak ingin puteri ku satu-satunya hidup susah"
oceh sang calon ibu mertua Arya.
Mendengar suara sang ibu berbicara kepada Arya , Bella keluar dapur dan menuju ruang makan. Tidak ingin masalah pribadinya di campur adukkan Bella selalu memberi pengertian setelahnya.
"Ayo kita makan malam dulu"
Bella yang keluar rumah dengan membawa sepiring ayam goreng yang di masaknya.
Tidak ingin sang anak kecewa dengan sikap sang ibu, ibunda Bella memilih untuk dan tidak membahas hal tersebut, mungkin alasan terbesar sang ibu tidak pernah menyetujui sang puteri berhubungan dengan Bramasena atau pun Arya karena memang mereka tidak tergolong dalam darah bangsawan.
"Mas...Bella masakin makanan kesukaan mas"
Bella yang mengambilkan sepiring nasi dengan lauk pauk yang telah di masaknya.
"Makasih ya dek Bella"
Sang ibu tetap saja bertatapan sinis terhadap Arya, dirinya merasa Bella tidak beruntung bertemu dengan Arya, Bella selalu mengutamakan Arya dari pada dirinya sendiri.
Makan malam berlangsung dengan alot, ibunda Bella memutuskan untuk masuk ke kamarnya, sedangkan Bella dan ayahnya saja menemani Arya makan malam.
"Ibu masuk dulu sepertinya tidak enak badan"
ucap sang ibu.
Bella hanya terdiam memaklumi sifat sang ibunda.
Selesai makan sing Arya kembali ke tempat kerja.
"Maaf ya mas, ibu selalu membuat mu tidak nyaman"
kata Bella yang memberikan sekotak bekal cemilan untuk Arya.
"Mas enggak apa-apa dek, mas berangkat dulu ya!"
sahut Arya yang menerima bingkisan berupa lumpia isi ayam buatan Bella.
"Hati-hati ya mas..."
Dengan mesra Arya mengecup kening Bella seraya berkata,
"Mas kerja dulu ya..."
Bella yang tersenyum pun mengangguk.
Selama perjalanan ke kantor Arya sedikit penasaran kenapa Ayu tidak masuk kerja hari ini, penulisan skrip sudah dikirimnya via email tengah malam tadi, apa yang membuat gadis itu tidak dapat masuk kerja.
.
.
.
Tok...tok...tok...
Tantri yang mendengar suara seseorang mengetuk pintu, dia pun bergegas keluar kamar dan membukakan pintu rumahnya.
"Pangeran !!!"
Tantri yang terkejut melihat San sudah berada di depan pintunya.
"Ayu mana?"
tanya San yang celingak celinguk melirik ke dalam rumah Tantri.
"Ayu sedang istirahat."
Kemudian Tantri menceritakan kejadian yang sebenarnya, dia mengetahui rasa sakit yang di alaminya ternyata akibat luka tusuk di saat dia meninggal dulu.
"Apa dia lihat siapa yang melakukannya?"
San bingung bagaimana menghadapi Ayu jikalau dia bertanya soal dirinya yang dulu.
"Aku sendiri kurang tahu, karena Ayu langsung pingsan"
jelas Tantri.
San hanya bisa menunggu Ayu tersadar dari pingsannya, berharap kalau Ayu tidak tahu siapa yang melakukannya, di usap nya dengan lembut kepala Ayu, gadis yang kini di cintanya.
.
.
.
Arya sedikit khawatir dengan ke adaan Ayu, entah ada perasaannya yang mengatakan tolong Ayu, tapi Arya juga tidak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi.
"Des..Ayu pergi kemana sih?"
tanya Arya penasaran.
"Ayu cuma kirim pesan kalau dia ke rumah Tantri."
"Tantri, kamu tahu alamatnya?"
"Tahu sih, emang ada apaan sih?"
"Falling aja sih enggak enak."
"Pulang kerja aja kita ke sana..."
sahut Deska.
__ADS_1
Mungkin dengan bertemu Ayu perasaan tidak enak ini hilang, dirinya hanya mengangguk mengiyakan kata Deska.
Cukup lama dari biasanya, Ayu belum juga tersadar, Tantri juga baru mengalami kasus seperti ini, San hanya terus menunggu, tidak mungkin untuk menggunakan kekuatannya di sini, yang bisa di lakukannya adalah masuk ke alam bawah sadar Ayu.
Jam pulang kerja pun selesai, Arya dan deska langsung melaju bersama menuju rumah Tantri, sama halnya San, Bella juga mengetahui bahwa Ara akan menyusul ketempat seorang wanita bernama Tantri, Bella tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk sementara, kondisinya dia baru saja pulih, dia tidak ingin berpisah kembali sementara dengan Arya.
Perjalanan ke rumah Tantri sekitar 56 menit bila tidak macet, kondisi hari mulai gelap, matahari seakan tenggelam di balik gunung. Senja perlahan menghiasi langit sore itu.
"Mbak Tantri....mbak ini Deska"
Deska yang mengetuk pintu rumah Tantri.
"Des..."
Tantri yang membuka pintu langsung memeluk Deska.
"Ayu gimana mbak?"
tanya Deska.
Tantri akhirnya menjelaskan, sedikit menyesal dirinya menuruti perkataan Ayu, tapi mau bagaimana rasa sakit itu akan terus datang kepadanya.
"Mbak punya temulawak atau bahan dapur lainnya?"
tanya Arya.
"Ini Arya teman kantor ku dan Ayu, dia dokter"
jelas Deska.
"Ada mari saya antar..."
jawab Tantri yang kemudian membawa Arya ke bagian dapur dari rumahnya tersebut.
sepintas Tantri juga melihat kondisi Arya sama dengan Ayu, sosok Arya yang tampan mengenakan jubah dengan rambut panjang membuat Tantri mengagumi sosoknya sebagai tabib.
"Kamu dulunya adalah tabib handal, semoga dengan apa yang buat Ayu bisa kembali pulih"
ucap Tantri tersenyum kepada Arya.
"Tabib?"
Ucap Arya dalam hatinya.
Arya pun melanjutkan membuat minuman herbal untuk Ayu.
Jauh di alam bawah sadarnya Ayu, San berhasil masuk ke dalam sana dirinya melihat Ayu berpakaian seperti Kemuning, bertutur kata lembut, sopan dan selalu tersenyum kepada siapa pun.
"Dek..."
panggil San yang melihat Ayu berlalu di depannya.
"Maaf...tuan memanggil saya?"
sahut Ayu.
"Kemuning....."
kata San yang mencengangkan Ayu. Tatapan yang tajam membuat San merasa heran.
"Kenapa mas tidak percaya dengan ku? kenapa mas pergi hari itu? kenapa mas? kenapa?"
seru suara Ayu yang berubah.
San teringat dengan apa yang sebelumnya dirinya lakukan, dia yang tidak percaya dengan Kemuning, marah dan tidak mau berbicara sampai terakhir dia mendapati istrinya meninggal.
"Mas sayang kamu dek, entah itu Kemuning atau Ayu"
peluk San menenangkan Ayu.
Sejenak dirinya terdiam, merasa tenang dengan pelukan San, mau diratapi bagaimana pun Kemuning telah memilih jalannya sendiri, San yang sangat menyesal juga tidak mungkin akan melakukan hal ini semua jikalau dia tidak mencintai Ayu.
Perlahan Ayu mulai tersadar dan dirinya mengetahui kenapa rasa sakit di dadanya tiba-tiba datang, seberkas cahaya putih membawa Ayu tersadar dari pingsannya, perlahan matanya mulai terbuka, dirinya menatap ke depan, ada San, Tantri, Arya dan Deska.
"kenapa mereka berkumpul di sini?"
batinnya yang bertanya.
"Ayu...kamu enggak apa-apa?"
tanya Deska yang duduk di samping kasur.
Ayu belum bisa menjawab, dirinya hanya tersenyum. Kenyataan bahwa dirinya meninggal dengan tragis membuat sakit di hatinya semakin buruk, San karena dia yang membuat sakit ini terus berangsur dirasakannya sampai dia mati, dia tidak ingin San orang yang di cintanya tidak percaya apa yang dirinya katakan.
Dia juga mengetahui bahwa dirinya adalah Kemuning, gadis sederhana yang membuat San jatuh cinta, bahkan Ayu teringat akan momen dirinya yang pertama kali menolak dekat dengan San.
"Ayu...minumlah ini?"
Arya yang membawakan segelas air rebusan bahan herbal yang dibuatnya di rumah Tantri.
Tanpa banyak bertanya Ayu langsung menghabiskan segelas temulawak hangat yang di buat Arya, kali ke dua Arya dan San bertemu, banyak hal yang ingin Arya tanyakan pada San, namun saat ini momennya belum tepat.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Ayu sampai seperti ini?"
Arya yang bertanya kepada hatinya sambil menatap ke arah San.
San kembali menatap ke arah Arya, mungkin belum saatnya dia memberitahu siapa dirinya, sekarang hanya Ayu, menunggu Ayu sampai benar-benar pulih.
"Sebaiknya kita pulang, mas tidak ingin kamu sakit"
ucap San.
Dirinya yang kini masih mengelus kepala Ayu dengan lembut, hanya ingin Ayu mendapatkan perawatan terbaik, Ayu terdiam menatap San, dirinya merasa bukan Ayu saat ini, tapi Kemuning.
.
.
.
(Bersambung)
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1