
...🌸🌸🌸...
Angin laut bertiup lembut,membuat rambut Ayu yang panjang berurai melambai, dia berada di pesisir pantai dengan pasir putih dan air laut yang biru, ditepi pantai terdapat beberapa karang yang ditumbuhi beberapa tanaman.
Ayu berjalan beriringan dengan mas San, anehnya Ayu tampak samar dengan sosok San, tapi Ayu merasa bahagia, di balik pantai ada hutan dengan pohon besar tepat di bawahnya ada beberapa makan tua, yaitu makan keluarga Pangeran San.
Sampai lah mereka di istana, ibunda San tampak sangat cantik, tidak begitu terlihat berumur, beliau begitu ramah senyum, bahkan beliau sangat menyukai Ayu.
"Apakah puteri Kemuning senang berkeliling?"
tanya ibunda San.
"KEMUNING....KEMUNING"
Suara yang entah dari mana memanggil Ayu dengan sebutan Kemuning, Ayu sejenak terbangun dari tidurnya, mimpi seperti biasanya, tapi dia melihat ibunda San, tidak berubah bahkan terakhir bertemu Ayu, ibundanya sangat cantik dan awet muda.
.
.
.
Pagi ini gerimis menyapa bumi yang mulai kesepian, entah apa yang membuat Ayu sangat menyukai hujan, bau rumput yang basah, seperti itu penciuman Ayu ketika hujan datang, di temani secangkir kopi susu, Ayu menatap keluar jendela kamarnya, langit tidak begitu indah bila matahari menghilang, yang tertinggal hanyalah warna abu-abu bagaikan hati yang sepi.
Ayu sedikit penasaran kenapa Arya meminta dirinya bertemu dengan temannya, ada hal yang berbeda, Ayu malah bersiap terlihat agak rapi dari biasanya, entah untuk di tunjukan kepada siapa dandanan nya.
Berbeda dengan Ayu, Arya hanya terlihat biasa saja, bahkan hati Arya sebenarnya masih ragu untuk mempertemukan Ayu dengan Buna dan Maria.
Sesampainya di kantor Ayu dan Arya bekerja seperti biasanya, tidak banyak bicara, bahkan Arya terlihat agak aneh, pria yang menjadi maskot tempat mereka bekerja itu terlihat gusar dan gelisah.
"Karyo kenapa?"
tanya Deska menghampiri meja Ayu.
"Entah..."
jawab Ayu yang juga tidak mengerti.
Selesai pekerjaan Ayu sudah bersiap menunggu Arya di lobi kantor, dia juga telah bicara ke Deska ada urusan dengan Arya, mungkin pulang agak terlambat.
"Sorry lama ya?"
"Enggak kok mas, mas pucat banget, lagi sakit ya?"
tanya Ayu penasaran.
"Mas enggak apa-apa, kita berangkat sekarang ya"
Ayu pun mengangguk mengiyakan perkataan Arya, selama perjalanan Ayu hanya diam, dia juga tidak mau banyak bicara agar menjaga konsentrasi Arya saat menyetir.
.
.
.
Sampailah mereka di sebuah rumah besar milik Buna dan Maria, baru juga turun dari mobil, Ayu merasa tidak nyaman, sesak dan pengap. Takut mengecewakan Arya, Ayu hanya diam dan tidak banyak bicara.
"Bun...Buna.."
Arya yang mengetuk pintu rumah Buna yang terlihat sepi.
Pintu besar bernuansa pintu rumah joglo, dengan pengait yang masih tradisional, terbuka dan Buna keluar.
"Bun... ini Ayu, gadis yang tempo hari aku ceritakan"
jelas Arya memperkenalkan Ayu.
"Ayu."
dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Mas Arya cerita apa saja?"
gumam batin Ayu yang berdiri di belakang Arya.
"Buna, teman kuliah Arya, silahkan masuk isteri saya telah menunggu."
Mereka masuk dan berjalan di belakang Buna, rumah 2 lantai itu tampak sangat sunyi, Buna dan Maria belum memiliki seorang anak, rumah juga di urus segalanya sendiri tanpa adanya pembantu.
Suasana sedikit dingin, mereka berkumpul di ruang keluarga, ruang dengan banyak pencahayaan matahari, Ayu melihat wanita yang sangat tertarik dengan kaum gipsy ini tersenyum kepada Ayu.
"Ayu, kenalin ini Maria isteri Buna..."
"Ayu..."
"Maria, silahkan duduk."
"Maaf ya sebelumnya, aku yang meminta Arya datang mengajak kamu"
jelas wanita berumur lebih tua dari Buna.
"Iya tidak apa-apa, tapi sebenarnya ini ada apa sih?"
Ayu yang masih tidak paham kenapa dirinya di ajak kesini oleh Arya.
Mulailah Maria menceritakan inti pembicaraan, tentang sebuah reinkarnasi, mungkin bagi orang awam yang tidak paham, itu hanyalah mitos, dalam ajaran agama pun ada yang memercayai atau bahkan menganggap itu hanyalah sekedar wacana.
Di lanjut Arya yang menjelaskan semenjak bertemu dengan San, Arya seperti melihat sosok San di masa kerajaan, Ayu gadis yang selalu tersenyum untuknya, tidak mudah untuk menjelaskan semua dengan nalar.
Ayu tidak menyangka bahwa Arya juga mengalami hal yang sama, ketika Maria membuka fortal untuk mereka bertiga berkomunikasi melalui hati mereka, Ayu yang memejamkan matanya, melihat sosok Arya dengan pakaian jubah merah marun dengan rambut panjang, wajah nya sama persis dengan yang sekarang.
__ADS_1
Seakan memori yang hilang, Ayu mengingat semua kejadian dia bersama dengan Arya, dimana Ayu juga menyimpan rasa yang sama dengan dirinya yang sekarang.
Bruuukkkkkk....
Benturan energi yang besar, Ayu kembali mengalami Vertigo yang hebat, sehingga dirinya membuka kan matanya, dirinya tidak sadarkan diri karena tidak kuat menahan kepalanya yang seperti terombang-ambing, pusing yang sangat hebat.
Mendengar suara Ayu terjatuh dari tempatnya duduk, Arya dan Maria membuka kan matanya dan kaget melihat Ayu jatuh pingsan.
"Ayu..."
sentak Arya kaget dan segera menggendong Ayu, merebahkan nya di sebuah sofa panjang milik Buna.
"Mungkin dia menahannya selama ini, aku yakin dia pasti tahu"
jelas Maria yang tengah mengoleskan minyak kau putih di bagian kepala dan pundak.
Seperti masuk k dunia lain, Ayu akhirnya mengingat jelas pria berwajah mirip dengan Arya dan Ayu memanggilnya dengan sebutan "mas Bram". Ayu sangat menyukainya, bahkan dirinya tidak peduli bila dia hanya sebuah pelampiasan dari Bramasena, mereka tumbuh bersama dari kecil bersama wanita yang Bramasena cintai.
Ayu selalu terpuruk dan merenung di sebuah tepian sungai, entah apa yang di pikirkannya, Ayu berharap Bramasena bisa melihatnya sebagai seorang gadis yang mencintainya bukan sebagai teman.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan San, pria berdarah bangsawan ini langsung menyukainya sejak dia pertama bertemu dengannya, walau Ayu awalnya sempat menolak dan menghindar, baginya mana mungkin seorang pangeran bisa jatuh cinta kepada dirinya yang anak seorang dayang.
Ada sesuatu di hati Ayu yang kemudian menerima pangeran Sanjaya sebagai suami, kehidupan mereka berdua sangat bahagia, jalan-jalan ke tepi danau, menghabiskan waktu berdua. Entah kenapa Ayu hanya mengingat hal tersebut sampai di situ.
.
.
.
"Yu..."
Arya yang khawatir terus menggengam tangan Ayu yang masih tidak sadarkan diri.
Perlahan Ayu membuka matanya, Arya duduk di samping dirinya, setelah melihat Arya ada perasaan rindu itu datang, tapi bukan perasaan antara gadis dan lelaki, melainkan sebagai teman.
Ayu yang kemudian duduk memeluk Arya, kaget dan bingung Arya hanya terdiam.
"Kamu apa kabar mas Bram? banyak yang ingin aku ceritakan"
lirih Ayu yang tidak sadar meneteskan air mata.
Mendengar perkataan Ayu, Arya dan Maria kaget, seakan ingatan Ayu telah kembali, dia benar menjadi dirinya yang dahulu hanya dalam kemasan lebih moderen.
"Kamu ingat aku siapa?"
tanya Arya penasaran.
"Bramasena, yang terlahir kembali sebagai Arya"
jawab Ayu dengan mudah.
"Kalian adalah reinkarnasi, apa kamu sudah ingat nama mu siapa?"
"Nama ku?? justru itu aku mau bertanya sama mas Arya, mas teman ku pasti tahu nama ku?"
Ayu yang balik bertanya, selama ini dia sendiri tidak pernah tahu namanya sebelum bereinkarnasi.
Wajah Arya dan Maria berubah, kalau Ayu tidak bisa mengingat siapa namanya, semua hanya kepingan puzzle yang harus Ayu sendiri mencari jawaban nya.
"Kenapa mas?"
"Mas enggak tahu nama kamu Yu, bahkan setiap kali mas bermimpi, mas tidak pernah mendengarnya"
jelas Arya yang juga bingung.
"Ya sudah, enggak masalah kan kalau aku juga lupa?"
"Semua kenangan yang kamu ingat hanya lah kepingan puzzle, kamu bahkan tidak ingat bagaimana kamu meninggal"
jelas Maria.
"Bagaimana aku meninggal? mas Arya inget?"
Arya hanya mengangguk, bertanda bahwa dia ingat ketika dirinya meninggal, apa sebabnya dan siapa yang melakukannya. Ayu tercengang, ternyata ada hal seperti itu, dia juga sedikit penasaran bagaimana dia meninggal.
"Lalu bagaimana dengan San? apa kah dia juga sebuah reinkarnasi?"
tanya Ayu pada Maria.
"Bisa saja..."
"Apa kah ini yang di maksud oleh mas San"
batin Ayu yang masih penasaran dengan perkataan San yang meragukan Ayu bisa bertahan dan tidak akan meninggalkannya.
"Aku tidak menyangka reinkarnasi benar adanya, lalu kalau kita terlahir kembali, pasti kita sudah memiliki tugas sendiri??"
"Itulah fungsinya kamu tahu nama kamu sebelumnya..."
jawab Maria.
"Baiklah, aku rasa cukup sampai disini, sebaiknya mas antar kamu sebelum larut"
ucap Arya yang melirik jam tangan miliknya.
"Tapi mas, aku belum ingat siapa nama ku."
"Ayu...kamu tidak usah pikirkan itu, aku yakin kamu akan tahu secepatnya"
sahut Maria.
Mereka pun kembali pulang, Arya mengantar Ayu terlebih dahulu, kepalanya Ayu masih terasa pusing, tapi tidak seperti tadi, Ayu banyak diam, dia sesekali mengingat kembali siapa sebenarnya namanya.
__ADS_1
"Kalau San ada di kehidupan aku sebelumnya, berarti Bella juga ada di kehidupan mas?"
tanya Ayu yang duduk manis di samping Arya.
"Kamu lihat Bella memangnya?"
"Aku lihat, bahkan yang seharusnya aku tidak lihat."
jawab Ayu menatap kesal kepada Arya.
"Apa yang kamu lihat yu?"
Ayu tidak tahu kenapa dirinya bisa terlihat hal seperti itu, dadanya kini terasa sangat sesak dan sakit, ingatan seperti puzzle itu tidak datang dari mimpi, tapi seperti bayangan hologram yang tiba-tiba terlintas di kepala dan mata kita.
(Entah bagaimana menjelaskannya, kalau kalian pernah nonton Diary misteri Sara, kalian tahu "VI'AR" kalau aku sama teman lebih mudah menyebutnya "UP")
"Aku enggak sengaja melihatnya mas, kalian berciuman di balik pendopo, malam itu sedang gerimis dan aku tidak tahu kenapa aku di sana, tapi aku melihat mu dan Bella masuk ke sebuah pendopo dan melihatnya"
Ayu yang mengucapkannya denga air mata yang tidak ia sadari mengalir membasahi pipinya.
Arya yang kaget langsung memberhentikan mobilnya, dia juga tahu apa yanh di lihat Ayu, Arya juga teringat, menyadari kalau dia memang sejak dahulu mencintai orang yang sama tidak berubah.
"Kamu enggak apa-apa Yu? masih sesak?"
tanya Arya khawatir.
Mereka berhenti tidak jauh dari sebuah toki dan membeli beberapa botol air mineral dan Arya membeli sekotak rokok.
"Minumlah dulu"
Arya memberikan sebotol air mineral. sambil menunggu Ayu baikan, Arya menyalakan rokok yang di belinya tadi. Ayu baru tahu bahwa Arya seorang perokok, di hatinya kini melihat Arya terasa sesak, rindu berbincang seperti di masa lalu.
"Sejak kapan mas mulai merokok?"
tanya Ayu penasaran.
"Lama kok, cuman di kala aku pusing Yu"
"Kok sama"
seru Ayu tersenyum, dia pun mengambil rokok yang di taruh Arya di dashboard mobilnya.
"Kamu juga bisa ngerokok?"
"Kadang-kadang, aku terlalu lelah akan hidup ini."
"Kamu lihat ini?"
Arya yang kemudian menunjukan tanganya yang penuh bekas luka goresan benda tajam, sekedar pelampiasan agar hatinya tidak sakit bila teringat hal menyakitkan.
"Mas...kamu gila ya?kamu ngelakuin ini buat apa?"
Ayu yang kaget melihat sisi lain dari Arya.
"Aku kayak orang gila yu, terkadang aku melihat hal yang tidak bisa di lihat orang awam, teringat hal menyedihkan membuat hati ku sakit"
jelas Arya yang masih menyelesaikan rokoknya.
"Aku dulu juga pernah berpikir begitu, bahkan bunuh diri juga mau aku lakukan, tapi nyali ku ciut, aku hanya lah seorang gadis pecundang."
"Kamu hebat Yu, kamu bisa melewati ini semua, kamu bisa berdiri sendiri tanpa ada orang tua"
ucapan Arya yang membuat Ayu tidak merasa minder lagi akan kehidupan keluarganya yang berantakan.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kost Ayu, sebelumnya dia juga mampir di sebuah warung makan pinggir jalan, Arya dan Ayu banyak cerita tentang kisah pilu yang mereka alami sebelum sampai mereka bertemu.
Titik awal pertemuan mereka yang tidak di sengaja, sampai akhirnya mereka berteman akrab, ternyata mereka saling berkaitan dengan masa lalu masing-masing.
Rahasia kehidupan memang hanya lah Tuhan yang tahu, sebagai manusia yang terlahir di dunia sudah memiliki tugasnya sendiri-sendiri, mungkin saja Arya dan Ayu menyelesaikan tugas yang dahulu belum selesai di jalankan nya, sehingga mereka terlahir kembali.
Walau tidak semua orang bisa melihat kembali masa lalu mereka, tapi satu konsep yang membuat berpikir Ayu, Arya dan lainnya adalah reinkarnasi dengan casing baru. Cuma Tuhan yang tahu sebenarnya rahasia di balik ini semua.
.
.
.
Sesampainya di Kost, Ayu mengirimkan pesan kepada San, agar bertemu dengan nya besok, beserta dengan Arya, San hanya membaca tanpa membalas isi pesan tersebut.
San mengetahui apa yang Arya dan Ayu lakukan, secara fisik San bisa menghilang dan berpindah tempat, sengaja memberitahukan dirinya sibuk padahal mengikuti Ayu pergi kemana, hebatnya seorang pengabdi ilmu keabadian, bisa menyelinap masuk tanpa ketahuan, rasa sesak dan tidak nyaman ketika Ayu sampai di rumah Buna dan Maria adalah sosok San yang mengikuti Ayu.
San paham betul resiko dia melakukan hal tersebut, tanpa Ayu bercerita San bisa memflashback kehidupan lampau, bagaimana kehidupan Ayu, kesulitan dan bahkan percobaan bunuh diri yang membuat Ayu putus asa akan orang tua nya.
Entah bagaimana San besok bertemu dengan Arya dan Ayu, bagaimana menjelaskan kalau dirinya buka reinkarnasi seperti mereka.
"Pangeran...hamba sudah siapkan ramuan yang anda pesan"
paman yang masuk membawakan secangkir gelas berisi jamu berwarna hijau pekat.
Ramuan yang di buat paman sendiri agar meredam resiko dari kekuatan yang di gunakan San, walau sifatnya bukan menyembuhkan setidaknya bekas sisik di badannya tidak bertambah banyak lagi.
.
.
.
Bersambung...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1