
Suara tabuhan gamelan terdengar jelas,iring-iringan dayang yang berpenampilan cantik dan menawan terlihat jelas di depan mata Ayu, dalam hatinya berkata, dimana aku? apa yang ku lakukan? Ayu terus saja memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Dilihatnya sosok San berjalan beriringan dengan Ayu, mengenakan kemben khas jawa Ayu bingung, semua orang disana menatap tajam kepada Ayu. Beberapa dari mereka menyantap makanan yang telah disediakan di atas meja, sampailah Ayu disebuah singgasana, dimana dia dan San duduk.
Tidak begitu jelas, samar-samar seperti acara pernikahan pada umumnya, beberapa dayang ada yang menari dan sebagian bermain gamelan, meriah penuh dengan tamu undagan.
Orang tua San tampak terlihat masih muda, mereka sangat terlihat bahagia akan pernikahan putera mereka.
"Apa ini acara pernikahan ku dengan mas San?"
tanya Ayu dalam hatinya.
Dia tidak terlihat jelas samar seperti layar tv jaman 90'n berserumuk, terlihat San tersenyum kepada Ayu.
Rasanya seperti perayaan tidak kunjung usai, Ayu kembali terbangun dari tidurnya karena alarm menunjukan pukul 06.20.
Ayu tidak ingat jelas apa yang terjadi malam itu, seperti mimpi dia hanya mengingat sebagian dari perayaan pernikahan antara dirinya dan Ayu.
Ayu hanya mengingat beberapa orang menatap tajam kepada dirinya, Ayu berpikir mereka yang menatap marah kepadanya, Ayu terus memikirkannya bahkan sampai di tempat kerjanya, ayu masih saja tidak fokus.
"Kenapa? apa mereka membenci ku? atau aku bukan gadis yang tepat untuk mas San"
gumam batin Ayu yang terus memikirkan mimpi tersebut.
"Yu..."
panggil Arya yang berada di samping dari tadi memanggil namanya namun seakan kuping Ayu tertutup, tidak mendengar panggilan dari Arya.
"Ah...mas Arya, sorry Ayu enggak dengar"
ucap Ayu yang reflek langsung berdiri dari bangku kerjanya.
"Serius banget mikirin apa? mas mau ngomong, kamu ada waktu?"
tanya Arya dengan wajah serius.
"Boleh.."
"Mas mau ajak kamu ketemu teman mas, penting sih ini, kapan kamu bisa nya Yu?"
tanya lagi Arya.
"Lusa gimana mas? malam ini aku ada janji'
jawab Ayu.
"Oke...Lusa aku tunggu kamu di depan kantor"
sahut Arya tersenyum.
Sepertinya hal terebut mengganggu Ayu, dengan cepat Ayu berubah pikirannya, siapa tahu dia juga bisa menemukan jawaban tentang dirinya dan siapa itu San.
"Mas...besok jam 5 Ayu tunggu di lobi"
sahut Ayu kepada Arya yang hendak bergegas pergi.
"Iya Yu...mas lanjut kerja dulu ya."
Ayu tersenyum mengiyakan perkataan Arya.
.
.
.
Sore ini Ayu memang sudah ada janji dengan San, kali ini bukan ke danau, San mengajak bertemu di tempat biasanya orang berkencan pada umumnya, yaitu di bioskop.
(3jam sebelumnya)
.
.
.
San yang sedang sibuk browsing tempat romantis untuk pergi dengan kekasih, cukup lama sampai memutuskan untuk pergi ke bioskop. Dia juga sekarang pandai memilih pakaian yang akan di kenakan saat bertemu dengan Ayu.
Trrrttddd...ttrrdddttt...
Ponsel Ayu bergetar, dilihatnya panggilan telepon oleh mas San-ku.
Ayu : "Ya hallo mas..."
San : "Pulang kerja kamu enggak sibuk kan dek? mas mau ajak pacaran"
Ayu yang merasa lucu akan perkataan San hanya dapat tertawa, baru kali ini ada yang ngajak pacaran dengan terang-terangan.
Ayu : "Pacaran? emang mas tahu artinya pacaran?"
tanya Ayu masih tertawa.
San : "Mas cuma baca di internet ini, mas tunggu ya di Bioskop, nanti aku kirim alamatnya"
Ayu : "Iya mas..."
San kemudian menutup teleponnya dan Ayu masih saja tertawa, hal itu membuat hatinya menggelitik dirinya untuk terus tertawa.
Deska yang melihat pun menghampiri, penasaran kenapa Ayu bisa terbahak-bahak setelah menutup telepon.
"Kenapa lu?"
tanya Deska penasaran.
"Itu mas San ngajakin aku nonton, cuma lucu aja kata-katanya"
jawab Ayu.
"Hmm..gue seneng lu bahagia Yu, you always be happy."
"Makasih Desaku."
.
.
__ADS_1
Ayu yang tidak sabar akan jam pulang kerja, dengan semangat menyelesaikan tugasnya dan siaran seperti biasanya, San sendiri tengah di sibuk kan dengan memilih hadiah apa yang pantas untuk Ayu, dia juga meminta paman untuk memilihkan apa yang pantas untuk Ayu.
"Ini bagaimana paman?"
tanya San yang mengambil sekotak perhiasan dengan batu zambrut hijau.
"Nona Ayu bukan gadis yang menyukai perhiasan"
jawab paman yang juga bingung.
"Bagaimana dengan buket bunga mawar putih pangeran?"
tambah paman memberikan saran dengan menunjukan foto buket bunga nawar besar dari sebuah ipad.
"Siapa yang akan makan bunga sebanyak itu?"
tanya Sanjaya.
"Kalau jaman sekarang jarang ada yang memakannya pangeran, manusia jaman sekarang paling suka di berikan bunga dan menyimpannya ke dalam sebuah vas"
jelas paman di sertai beberapa foto yang di peroleh dari internet.
"Untuk apa menyimpan bunga dalam waktu lama?sayangkan kalau nantinya akan layu"
tambah Sanjaya.
Mendengar perkataan San paman hanya bisa menggaruk kepalanya, akhirnya San pun malah mengikuti saran paman, seratus tangkai mawar putih untuk Ayu.
.
.
.
Sesampainya di bioskop yang di maksud, Ayu bergegas masuk dan mencari keberadaan San, Ayu sedikit curiga bioskop sebesar itu tampak sepi tidak seperti pada umumnya, di sudut pintu masuk bioskop Ayu menemukan San yang memegang buket bunga besar.
Style yang di pakai San pun tampak sangat memukau, San mengenakan long outer berwarna marun, di padukan dengan hoddie dan jeans hitam di tambah sneaker shoes monokrom. Ayu sedikit berpikir kalau mas San berlebihan, ya...selera fashionnya oke juga.
"Kamu enggak suka dek?"
tanya San yang melihat Ayub menatapnya terus menerus.
"Suka mas, cuma tampak berbeda dari biasanya."
"Ayok masuk.."
"Iya...ngomong-ngomong mas booking nih bioskop ya?"
tanya Ayu yang berjalan masuk ke teater 1 bioskop tersebut.
"Iya, mas menonton dari film"
jawab mas San polos.
"Pantes sepi"
Ayu cukup tercengang, mas San begitu polos atau bagaimana, bisa-bisanya apa yang ada di film di lakukannya di kehidupannya. Namun Ayu kembali teringat akan perkataan San tentang dirinya yang tidak akan bisa menerima San ketika Ayu mengetahui siapa San sebenarnya.
Film pun di putar, San juga minta rekomendasi dari pegawai bioskop film yang pas untuk seorang kekasih yang mengajak pasangannya menonton. Film itu adalah "FIFTY SHADES OF FREED" selama film berlangsung Ayu hanya menatap San.
"Masa iya dia hantu? apa vampir kayak di film-film, enggak!! dia bisa keluar siang, memangnya kamu sosok yang bagaimana? sampai kamu berpikiran aku akan pergi ketika tahu kamu sebenarnya"
gumam Ayu dalam hati.
"Kamu mikirin apaan dek?"
tanya San yang ternyata memperhatikan Ayu walau pandangannya ke depan layar.
"Enggak ada kok mas"
sahut Ayu yang kemudian melanjutkan nonton.
Ayu dan San sempat kaget ternyata film yang di rekomendasikan oleh pegawai bioskop cukup erotis, Ayu yang melihat sedikit canggung, tapi San begitu santai sambil memakan popcorn dengan wadah berukuran besar, San terus menyimak setiap adegan film.
"Dek..."
panggil San yang melihat ayu mengalihkan pandangannya dari layar.
"Iya...iya mas..."
"Kamu enggak suka filmnya ya?"
tanya kembali San.
"Suka kok..."
"Aku juga mau melakukan itu dengan mu, bagaimana?"
tanya San terang-terangan.
Ayu yang kaget tidak dapt menjawab pertanyaan San, wajahnya memerah dan sedikit gelisah, Ayu teringat mimpi malam tadi, semakin membuat dirinya menjadi salah tingkah.
Cup !!!!
San mendaratkan kecupan manis di pipi Ayu yang memerah.
"Makasih ya, begini aja mas udah senang"
ucapnya usai mengecup pipi Ayu.
Entah apa yang mendorong ayu begitu nekat mengambil tindakan pendahuluan, Ayu menarik kerah jas long outer San hingga bibir mereka bertemu, tidak berani menatap San, Ayu hanya memejamkan matanya, San yang kaget, tanpa berkata apa-apa san membalas dengan mengecup lembut bibir Ayu, beberapa menit mereka berciuman. Bahkan film terus berlangsung, tidak mereka hiraukan.
Deru nafas San terdengar jelas di kuping Ayu, hendak rasanya melakukan yang lebih, namun San mengurungkan dirinya, rindu yang berat akan pelukan hangat sang isteri membuat San melupakan bahwa dia adalah Ayu, bukan Kemuning isterinya.
"Mas antar kamu pulang..."
ucap san yang meletakan wajahnya di pundak Ayu.
Ayu sedikit bingung, ciuman mereka berhenti tiba-tiba.
"Apa mas San enggak nyaman dengan ku?"
tanya batinnya.
Mereka pun pergi meninggalkan bioskop walau film sebenarnya belum selesai, San mengajak Ayu untuk makan malam di sebuah resto yang telah di pesan oleh paman, tidak begitu jauh dari bioskop.
__ADS_1
"Maafin mas ya..."
ucap San sambil menyetir.
"Maaf?? untuk apa mas?"
tanya Ayu bingung.
"Soal ciuman tadi."
"Memangnya mas anggap itu kesalahan ya? kan aku duluan yang cium mas"
jelas Ayu menatap San.
"Mas enggak mau sekedar ciuman dek!!"
ucap San menegaskan isi pikirannya kepada Ayu.
"Maksudnya?"
"Mas pengen lebih, lebih dari sekedar ciuman."
Pernyataan yang membuat Ayu tampak sangat terkejut, dia tidak menyangka wajah polos itu ternyata sangat manusiawi, dia pria pertama yang sangat berterus-terang kepadanya, bahkan dari wajahnya terlihat dia bisa menggendalikan nafsunya dengan sangat baik.
"Mas mau kita menikah, tapi mas juga tidak mau nantinya kamu bakal ninggalin mas"
ucapan bimbang San kepada Ayu.
"Bisa kita jalani saja, Ayu mau mengenal mas lebih dalam lagi, siap tidak siap Ayu memang harus tahu mas siapa sebenarnya, tapi untuk pergi dari mas, Ayu tidak mau melakukan itu, bagaimana pun sekarang Ayu menyayangi mas"
jelas Ayu menenangkan San.
"Ikuti saja alurnya mas"
tambah Ayu.
Setelah mendengar perkataan Ayu, San sedikit lebih lega dia tidak lagi gusar akan bagaimana kalau Ayu tahu kondisinya, siap tidak siap Ayu juga akan tahu tentang dirinya.
"Besok aku boleh pergi bareng mas Arya?"
Ayu meminta ijin kepada mas San agar nantinya tidak ada salah paham.
"Kemana?"
"Entah...mas Arya cuma mau aku ikut"
sahut Ayu.
"Ya sudah, besok juga mas sibuk."
.
.
.
Malam pun berlalu Arya tidak dapat tidur dengan tenang, kali ini dia yang mengalami hal di alami Ayu, mimpi dan mimpi, Arya bermimpi dirinya tengah makan malam bersama keluarganya, namun naas, dirinya harus meregang nyawa karena keracunan, bahkan dirinya melihat siapa yang menaruh racun dalam makanannya, yaitu seorang wanita paruh baya.
Arya terbangun dari tidurnya, betapa kaget dirinya melihat masa lalu kehidupannya, Arya menyadari satu hal, dirinya yang sekarang sama dengan dirinya yang dahulu, Arya lulusan kedokteran dan di masa lalu Arya adalah seorang tabib handal sebuah kerajaan.
Arya juga melihat gadis yang di cintai nya, Bella namun dengan balutan gaun panjang warna hitam dan merah, sangat cantik, sama halnya dengan dirinya yang jatuh cinta kepada Bella karena kecantikannya.
(5tahun lalu)
Pertemuan mereka seperti sudah di atur, Arya kala itu tengah berlibur ke suatu daerah masih di indonesia, dia mendapati Bella terjatuh dan kakinya terkilir, mungkin hampir 15 menit Bella meminta pertolongan namun tidak ada yang mendengar.
Bella jatuh ke sebuah galian tanah yang di peruntukan untuk menjebak babi hutan, sampai akhirnya Arya mendengar dan segera menghampiri suara itu berasal.
"Tolong...."
teriak Bella merintih kesakitan.
Cukup melelahkan, Bella akhirnya beristirahat sejenak, Bella juga aktif dalam kegiatan mapala, sayangnya dirinya malah ketinggalan dalam rombongan.
"Hei...kamu enggak apa-apa?"
tanya Arya yang berdiri di atas galian yang cukup dalam tersebut.
"Tolong mas, kaki aku kayaknya terkilir"
ucap Bella yang tidak sanggup berdiri.
"Kamu tunggu sebentar, aku panggil bantuan dulu."
Arya pun bergegas memanggil rombongan kampusnya untuk segera menolong Bella. Di temani Buna Arya berhasil turun ke galian yang dalamnya lebih dari 2meter.
Arya tanpa berkata apa-apa, Arya langsung menggendong Bella untuk di bawa naik menggunakan alat bantu berupa tali yang di ikatkan ke batang pohon besar.
Bella langsung terpesona akan kebaikan dan kharisma Arya, begitu pula sebaliknya, walau sebenarnya ini bukan pertemuan pertama Bella dan Arya, Bella adalah penganut keabadian seperti San, tidak berbeda Bella yang kini berada di luar negeri sebenarnya sedang melakukan pengobatan.
Efek samping dari penganut keabadian, benar nyata apa adanya, sayangnya, hanya Bella, orang tuanya dan si mbok Mirah yang tersisa dari kerajaan Amartha, anak-anak Bella meninggal. Ketika Bella sedang bersemedi, terjadi gunung meletus dan di susul gempa bumi yang meluluh lantakan kerajaan Amartha. Hanya tersisa beberapa dari harta mereka yang bisa di selamatkan, hatinya hancur ketika dirinya tahu bahwa buah hati nya dengan Bramasena meninggal tidak dapat tertolong.
Sekarang orang tua Bella dan mbok Mirah berada di luar negeri, menemani Bella dalam melakukan proses pengobatan, Bella terlalu sering menggunakan kekuatannya untuk menemukan siapa reinkarnasi dari suaminya Bramasena.
Terlalu sering Bella menggunakannya sebagian kulit di lehernya berubah menghitam, Bella termasuk wanita yang benar-benar nekat, mau bagaimana lagi, Bella tidak bisa menggantikan Bramasena dari hatinya.
Bella juga sangat akrab dengan Ayu, walau dia tahu sebenarnya Ayu juga menyimpan rasa untuk Arya, tapi Bella yakin Ayu tidak akan mengecewakannya, karena dia tahu Ayu adalah Kemuning.
Entah bagaimana nantinya Bella akan cerita kalau anak mereka telah meninggal, disaat Arya akan mengingat semua kenangan masa lalunya, Bella juga tidak pernah mengungkap siapa sebenarnya dirinya.
Satu pertanyaan Bella yang belum dia temukan adalah pangeran Rendra, entah bagaimana jadinya bila Arya bertemu dengan reinkarnasi dari pangeran Rendra.
...🌸🌸🌸...
Arya sangat lancar mengingat yang terjadi di masa lalunya, berbeda dengan Ayu yang hanya sepenggal dari sebuah mimpi, namun Arya hanya belum yakin dengan apa yang di lihatnya dari sebuah mimpi.
Bahkan alasannya tidak mau melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter karena dirinya tidak dapat menemukan jawaban dari semua pertanyaan nya tentang Reinkarnasi di ilmu piskologi.
Dan Bella, siapa dia sebanarnya membuat Arya penasaran, menurut perkataan Maria, pasti Bella ada hubungannya dengan masa lalunya.
.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸